" Dam..."
Adam langsung mematikan ponselnya, ia menoleh kaget saat mendengar suara Jihan yang menyapa. Adam bahkan tidak mendengar langkah kaki Jihan yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruangan mama mertuanya itu. Gadis itu mengulas senyum pucat, menenteng tiang infus yang selangnya masih menancap di lengan.
" Kau sedang menelfon siapa?" Tanyanya lemah
" Jihan, kenapa kau di sini? Ini sudah jam berapa? Sudah sangat malam. Kau belum tidur?" Tanya Adam langsung memapah Jihan duduk di sisi Sarah
" Pelan pelan dam, aku bingung harus menjawab yang mana lebih dulu. Aku kesepian di ruangan itu, hari ini kau tidak datang sama sekali." Jawab gadis itu begitu lembut menatap parah Sarah yang sudah tertidur pulang. Adam menghela napas, benar saja... Ia tidak mengunjungi Jihan hari ini. Malah asyik telponan berjam jam dengan Maura dan teman temannya.
" A...ku...
" Tidak apa apa, dam. Mama juga sedang sakit. Kau pasti sedang sibuk merawat mama. Syukurlah mama sudah tidur." Jihan menatap suaminya dan mengulas senyum lapang, senyum tulus yang selalu bisa membuat Adam kembali jatuh cinta. Sedikit ada sesal, kenapa hati itu Adam mengabaikan Jihan hanya karena Maura.
" Maaf ya, ayo kembali ke kamar. Aku akan menemanimu sampai tidur. Lagi pula, mama sudah lelap kan." Ajak Adam mengulurkan tangannya
Dengan senang hati, Jihan menjabat uluran tangan suaminya, ia berdiri perlahan.
" Dam..." Jihan menahan lengan Adam
" Hmm?"
" Kalau nanti aku jadi sulit memiliki keturunan karena ginjalku cuma 1 apa kau akan berubah?" Tanya Jihan, matanya tampak berkaca kaca. Jujur, kata kata Icha tadi memang menghantui Jihan, ia takut jika kekurangannya membuat Adam berpaling suatu saat nanti.
" Hei, kenapa kau menanyakan hal seperti itu? Ingat, aku menikahimu karena aku mencintaimu Jihan. Bukan semata karena aku ingin memiliki keturunan darimu. Aku akan selalu mencintaimu, karena bagiku kau sangat sempurna." Adam menghapus air mata yang hampir saja menetes turun di pipi Jihan. Tentu saja, hal itu membuat Jihan tersenyum lega, ia memeluk suaminya erat
" Aku hanya takut, dam. Takut kehilangan dirimu." Gumamnya
" Itu tidak akan pernah terjadi, ayo... Kita ke ruanganmu!" Ajak Adam membawa Jihan ke luar dari ruangan Sarah. Tapi, baru saja ia hendak menutup pintu pelan...
" Dam, mau ke mana?" Suara Sarah yang terbangun menghentikan langkahnya. Adam kembali melirik ke dalam ruangan, benar saja, Sarah tampak membuka mata dan menatap ke arah pintu.
" Mama bangun?" Tanya Jihan
" Iya, tunggu sebentar ya." Jawab Adam lalu melepas tangan Jihan dan kembali masuk ke dalam ruangan ibunya
" Kau mau meninggalkan mama?" Tanya Sarah dengan mata berkaca kaca
" Aku antar Jihan ke kamar dulu ya ma, mama istirahat dulu. Tidak apa apa, nanti ada suster ke sini. Kasihan Jihan." Pemuda itu mencoba membujuk dengan suara lembut
Sarah memalingkan wajah, air matanya meleleh turun, ia bergeming tak menjawab
" Ma?"
" Pergi saja, Dam. Istrimu yang super baik itu kan lebih berharga dari mama." Gumam Sarah membuat Adam mengernyit
" Kenapa mama berkata begitu? Seharian Adam di sini menemani mama. Jihan di sana sendirian, Ma. Ada cuma ingin menemaninya sebentar saja." Tutur Adam dengan nada meninggi, membuat Jihan yang menunggu di luar pintu mendengar dan memutuskan kembali masuk ke dalam ruangan.
" Ada apa Dam?" Tanyanya pucat
" Tuh, istri tercintamu sudah datang. Sana pergilah! Jangan datang bahkan walaupun mama tiada nanti." Celetuk Sarah
Adam menghela napas panjang
" Kenapa mama jadi kekanakan seperti ini? Tolong lah ma... Jangan begini, apa mama tidak memikirkan perasaan Jihan?" Tekan Adam
" Dam..." Jihan memotong amarah suaminya, ia menggeleng pelan. Memberi isyarat agar Adam tidak semakin kasar.
" Kalau mama lebih membutuhkan tidak apa apa kau di sini, Dam. Lagipula aku bisa sendirian di ruanganku. Nanti aku bisa minta Maura datang kan." Tutur Jihan lembut
" Mau sok baik, hmm? Sampai kapan kau akan membuatku terlihat hidup dari bantuan belas kasihmu?" Ujar Sarah masih dengan intonasi yang menyakitkan.
Sulit berpura pura tersenyum saat hati terluka, tapi Jihan bisa melakukan hal itu. Ia mengulas senyum kepada ibu mertuanya, senyum tulus yang terlihat seperti hinaan bagi Sarah
" Jihan, tunggu di ruanganmu ya. Nanti aku ke sana!" Pinta Adam
Jihan mengangguk mengerti,
" Selamat malam, ma. Semoga mama bisa tidur dengan nyenyak." Ucapnya sebelum akhirnya melangkah ke luar dari ruangan Sarah
Sarah memalingkan wajah, ia tak menjawab sapaan Jihan
Di luar sana... Jihan melangkah pelan sembari menangis, hatinya terasa sakit begitu pula bekas operasi yang belum kering.
" Aww." Keluhnya bersender ke dinding.
" Hati hati!" Seseorang tiba tiba datang, memapah Jihan dan membantunya duduk di kursi roda. Seorang suster cantik yang biasanya datang tiap 8 jam untuk mengontrol ke ruangan Jihan dan Sarah, Suster Kiki.
" Terima kasih." Senyum Jihan lega. Rasa sakitnya sedikit berkurang setelah duduk di kursi roda. Suster Kiki pun mendorong kursi roda itu menuju ruangan Jihan, membantunya berbaring kembali di ranjang.
" Kau tidak boleh ke luar dan berjalan sendirian sementara ini. Bekas operasinya kan belum kering. Kau bisa menekan bel merah itu dan aku akan datang ke sini." Ujarnya dengan bahasa non formal. Sejak Jihan berada di rumah sakit itu, ia memang menjadi cukup akrab dengan suster Kiki yang seumuran dengannya. Bisa dibilang mereka mulai berteman.
" Aku ingin bertemu, Adam. Lagi pula tidak jauh kan. Sekalian mengunjungi mama." Jawab Jihan
Mendengar hal itu, suster Kiki menghela napas panjang.
" Dengar, kalau memang suamimu memikirkanmu. Dia yang akan datang ke sini. Bukan kau yang ke sana. Lagian kau sakit, mana ada orang sakit yang menghampiri yang sehat. Ibu mertuamu terlalu dramatis, dia tidak memikirkanmu kan? Makanya dia menahan suamimu di sana. Sekalian saja tetein lagi." Celetuk suster Kiki kesal
" Jangan begitu, mama sedang sakit." Senyum Jihan
" Trus mana suamimu itu?" Suster Kiki mengangkat sebelah alisnya sembari menyuntikkan obat ke infus Jihan pelan pelan
" Katanya sebentar lagi akan ke sini. Dia sedang menemani mama sementara waktu." Jawab Jihan sabar
" Huft, kau terlalu sabar. Baiklah, aku ke luar dulu. Jika butuh sesuatu tekan bel nya atau kau bisa meneleponku langsung." Ujar suster Kiki yang dijawab dengan anggukan oleh Jihan
Suster Kiki kemudian melangkah ke luar, meninggalkan Jihan dalam penantian. Ia yakin, sebentar lagi Adam akan datang. Tapi.. 1,2,3 bahkan 4 jam setelahnya Adam tidak juga masuk ke ruangan itu.
Jam menunjuk pada angka 3 dinihari, jujur, Jihan mulai meneteskan air matanya kecewa. Ia menangis seorang diri di ruangannya. Bahkan sampai keesokan harinya, Adam tidak juga datang.
Jihan mulai merasa... Tersisih
Apakah Adam sudah mulai melupakannya? Karena tidak mungkin Sarah semalaman membuka mata. Apa yang membuat Adam tidak datang?
Di lain tempat...
Icha melangkah pelan menyusuri koridor. Ia mengernyit melihat Adam yang tampak tertidur di depan ruangan Jihan. Anehnya, ada Maura di sana. Maura yang juga tampak terlelap dalam lelah.
" Dam." Sapa nya memegang pundak Adam. Seketika membuat Adam terbangun dengan wajah kaget, apalagi saat melihat suasana sudah tampak terang.
" Kenapa kalian tidur di sini? Kau tidak menemani Jihan?" Tanya Icha tak suka
Maura tampak merapikan dirinya dan duduk dengan wajah sungkan.
" Kau juga, kenapa ada di sini? Apa kau menemani Adam semalaman?" Tanya Icha dingin
" Saya menjenguk Jihan semalam, tapi sampai di sini Jihan sudah tidur. Jadi saya menemani Adam di sini." Tutur Maura tanpa menatap
" Jihan sudah tidur? Tapi aku datang ke sini justru karena Jihan menelfon, dia cemas karena tidak bisa tidur semalaman dan tidak ada kabar. Takut ada apa apa dengan mama. Kau juga tidak mengangkat telefonmu, Dam. Apa kau yakin Jihan tidur? Atau kau hanya mendengarnya dari seseorang?" Celetuk Icha kemudian meninggalkan adiknya yang tertegun diam dengan wajah sedih.
" Dam, maaf, aku kira Jihan sudah tidur." Ucap Maura pelan