Tit tit tit tit
Bunyi alat penyambung nyawa itu mulai terngiang dibenaknya, perlahan, kelopak matanya yang terpejam sejak 2 hari yang lalu mulai terbuka. Ia mengernyit silau, wajahnya begitu pucat.
" Mama!" Seru Adam berlari memegang tangan Sarah dan mencium punggung tangan itu haru. Ia hampir saja kehilangan ibu tercintanya 2 hari yang lalu karena kritis akibat gagal ginjal yang ia derita selama bertahun tahun dan pola hidup yang kurang sehat. Sarah mengulas senyum pucat ke arah putranya, meraba wajahnya penuh kasih sayang. Ia juga melihat putri tertuanya yang selama bertahun tahun berada di luar negeri sudah berdiri di sana. Mendengar Sarah masuk ICU membuatnya langsung membatalkan semua acara dan bergegas pulang.
" Di mana menantu kurang ajar itu?" Tanya Sarah pucat dengan suara gemetar. Ia tak melihat ada Jihan di sana.
Adam mengernyit mendengar ucapan mamanya.
" Siapa maksud mama?" Tanya kakak Adam mendekati ibunya
" Ya siapa lagi, menantu yang selalu membuat mama depresi setiap kali Adam tidak di rumah. Gara gara dia juga mama jadi sakit. Dia tidak merebus air untuk diminum." Jawab Sarah memalingkan wajahnya kesal
" Ma, Jangan seperti itu. Mama tahu kenapa mama masih hidup sampai sekarang? Itu karena Jihan." Tutur Adam sedih. Sarah mengernyit
" Dia ada di ruangan sebelah, ma. Sedang dirawat pasca operasi. Jihan memberikan salah satu Ginjalnya untuk mama. Menurut Icha, Jihan menantu yang baik lho ma. Jarang jarang ada menantu yang rela mati demi mertuanya." Ujar kakak Adam mengulas senyum
" Jihan mendonorkan ginjal?" Tanya Sarah seakan tidak percaya. Kedua putra putrinya mengangguk yakin
" Halaah paling cuma ingin cari simpati saja." Gerutu Sarah memalingkan wajah
Adam menghela napas panjang, sulit memang untuk membuat yang sejak awal tidak menyukai kita menjadi suka dengan cara apapun atau penjelasan sebanyak apapun.
" Ibu istirahat dulu ya bu, biar kami cek tensinya dan memasukkan injeksi obat. Keluarga bisa ke luar dulu?" Pinta seorang dokter dan suster yang datang untuk visite hari itu.
Adam dan Icha kakaknya pun ke luar ruangan.
Icha menghela napas panjang, menatap raut wajah adiknya yang tampak tak tenang
" Dam, jujur saja. Kamu menikah dengan Jihan dengan restu mama atau dengan keinginanmu sendiri?" Tanyanya mengernyit
" Ya sebenarnya mama tidak merestui, dia hanya menerima keinginanku saja kak. Aku menyukai Jihan sudah sangat lama, jadi wajar kalau sikap mama seperti itu." Jawab Adam memijit pelipisnya
" Ya, tapi kamu harus mementingkan mama juga, dam. Ingat, seorang pria surganya selalu berada pada ibunya. Aku takutnya mama ini sakit karena banyak pikiran." Celetuk Icha
" Ya, tapi Jihan ini baik kak. Buktinya dia mau mendonor untuk mama."
" Ya apa gunanya itu jika mama sendiri tertekan hidup dengan menantu yang tidak ia mau? Tidak butuh waktu lama juga mama pasti sakit lagi. Kamu ini kebiasaan sekali ya, kalau sudah mau apa apa tidak pernah memikirkan kemauan yang lainnya."
Adam menghela napas panjang. Berpikir apa yang dikatakan kakaknya mungkin memang ada benarnya
Beberapa detik kemudian, terlihat Maura ke luar dari ruangan Jihan yang berada disebelah ruangan Sarah. Gadis cantik bermata coklat itu mengulas senyum dengan sekeranjang buah di tangan, melangkah ke arah Icha dan Adam
" Halo Dam, kak. Bagaimana keadaan tante? Maaf saya baru sempat menjenguk." Ucapnya begitu halus dan sopan
" Mama sudah mendingan. Terima kasih Maura." Senyum Adam menerima buah itu dengan senang hati.
Sejenak tatapan Adam dan Maura beradu panjang, gadis itu kemudian tertunduk dengan gurat merah di pipinya. Akhir akhir ini mereka memang menjadi semakin akrab saja.
" Kamu teman duet Adam kan?" Tanya Icha membuyarkan suasana
" Iya kak."
" Oh, kenapa tadi di ruangan Jihan?"
" Dia sahabat Jihan sejak kecil kak. Jadi aku memintanya merawat Jihan sementara waktu dan aku menemani mama." Adam menjawab
Icha memicingkan mata
" Aku bertanya padanya, dam. Kenapa kau yang menjawab? Apa kalian sudah sedekat itu hingga merasa tidak masalah menjawab pertanyaan yang ditujukan ke yang lain?" Tanyanya membuat Adam memerah. Sejak dulu, kakaknya ini memang dikenal sangat kritis, cerdas dan to the point. Ia harus hati hati jika bicara dengan Aisyah Fahri ini. Karena jika ada sedikit saja kesalahan, Icha/ Aisyah bisa saja mencium aroma kesalahannya dengan cepat.
" Saya membantu menjaga Jihan, kak." Tutur Maura getir. Jujur ia merasa sedikit tegang di sisi kakaknya Adam.
" Oh begitu. Ya sudah, parcelnya kami terima. Tapi kamu belum bisa menemui mama ya. Hanya keluarga yang bisa masuk, apa gak masalah?" Tanya Icha memancing
Maura menggeleng cepat
" Tidak apa apa kak, saya juga harus segera pulang. Permisi!" Ujarnya seperti ketakutan kemudian bergegas pergi, Icha mengulas senyum dingin melepas kepergian Maura.
" Aku ke toilet dulu ya, kak. Kebelet sejak tadi." Adam bergegas pergi sebelum kakaknya menjawab.
Tapi sudah bisa ditebak, ia ke arah mana.
Ya, pemuda itu menyusul Maura. Ia mendapati lengan Maura di depan pintu Lift dan menariknya ke sebuah lorong sepi rumah sakit.
Sepertinya, api mulai menyala di antara ke duanya. Sejak Jihan berada di rumah sakit, mereka semakin akrab saja.
" Maafkan kakak ya, dia memang seperti itu." Senyum Adam manis. Senyum yang selalu membuat jantung Maura berdetak lebih cepat.
Gadis itu sebenarnya emosi, tapi ia begitu pintar memainkan mimik wajah. Dengan mudahnya ia mengulas senyum seakan menjadi wanita paling tenang di dunia
" Tidak apa apa, dam. Kalian pasti bingung kan. Ini musibah apalagi untukmu, kau harus merawat Jihan yang sedang sakit juga ibumu. Seandainya aku tahu, aku saja yang mendonor. Jadi kau tidak perlu sebingung ini dan Jihan bisa merawat tante Sarah dengan baik." Ujarnya mengambil simpati
" Kau mau mendonor untuk Mama?" Tanya Adam
Maura mendekati Adam, kemudian membelai pipi putihnya lembut
" Tentu, kau adalah crush ku sejak dulu, beruntung Jihan lebih dulu mengenalmu. Jika tidak, kau pasti sudah berada di sisiku. Aku bahkan rela memberikan nyawaku untuk kebahagiaanmu, apalah artinya sebuah Ginjal, toh aku juga punya dua." Jawab gadis itu membuat Adam mengulas senyum, menggenggam tangan Maura yang membelai pipinya mesra
Sementara itu, di sana... Icha memasuki ruangan Jihan yang tampak membuka mata. Jihan mengulas senyum menatap kehadiran kakak iparnya yang kemudian duduk di sisinya
" Bagaimana kabarmu?" Tanya Icha mengulas senyum
" Baik kak." Jawab Jihan pelan
" Jangan terlalu banyak bergerak. Kau tahu resiko mendonorkan ginjal bukan?"
Jihan mengangguk pelan
" Kenapa kau mendonor untuk mama?" Tanya Icha penasaran
" Mama orang tuaku juga kak, dan waktu itu kondisi mama kritis." Jawab Jihan tulus
Icha menghela napas panjang
" Seharusnya kau memikirkan segalanya sebelum berbuat sebesar ini, Jihan. Kau tahu, perempuan dengan 1 ginjal sangat sulit memiliki keturunan, mereka bahkan tidak bisa bekerja terlalu berat. Kau masih baru menikah, bagaimana dengan masa depan kalian nantinya. Andai kau mau menunggu sebentar saja dan tidak gegabah."
" Tapi aku yakin Adam tidak akan meninggalkanku hanya karena keturunan kak. Dia sangat mencintaiku." Ujar Jihan polos
" Hmm kau terlalu naif Jihan. Kalau begitu kau istirahat dulu agar cepat pulih. Karena jika kau tidak cepat pulih aku takut akan ada serigala yang menerkam ketulusanmu ini." Senyum Icha menyindir
" Serigala?" Jihan mengernyit tak mengerti
Icha berdiri dari duduknya, membantu membenarkan selimut adik iparnya itu.
" Ya, serigala. Terima kasih untuk hidup yang kau berikan pada mama. Tapi aku harap kau tidak mengharapkan apapun dari pengorbananmu ini." Ujarnya semakin membuat Jihan mengernyit tak mengerti
Ya, seharusnya saat itu aku mengerti. Kakak mencoba memperingatkanku tentang Maura dan Adam. Dia benar, aku terlalu "Naif"