2. Hukuman Daddy

1554 Words
Emily Charlotte Xanders merengut pada ayahnya yang tengah berdiri dengan berkacak pinggang di hadapannya dengan mata melotot dan bibir tanpa senyum yang jarang sekali sang ayah perlihatkan. Biasnaya, ayahnya adalah pria paling murah senyum. Terutama kepada Emily. Dan itu bisa menjadi bukti bahwa pria itu memang benar-benar tengah marah padanya. “Dad, berhentilah melotot. Aku sudah di rumah sekarang. Aku bahkan tidak mabuk sedikit pun!” Gadis berusia delapan belas tahun itu tidak habis pikir dengan kemarahan ayahnya yang menurutnya sama sekali tidak perlu. Dirinya hanya pulang pagi karena sahabatnya berulang tahun, bukannya mabuk di jalanan apalagi hamil di luar nikah. Kenapa Dad sampai semarah itu? Toh ia sudah delapan belas tahun sekarang. Di Amerika, usia itu dianggap sudah bisa mengurus hidupnya sendiri. Bahkan, ia sudah bisa keluar dari rumah dan tinggal sendirian. Seandainya Emily bisa melakukannya, tentu ia akan dengan senang hati mencari apartemennya sendiri. Namun, tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana ia bisa tinggal sendiri sementara hanya pergi ke pesta saja Dad sudah semarah ini padanya?? Yeah, meskipun sudah berusia delapan belas, Emily masih dianggap anak kecil oleh ayahnya. Ini masih pukul lima pagi di Cleveland dan biasanya Dad tidak pernah bangun sepagi ini. Atau mungkin ayahnya itu tidak tidur semalaman? “Dad, kau tidur tadi malam kan?” Tanyanya dengan takut-takut. Emily tahu jika dirinya adalah anak kesayangan Dad, tetapi membayangkan beliau tidak tidur karena menunggunya... Sial, jangan sampai Dad benar-benar tidak tidur karenanya! “Apa kau pikir aku bisa tidur sementara aku tidak tahu kau ada di mana, Xanders??” Jika nama itu disebutkan saat Dad tidak sedang marah, Emily pasti akan tertawa. Apa Dad tidak merasa sedang memanggil dirinya sendiri atau bahkan kakeknya? Akan tetapi, sekarang, ketika melihat ekspresi Dad yang begitu serius, Emily bahkan tidak bisa untuk sekedar tersenyum. “Dad, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu dan Mom.” Rasa bersalah itu perlahan merasuki hatinya. Ia sudah membuat Dad khawatir karena tidak pulang semalaman. Dirinya bahkan tidak mengaktifkan ponselnya. Emily hanya berkata pada Mom jika ia akan menghadiri pesta ulang tahun teman sekolahnya. Ia juga tidak mengatakan dengan jujur bahwa pesta itu diadakan di klub. Emily khawatir ia tidak akan mendapatkan ijin seandainya berkata jika pesta itu melibatkan klub dan alkohol. Dan sebenarnya, ia memang minum sedikit tadi malam. “Apa kau tahu bagaimana kalutnya aku saat ponselmu tidak bisa dihubungi? Dan kau bahkan tidak mengatakan pada ibumu di mana pesta ulang tahun sialan itu diadakan! Aku pasti sudah menyisiri semua klub di negara bagian jika ibumu tidak mencegahku melakukannya.” “Aku tahu Dad khawatir padaku. Aku...” “Tidak.” Potong Dad dengan dingin. “Kau tidak mengetahuinya, Emily. Kau tidak akan tahu rasanya karena kau belum menjadi orangtua. Oh, aku harap cucuku nanti tidak seliar dirimu!” Apa? Dad bilang dirinya liar? Hanya karena pulang pagi satu kali? “Dad, aku hanya pulang pagi satu kali! Tidak usah berlebihan! Aku sudah dewasa!” Dad semakin melotot mendengar teriakan Emily itu. Dad tidak pernah marah padanya selama ini. Atau mungkin pria itu menahan semua emosinya pada Emily? Emily tahu jika dirinya bukanlah gadis berprestasi seperti sepupunya, Michelle. Ia juga bukan gadis pendiam dan suka memasak atau melakukan kegiatan 'cewek' lainnya. Itu sama sekali tidak menarik. Ia lebih suka melakukan kegiatan outdoor dengan teman-temannya yang memang kebanyakan adalah pria. Berolahraga, naik gunung, bersepeda, ke pantai, atau pergi ke klub dan juga nonton film. Dan Dad tidak pernah protes sebelumnya. Tidak waktu Emily melukai tangannya saat jatuh dari skateboard, atau ketika ia terkilir saat mencoba olahraga kickboxing. Berbeda dengan Mom yang senang sekali 'berkicau' padanya, Dad justru tidak pernah memarahinya. Sampai hari ini. Atau pagi ini. “Masuk ke kamarmu sekarang dan jangan keluar sampai aku memanggilmu.” Nada suara Dad masih terdengar dingin, datar, dan tegas. Satu nada yang selama ini tidak pernah diucapkan Dad kepadanya hingga membuatnya tidak bisa membantah lagi. Emily benci diperlakukan seperti anak kecil begini. Namun, sekali ini, ia akan mencoba untuk menjadi anak baik dan menuruti ayahnya. Dia yakin kemarahan Dad itu tidak akan lama. Lagipula, memang itu yang Emily inginkan sekarang. Masuk ke kamarnya dan tidur sampai siang tanpa gangguan. Pesta tadi malam benar-benar telah membuatnya lelah. Akan tetapi, pesta itu adalah yang terbaik yang pernah Emily datangi. Seorang DJ terkenal dari New York diundang oleh temannya dan itu sangat hebat. Selain itu, ada banyak juga pria tampan yang bisa menjadi ajang baginya untuk cuci mata. Beruntung Emily tidak mengatakan pada Mom di club mana pesta itu diadakan. Jika ia mengatakannya, Emily yakin Dad akan benar-benar menyusulnya dan dirinya akan ditertawakan teman-temannya. Tanpa mengganti pakaian ataupun mencuci muka, Emily berbaring di ranjang empuknya. Yang dia inginkan sekarang hanyalah tidur. Sampai siang. Atau sore. Atau... tidak. Suara gedoran pintu yang sangat keras membuat Emily terlonjak dari tidurnya. Kepalanya pusing karena bangun tidur yang mendadak. Mata Emily melirik jam di meja dan melotot saat melihat ternyata masih pukul tujuh tiga puluh pagi. Sial, dirinya bahkan baru tidur dua setengah jam! Emily mengabaikan ketukan pintu sialan itu dan mencoba untuk kembali tidur. Mungkin itu hanya adik-adiknya yang ingin mengajaknya lari pagi seperti yang biasa mereka lakukan jika sedang libur. Dan jelas ia tidak ingin lari pagi sekarang. Akan tetapi ketukan itu terdengar semakin membabi buta hingga ia takut pintunya akan roboh karenanya. Itu jelas bukan adiknya. Itu pasti... “Emily!! Buka pintunya!!” Teriak Dad dari balik pintu. Benar kan dugaannya? Episode marah-marah masih akan berlanjut rupanya. Emily turun dari tempat tidur untuk membuka pintu dan ia langsung berbalik lagi tanpa melihat wajah ayahnya. Ia baru akan menjatuhkan tubuhnya ke kasur lagi saat Dad menyuruhnya turun untuk sarapan. Astaga! Jadi Dad mengetuk pintunya seperti orang gila hanya untuk menyuruhnya sarapan?? “Dad, aku tidak lapar. Aku mengantuk. Mengantuk. Okey?” Erang Emily sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang langsung hilang dalam sekejap. “Cuci mukamu dan turun sekarang!” Kembali nada suara itu terdengar dan Emily tahu jika dirinya tidak memiliki pilihan lain. Sepuluh menit kemudian, dirinya sudah duduk di meja makan di hadapan setumpuk wafel yang seharusnya menggoda seleranya. Akan tetapi, Emily benar-benar tidak ingin makan sekarang. Ia hanya ingin tidur. “Berhenti merajuk dan makan sarapanmu, Emily.” “Mom, aku mengantuk,” rengeknya kemudian. Mom melotot padanya. “Salahmu sendiri karena tetap bangun di saat orang lain tidur.” Emily berdecak dan mulai mengiris wafelnya meski ia tidak ingin makan. Dia hanya perlu menghabiskan wafel yang sialan enak ini dan melanjutkan tidurnya. “Mom, aku mau lagi.” Peter, adik bungsunya yang baru berusia lima tahun melonjak-lonjak dari kursinya ingin meminta tambahan wafel. “Kau mau menghabiskan punyaku, Pete?” Tawar Emily dengan cepat. Sialnya, Peter menggeleng dan kembali memakan wafel tahap keduanya. Clinton, adik keduanya, cekikikan meledeknya hingga membuat Emily ingin melempar anak itu dengan wafel yang masih separuh itu. Sambil menguap, Emily kembali menyuapkan wafelnya. Masakan Mom selalu enak meski hanya wafel sederhana seperti ini. Lain dengan dirinya yang bahkan tidak bisa menggoreng telur dadar. Entahlah, sejak kecil Emily memang tidak pernah tertarik untuk memasak. “Setelah ini, kau mandi dan bereskan pakaianmu, Em.” Mulut Emily berhenti mengunyah mendengar perkataan Dad. “Memberesi pakaianku? Memangnya kita mau ke mana?” Liburan musim panas baru akan dimulai minggu depan. Ia tidak menyangka jika Dad sudah mempersiapkan untuk perjalanan keluarga seperti kebiasaan mereka selama ini. Perlahan, senyum Emily tersungging di bibirnya. Ia pikir, Dad akan menghukumnya dengan membiarkannya menghabiskan liburan musim panas di rumah. “Bukan kita, tapi kau.” Mom yang menjawab pertanyaannya. “Aku?” Dad mengangguk. “Kau akan menghabiskan musim panasmu di rumah Grandma Westfield.” Emily menganga selebar yang bisa dilakukan oleh mulutnya. Ini bencana! Bencana alam terdahsyat abad ini! Ia tidak pernah suka pergi ke rumah adik dari neneknya itu. Grandma Westfield adalah nenek-nenek bawel berusia enam puluhan yang hidup di tengah-tengah lingkungan peternakan di Vernon. Selain bawel, Grandma Westfield juga suka sekali memerintahnya untuk bekerja di peternakan. Adik-adiknya mungkin tidak keberatan berkubang dengan lumpur untuk menggiring ternak pulang ke kandang, tetapi jangan harap ia mau melakukannya. Dirinya memang menyukai kegiatan panas dan maskulin. Namun, di peternakan berbeda ceritanya. Selain panas, tempat itu juga kotor dan bau. Emily bergidik. Tidak. Ia tidak mau menghabiskan musim panasnya di sana. “Aku tidak mau!” Raung Emily seraya membanting garpunya. Satu kesalahan dan dia dihukum seperti ini?? Ini tidak adil! “Aku saja, Dad! Aku mau tinggal di rumah Grandma Westfield.” Clinton mengajukan dirinya. “Tidak, Clint. Kau dan Pete akan liburan bersama kami ke Florida.” Jeritan senang dan tidak terima terdengar bersamaan. Di mana letak keadilan di dunia ini?? Orang tua dan adik-adiknya akan bersenang-senang di Florida sementara dirinya harus 'berjemur' dengan kuda dan sapi? “Aku tidak mau, Dad! Aku mau ikut ke Florida!!” Bibir Emily mencebik. “Tidak ada Florida untukmu. Kemasi pakaianmu, kita akan berangkat besok ke Vernon.” “Ini tidak adil!! Aku tidak mau!! Aku akan tinggal bersama Papa! Aku tidak mau tinggal di sana!” Emily menjerit dan berlari keluar setelah merenggut kunci mobil milik Mom. Ia benci diperlakukan tidak adil seperti ini. Ini bukan sekedar hukuman. Dad ingin membalas dendam karena ia telah membuatnya khawatir tadi malam. Oh, jangan harap ia akan mau melakulan itu. Emily akan tinggal bersama Papanya jika memang Dad ngotot ingin mengirimnya ke rumah Grandma Westfield. Ia tidak akan mau pergi ke pertenakan. Tidak akan pernah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD