“Apa kuda-kuda kita sudah siap untuk dilatih hari ini?” tanya Adrian ketika ia memasuki istal tempat Patrick dan yang lainnya sedang menyiapkan kuda mereka.
Patrick mengangguk. “Jake akan mengantarkan Sunshine hari ini untuk mengikuti pelatihan juga.”
“Hanya Sunshine?”
“Begitulah yang ia katakan di telepon tadi.”
Kening Adrian berkerut. Seharusnya, Jake mengantarkan Sunshine dan Charlie, dua kuda Morgannya yang biasa ikut disewakan untuk liburan musim panas. Bisnis penyewaan kuda selama musim panas, meningkat pesat selama beberapa tahun belakangan ini sehingga mereka tidak pernah absen menyewakan kuda-kuda mereka yang terkenal paling jinak dan ramah untuk disewakan.
Dulu, hanya Duncan’s Ranch yang menyewakan kuda-kuda mereka di musim panas, tetapi setelah hubungan dengan keluarga Westfield membaik, Adrian meminta pada Jake untuk mengikuti hal tersebut. Namun, tampaknya Jake masih belum terlalu yakin, atau mungkin ada alasan lain, setiap tahunnya hanya Sunshine dan Charlie yang mereka bawa untuk pelatihan dan disewakan.
Setidaknya, itu sudah merupakan kemajuan bagi hubungan kedua peternakan. Jika satu saat nanti Jake juga ingin memulai bisnis penyewaan kudanya sendiri, Adrian tentu tidak akan keberatan dengan hal tersebut. Baginya, peternakan Westfield bukanlah saingan. Ia menghormati Kate dan Jake seperti ia menghormati orang-orang yang ada di sini bersamanya. Orang-orang yang memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada Adrian jika berhubungan dengan kuda.
Mungkin, ia memang pandai dalam bisnis dan perencanaan, tetapi untuk masalah kepengurusan ternak dan yang lainnya, orang-orang di sini jauh lebih hebat daripada dirinya. Adrian masih harus banyak belajar dari mereka tentang peternakan ini dan bagaimana mencintai kuda-kudanya seperti yang Patrick dan yang lainnya lakukan.
“Aku akan segera menemui Jake kalau begitu. Semoga keadaan Charlie baik-baik saja.” Adrian menepuk bahu Patrick, kemudian mengusap leher kudanya sekilas sebelum memasuki kandang.
Secara rutin, Adrian selalu memeriksa kuda-kudanya untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja. Selain mereka adalah asset yang Adrian miliki, kuda-kuda itu juga telah menjadi bagian dari hidupnya belakangan ini. Adrian tidak mau kudanya terkena infeksi atau terserang penyakit. Karena jika wabah penyakit menyerang, hampir bisa dipastikan ia akan banyak kehilangan mereka.
Karena itulah, selain rutin memeriksa semua ternaknya, kebersihan kuda dan kandang-kandangnya juga sangat Adrian perhatikan. Ia juga mempekerjakan dokter hewan pribadi untuk peternakannya yang setiap hari memeriksa semua hewan ternak yang ada di peternakan ini termasuk sapi-sapi dan ayam yang dimiliki peternakan ini.
Memang ia harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk menggaji dokter hewan pribadi, tetapi itu tidak masalah sama sekali baginya karena Adrian lebih memilih mengeluarkan uang untuk mencegah hewan peliharaannya sakit daripada harus melihat mereka benar-benar sakit.
Ponsel Adrian berdering saat ia baru saja selesai melihat perkembangan kesehatan Molly yang baru saja melahirkan akhir musim semi lalu.
Sinyal ponsel kadang naik turun di tempat ini, jadi ketika ada sinyal kuat, biasanya ponselnya berdering tiada henti. Kadang dari teman-teman lamanya, kadang juga dari Adrienne walaupun itu sangat jarang terjadi. Yang paling sering menghubunginya tentu saja ibunya dari Indonesia.
Adrian mengeluarkan ponsel dan keningnya berkerut saat melihat siapa yang meneleponnya. Tentu saja itu bukan seseorang yang ia harapkan. Sebagai informasi, ia sudah jarang sekali bicara dengan Adrienne. Kadang, satu atau dua kali dalam sebulan, mereka saling melakukan panggilan video dengan anak-anak dan juga Max. Akan tetapi, seperti biasa, wajah Max selalu masam sehingga Adrian tahu diri untuk tidak berbicara terlalu lama dengan Adrienne dan si kembar.
“Ya, Ma? Bukankah sudah malam di Jakarta sekarang? Bukankah seharusnya Mama istirahat?”
“Kamu itu, di telepon Mama bukannya nanyain kabar atau apa, malah bilang begitu.”
Adrian tersenyum. Bukannya tidak ingin menanyakan kabar, tetapi mereka baru saja saling berbicara kemarin malam ketika Adrian hendak pergi tidur dan bukannya sudah berminggu-minggu tidak bicara.
“Ma...”
“Mama tahu, kita baru saling bicara kemarin. Tapi emangnya salah kalau Mama hubungi anak Mama sendiri?”
Lagi-lagi Adrian tersenyum mendengar suara ibunya yang sedikit menggerutu. Dulu, ketika dirinya tinggal di Marseille, Mama tidak sering menghubunginya melalui telepon seperti ini. Mereka lebih sering berkirim kabar via pesan pribadi atau di grup keluarga. Telepon hanya dilakukan beberapa kali dalam sebulan.
Namun, sekarang, Mama sering sekali meneleponnya. Dalam satu minggu, Mama bisa menghubunginya empat atau lima kali. Kadang mereka akan berbicara sangat lama, membicarakan apa saja, tetapi kadang Adrian ‘memperpendek’ waktu bicara mereka dengan alasan dirinya sibuk. Seperti yang akan ia katakan sekarang.
Bukannya Adrian tidak suka bicara dengan ibunya, hanya saja, ia yang memang sudah terbiasa tinggal jauh dari orangtuanya, merasa kurang nyaman jika Mama bertanya ini itu padanya. Sejak dulu, Adrian terbiasa mengatasi masalah hidupnya sendiri. Ia tidak ingin terlalu menyusahkan orangtuanya. Terlebih ia adalah anak pertama yang harus member contoh baik kepada kedua adiknya.
“Ma...”
“Mama tahu kamu mau bilang kamu sibuk sekarang,” potong ibunya. Tidak mengijinkan Adrian menyelesaikan perkataannya lagi. “Mama cuma mau kasih kabar sama kamu dan ini sangat penting.”
Adrian berdiri lebih tegak. Langkahnya terhenti di depan kandang Lucky yang akan dibawanya ke peternakan Westfield. Berita penting apa yang kira-kira akan Mama sampaikan? Ia akan mempunyai adik lagi? Tidak mungkin. Mama pasti sudah menopause. Tidak mungkin Mama hamil lagi. Atau, Papa sakit dan ia diminta pulang lagi untuk mengurus perusahaan?
Tidak. Tadi malam ia juga bicara dengan Papa dan pria itu terdengar sangat sehat. Papa bahkan bercerita jika akhir-akhir ini sedang rajin berolahraga kembali bersama si bungsu setiap pagi. Jadi Papa tidak mungkin sakit. Salah. Papa tidak boleh sakit. Kedua orang tuanya tidak boleh sakit.
“Adrian, kamu masih di sana?”
“Ya, Ma. Ada apa? Adrian harus mengurus pelatihan kuda pagi ini. Semua baik-baik aja kan?”
“Wildan mau menikah. Barusan Tante Linda kasih kabar. Bulan besok dia mau melamar kekasihnya.”
Sekarang, yang bisa Adrian harapkan hanyalah, tadi dia tidak menjawab telepon ibunya. Ini adalah topik yang selalu Adrian hindari setiap kali Mama menelepon. Mama adalah tipikal ibu yang ada di seluruh bagian dunia ini. Yang selalu repot dan ribut setiap kali ada anaknya, yang dirasa sudah cukup umur, yang belum menikah.
Mama sudah beberapa kali menyinggung topik ini, tetapi Adrian selalu mengelak. Oh, ia memang sudah dewasa, tetapi bukan berarti di usianya sekarang, ia juga sudah harus menikah hanya karena orang-orang di sekitarnya sudah menikah. Pernikahan tidaklah semudah itu. Ia tidak bisa menikah hanya demi menyenangkan mamanya atau agar orang-orang berhenti membicarakan dirinya yang ‘sudah umur tetapi masih lajang’.
Tidak seperti itu. Adrian ingin menikah dengan orang yang benar-benar ia cintai. Orang yang bisa menerima apa adanya dirinya. Orang yang memiliki perasaan dengan tulus padanya tidak peduli apapun pekerjaan yang Adrian miliki.
Akan tetapi, apa ia akan pernah menemukan orang itu di saat hatinya masih menjadi milik Adrienne? Apa akan adil bagi wanita itu menerima hatinya yang sudah tidak utuh lagi? Hati yang tidak pernah menggoreskan nama lain selain Adrienne Sandjaya?
Sebagai orang yang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan selama belasan tahun, Adrian tahu bahwa sangat tidak enak rasanya mencintai sendirian. Ia bukannya tidak mencari atau mencoba. Tentu saja ia mencoba karena memang banyak wanita yang terang-terangan mendekatinya. Namun, Adrian tidak bisa mencintai mereka. Dan ia tidak ingin menyakiti mereka lebih dalam lagi karena tidak bisa membalas semua perasaan itu.
Hingga akhirnya Adrian berhenti mencoba dan berusaha menerima takdirnya. Setidaknya, sekarang ini ia bahagia meskipun tidak ada wanita di sampingnya.
“Adrian benar-benar harus pergi sekarang, Ma.”
“Tuh kan, kamu itu selalu begitu setiap kali Mama membawa kabar seperti ini. Kamu itu sudah tiga puluh satu, Nak. Kapan kamu mau menikah?”
Adrian memejamkan mata dan menghitung sampai sepuluh dalam hatinya. Ia tidak ingin membentak ataupun marah kepada ibunya. Biar bagaimanapun, Mama hanya khawatir kepadanya.
“Ma, sudah berapa kali Adrian bilang jika saat ini hal itu bukan prioritas Adrian? Peternakan ini butuh perhatian lebih dan Adrian harus mencurahkan semuanya di sini. Adrian tidak mau banyak keluarga yang menggantungkan hidup mereka di sini, harus kehilangan sumber penghasilan mereka karena peternakan ini bangkrut atau merugi.”
Mamanya menggerutu. “Jangan kamu pikir Mama tidak tahu. Tidak ada peternakan milik keluarga Duncan yang bangkrut atau rugi. Kamu hanya mencari alasan.”
Kali ini Adrian terbahak. Memang susah sekali membohongi Mamanya untuk urusan yang satu itu. Keluarga Duncan sudah berprofesi sebagai peternak dan penunggang kuda selama beberapa generasi sejak puluhan tahun lalu dan bahkan hingga saat ini, peternakan mereka masih merupakan peternakan terbaik di setiap negara bagian di mana peternakan mereka berada.
Usaha peternakan sapi, penyewaan kuda, juga pengembang biakkan kuda mereka masih menjadi sumber pemasukan terbesar hingga saat ini.
“Adrian benar-benar harus pergi sekarang, Ma. Kami harus melatih kuda-kuda itu untuk pelatihan sebelum disewakan.”
Mamanya menghela napas. “Kamu memang selalu pandai melarikan diri. Oh iya hampir lupa, kami akan ke sana akhir minggu ini untuk liburan. Jadi, siapkan saja telingamu untuk mendengar semua ocehan Mama.”
Adrian mengerang seraya menutup teleponnya dan mengucapkan selamat tinggal. Sudah cukup buruk peternakan ini menjadi lebih ramai dengan kedatangan orang-orang yang ingin menyewa kudanya dan melihat kuda-kuda itu sendiri, dan sekarang masih harus ditambah dengan kedatangan keluarganya? Sial! Ia pasti baru saja dikutuk.
Bukannya Adrian tidak merindukan mereka. Hanya saja, yah, Mama dan adik perempuannya, Jasmine, adalah tipe wanita yang berisik dan sangat ingin tahu segalanya. Terlebih setelah mereka tahu jika Adrian memiliki perasaan pada Adrienne. Mereka berdua selalu mencari cara agar Adrian bisa move on, meskipun cara itu tidak pernah berhasil hingga sekarang.
Ia menatap ponselnya yang kini sunyi itu dan memandang foto Adrienne remaja yang masih menjadi wallpaper ponselnya selama belasan tahun. Kenapa sulit sekali melupakanmu, Adri?
Setelah memasangkan pelana di atas punggung kudanya, Adrian menaiki Lucky dan membawanya menyeberangi lahan peternakannya dan keluarga Westfield. Ia sekarang selalu sibuk bekerja, mungkin nanti saat keluarganya ada di sini, ia bisa sedikit menambah kesibukannya hingga tidak perlu terlalu sering-sering bersama mereka. Akan jauh lebih menyenangkan baginya berpanas-panasan di padang rumput daripada mendengarkan ocehan ibunya tentang pernikahan yang seharusnya sudah Adrian jalani.
Kesibukan di Westfield’s Ranch hampir sama dengan kesibukan di peternakannya. Menggiring sapi-sapi untuk merumput, membawa kuda ke padang-padang untuk berlatih, dan memandikan kuda-kuda. Beberapa orang menyapanya dengan ramah saat Adrian mengikatkan tali di sebatang pohon dan meninggalkannya bersama kuda-kuda Westfield yang lain.
Ia ingin masuk ke rumah dan menyapa Kate lebih dulu seperti biasa, tetapi Adrian penasaran apa yang terjadi dengan Charlie hingga kuda itu tidak diikutsertakan untuk berlatih. Jadi, ia melangkah menuju istal terlebih dahulu sebelum ke rumah.
Adrian tidak menemukan Charlie di kandangnya seperti biasa.
“Di mana Charlie?” tanya Adrian pada salah satu pengurus kuda.
“Oh, Mr. Duncan! Charlie sedang dimandikan di belakang.”
“Dan Jake?”
“Mr. Westfield ada di rumah utama. Sepertinya bersiap mengantarkan Sunshine ke peternakan Anda.”
Adrian mengangguk dan melangkah meninggalkan pengurus kuda itu. Di sini, selain oleh para pegawainya, Adrian lebih dikenal sebagai seorang Duncan daripada Simperler hingga ia tidak pernah mempermasalahkan panggilan itu.
Adrian keluar kandang menuju ke halaman luas di belakang tempat kuda-kuda itu biasa dimandikan, dan mengerutkan kening saat melihat seseorang yang tidak biasa di sana. Bukannya menemukan pengurus kuda yang biasa memandikan Charlie, Adrian justru menemukan seorang gadis di sana.
Yeah, itu jelas-jelas bukan pria karena tubuh itu begitu feminin dengan lekukan di setiap sudut yang tepat, juga rambut panjang yang dicat kemerahan itu. Kakinya yang ramping terbungkus celana jins ketat, dan ia memakai sepatu bot yang begitu pas untuknya. Bagaimana sepatu bot jelek itu bisa tampak indah di kaki seorang gadis?
Adrian berhenti sejenak di pintu kadang saat ia menyadari jantung berdentum-dentum. Ada apa ini? Biasanya, ia tidak pernah seperti itu setiap kali melihat seorang wanita. Ah, ini pasti karena ia sudah sangat lama tidak melihat seorang gadis muda di sini. Terlebih, jika dilihat dari pakaian yang dikenakan gadis itu, sedikit mengingatkan Adrian pada gaya berpakaian Adrienne yang cuek dulu.
Dulu, Adrienne lebih sering mengenakan celana jins dan kaus, juga sepatu kets. Sekarang, meskipun Adrienna masih setomboy dulu, wanita itu lebih sering memakai rok dan blus. Yah, menjadi seorang istri dan ibu mau tidak mau Adrienne memang harus berubah lebih keibuan.
Tidak. Jangan pikirkan Adrienne sekarang. Saat ini ia harus bekerja dan bukannya mengingat cinta pertamanya yang kandas itu. Ia harus menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan Adrienne hari ini. Nanti malam, ujar Adrian pada dirinya sendiri, ia akan mengasihani dirinya sendiri dengan mengingat semuanya tentang Adrienne.
Namun, sekarang ini ia harus melupakannya dan bekerja karena Adrian tahu, tidak ada gunanya memikirkan Adrienne sekarang. Wanita itu sudah berada di luar jangkauannya dan selamanya, Adrian hanya akan bisa mengasihani dirinya sendiri yang selalu mencintai wanita itu.