6. Sebuah Tanggung Jawab

2098 Words
Emily melotot mendengar apa yang dikatakan neneknya itu. Membersihkan kandang kuda??? Demi apapun juga di dunia ini, Emily tidak pernah membayangkan ia akan pernah menghabiskan liburan musim panasnya dengan membersihkan kandang kuda! Itu bukan jenis kegiataan outdoor yang ia sukai. Yang benar saja! Ia putri sulung Brian Xanders! Bagaimana jika ada paparazzi yang diam-diam mengikuti mereka kemari, lalu memotretnya nanti? Bukankah Dad yang akan malu sendiri karena anaknya menjadi olok-olok media nantinya? Lalu, publik juga akan bertanya-tanya jika melihat orangtua dan adik-adiknya berada di Florida sementara ia sendiri tidak tampak di sana. Itu akan menimbulkan banyak spekulasi dan jelas insting para wartawan sangat tajam untuk mendapatkan berita ter-update tentang keluarga mereka. “Aku tidak mau. Aku hanya akan makan dan kembali ke kamar.” Emily meraih garpunya dan bersiap menusuk sosis yang besar dan menggoda itu. Namun, sebelum ia sempat menancapkan garpunya di bulatan daging giling itu, piringnya menghilang dari pandangan Emily dengan cepat seakan tersapu gelombang tornado. Dan tornado itu berwujud wanita tua gemuk yang menatapnya dengan sorot mata keras kepala. “Kau sendiri yang memanggilku untuk makan,” desah Emily dengan suara lelah. “Maka aku akan makan dan kembali ke kamarku setelah itu.” “Aku memberikanmu makan, dan sebagai gantinya, kau bekerja di sini selama kau menumpang makan dan tidur. Tidak ada yang gratis di dunia ini, Xanders!” Sekarang Emily mencibir. Dasar wanita tua pelit! Jika ia tidak mau kehilangan beberapa sosis dan bacon, seharusnya wanita itu tidak menyetujui permintaan ibunya dengan menerima dirinya di sini. “Catat saja pengeluaran yang kau keluarkan untukku dan minta gantinya pada Dad! Kau bisa minta sebanyak apapun dan Dad tidak akan protes.” Sekarang, gantian Gram yang mencibir padanya. “Dasar gadis kaya raya yang manja! Kau pikir semuanya akan selesai dengan uang yang dimiliki ayahmu itu?” “Aku tidak manja!” Emily menggebrak meja dan bangkit sambil melotot pada neneknya. Tangannya berdenyut ringan tetapi Emily tidak ingin memperlihatkannya sedikit pun pada wanita tua ini. “Aku hanya tidak mau berada di tempat terkutuk ini!” Ketika ia meneriakkan kalimat terakhir itu, semua koboi yang ada di sana menghentikan kegiatan makan mereka dan memandang Emily dengan sorot mata penuh kebencian. Oh, bisa dilihat jika mereka adalah sekelompok orang yang sangat mencintai tanah mereka dan begitu membanggakannya. Apa mereka bahkan pernah melihat gedung bertingkat yang di dalamnya berisi orang-orang yang menghasilkan uang ratusan ribu dollar setiap hari? Apa mereka pernah melihat gemerlapnya kota besar saat malam hari? Ramainya pusat perbelanjaan atau klub saat menjelang liburan? Seandainya mereka pernah melihatnya, Emily yakin jika mereka akan rela menukar apapun yang dimilikinya di sini hanya agar bisa hidup di kota besar yang ramai dan menyenangkan. Tempat yang memiliki segalanya dan bisa dijangkau dengan mudah. Tidak seperti tempat ini di mana tetangga terdekat adalah peternakan sebelah yang mungkin berkilo-kilo jaraknya. “Sekali lagi kau mengatakan tempat ini terkutuk, aku benar-benar akan menyeretmu ke kandang kuda dan membiarkanmu tidur di sana tanpa kuberi makan. Kau tidak berhak berkata seperti itu tentang tanah ini.” Mata Gram tampak dingin saat mengatakan itu. Ia menyerahkan piringnya ke tangan Emily dan kembali bicara. “Habiskan makananmu, setelah itu kau ikut Jake ke kandang dan kerjakan tugasmu.” Seharusnya Emily kembali membantah dan berteriak marah pada neneknya, tetapi wanita itu sudah lebih dulu meninggalkan dapur bersamaan dengan gumaman tidak suka yang ditujukan padanya dari koboi-koboi itu. Suasana mendadak menjadi begitu tegang dan tidak menyenangkan. Rasanya, Emily ingin meninggalkan piringnya di dapur dan kembali naik ke kamarnya. Akan tetapi, perutnya benar-benar kelaparan hingga ia tahu jika dirinya mungkin akan pingsan jika tidak makan pagi ini. Jadi, dengan mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya, Emily menggenggam piring itu dengan erat di perutnya dan keluar dari pintu dapur yang setengah terbuka. Ia mengedarkan pandangan dan mengernyit saat hanya melihat hamparan rumput hijau di sana sini. Lalu, matanya menatap sebuah bangku kayu yang terletak di sebelah rumah utama dan Emily melangkah ke sana. Ia duduk di atas bangku kayu itu seraya memangku piringnya yang masih penuh. Seharusnya, ini adalah makanan yang sangat Emily tunggu untuk ia makan setelah dua hari penuh tidak makan. Namun, lehernya terasa sakit sekarang hingga ia tidak yakin akan bisa menelan semua ini. Hanya saja, Emily juga tahu jika ia harus makan. Gram tidak pernah main-main dengan apa yang ia katakan. Dan jika Emily tidak melakukan apa yang diperintahkannya, alih-alih langsung memulangkannya ke Ohio, Gram benar-benar akan memindahkan barang-barangnya ke kandang kuda. Tenggorokan Emily terasa sakit saat ia menelan potongan sosis itu. Ia butuh minum untuk mencernanya, tetapi sadar jika dirinya tidak membawa apapun selain piring yang ada di pangkuannya. Dan seakan mendengar jeritan hatinya, satu gelas air terulur di hadapan wajahnya yang langsung Emily sambar dan ia teguk dengan cepat. Jake melangkah di hadapan Emily, kemudian duduk di sebelahnya. Selama beberapa saat, pria itu tidak bicara apapun sementara Emily kembali menelan sarapannya meskipun itu tidak terasa nikmat sama sekali. “Tanah ini adalah segalanya bagi nenekmu. Ia sudah menikah dan tinggal di sini sejak berumur delapan belas. Lebih dari separuh hidup nenekmu dihabiskan di sini. Ia membangun tempat ini dengan susah payah, mengalami berbagai kegagalan, kehilangan ternak, pencurian, wabah penyakit, semua sudah Kate lalui. Kau jelas salah mengatakan tanah ini terkutuk karena selama puluhan tahun, banyak keluarga yang menggantungkan hidup mereka di tanah ini.” Pamannya bukanlah jenis pria yang suka banyak bicara. Bahkan, bisa dibilang Paman Jake adalah pria paling pendiam dibandingkan seluruh anggota keluarga besar mereka yang lain. Sifatnya yang tenang dan tidak banyak bicara itu membuat Emily selalu menyukai pamannya yang satu ini sejak dulu. Jadi, jika sekarang Jake bicara sepanjang itu padanya tanpa jeda, Emily tahu jika apa yang ia katakan memang salah. “Aku hanya...” Emily menelan ludahnya, “...Paman tahu aku tidak pernah suka berada di sini sejak dulu. Dad sengaja membuatku marah dengan mengirimku kemari.” “Atau, ayahmu hanya ingin kau belajar bertanggung jawab.” “Dengan menyuruhku membersihkan kandang kuda? Apa itu yang akan aku temui nanti saat akhirnya aku menggantikan Dad di perusahaan? Kotoran kuda?” Emily merasa jijik dengan apa yang ia bicarakan, maka, ia menaruh piringnya dan menghabiskan sisa air yang Jake bawa untuknya. Makanan itu tidak lagi menarik perhatiannya meskipun Emily masih belum kenyang sama sekali. “Pelajaran hidup bisa kita dapatkan di mana saja meskipun kadang menurutmu itu tidak berhubungan sama sekali dengan dirimu. Ayahmu hanya ingin menunjukkan padamu bahwa apapun yang kau lakukan, selalu ada konsekuensi yang menyertainya.” “Dan konsekuensiku adalah membersihkan kandang kuda? Ini sama sekali tidak adil. Aku hanya pergi ke klub, Paman.” “Dan kau berbohong pada orangtuamu. Ayahmu sangat tidak suka dengan segala macam bentuk kebohongan, seharusnya kau tahu itu.” Ia tahu. Bagi ayahnya, sebuah kebohongan seperti sebuah luka yang tidak akan bisa disembuhkan entah sekecil apa kebohongan itu dibuat. Sejak ia dan adik-adiknya kecil, itu adalah hal yang selalu ayahnya tekankan pada mereka. Kejujuran adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar. “Kenapa saat itu kau memutuskan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya?” Emily menunduk sambil memandangi jari-jarinya. “Aku...aku hanya ingin bersenang-senang,” akunya kemudian. “Dan salah satu temanku, yang tahu betapa Dad sangat protektif padaku, menyuruhku berbohong.” “Dan kau menuruti sarannya.” Emily mengangguk walaupun ia tidak tahu pamannya melihat anggukannya atau tidak. Ia menyesal sekarang, tetapi itu tidak akan merubah apapun kan? Ia bisa saja menelepon Dad untuk meminta maaf dan mengatakan penyesalannya, tetapi Emily yakin jika Dad tidak ada dengan serta merta menyuruh seseorang menjemputnya pulang. Dad akan tetap pada pendiriannya. “Paman seharusnya membujuk Mom atau Gram agar tidak membuatku bekerja kasar di sini. Aku dulu keponakan favoritmu.” Emily menoleh pada Jake yang diikuti senyuman pria itu. Pamannya itu sudah berusia hampir empat puluh tahun dan belum menikah. Padahal, Jake memiliki ketampanan khas koboi yang tentu saja tidak akan bisa ditolak para wanita. Entah apa yang membuat Jake belum menikah. Sedangkan, kemungkinan besar peternakan ini akan jatuh ke tangan Jake karena Gram tidak memiliki anak. Dan itu berarti, Jake membutuhkan penerusnya juga nanti. “Kau masih menjadi keponakan favoritku sampai sekarang.” “Tetapi Paman mendukung apa yang Gram dan Dad lakukan.” “Sudah paman bilang, itu adalah bentuk tanggung jawab yang harus kau terima. Kau sudah selesai sarapan? Ayo, kita harus ke kandang kuda sekarang.” Jake berdiri sementara Emily menatapnya dengan pandangan memelas. Biasanya, Jake tidak pernah tega dengan raut wajah memelasnya, tetapi kali ini tampaknya itu tidak berhasil karena Jake terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Jangan merayu Paman. Kali ini kau tidak akan lolos dari pekerjaanmu.” “Paman...” “Dan Paman juga marah padamu karena kau mengatakan tempat ini terkutuk. Jika kau bukan keponakan favorit Paman, Paman pasti sudah melemparkanmu ke danau di ujung tanah kita agar kau dimangsa kuda nil yang tinggal di sana.” Emily terkesiap. “Ada kuda nil di sana? Paman serius? Bagaimana jika ia sampai ke sini?” Mata Emily menatap hamparan tanah luas yang tidak dikelilingi pagar sama sekali itu. Pagar-pagar hanya dibangun di sekitar kandang kuda, juga di batas terluar tanah mereka. Selain itu, tempat ini benar-benar dibiarkan terbuka luas tanpa perlindungan dari binatang liar yang bisa saja menyerang. Jake terkekeh. “Paman tidak percaya jika kau masih mudah dibohongi seperti itu. Tentu saja tidak ada kuda nil, Sayang. Tetapi rusa dan anjing liar, mereka ada di hutan dekat-dekat sini jadi bukan berarti keadaan benar-benar aman dari hewan liar.” “Apa mereka pernah kemari?” “Emily Xanders,” Jake menyebutkan namanya dengan nada menegur, “Paman tahu kau sedang mengulur-ulur waktu dan Paman yakinkan itu tidak akan berhasil.” “Paman...” rengeknya lagi, “...aku benar-benar tidak siap untuk ini semua. Tidak bisakah kalian memberiku kelonggaran? Mungkin kau bisa membiarkanku mengenal tempat ini lebih dulu sebelum aku bekerja.” “Seharusnya kau memakai kesempatan itu kemarin. Sekarang, jangan membuang-buang waktu dan cepat ikut ke kandang denganku.” Otak Emily berpikir dengan cepat tentang apalagi yang bisa ia katakan untuk mengulur waktunya bekerja. Lalu matanya menangkap kakinya yang hanya mengenakan sandal tidur, dan hanya memakai piyama. “Kau tidak akan mengijinkan aku mandi dan berganti pakaian? Aku juga tidak punya sepatu bot.” Jake menghela napas, tahu meskipun Emily memang sengaja mengulur waktu, ‘dandanannya’ memang tidak pantas untuk bekerja. “Kau tidak perlu mandi. Ganti baju saja dan aku akan memberimu waktu lima menit. Jika kau tidak turun dalam lima menit, Paman akan menyeretmu, tidak peduli apa yang kau kenakan.” “Paman...” “Dan lima menitmu dimulai dari sekarang.” Emily berdecak kesal dan menelan kembali sumpah serapahnya saat ia berlari memasuki rumah kemudian naik ke kamarnya. Ia bahkan tidak sempat meratapi pintunya yang tergantung menyedihkan itu dan segera menyambar celana jins, lalu kaus hitam longgar untuk menggantikan piyamanya. Dan berhubung Emily memang tidak memiliki sepatu bot, ia menyambar sepatu tenisnya, memakainya dengan tergesa sebelum turun kembali ke belakang tepat saat lima menitnya hanya tersisa dua detik. Jake tersenyum puas saat melihatnya, kemudian mengulurkan sepasang sepatu bot yang sudah tampak tua, tetapi masih kokoh dan kuat. “Kau bisa memakai ini. Sepatu bagusmu tidak pantas menginjak kandang yang kotor.” “Ini punya siapa?” tanya Emily sambil melepas sepatunya dan memasukkan kakinya ke sepatu bot yang anehnya terasa pas untuknya. “Milik ibumu dulu. Nenekmu masih menyimpannya jika satu saat kau membutuhkannya.” Walaupun tidak ingin merasa terharu, perasaan itu tetap muncul dalam hatinya. Tidak, ia tidak boleh merasakan simpati atau apapun pada neneknya. Wanita itu terkenal pelit jadi pasti ia hanya sayang membuang sepatu tua itu. “Jangan terlalu keras pada Kate. Kau tahu dia seperti apa, dan meskipun terlihat seperti itu, nenekmu sangat penyayang.” Jake sudah tinggal di sini sejak berusia dua belas tahun. Dulu, ia adalah anak yang badung dan sama seperti Emily, orangtuanya ‘membuang’ Jake kemari. Yah, tempat ini memang selalu menjadi tempat buangan anak-anak nakal di keluarganya. Bedanya, Jake merasa betah di tempat ini hingga ia benar-benar menjadi seperti anak kandung Gram dan mengambil alih tempat ini secara penuh setelah Granpa meninggal bertahun-tahun lalu. “Dia hanya menyayangi paman karena paman selalu menurutinya.” Jake tertawa. “Siapa bilang? Ingat, paman dulu anak badung. Mama hampir menyerah dan mengembalikanku pada Mom.” Emily tersenyum. Pamannya itu memang memanggil Gram dengan panggilan Mama. Satu lagi bukti bahwa Jake juga menganggap wanita itu adalah ibunya sendiri. “Baiklah, sudah cukup bicaranya,” kata Jake sambil berdiri. “Saatnya untuk bekerja. Kau siap?” Emily menggeleng dan menghela napas. “Sama sekali tidak.” Namun, ia mengikuti Jake ke kandang karena tahu hanya itu yang bisa ia lakukan agar ia tidak perlu tidur di kandang kuda seperti ancaman neneknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD