Keesokan paginya, Kalfi sudah dibuat pusing oleh panggilan-panggilan dari para produser rekaman yang menawarkan untuk menduetkannya dengan DJ Celo yang baru beberapa hari yang lalu membuka topeng saat melakukan pertunjukan. Ditambah suara dan wajahnya yang ternyata sangat cantik, ia digadang-gadang akan menjadi pasangan duet Kalfi yang tepat. Mereka akan langsung trending seperti rekaman video mereka saat berduet.
“Sudah aku bilang, aku tidak mau berduet dengan siapapun. Jadi jangan bertanya lagi. Apa kau paham?”
Kalfi kesal kemudian mematikan panggilan telponnya secara sepihak. Beberapa panggilan telepon tetap masuk dari para produser meskipun dirinya sudah menegaskan tidak akan berduet dengan siapapun. Namun masih saja ada yang menawarinya berduet dengan DJ Celo yang namanya tengah hits sekarang. Bahkan para wartawan pun tidak ada henti-hentinya bertanya akan kabar mereka akan berduet dan mengeluarkan single.
Rey, asisten Kalfi yang juga merangkap sebagai manajer dan juga sekretarisnya, tidak bisa ia hubungi. Dirinya benar-benar merasa terganggu akan panggilan-panggilan tersebut.
Kalfi mematikan ponselnya agar tidak ada lagi yang bisa menghubunginya. Dirinya bergegas bangkit dari ranjangnya lalu berjalan menuju meja kerjanya. Hari masih sangat gelap saat Kalfi melongok ke arah jendela. Mengangkat gagang telepon kemuddian menekan beberapa angka yang diingatnya jika dirinya terdesak. Ya, dirinya menghubungi nomer telepon rumah Rey yang biasa ia hubungi jika ponsel Rey tidak menerima panggilannya.
Pada deringan ke tiga tidak juga diangkat hingga deringan ke empat. Kalfi menekan sekali lagi angka-angka yang akan menyambungkan panggilan itu ke rumah Rey dan pada deringan ke dua, panggilan itu tersambung.
“Halo,” jawab suara Rey yang terdengar sangat lemah.
“Rey? Kenapa ponselmu mati? Kau tahu, gara-gara kau mematikan ponselmu, aku jadi terganggu karena panggilan-panggilan telepon dari para produser dan juga wartawan,” cecar Kalfi tanpa memberi kesempatan Rey untuk menjelaskan.
“Tuan, aku-,”
“Sekarang cari tahu, mengapa aku ditelepon beberapa produser terkenalyang ingin menduetkanku dengan DJ galak itu? Setelah itu laporkan kepadaku. Apa kau mengerti?”
“Tap, tapi, Tuan. Saya baru tiba satu jam yang lalu dari luar negeri. Sepertinya saya juga tidak enak badan. Ponsel sengaja saya matikan juga karena saya ingin tidur tanpa gangguan. Saya benar-benar butuh istirahat sekarang,” jelas Rey dengan suara lemahnya.
“Tapi tenang saja, Tuan. Hari ini Anda tidak ada jadwal ataupun meeting apapun. Anda bebas hari ini. Anda hanya perlu ke kantor untuk memeriksa laporan bulan saja,” imbuh Rey.
Kalfi menghembuskan napas tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Rey sudah berkata seperti itu, maka itu artinya ia memang tidak bisa masuk.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan meminta dokter pribadiku datang ke rumahmu. Dan ingat, jangan lama-lama sakitnya,” pesan Kalfi yang memang sangat membutuhkan seorang manajer sekarang.
Ia menutup panggilan telpon itu. Lantas melirik jam di atas meja. Masih terlalu pagi untuk dirinya bangun. Namun juga ia tidak bisa melanjutkan aktifitas tidurnya karena gangguan-gangguan tadi. Rasa kantuknya mendadak hilang.
Ia pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum. Air di atas nakasnya sudah habis sebelum dirinya tidur malam itu. Di dapur ia mengambil air minum dari dalam botol yang ia ambil dari dalam lemari es. Ia menikmati air dingin itu di kursi makan.
Di kantor, Kalfi mendapat panggilan dari produser yang selama ini menaungi dirinya. Karena Pak Willy sudah baik, Kalfi dengan senang hati menerima undangan itu. Sebelum makan siang dirinya bergegas menemui Pak Willy di kantornya.
“Silahkan, Pak Kalfi. Pak Willy sudah menunggu Anda di ruangannya,” kata sekretaris Pak Wily yang menunggu Kalfi di lobi kantor.
Sekretaris itu sudah lama menyukai Kalfi. Hanya saja Kalfi tidak peka sehingga wanita itu harus menyimpan perasaannya dalam diam. Meski beberapa kali dirinya sempat berusaha menarik perhatian Kalfi namun tak sekalipun, Kalfi meladeni dirinya.
Setelah beberapa tidak bertemu, Kalfi sudah bisa bersikap biasa. Namun tidak dengan Mila, sekretaris Pak Willy. Dirinya masih terlihat sedikit berharap jika Kalfi akan membalas perasaannya. Tapi dengan angkuh, Kalfi bersikap dingin agar Mila tidak menyalah artikan sikapnya selama ini.
“Silahkan,” kata Mila saat membukakan pintu untuk Kalfi.
“Terima kasih,” jawab Kalfi singkat. Setelah Mila menutup pintu, Kalfi menyapa Pak Willy yang sedang duduk di balik meja kerjanya.
“Selamat siang, Pak Willy. Bagaimana kabar Anda?” tanya Kalfi berbasa-basi.
“Ah, kau sudah sampai, Kalfi. Aku baik. Silahkan duduk,” pintanya. “Ku dengar konsermu yang di Singapura dan Malaysia sukses besar. Kau senang?”
“Tentu saja, Pak. Ini semua berkat Anda.”
“Sebenarnya ada sesuatu yang aku ingin utarakan kepadamu. Tapi aku masih menunggu satu tamu lagi yang akan bergabung dengan kita di sini. Mungkin sebentar lagi ia akan sampai.” Kalfi mengedikkan bahunya.
Pak Willy sudah seperti ayah baginya. Jadi apapun itu, ia akan senang jika dirinya bisa membantunya. Jadi, ia akan menunggu siapa tamu yang tengah Pak Willy nantikan.
Terdengar suara pintu yang dibuka dari luar.
“Ah, itu dia sudah datang, tamu yang kita nantikan,” seru Pak Willy senang.
Betapa terkejutnya Kalfi begitu melihat siapa tamu yang tengah Pak Willy dan dirinya tunggu.
“Kamu,” seru Kalfi dan orang itu bersamaan.
“Ngapain kamu disini?” tanya orang itu pada Kalfi. Terlihat raut wajahnya yang tidak senang melihatnya di tempat itu.
“Justru aku yang harusnya bertanya, untuk apa kamu berada di sini? Apa kamu mengikuti ku sampai disini, DJ Celo?”
“Enak saja. Aku mendapat undangan eksklusif dari Pak Willy untuk datang ke kantornya. Lalu apa yang kau lakukan di sini? Apa kau memiliki jadwalku sehingga kau mengikutiku hingga kemari?”
“Apa kau sering membaca cerita halu sehingga kau mengharapkan ada adegan romantis denganku? Maaf saja, aku tidak tertarik denganmu,” jelas Kalfi dengan lugas.
“Memang siapa yang mau denganmu? Dasar, pria angkuh,” cibir Celomita kepada Kalfi.
“Kau pikir aku suka denganmu? Dasar, wanita aneh,” balas Kalfi tidak kalah sengit.
“Ekhem.” Suara Pak Willy mengagetkan Celo dan Kalfi yang otomatis membuat mereka berdua terdiam. “Boleh saya bicara?”
Klafi dan Celomita saling memandang dengan mata yang tajam. Kemudian bersamaan duduk di kursi yang sudah disediakan Pak Willy.
“Begini. Jadi saya mengundang kalian karena saya mempunyai info jika esok hari akan ada berita tentang skandal kalian,” jelas Pak Willy seraya menyerahkan sebuah map berisi lembar berita yang akan beredar esok hari di berbagai platform berita dan surat kabar.
“Ah aku lupa memberitahumu, Kalfi. Jika DJ Celo adalah keponakan ku. Kebetulan kalian sudah kenal jadi aku tidak perlu memperkenalkan kalian lagi. Yah, walaupun kelihatannya kalian tidak begitu akur.”