“Papa! Ayo, jalankan mobilnya,” seru Melodi yang membuyarkan pikiran Kalfi.
Kalfi terpaksa berhenti sejenak mengagumi wanita galak itu karena sang putri dan menjalankan mobilnya. Sesekali dirinya tidak bisa untuk tidak memandangi wajah Celomita dari balik kaca spion di atasnya, yang ternyata menjadi sedikit keibuan saat bersama Melodi. Atau dirinya memang galak hanya pada laki-laki saja?
Tidak terasa beberapa menit sudah berlalu dan mereka pun akhirnya sampai di restoran yang sudah di booking penuh oleh Kalfi. Dirinya tentu tidak ingin ada rumor tentang berita kencannya tersebar dengan cepat hanya karena ia pergi makan malam dengan DJ yang sedang naik daun. Dan hal itu pasti juga dirasakan oleh DJ Celo. Oleh karena itu akan lebih bijak kalau mereka menggunakan restoran yang bersifat privasi agar mereka nyaman menikmati hidangan.
Mereka bertiga diarahkan menuju ruangan yang bersivat privasi yang terletak di lantai dua. Ruangan itu cukup luas dengan berbagai macam hiasan dan sangat memanjakan mata. Ditambah ada live music untuk menemani mereka menyantap hidangan.
Celomita cukup terkesan karena Kalfi cukup memperhatikan privasi mereka khususnya privasi Celomita yang tidak ingin terganggu oleh sorotan kamera. Tapi meski begitu, dirinya tidak mau menunjukkan rasa itu kepada Kalfi. Dirinya tidak mau laki-laki dewasa itu akan besar kepala.
Mereka diantar ke sebuah meja dengan tiga tempat duduk di dekat jendela. Dari sana mereka dapat melihat indahnya malam di kota Singapura yang terkenal indah saat malam. Sejak tadi tangan Melodi tidak pernah terlepas untuk terus menggenggam lengan Celomita. Dan anehnya, Celomita pun tidak merasa risih karenanya.
“Silahkan tuan, buku menunya.” Seorang pelayan datang dengan tiga buku menu di tangannya yang kemudian diberikan masing-masing kepada Kalfi, Celomita dan Melodi.
“Apa yang terbaik di restoran ini?” tanya Kalfi sambil melihat-lihat buku menu dan beberapa kali memeriksanya.
“Kami ada Sirloin cheese steak sandwich, Steak tenderloin, dan Sirloin Steak Berbalur Saus Mozarella. Itu semua adalah menu andalan kami, yang banyak dipesan beberapa tahun terakhir. Dan rasanya akan makin lezat jika dinikmati bersama segelas wine terbaik dari restoran kami, Tuan,” jelas seorang pelayan yang sangat terampil mempromosikan menu andalan mereka.
“Baiklah, aku pesan Sirloin cheese steak sandwich dua, satu gelas wine dan satu gelas jus stroberi untuk putri kecilku,” jelas Kalfi kepada pelayan itu.
“Saya sudah mencatatnya, Tuan. Lalu untuk istri Anda?” Pertanyaan dari sang pelayan membuat Kalfi dan Celomita saling berpandangan, sengit. Tentu saja mereka tidak menyukai sebutan itu, mengingat hubungan mereka tidak begitu baik. Sedangkan di tengah-tengah, Melodi menahan tawa lucu tanpa sepengetahuan papa dan tante Celo.
“Maaf menyela, tapi aku bukan istrinya. Aku hanya tamu yang diundang makan malam saja oleh mereka. Dan aku memesan steak terenak di restoran ini. Jangan lupa wine-nya juga,” balas Celomita dengan nada sedikit kesal. Tapi tetap terlihat lucu.
“Maafkan kelancangan saya, Nona. Saya pikir kalian adalah keluarga kecil yang terlihat bahagia. Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahpahaman ini,” ucap pelayan itu terlihat menyesal.
“Sudah lupakan saja,” balas Celomita menahan kesal.
Setelah mengulang pesanan, pelayan itu urung diri untuk menyerahkan catatan pesanan kepada koki restoran.
“Tante Celo, apa kau tidak suka saat pelayan itu menyebutmu istri Papaku?” tanya Melodi berpura-pura sedih.
Dan Kalfi sangat tahu jika raut wajah putrinya itu adalah suatu kejahatan karena sudah membohongi orang dewasa. Biasanya ia akan menghukum Melodi karena berbohong seperti itu. Namun kali ini, ia akan membiarkan Melodi melakukan sesuka hatinya. Hitung-hitung ia membalas kegalakan Celomita kepadanya tempo hari.
Celomita yang tidak tahu bagaimana bersikap jika ada anak kecil yang tengah bersedih, dirinya hanya memandang ke arah Kalfi dengan pandangan memelas. Sementara laki-laki itu hanya mengedikkan bahu, tidak tahu bagaimana cara mengobati perasaan anak kecil.
“Apa kau tidak bisa membujuk putrimu? Dia kan anakmu?” tanya Celomita dengan gerak bibi*nya.
“Dia memang anakku, tapi kau penyebab luka di hatinya, jadi hanya kau yang bisa mengobati sakit hatinya itu,” balas Kalfi tidak mau tahu dan tidak mau membantu. Biar saja.
“Melodi sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Aku hanya sedikit terkejut ada yang menyebutku seperti itu, padahal aku belum pernah menikah sama sekali,” pinta Celomita memelas.
“Tidak mengapa, aku sudah biasa sakit hati karena tidak ada yang mau menikah dengan Papaku. Tidak apa-apa,” katanya lagi berpura-pura memelas.
“Bagaimana kalau kita lupakan saja kejadian tadi. Anggap aku tidak pernah berkata seperti itu. Okay?” tanya Celomita yang mulai pusing menghadapi anak kecil.
Melodi mengangguk masih setia dengan aktingnya. Meski tanpa sepengetahuan Celomita, anak kecil yang pintar itu menahan senyum.
Suasana menjadi sedikit canggung hingga pesanan mereka datang. “Silahkan dinikmati pesanan Anda,” ucap pelayan itu ramah.
Sementara Celomita menikmati makan malamnya, Kalfi dan Melodi saling berpandangan. Mereka bedebat kapan waktu yang tepat untuk mengundang DJ cantik itu ke pesta ulang tahun. Melalui lirikan mata mereka. Akhirnya tentu saja Melodi yang menang. Kalfi lantas meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring kemudian meminum seteguk cairan merah itu.
Kalfi berdehem untuk meminta atensi Celomita dan berhasil. Wanita cantik itu menatap ke arahnya.
“Begini, Nona Celomita. Niat kami mengajak Nona Celomita makan malam bersama kami, sebenarnya kami juga berniat untuk mengundang Nona datang ke pesta ulang tahun putriku, Melodi yang kedelapan tahun. Putriku sangat berharap kau mau mampir sebentar ke acara itu, walau hanya beberapa menit saja. Itu juga kalau Nona bersedia datang,” jelas Kalfi penjang lebar.
“Pesta? Ulang tahun?” Nada bicara Celomita sedikit tidak percaya. Pasalnya dirinya tidak pernah diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun. Apalagi itu pesta ulang tahun anak-anak.
“Tidak apa-apa, jika Tante Celo tidak mau hadir. Aku sungguh tidak apa-apa,” ujar anak kecil itu berpura-pura sedih lagi. “Aku hanya ingin berteman dengan Tante Celo, tapi kalau tante keberatan, aku sama sekali tidak apa-apa,” imbuhnya mulai bersandiwara.
“Bukan itu. Hanya saja aku belum pernah menghadiri pesta ulang tahun anak kecil. Tentu saja aku akn senang jika aku bisa datang ke pestamu, Melodi,” terang Celomita yang kemudian menerbitkan perasaan senang di hati Melodi dan papanya.
***
Hari yang ditunggu pun datang. Melodi menjadi anak yang paling bahagia di sana mengingat DJ kesayangannya akan datang. Dirinya sangat senang sampai-sampai dirinya bermimpi yang begitu indah.
“Hei, putri Papa. Apa kau senang?” tanya Kalfi yang juga merasakan bahagia jika putrinya senang.
“Tentu saja, Papa,” jawab Melodi kemudian memeluk dan mencium Kalfi.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini ulang tahun Melodi dirayakan di rumah mereka. Sebuah rumah mewah bergaya klasik dengan empat lantai di dalamnya. Rumah yang sejak bertahun-tahun yang lalu ditinggalkan Kalfi dan Melodi untuk melupakan sosok istri dan ibunya. Kini mereka berdua berani kembali setelah yakin mereka berdua sudah menemukan kebahagiaan.
“Hai, apa aku tertinggal sesuatu?” Tiba-tiba suara Celomita menyela momen bahagia ayah dan anak itu.
“Tante!” seru Melodi yang kemudian berlari ke arah Celomita yang sangat cantik malam itu. Bergaun pink manis dengan sepatu yang tidak manis pula. Ditangannya ada sebuah buket bunga dan sebuah paper bag bernuansa bunga-bunga khas anak perempuan.
“Selamat ulang tahun, Melodi cantik,” ucap Celomita begitu anak perempuan itu berdiri tepat di hadapannya. Kemudian menyerahkan kedua barang itu kepada Melodi.
“Terima kasih, Tante Celo,” ucap Melodi kegirangan menerima kado dari DJ kesayangan.
“Sama-sama, cantik,” balas Celomita.
Dari kejauhan, Kalfi melihat interaksi keduanya. Entah apa yang Melodi lihat dari sosok wanita galak itu sehingga dirinya bisa begitu senang hanya karena seorang Celomita Acseleron, CEO angkuh dan minim etika dalam bisnis.
Dan apa pula yang membuat seorang wanita lajang dan bermulut pedas itu hingga bisa begitu menyayangi putri semata wayangnya. Kalfi bisa merasakan siapa orang yang tulus dan tidak tulus terhadap putrinya dengan baik. Dan Celomita termasuk ke dalam golongan yang tulus mau berteman dengan Melodi, putrinya. Meski wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa tidak suka pada dirinya.
Tapi bukan masalah besar, karena sepanjang Melodi suka, dirinya pun akan menyukainya juga. Suara MC terdengar akan segera memulai acara ulang tahun itu.
Kalfi melihat ke jam tangannya. Sudah waktunya acara itu dimulai ternyata.
“Mari kita panggil, Melodi Abraham Arfas!” seru MC membawakan acara. Tanpa diduga, Melodi menarik tangan Celomita kemudian tangan papanya untuk segera berjalan ke arah kue ulang tahunnya.
Semua berjalan dengan lancar hingga di penghujung acara. Melodi berkata, “Papa, selama ini Melodi selalu banyak menuntut Papa untuk menuruti apapun kemauan Melodi dan Papa selalu menyanggupinya. Entah itu permintaan yang mudah hingga permintaan yang sedikit susah. Jika Melodi boleh meminta, Melodi ingin permintaan ini jadi yang terakhir kalinya yang bisa Papa dan Tante Celo kabulkan,” ucap Melodi yang membuat orang di sana berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
Kalfi yang paham betul sifat nakal Melodi, kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena jika ia menegur Melodi saat itu juga, maka nama dia pun akan tercoreng nantinya. Jadi demi keamanan bersama, ia memilih untuk diam dan mengikuti alur yang Melodi lakonkan.
Kalfi berpikir, suatu saat sang putri akan bisa menjadi aktris terkenal karena bakat aktingnya yang bisa menipu orang dengan ucapannya.
Celomita menggenggam tangan Melodi kemudian berkata, “Apa yang kau bicarakan Melodi? tentu saja tante akan mengabulkan permintaan mu. Apapun itu,” jawab Celomita yang masuk ke perangkap cantik Melodi.
“Kalau begitu, aku ingin Tante dan Papa berduet sekarang dan ini akan jadi kado terindah untuk Melodi,” jawab putri kecil itu dengan polosnya.
“Tapi aku tidak bisa menyanyi, Melodi,” kata Celomita menolak.
“Melodi tahu Tante bisa menyanyi kok dan suara Tante akan sangat serasi jika berduet dengan suara Papa. Aku tahu itu,” jawab Melodi yakin.
Disaksikan puluhan orang yang hadir, tentu saja Celomita tidak bisa menolak permintaan itu. Mau tidak mau, dirinya harus berduet dengan laki-laki angkuh dan keras kepala.
Dengan wajah yang pura-pura senang, Celomita bertanya pada Melodi, “Katakan padaku, kau ingin dengar lagu apa?”
Melodi memberi sebuah kode kepada pianis yang sudah stand by di sana sejak awal, untuk mulai memainkan musik yang sudah disiapkan. Dan saat musik mulai terdengar, hati Kalfi dan juga Celomita tersentuh dengan lagu itu. Seolah mereka ada ikatan batin dengan lagu itu.
Seorang asisten MC memberikan masing-masing satu mikrofon kepada Celomita dan Kalfi. Dan seperti terkena sihir, kedua orang itu langsung masuk ke dalam lagu itu karena terlalu menghayati. Tanpa latihan dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Kalfi dan Celomita mampu berbagi bait seperti sudah sering menyanyikan lagu itu berdua.
Bait awal, Kalfi yang menyanyikannya. Suaranya berat namun mudah dipahami artikulasinya. Semua tamu undangan dibuat terpukau oleh sang bintang besar. Ditambah dengan ekspresi wajahnya yang dibuat sedih oleh lirik lagu yang tengah ia nyanyikan. Kemudian disusul suara Celomita yang menimpali dengan suaranya yang seperti menembus ke langit.
Tepuk tangan riuh memenuhi satu ruangan itu, memuji penampilan DJ Celo yang sangat memukau. Siapa sangka jika wanita yang sering memainkan musik jedag-jedug bisa menangis saat menyanyikan sebuah lagu dan itupun tidak merusak lagu itu sama sekali. Nadanya tidak ada yang meleset dan pitchnya sempurna.
Semua sangat memperhatikan DJ cantik itu tanpa menyadari jika Kalfi pun merasakan perasaan yang sama saat menyanyikan lagu tersebut. Seolah dengan lagu itu, dirinya bisa menumpahkan segala kerinduan kepada mendiang istrinya yang begitu dicintai. Namun di antara banyaknya orang, hanya Celomita yang menyadari jika laki-laki itu sangat merasakan kehilangan melalui lagu yang baru saja mereka nyanyikan. Diam-diam duda tersebut menyeka air matanya agar tidak ada seorangpun yang melihat dirinya yang tengah terpuruk jika merindukan sang istri.
Dalam sekejap mata pandangan buruk akan seorang Kalfi berubah di mata Celomita. Entah mengapa hatinya tersentuh karena air mata yang mengembun di sudut mata Kalfi. Tapi Celo adalah Celo, wanita angkuh yang akan menjaga gengsinya di mata lawan. Dirinya tetap berpura-pura biasa dan tidak mengagumi akan sosok ayah dari Melodi, gadis kecil yang merupakan fan-nya.
Berbagai ucapan pujian mereka berdua terima dari para tamu undangan. Mereka tidak henti-hentinya membalas jabatan tangan dari teman-teman Melodi maupun orang tua teman-teman Melodi. Senyuman tanpa nyawa Kalfi sebarkan karena merasa tidak enak jika dirinya tidak tersenyum meski hatinya saat itu tengah menangis.
Tanpa mereka berdua sadari duet mereka tadi direkam oleh seseorang. Sebenarnya, Kalfi sudah menginstruksikan agar para tamu undangan tidak merekam apapun di dalam pesta ulang tahun putrinya untuk menjaga privasi putrinya tetap aman. Tapi dirinya kecolongan karena salah satu tamu undangan berhasil mereka momen menakjubkan tadi dan tanpa seizin Kalfi dan Celo, ia pun mengunggahnya di sosial media.
Dalam hitungan menit, video berdurasi empat menitan itu langsung trending tanpa memperlihatkan wajah yang tengah berulang tahun. Sepertinya tamu yang itu tahu betul jika sang penyanyi sangat menjaga putrinya dari bidikan kamera.
Namun itulah takdir yang harus mereka jalani. Karena semuanya berawal dari duet mereka yang akan berlanjut yang akan membuat mereka menyesal ataukah bahagia?