Part 09 Kalfi

1082 Words
Kepala Kalfi mulai cenat-cenut karena menunggu Celo membersihkan diri sama dengan memutar lagunya full satu album. Satu jam sudah ia menunggu sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama dirinya menjadi penyanyi. Itulah sebabnya dirinya enggan berduet dengan siapapun karena mereka bisa saja menghambat seperti yang Celo lakukan sekarang. Saat kesabaran Kalfi nyaris habis, Celo datang dengan wajah yang lebih segar dan cantik. Juga pakaian yang lebih santai yang saat ini ia kenakan. Rambutnya dikuncir seperti buntut kuda. Rambut ikalnya terlihat menjuntai-juntai indah karena gerakannya mengikuti derap langkahnya. “Aku harap kau tidak melakukan banyak kesalahan setelah membuat kami menunggu selama satu jam lebih,” sinis Kalfi yang kesal dengan ulah Celo yang membuatnya harus menunggu lama. “Diam dan dengarkan saja,” cibir Celo yang sangat tidak suka diremehkan. Kalfi tidak begitu mengalami banyak kesulitan karena dirinya memang seorang penyanyi. Sedangkan Celomita, dirinya mengalami kesulitan karena dirinya tidak memiliki basic penyanyi meski suaranya memang indah dari lahir. Dirinya tidak yakin bisa bernyanyi dengan ilmu vokal yang masih sedikit. Beberapa kali Celo melakukan kesalahan saat bernyanyi. Satu dua kali masih bisa Kalfi dan Pak Willy maklumi. Tapi hingga berkali-kali dirinya membuat kesalahan, membuat Kalfi dan Willy pusing. “Sebenarnya kamu bisa nyanyi gak sih? Atau kemaren tuh bukan kamu yang menyanyi?” cibir Kalfi yang mulai bermulut pedas. “Enak saja. Kamu pikir siapa kalau bukan aku yang nyanyi kemarin? Hantu?” balas Celo yang tidak mau kalah. “Kalau begitu kemana kemampuan bernyanyimu seperti kemarin? Atau jangan-jangan kamu lipsync?” Mulut Kalfi semakin tidak bisa di rem. Celo hanya melirik Kalfi dengan sinis tanpa mau membalas mulut pedas itu lagi. Ia kemudian menoleh kepada Paman Willy. “Paman, aku minta izin sebentar. Aku perlu menenangkan diri. Mungkin aku sedikit lelah karena tadi banyak pekerjaan di kantor,” pamit Celo yang tanpa menunggu jawaban Willy dirinya langsung keluar dari ruang latihan. Dirinya meninggalkan tas hitamnya setelah sebelumnya mengambil ponsel dari dalam tas. Blam. Celo menutup pintu dan langsung menuju lorong yang sepi. Setelah mengendap-endap takut ada yang memergokinya, Celo celingak-celinguk memastikan tidak ada yang akan mendengarkan pembicaraannya dengan asistennya. Gerakannya yang mengundang perhatian membuat Kalfi yang hendak pergi membeli air mineral menjadi curiga. Dirinya diam-diam mengikuti dari belakang karena penasaran apa yang membuat Celo seperti itu. Ia melihat Celo menekan beberapa angka di layar ponselnya. Sepertinya ia menghubungi seseorang. “Teon, cepat bawakan aku minuman yang biasa aku minum jika aku gugup.” “Hah? Apa tidak salah? Bukannya kau mau latihan menyanyi, kenapa harus minuman itu?” tanya asistennya tidak percaya. “Sudah, jangan banyak bicara. Lakukan saja, cepat. Aku tunggu lima belas menit, kau sudah harus sampai, mengerti? Atau kau aku pecat?” “Bukankah aku sudah sering mengajukan surat pengunduran diri tapi malah kau sendiri yang merobek surat itu berkali-kali,” cibir Teon dari seberang sana. “Sudah, sudah. Bahas itu lain kali. Sekarang cepat antar minuman itu kepadaku. Jika tidak, aku tidak bisa menyanyi karena gugup,” beber Celo panik. “Iya, iya. Tunggu aja aku di bawah, nanti aku antar,” jawab Teon malas. “Sekarang, Teon!” seru Celo dengan menahan kesal karena Teon mempermainkannya. “Iya, iya,” jawab asisten itu sebelum menutup sambungan telepon mereka. Wajah panik Celo menjadi hiburan tersendiri bagi Kalfi. Dalam hati, seperti itu ternyata sosok DJ yang sangat dikagumi banyak orang, terutama kaum pria. Dirinya suka panik jika melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan atau ia lakukan untuk pertama kali. Sebelum Celo meninggalkan lorong tersebut, Kalfi buru-buru pergi dari sana. Ia tidak ingin Celo menangkap basah dirinya yang tengah menguping. Lima belas menit terasa seperti satu hari. Celo menunggu Teon dengan tidak sabaran di lobi kantor. Dirinya berjalan mondar-mandir tanpa masker dan tentu saja mengundang para karyawan pamannya untuk mengagumi wajah cantiknya meski sudah hampir tengah malam. Celo mengabaikan itu semua. Tatapan-tatapan kagum ataupun itu, dirinya tidak mempedulikannya. Dia hanya fokus melihat ke arah pintu, agar ia bisa segera meminum minuman itu kemudian segera berlatih. Dirinya ingin membuktikan jika dirinya bisa menyanyi. Bahkan suaranya lebih bagus dari suara Kalfi. Enak saja bilang Celo tidak bisa menyanyi. Akhirnya yang ditunggu tiba. Teon datang dengan sebuah paper bag berisi sebuah kotak yang berisi botol minuman yang ia pesan. “Lama,” ucap Celo saat sudah tiba di depan Teon. Tanpa berbasa-basi, Celo merebut paper bag tersebut kemudian langsung naik ke lantai tempat dirinya latihan. Tapi sebelum itu, dirinya mampir di ruang ganti dan membuka kotak yang tadi berada di dalam paper bag Teon. Sebuah botol minuman berwarna hijau pekat dengan cairan merah kental di dalamnya. Di samping kotak tadi ada sebuah gelas cantik yang biasa digunakan untuk minum minuman yang berharga mahal. Tidak menunggu lama-lama, Celo langsung mengambil gelas tersebut dan menuanginya dengan cairan merah tersebut. *** “Sudah hampir satu jam wanita itu pergi untuk menenangkan diri. Aku curiga keponakan Anda mungkin pulang ke rumahnya karena malu tidak bisa bernyanyi,” cibir Kalfi yang mulai hilang kesabaran. “Tunggulah, sebentar lagi, Kalfi. Jika dalam sepuluh menit Celo tidak kunjung datang, maka akupun akan pulang bersamamu,” jawab Pak Willy yang juga sedikit ketar-ketir karena Celo tidak kunjung datang. Namun sampai sepuluh menit berlalu, Celo tidak kunjung datang. Sebagai seorang single parent, CEO dan juga penyanyi dirinya memiliki kesibukan yang luar biasa padat. Tapi karena demi sang putri, dirinya rela meluangkan sedikit waktu untuk latihan bersama rekan duetnya, hal yang sebenarnya tidak ia inginkan. Tapi jika ia harus menunggu berjam-jam untuk hal yang tidak berguna. tentu saja dirinya tidak akan rela waktu berharga terbuang percuma. Oleh karena itu, dirinya mengambil jas dan juga tas kantornya hendak pulang ke rumah dan menemani putri kecilnya yang mungkin sudah terlelap, mengingat hari sudah larut malam. Tapi belum mencapai pintu, Celo sudah membukanya terlebih dahulu. Dengan rambut yang digerai dan terkesan sedikit berantakan dan juga wajah yang sedikit memerah ia masuk dengan tanpa bersalah. Dua kancing kemejanya juga sudah terbuka menampakkan sedikit belahan indah miliknya. Kalfi sedikit tertegun melihat pemandangan yang tengah ia lihat. Tanpa sadar dirinya menelan ludah. “Mari kita lanjutkan latihan,” kata Celo tanpa basa-basi. Bahkan dirinya tidak meminta maaf karena lama meninggalkan ruangan. Beruntung, Kalfi dan yang lain tidak kecewa karena sesi latihan kali itu berjalan dengan sangat baik. Bahkan mereka terbuai dengan suara emas nan merdu dari seorang Celomita Acserelon. Mereka nampak lelah namun puas karena bisa mendengar suara merdu Celo secara langsung. Termasuk Kalfi. Meski bukan pertama kali mendengar suara indah Celo, tapi dirinya masih bisa dibuat takjub oleh nyanyiannya. Walaupun suara dan perangainya sangat jauh berbeda di kehidupan nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD