Sudah enam bulan sejak kepergian Daniel dan Riandra, tetapi Rina masih juga belum bisa melupakannya. Senyuman yang terukir selama ini hanyalah kepalsuan karena dia pun masih tetap berusaha mencari titik terang masalah itu. Masih ada keraguan dengan kematian suami dan anaknya. Tidak ada bukti semua berita yang pernah mengangkat laporan itu pun sudah tidak ada lagi. Apakah ada sesuatu yang lain , bagi Rina percuma meminta kepada pihak rumah sakit pastinya mereka sudah di ancam oleh pihak tertentu. Melalui Mbak Lastri, setidaknya Rina tahu sesuatu kalau kematian suami dan anaknya berkaitan dengan keluarga Wisesa.
“Ah, akhirnya dapat Rin!” teriak Yola sahabatnya yang berhasil menemukan apa yang diminta oleh Rina.
Rina pun bergegas menghampiri Yola untuk melihat apa yang bisa dijadikan petunjuk untuk kasus kematian suaminya.
“Siapa dia Yola?” tanya Rina penasaran.
“Wanita ini bernama Dina Sari Wisesa, seorang istri dari pengusaha kaya yang bermana Reno Prayoga Wisesa. Dina sudah melahirkan seorang putri dan kini berusia enam bulan. Sekarang mereka tinggal di Surabaya dan ini alamatnya. Reno membuka cabang di sana dan usahanya tidak diragukan lagi karena ayahnya yang bernama Agung Arya Wisesa masih turut andil membantunya,” jelasnya secara terperinci.
“Aku tidak pernah mendengar nama itu?” tanya Rina menjadi penasaran. Jari tangan Yola dengan lincah bergerak ke sana kemari kembali mencari sesuatu dan lagi-lagi, wanita itu berhasil menemukan foto Reno.
“Sepertinya mereka orang berpengaruh dan sangat kaya raya makanya mereka bisa membungkam siapa saja yang ingin menjatuhkan nama baik keluarganya. Kamu lihat bapak tua ini sepertinya galak, kejam, dan tidak mengenal ampun, wajahnya sangat tegas dan berkarakter.”
“Dan, pria ini yang bernama Reno Prayoga Wisesa. Dia terlihat sangat ulet, pintar, sombong, angkuh, dan juga arogan. Aku bisa melihat dari wajahnya ini dan banyak perusahaan yang dia urus. Coba kamu lihat saja! Wajahnya tegas dan tatapan matanya itu benar-benar terlihat sangat dingin, tapi yang aku suka dari dia, dia tuh tampan dan tubuhnya … waw idaman semua wanita, bagaimana menurutmu Rin?”
Rina menatap lekat pria itu dan terkejut. “Dia, namanya Reno? Wajahnya hampir sama dengan pria sombong yang aku temui waktu di rumah sakit dan kamu benar, tingkahnya memang menjengkelkan,” celetuknya kesal saat ingatannya kembali tertarik jauh ke belakang. Walaupun baru pertama kali bertemu pria itu, tetapi kesan menyebalkan pertemuan mereka melekat erat hingga Rina bisa dengan mudah mengingat pria itu.
“Biasanya begitu, awalnya bilang benci, enggak suka, tapi setelah itu kamu buncin sama dia,” goda Yola sambil terkekeh.
“Tidaklah, aku tidak akan pernah suka sama pria itu! Lagi pula niatku hanya satu, yaitu membalaskan dendam kematian suami dan putriku. Aku masih sangat yakin, dia pasti ada hubungannya dengan kecelakaan itu.” Rina mengangkat bahunya.
“Tapi aku rasa, kamu nggak akan sanggup masuk ke dalam keluarga itu, mereka sangat ketat dan jika sampai dia tahu kamu adalah istri dokter Daniel yang akan membalaskan dendamnya, bisa-bisa malah kamu yang dilenyapkan duluan,” jelas Yola yang merupakan seorang hacker sekaligus sahabatnya.
“Tampan … memang dia sangat tampan,” ucapnya berkali-kali.
Rina memperhatikan wajah Reno dari balik layar laptop milik Yola dan menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
“Apakah kamu sudah siap?” tanya Yola ragu.
“Tentu saja aku sudah siap, Sayang,” sahut Rina bersemangat.
“Rin pikirkan sekali lagi, ini sangat berisiko dan apa yang akan kamu lakukan di sana dan kamu keluar dari perusahaan yang sudah membesarkan namamu hanya untuk masalah ini?” Yola masih merasa takut apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu
“Aku tidak peduli, Yol. Aku belum merasa puas kalau mereka tidak menderita seperti aku dan setelah kejadian enam bulan yang lalu saja mereka masih terlihat sangat bahagia, sedangkan aku masih tetap seperti ini. Reno dan Dina dua orang itu harus membayar kematian suami dan anakku,” sahutnya dengan mata yang berapi-api.
“Risikonya terlalu bahaya, Rin. Aku takut, nantinya kamu bisa terjebak selamanya di sana,” sahut Yola berusaha meyakinkan.
“Tenang aja, Yol! Aku yakin dengan keputusanku, orang lain bisa saja mengatakan ini sudah takdir dan takdir juga aku masuk ke dalam keluarga Reno. Aku pasti kan itu."
Jawaban Rina membuat Yola terdiam, dia tahu kalau sahabatnya masih belum bisa melupakan kejadian itu hingga dia pun berusaha membantunya. Berkat kemampuan Yola untuk mencari data rumah sakit, dan mencari sumber dari beberapa temannya yang bekerja di salah satu surat kabar akhirnya Rina bisa mendapatkan segala informasi yang dia perlukan.
“Aku akan membantu kamu, Rin, tenang saja, berangkat sekarang?” tanya Yola tersenyum kecil.
“Ayuk!”
Rina dan Yola akhirnya pergi ke Surabaya, dengan semua rencana telah di susun oleh mereka kurang lebih dua Minggu, mereka mempelajari tentang keluarga kaya itu, terutama tentang pria arogan itu. Setelah merasa cukup mengenal sosok mereka, Rina pun menjual rumahnya dengan alasan ingin pulang ke kampung.
Sebenarnya Rina sangat berat untuk melepaskan rumah idamannya tetapi terlalu banyak kenangan manis yang harus dia bayangkan jika masih di dalam rumah itu, sehingga dia harus memilih untuk melepaskannya. Rupanya gerak gerik Rina masih selalu di pantau oleh Dr. Sigit.
Dr. Sigit adalah Kepala rumah sakit swasta yang dipercaya untuk mengla rumah sakit itu di bawah naungan keluarga Wisesa. Dia pasti menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin terlibat jauh dengan kematian Dr. Daniel yang sebenarnya juga sangat membencinya.
Dr. Daniel walaupun masih terbilang muda dia sudah banyak mendulang banyak prestasi dan sangat di sukai oleh banyak orang terutama untuk wanita hamil, karena sejatinya Dr. Daniel adalah dokter spesialis kandungan.
***
“Apa ini, Desi, begini caramu membuat laporan hasil meeting kemarin? Apakah saya harus mengajarkan ulang bagaimana cara membuat laporan?” tanyanya dengan tatapan tajamnya.
“Ba—baik Pak , saya kerjakan ulang,” ucap sekretaris itu dengan tubuh gemetar mengambil semua lembaran kertas yang telah berserakan di lantai.
“Jika kamu tidak bisa mengerjakannya lebih kamu mengundurkan diri saja, tidak perlu datang ke kantor saya lagi,” ucapan itu sangat menyakitkan dan membuat gadis berusia dua puluh empat tahun itu menahan linangan air matanya.
Dimas sang sahabatnya pun berusaha menenangkan Desi dengan menggunakan isyaratnya. Desi pun mengerti dan pergi dari ruangan itu dengan hati sedikit tenang, tetapi sang CEO itu masih menahan amarahnya yang belum semua dia keluarkan.
Dia masih terdiam dan membalikkan badannya kearah belakang, sebuah pemandangan dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Tangannya memegang pilar, dia pun menghela napas panjang.
“Ada apa Ren, apakah ini masalah dengan Om Agung yang ingin kamu segera menikah lagi? Atau masalah Dina yang masih berhubungan dengan mantan pacarnya Rangga? Atau rasa bersalahmu kepada dokter muda itu dan anaknya yang telah merenggang nyawa akibat kesalah pahaman istrimu?”
Semua pertanyaan itu adalah yang dipikirkan Reno saat ini, ada rasa bersalah yang masih belum dia hilangkan, terlebih lagi Agung papanya Reno tidak ingin nama baik keluarganya tercemar sehingga dengan kekuasaan dan uang dia bisa menutup semua berita baik melalui pemberitaan media sosial apa pun, bahkan rumah sakit swasta itu pun bisa dengan mudahnya mengikuti kemauan dari Agung Bima Wisesa seorang pengusaha kaya raya.
“Semua semakin rumit, Dim.”
“Maksud kamu?”
“Ya kamu benar, semua yang kamu katakan itu membuat aku tambah pusing , tetapi aku yang sudah melenyapkan Rangga dengan tanganku sendiri? Bukankah aku sangat baik, melenyapkan mantan pacar istriku yang sudah membuat aku merasa bersalah dengan mereka,” jelasnya dengan nada kasar.
“Dan bagaimana dengan Dina apakah dia marah atau terkejut dengan apa yang kamu lakukan dengan mantan pacarnya itu?” tanya Dimas penasaran
“Entahlah, aku tidak peduli,” jawabnya dengan tenang setelah bisa meredam rasa amarahnya.
“Bagaimana dengan istri dokter itu?” tanya Reno kembali duduk di kursi kebesarannya.