12. Selingkuhan Maut

1053 Words
Menjelang siang semua tampak sibuk. Semua pelayan yang ada di rumah itu tampak saling membantu mengerjakan semuanya. Dekorasi rumah dihias seindah mungkin mengingatkan kembali kenangan manis bersama sang suami saat mereka akan ke pelaminan. Puing-puing masa lalu kembali muncul saat tawa bahagia dari kedua anggota keluarga yang akan bersatu. Rina menghela napas panjang meskipun terasa sedikit berat. “Maafkan aku Mas Daniel, aku kembali menikah dengan pria lain bukan karena cinta atau melupakan kamu, tapi misiku untuk membalas dendam dengan keluarga ini yang telah merenggut nyawa kamu dan anak kita. Aku harap kamu tidak marah. Setelah aku puas aku akan meninggalkan semuanya dan aku akan menyusul kalian, tunggu aku ya kita akan bersama lagi meskipun nanti di alam yang berbeda yang penting kita selalu bersama,” batin Rina menatap sendu. Namun, dia dikagetkan saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya, lalu memeluk erat tubuh Rina dari belakang. Tentu saja membuat dia sadar dari lamunan dalam sekejap, tapi pelukan itu pun dirasakan oleh Rina sehingga dia pun tak menolaknya. “Apa yang kamu lamunkan, Sayang?” tanya Reno mencium bahu Rina dari belakang. Rina yang memakai baju dress dengan bagian atas terbuka seketika bisa merasakan seperti aliran listrik yang masuk kedalam tubuhnya. Otaknya serasa ingin menolak tapi entah kenapa hatinya menginginkan lebih dengan sentuhan lembut Reno. “Tidak aku tidak boleh jatuh cinta dengan Reno, dia musuhku, dia yang telah merenggut paksa nyawa suami dan anakku, dan aku harus segera melenyapkannya,” batinnya bergejolak antara menikmati sentuhan itu atau tidak. Reno sangat pintar menaikkan gairah lawan jenisnya. Dia sangat tahu titik lemah seorang wanita yang mudah sekali terangsang. Reno tidak peduli dengan tempat sekitarnya yang sedang ramai dilewati oleh banyak pelayan, tapi mereka pun seakan mengerti bagaimana sikap majikannya sehingga mereka pun tak berani menatap atau menegur apa yang majikannya lakukan. “Mas, sudah banyak yang melihat kita, aku malu,” ucap Rina yang sedari tadi menahan mengeluarkan desahannya karena malu. “Mereka sudah mengerti, Sayang, kamu hanya menikmatinya saja,” sahut Reno yang terus bergerilya di tubuh seksi Rina. Pemandangan itu pun tertangkap oleh Dina yang melihat mereka. Reno seperti terbawa suasana sedangkan Rina hanya membiarkan apa yang dilakukan oleh Reno sampai matanya pun hanya terpejam. Tangan Dina mengepal kuat, dadanya bergemuruh, sorot mata membunuh kedua insan itu. Tidak tahan melihat Reno sedang mencumbui Rina, Dina pun langsung menghampiri mereka dan tanpa banyak kata Dina langsung menjambak rambut Rina . Wanita cantik itu belum sempat mengelak sehingga Rina tersungkur saat Dina mendorongnya dengan kuat. “Dasar w************n! Memangnya kamu sudah tidak laku lagi sampai kamu ingin mengambil suami orang, hah!” teriak Dina di telinga Rina. Para pekerja yang melihat mereka bertengkar di atas tangga saling berpandangan. Namun, anehnya Reno malah memberi kode kepada para pelayannya untuk kembali bekerja. Seketika itu juga mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka. “Aneh sekali majikan kita satu ini, ada yang bertengkar di depan matanya, tapi dia santai saja dan kamu lihat sendiri kan Den Reno malah tersenyum gitu, jangan-jangan dia punya kelainan jiwa,” ucap salah satu pelayannya. “Iya memang aneh sih, seharusnya mereka dilerai ini malah ditonton saja, malah kelihatan senang banget melihat mereka berantem,” sahut pelayan lainnya. “Sudahlah urusan orang kaya, kita mah yang penting kerja buat anak bini kita,” sambungnya lagi. Reno memang membiarkan kedua wanita itu saling bertengkar, baginya hal itu membuatnya bahagia karena dia sedang diperebutkan oleh kedua wanita cantik. “Saya tidak pernah berniat untuk mengambil Mas Reno, Mbak tapi ....” “Apa, tapi apa!” teriaknya lebih garang. “Saya hanya butuh uang dan pekerjaan untuk hidup saya dan Mas Reno mau saya menikah agar tidak menimbulkan fitnah apalagi kata Mas Reno saya cantik dan seksi, pasti akhirnya akan tergoda juga,” jelas Rina dengan wajah sendu dengan linangan air mata. “Ah alasan ... tapi kamu juga menikmatinya kan, bahkan kamu sampai merem melek saat Mas Reno menyentuhmu, sangat menjijikkan!” bentak Dina kasar. Reno menertawakan Dina dan mendekati mereka. “Sepertinya kamu cemburu saat melihat aku dengan Raina,” sindir Reno membuat Dina menatap tajam ke arah suaminya. Tanpa basa-basi tangan Dina ingin melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Reno tapi tertahan saat Reno langsung menunjukkan sebuah video yang membuat tangan Dina berhenti melayang di udara. Terdengar suara desahan bersahutan dari video yang diputar Reno. Video hanya sekitar empat puluh lima detik itu sudah cukup membuat Dina mengurungkan niatnya untuk lebih marah kepada mereka berdua. Rina yang tidak mengerti apa yang diperlihatkan Reno segera bangkit dan ikut melihat video itu yang ada di ponsel Reno. Seketika mata Rina melotot. Dia pun menutup mulut dengan tangannya saat terlihat jelas siapa pemeran wanita di sana. “Mas, ini betul Mbak Dina atau hanya rekayasa?” tanya Rina pura-pura polos. “Ayo jawab Dina, apakah video ini asli atau hasil editan?” tanya Reno kini menyudutkan Dina. “Mas, itu ...itu ....” “Kenapa kamu tidak bisa menjawabnya, hah?” teriak Reno di wajah Dina. Reno kembali menatap Rina yang ingin mengetahui lebih banyak lagi. “Sayang, apa yang kamu lihat adalah benar bahkan masih banyak video lainnya yang lebih panjang, apakah kamu ingin menontonnya bersamaku, mungkin kita bisa menjadi referensi gaya apa saja yang membuat mereka ketagihan sampai melakukan hal itu berkali-kali,” sindir Reno dan kembali menatap tajam ke arah Dina yang tak berani menatap mata elang Reno. “A—apa masih ada lagi?” tanya Rina pura-pura polos. “Iya Sayang masih ada yang lebih dari ini, betul kan Dina, pasti kamu masih ingat kan gaya apa yang paling kamu sukai, bahkan suaramu begitu indah di sela-sela kegiatan panas kalian waktu itu, kan?” tatapan Reno sangat tajam bahkan Dina tak berani menatapnya dia lebih menundukkan kepalanya. “Mas, tolong dengarkan aku dulu, apa yang kamu lihat itu tidak semuanya benar, aku dipaksa melakukannya di bawah tekanan dan ancaman jika tidak keluargaku akan dibunuhnya,” jelas Dina mengiba bahkan sudah berlinang air mata. “Oh ya tapi kamu sangat menikmatinya, Dina! Bahkan suara desahan kamu sangat b*******h sehingga b******n itu terus dan terus bahkan sampai seperti film bioskop saja,” sindir Reno lagi. “Apa yang aku dengar ini, Dina selingkuh? Astaga aku tidak percaya ini? Kenapa dia berselingkuh dari Reno, padahal pria yang ada di video itu terlihat biasa saja dibanding Reno yang lebih tampan,” pikir Rina bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD