11. Alibi

1148 Words
Ya banyak sekali luka memar di tubuh Mbok Surti entah apa yang dilakukan oleh menantunya kepada pembantu setia Tuan Agung. Mau tak mau Tuan Agung pun mulai memasang CCTV di rumahnya sendiri. Apalagi akan ada anggota keluarga baru yang akan tinggal di sini yaitu menantu barunya Rina. Dua pelayan membawa tubuh kurus itu ke kamar Reno. Tuan Agung dan Mbok Surti ikut ke kamar Reno. Setelah kedua pelayan itu pergi Mbok Surti segera membenarkan posisi tidur Dina setelah lebih dulu menghubungi Dokter. “Dina sangat keterlaluan, dia itu sangat aneh Mbok, padahal dia itu kalangan orang miskin tapi kenapa sifatnya seperti itu? Apakah Mbok tahu sesuatu tentang Dina, wanita macam apa yang dia nikahi ini? Makanya dari dulu saya menentang pernikahan ini tapi Reno malah cinta mati dengan wanita ini,” jelas Tuan Agung berdecak kesal. “Maaf Tuan saya juga tidak tahu kenapa Neng Dina seperti ini, mungkin karena hidup miskin dan sering ditindas oleh keluarganya sendiri makanya dia seperti takut kehilangan segalanya,” jelas Mbok Surti setelah selesai menyelimuti Dina. “Mbok, atas nama Dina saya minta maaf, karena Dina Mbok menjadi sasaran kemarahan wanita itu, kenapa Mbok tidak pernah memberitahukan kepada saya atau Reno? Saya sudah menganggap Mbok sebagai keluarga sendiri dan saya baru melihat apa yang dilakukan Dina di belakang saya dan Reno.” “Enggak apa-apa Tuan, Neng Dina hanya melampiaskan kemarahan akan nasibnya. Dia hanya sedikit depresi dan itu memang sering terjadi. Mungkin dengan melampiaskan kemarahannya bisa membuat Neng Dina lega, kita tidak tahu kehidupan apa yang dijalani Neng Dina selama tinggal bersama keluarganya, bukan?” “Dasar Reno saja yang buncin dengan Dina, entah apa yang ada di pikiran anak itu sampai-sampai dia cinta mati dengan wanita ini. Saya pergi dulu Mbok, pastikan dia minum obat setelah dokter datang, urus semuanya!” perintah orang tua itu dan melangkah pergi dari kamar Reno. Setelah kepergian Tuan Agung, Mbok Surti mengecup kening Dina dengan penuh kasih sayang. “Mbok, tinggal dulu ya Neng, sebentar lagi dokter Adi datang,” ucapnya dan ikut meninggalkan kamar Reno. Tanpa mereka sadari ternyata Rina sedari tadi menguping pembicaraan Tuan Agung dan Mbok Surti. Setelah kepergian mereka Rina pun masuk ke kamar Reno. Memperhatikan tubuh itu yang terbaring tak berdaya dengan wajah pucat seperti mayat hidup. “Dulu kamu yang membuat kesalahpahaman itu terjadi sehingga suamimu Reno secara brutal menyerang suami dan anak saya hingga mereka tewas secara mengenaskan. Dasar w************n sudah hidup enak, menikah dengan orang kaya masih juga selingkuh dengan mantan pacar, aneh sekali. Baiklah Dina waktu semakin cepat berjalan dan kamu akan mendapatkan banyak kejutan dariku, aku berharap jantungmu masih bisa bertahan sampai aku puas untuk membalaskan dendamku kepada kalian,” ucapnya sambil menyunggingkan senyuman yang mengejek dan segera keluar dari kamar itu. *** Tak lama kemudian Dokter Adi pun telah datang dan langsung memeriksa kondisi Dina. Didampingi oleh Mbok Surti dan Rina di dalam kamar Reno. “Bagaimana Dok, apakah kita harus membawanya ke rumah sakit?” tanya Mbok Surti masih merasa khawatir. “Tidak perlu, berikan obat ini dia hanya perlu istirahat dan jangan banyak berpikir, baik masalah berat arau kecil. Dia sangat tertekan saat ini, sebenarnya bukan obat saja yang dia perlukan tapi kasih sayang dan perhatian yang tidak dia dapatkan. Mungkin kehidupan sebelumnya membuat dia trauma dan ditambah lagi dengan sikap orang rumah ini,” jelas Dokter itu pelan. Wajah Mbok Surti terlihat mendung saat menatap wajah pucat Dina yang masih terpejam. Mungkin perkataan dokter itu benar trauma dimasa lalu bisa membawanya sampai ditahap ini apalagi melihat sikap keluarga Reno yang begitu keras sehingga Dina hanya bisa bertahan dan tidak mau kembali ke masa lalunya. “Apa benar yang dikatakan mereka, jadi siapa yang kejam, keluarga ini atau Dina sendiri?” tanya Rina menjadi bingung dan penasaran. “Apakah kamu yang bernama Raina?” tanya Dokter Adi saat melihat Rina saat ada di dalam kamar itu. Rina tersentak dan melihat ke arah Dokter tampan itu meskipun rambutnya sudah memutih sebagian. “Iya Dok, saya Raina,” jawab Rina tersenyum ramah. “Saya sudah dengar dari Mas Agung dan Reno kalau kamu akan menikah dengan Reno, saya ucapkan selamat, kamu jangan khawatir hidup di keluarga ini tidak sekejam yang kamu lihat, hanya mungkin ada kesalahpahaman diantara mereka,” jelas Dokter itu . “Maaf Dok, jujur saya sendiri bingung dengan keluarga ini dan sedikit takut dengan Tuan Agung dan Mas Reno, mereka kalau marah seperti singa kelaparan, saya takut nasib saya sama seperti Bu Dina karena sejak mengenal keluarga Mas Reno hanya ada pertengkaran selalu diantara mereka,” jawab Rina berpura-pura polos. “Jangan takut Neng, kan ada Mbok juga dan banyak pelayan di sini, sikap Neng Dina memang seperti itu, saya saja sudah kebal kok,” hibur Mbok Surti saat mendengar mereka bicara. “Memang harus ada yang merawat Rere, kasihan bayi itu jika tidak terurus dengan baik dan mungkin dengan menikahimu bisa membuat ketenangan di rumah ini. Jujur kondisi Dina bisa sewaktu-waktu drop dan kita tidak tahu takdir kita sendiri, kesehatan Dina semakin menurun jika dia selalu depresi, makanya kalian harus membuatnya terhibur,” jelas dokter itu lagi. Setelah mereka berbincang, Dokter Adi pun segera pamit. Mbok Surti mengantarkan pria itu sampai depan pintu. Rina pun kembali ke kamar Rere. Sampai di kamar bayi itu, ternyata Rere masih tertidur dengan lelap. Bayi montok itu sedikit menggeliat dan mengganti posisi tidurnya sehingga terlihat sangat menggemaskan. Rina lalu mengambil ponsel miliknya yang selalu dia bawa. Dia pun langsung menghubungi Yola sahabatnya itu dan nada tersambung. “Ada apa, Rin?” “Aku minta bantuan kamu lagi nih.” “Apaan?” “Aku minta cari tahu tentang kehidupan Dina, istri Reno itu sepertinya dia hampir menjadi wanita enggak waras setelah tinggal dan menjadi istri Reno.” “Kami takut kalau hidup kamu sama seperti Dina karena perlakuan buruk dan kejam dari calon mertua dan suami kamu nanti?” “Entahlah, aku bingung aja, kata kamu kan Tuan Agung itu super duper kejam tapi aku masih bingung aja sih, dia memperlakukan semua pelayan di rumah ini sangat baik tetapi tidak dengan Dina, aneh enggak sih?” “Masa sih?” “Makanya buruan cari tahu, aku penasaran banget.” “Oke, nanti aku kasih kabar dan sekali lagi aku turut bahagia deh, kami besok mau nikah dan gue nggak bisa hadir di sana?” “Iya, rasanya enggak percaya aja, sekarang aku sudah ada di rumah ini dan bisa melanjutkan misiku, Yol.” “Dan Reno, apakah kamu mulai jatuh cinta dengannya? Secara gitu dia sangat tampan dan Reno juga mulai terpesona dengan kecantikan kamu?” “Ya bisa dikatakan begitu, nanti aku hubungi kamu aja, oke?” Rina buru-buru memutuskan sambungan teleponnya dengan Yola. Entah kenapa setiap menyebut nama Reno dia selalu terbayang wajah pria itu membuatnya salah tingkah sendiri. “Ada apa denganku? Apakah aku mulai jatuh cinta dengannya?” pikir Rina dalam hati dengan wajah bersemu merah dia rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD