Rina memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Di sudut bibirnya pun langsung mengeluarkan darah segar membuat orang yang sedang sarapan pun menatap dingin ke arah Dina. Bayi itu pun tidak berhenti menangis di dalam gendongan Dina, meskipun sudah berkali-kali di diamkan olehnya.
“Mama tidak akan membiarkan kamu pergi, Sayang, sekarang kamu jangan menangis ya, kan sudah ada mamamu, Sayang?” Dina berbicara dengan bayinya sendiri tetapi bayi itu malah menangis lebih kencang lagi.
“Raina, ambil Rere dari wanita sialan itu!” perintah Tuan Agung dengan lantang.
“Apa yang Papa katakan? Ini anakku dan dia sudah menculiknya!” pekik Dina dengan tegas.
Reno menghampiri Dina, dia langsung merebut bayi itu secara paksa sehingga Dina pun yang lebih kecil tidak bisa menyaingi tubuh Reno yang besar dan kuat. Bayi itu pun berhasil diambil dari tangan Dina, lalu memberikannya kepada Rina.
“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Reno sangat lembut membuat Dina melotot. Mbok Surti membawakan kotak P3K bermaksud untuk mengobati luka di bibirnya, tetapi Reno malah menghentikannya karena Reno sendiri yang ingin mengobati luka itu.
Lagi-lagi Dina membuka matanya lebar-lebar, sungguh hal yang tidak masuk akal baginya. Dia bersikap sangat lembut dan perhatian. Bayi itu pun juga langsung terdiam dan seakan-akan memeluk Rina.
“Kamu lihat Dina, lihat bayimu sendiri dia begitu nyaman dipelukan Raina sedangkan kamu hanya bisa menyakitinya saja. Seharusnya kamu lihat di sekelilingmu, jangan asal bicara!”
“A—apa maksud Papa, dia sudah ....”
“Sudah apa? Apakah kamu tidak punya mata sehingga pandanganmu sangat gelap, hah? Siapa yang menculik bayimu itu? Rere tadi digendong oleh Raina ke dapur karena dia nggak bisa berhenti menangis dan kamu sebagai ibu kandungnya saja tidak mendengar Rere menangis. Raina pagi-pagi sudah berada di dapur membantu Mbok Surti menyiapkan sarapan pagi,” jelas Tuan Agung begitu emosi melototi Dina.
“Wajar saja dong Pa, dia juga akan menjadi pembantu di rumah ini apa salahnya dia ikut membantu pekerjaan rumah, sudah seharusnya bukan?” sindir Dina dengan tegas.
“Sadar Dina, kamu itu memang sangat keterlaluan sudah miskin sombong lagi, sudah bangun kesiangan, datang ke sini belum mandi penampilan berantakan, tidak pandai memasak, bahkan mengurus bayi saja tidak becus. Kamu tahu Din, Raina sudah wangi masuk ke dapur dan menyiapkan sarapan pagi bahkan dia tidak membiarkan Mbok Surti terlalu banyak bekerja. Bahkan bayimu saja sudah wangi dan kamu datang-datang memarahi Raina? Sungguh keterlaluan!” Tuan Agung menjelaskan semuanya membuat Dina seperti kehilangan muka di depan mereka.
Reno telah selesai mengobati luka di bibir Rina. Dia pun menambahkan sentuhan ciuman di sudut bibir Rina dengan bibirnya. Sontak saja Dina kembali terbakar rasa cemburunya dan ingin menamparnya lagi, tetapi langsung dicegah oleh tangan Reno. Wajah Rina merona, dia pun masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, ingin menolak tetapi hati malah sebaliknya.
“Mas, kamu sangat keterlaluan!” Reno menghempaskan tangan Dina yang ingin menampar pipi Rina. Kini malah Reno yang malah melayangkan satu tamparan keras ke wajah Dina sehingga tercipta setetes cairan pekat yang kental di sudut bibirnya.
“Ini balasannya karena kamu sudah menampar Raina, sekarang kamu minta maaf dengan Raina!” bentak Reno dengan tatapan nyalangnya.
“Nggak mau, aku nggak salah, kenapa aku harus minta maaf?” tanyanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Dasar wanita membangkang!"
“Pa, atur pernikahan kami besok, Reno nggak mau terlalu lama menunggu, jadi siapa pun yang ingin menghalanginya dia harus berurusan dengan Reno!” Ucapan itu membuat Dina terkejut dengan mata membulat sempurna.
“Ti—tidak! Aku tidak akan merestui kalian menikah! Aku tidak mau berbagi ranjang dengan wanita lain apalagi dengan dia!” Teriaknya dengan tegas.
“Mas ... jangan memperkeruh keadaan, jangan mengambil keputusan mendadak, kasihan Mbak Dina ...."
“Hey pelakor nggak usah membela diri kamu ya!” teriaknya lagi.
“Dina, jaga bicaramu apakah saya harus mengingatkan siapa kamu setelah kejadian itu? Siapa yang berselingkuh? Seorang wanita yang sudah bersuamikan seorang pengusaha kaya raya berselingkuh diam-diam dengan mantan pacarnya yang pemabuk dan pengangguran itu?” tanyanya dengan menatap tajam ke arah Dina. Seketika Dina terdiam, lidahnya terasa kelu dan tak mampu membukanya pagi.
“Maaf Pa, Mas Reno saya bawa Rere dulu ke dalam nggak baik dia mendengar semua ini meskipun dia belum mengerti tetapi jika dibiarkan memorinya akan cepat menangkap sesuatu di sekeliling kita, saya permisi dulu,” pamit Rina setelah mendapat anggukan kepala dari Tuan Agung calon mertuanya dan Reno.
“Drama yang sangat membosankan, kasihan kamu Dina sekarang kamu seperti w************n yang meminta belas kasihan dari keluarga ini. Aku tahu kamu tidak mau diceraikan karena kamu tidak mau menjadi gembel dan hidup miskin lagi. Baiklah penderitaanmu akan segera dimulai setelah aku menikah dengan suamimu, maka aku yang akan berkuasa untuk rumah ini termasuk semua orang yang tinggal di sini,” ucapnya dalam hati dengan menyunggingkan sebuah senyuman sambil menggendong Rere yang lebih tenang.
Mbok Surti segera membersihkan meja makan dan ingin meninggalkan meja makan, tetapi lagi-lagi Tuan Agung menghentikannya dan menyuruhnya duduk dengan mereka. Dina menatap nyalang dengan Mbok Surti.
“Mbok, cepat makan sarapannya, ingat setelah ini masih banyak pekerjaan yang akan menguras tenaga karena bantu saya untuk menyiapkan pernikahan Reno. Besok dia harus segera menikah dan saya mau semua terlihat sempurna meski terlihat sangat dadakan. Semua bisa diatur dengan mudah asalkan ada uang, benarkan, Reno?” Tuan Agung sengaja memperjelas kalimat itu hingga bisa didengar oleh Dina. Jangan ditanya bagaimana wajah cantik itu yang berlinangan air mata. Hanya diam berdiri memandang semua orang yang ada di meja makan itu. Mbok Surti sampai tidak bisa menelan makannya saat melihat wajah Dina begitu memerah, tangannya mengepal kuat, napasnya pun mulai naik turun.
Merasa sangat dihina, Dina dengan senyuman kecilnya seperti mengejek lalu menarik taplak meja itu sehingga makanan yang masih tersisa itu jatuh berantakan berserakan di lantai dengan piring dan gelas pecah tak terbentuk lagi. Tuan Agung hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah brutal menantunya yang dianggap selalu memberontak.
Reno kembali tersulut emosi sehingga melayangkan telapak tangannya mengenai pipi Dina. Rasa panas kembali menjalar yang dia rasakan, telinganya pun mendengung dan tak lama kemudian wanita muda itu pun tak sadar diri. Melihatnya Reno tak bergeming dia pun meninggalkan Dina yang masih tergeletak di lantai.
“Mbok urus semuanya, saya ada temu janji dengan orang, pastikan dia tetap di kamarnya dan segera panggil dokter kita, dan jangan Mbok bereskan semua ini, tunggu dia sadar dan suruh dia. Jika dia menolak lapor ke saya,” jelas Tuan Agung dengan tegas.
“Maaf Tuan, nggak apa-apa saya saja yang kerjakan, kasihan Neng Dina ...” protes Mbok Surti ingin membela Dina.
Tuan Agung menghampiri Mbok Surti dengan tatapan dinginnya. “Memang saya tidak tahu apa yang Dina lakukan sana Mbok setiap hari di rumah? Lihat ini, bukannya Dina yang melakukannya?” tanya Tuan Agung saat menyibak pergelangan tangan Mbok Surti yang sengaja ditutupi.