09. Menikmati Malam Pertama

1136 Words
“Selamat, Sayang akhirnya kamu bisa di sana juga.” “Ya, kamu benar aku sangat bahagia hari dan sebentar lagi aku akan menjadi nyonya di rumah ini.” “Baiklah semoga apa yang kamu lakukan tidak membahayakan dirimu sendiri, Rin. Dan katakan bagaimana wajah Reno aslinya apakah lebih tampan dari yang kita lihat di foto? Aku harap kamu tidak jatuh cinta pada pandangan pertama dan melupakan misimu yang utama.” “Tidak, aku nggak mungkin bisa jatuh cinta dengan orang yang pernah menyakiti keluargaku meskipun nggak disengaja, tapi kita lihat saja nanti mungkin bisa juga aku mempermainkan perasaannya setelah itu aku akan meninggalkan dia.” “Oke, tapi sepertinya itu nggak akan terjadi Rin, karena kamu akan mencintai Reno, lihat saja nanti.” “Sudah malam lebih baik kita tidur, karena sandiwaraku akan dimulai besok pagi.” “Kamu jangan sering menghubungiku, karena takut pembicaraan kita didengar orang lain.” “Oke.” Rina pun memutuskan sambungan teleponnya dan segera memejamkan matanya. Sementara itu, di kamar sebelah tampak Dina malah tidak bisa memejamkan matanya. Apalagi saat melihat Reno sudah bisa tersenyum saat bersama Rina. Ada rasa cemburu, api asmara yang siap meledak kapan saja. Dina menatap wajah suaminya yang sudah tertidur dengan pulas bahkan sekarang Reno tidak lagi mengucapkan selamat tidur atau pun ingin melakukan hubungan suami istri di mana setiap hari ada saja kelakuan yang ingin selalu menggoda dirinya untuk bisa melayani. Namun, semua telah berubah setelah kejadian enam bulan yang lalu. Dina mengutuk dirinya sendiri karena sudah melakukan kesalahan fatal. Wanita cantik itu tidak puas dengan satu pria saja, dia pun sangat mencintai dua pria sekaligus. “Tidak, aku tidak akan membiarkan wanita lain merebut Reno dariku. Rangga sudah meninggal, aku tidak mempunyai keluarga lagi yang sudi menerimaku , lebih baik aku bertahan di sini , yang penting aku bisa tinggal di rumah ini tanpa beban, bisa makan enak setiap hari, fasilitas mewah yang tidak pernah aku dapatkan di dalam hidupku sendiri. Urusan wanita itu bisa aku singkirkan perlahan-lahan dan akulah yang akan tetap menjadi pemenangnya,” batin Dina berkata sambil tersenyum puas. *** Pagi-pagi Rina sudah bangun dan menyegarkan diri. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna putih yang dia lilitkan sampai dadanya sehingga handuk itu hanya sampai di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Dia lalu berjalan ke arah bayi itu yang masih tertidur dengan lelapnya. Ya baru sehari Rere diasuh oleh Rina yang tidur bersamaan dengannya sudah membuat bayi itu bisa tidur dengan tenang. Wajahnya yang polos itu sejenak melupakan tujuan sebenarnya Rina ada di rumah besar itu. “Kamu sangat menggemaskan, Sayang, kamu mengingatkan dengan pada Riandra anak Tante. Ah ... seandainya dia masih bersamaku dan melihat bayi ini tentu dia sangat suka sekali, aku tidak membencimu karena aku sangat menyukai anak kecil. Kamu akan menjadi lebih dekat denganku daripada ibumu itu,” ucapnya membelai pipi halus bayi itu lalu menciumnya. Saat ingin membuka handuknya tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. “Siapa pagi-pagi begini sudah mengetuk pintu, belum pakai baju lagi, bagaimana ini, tapi jika dibiarkan suara ketukan pintu akan membangunkan bayi itu, kurang kerjaan banget,” gerutunya kesal. Mau tak mau dengan tampil percaya diri Rina menghampiri pintu itu langsung membukanya dengan wajah kesal. “Ada apa ...?” Rina terkejut dan terdiam saat melihat siapa yang ada dihadapannya. Begitu juga dengan Reno tertegun dan menelan slavina saat melihat tubuh Rina yang putih mulus hanya menggunakan lilitan handuk saja. “Pak Reno?” panggil Rina dengan wajah yang sudah merona. “Ma—maaf saya tidak bermaksud untuk ... Reno langsung masuk ke dalam, lalu mengunci pintu kamar itu. Tatapan pria itu sangat dingin tapi menuntunnya untuk lebih dekat dengan Rina. Dia terkejut dengan tindakan agresif Reno tetapi dia harus bersikap tenang. “Mau apa dia? Seakan-akan dia sudah terhipnotis dengan pesonaku, apakah dia ingin menuntas hasratnya karena dia sudah bosan dengan Dina?” tanyanya dalam hati meskipun dag dig dug. Reno dengan berani menyentuh kulit Rina yang putih dan mulus. Rina pun membiarkan Reno menyentuh di mana yang dia suka. “A—apa yang Anda lakukan, Pak Reno?” tanya Rina pura-pura tidak tahu. “Bukankah kita akan menikah seminggu lagi, tetapi saya sudah tidak bisa menahannya. Tubuhmu sangat indah dan seksi apalagi hanya menggunakan handuk seperti ini,” sahutnya sambil berbisik di telinga Rina dengan penuh gaya sensual. Entah kenapa Rina malah terhipnotis dengan rayuan gombalnya bahan aroma maskulin Reno sudah membuatnya tak ingin lepas dari aroma itu. Reno sangat pandai membuat mangsanya terbuai sehingga Rina masuk ke dalam pelukan Reno. Dengan mudahnya Reno mulai melakukan aksinya dan Rina malah menikmatinya. *** Dina terbangun saat tangannya meraba ke samping sudah tidak ada lagi sosok tubuh suaminya. “Dia sudah bangun tanpa aku bangunin? Tumben?” tanya Dina dalam hati dan bergegas turun dari ranjang. Dina mulai mencari di kamar mandi, ke ruang ganti pakaian, dia pun memanggil nama suaminya tetapi tidak ada sahutan. Sampai akhirnya dia berpikir untuk masuk ke kamar Rere. Dengan melangkah cepat dia ingin memergoki perselingkuhan Reno dengan baby siter baru itu. Dina mendobrak pintu kamar itu penuh semangat tetapi ternyata tidak ada bahkan bayinya sudah tidak ada di tempat tidurnya. Rasa panik dan khawatir akan bayinya di culik langsung menghantuinya. Dia pun buru-buru menuruni anak tangga dengan memanggil nama suaminya. “Mas! Mas Reno!” Dina berlari seperti orang kesurupan tetapi sampai di meja makan, dia melihat Reno sedang menikmati sarapan pagi. “Mas, Rere nggak ada di kamarnya, pasti wanita itu sengaja masuk ke rumah kita untuk menculik anak kita, cepat lapor polisi, jangan diam saja, Mas!” teriaknya di hadapan semua orang. Reno melihat Dina yang tampak berantakan membuatnya sangat malu apalagi Tuan Agung mulai menatapnya kesal. “Wah, menantu kesayangan, ngapain kamu berlari seperti orang kesurupan seperti itu, mengganggu orang sarapan saja, makanya jangan bangun kesiangan!” hardik Tuan Agung dengan suara baritonnya. “Apa maksud Papa, Rere itu diculik Pa, dan kita harus diam saja begitu, dia anakku, Pa? Jika kalian tidak mau mencarinya nggak apa-apa, aku bisa mencari anakku sendiri!” teriaknya lebih nyaring dari suara Tuan Agung tanpa sadar sambil melangkah pergi meninggalkan mereka yang sedang asyik menikmati sarapan paginya. Dina begitu kesal, tidak ada yang peduli dengan bayinya, dia pun menangis pilu sambil menyusuri anak tangga. Namun, saat sudah sampai di tengah anak tangga tiba-tiba terdengar suara celoteh seorang bayi yang mulai ingin bicara. Langkahnya terhenti kembali Dina memasang telinganya dengan baik dan benar saja itu suara bayinya. Dia pun kembali menuruni anak tangga sampai melihat bayi itu ada digendongan Rina yang sedang menyuapi m-pasi. Bahagia bercampur marah, Dina langsung menghampirinya dan dengan kasar merebut bayi itu yang sedang makan sehingga bayi itu pun menangis kencang. “Rupanya kamu yang menculik bayiku! Plak!” Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Rina meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD