08. Rekayasa Rina

1093 Words
“Maaf Masnya cari siapa? Kami di sini nggak butuh barang kreditan, Mas nya sales ya?” tanya wanita paru baya itu bingung. “Bi, bukan, ini tamu penting, di mana Paman?” tanya Rina. “Oh maaf kirain Mas kreditan panci, Ayuk silakan masuk dulu,” sahut wanita paru baya itu dengan ramah. Reno masuk ke rumah sederhana itu yang ternyata di dalamnya sangat bersih dan rapi, bahkan hanya tercium bau masakan yang membuat perut Reno ikut bernyanyi. “Maaf Mas rumahnya seperti ini, sebentar saya panggilkan suami saya dulu,” ucap Bi Mirna dan masuk ke dalam. “Sebentar Pak, saya buatkan minum,” ucap Rina dan ikut masuk ke dalam. Reno mengangguk dan kembali mengamati setiap sudut ruangan. Tak lama kemudian dari arah luar terdengar suara anak kecil memberikan salam. “Assalamu’alaikum,” sapa anak kecil itu sambil tersenyum. “Walaikumsalam,” sahut Reno sembari memandang sosok tubuh mungil yang berdiri di depan pintu rumahnya. “Om siapa, kenapa ada di rumah Reno?” tanya anak kecil berkulit putih itu yang sangat menggemaskan. Apalagi saat dia memakai baju Koko dan sarung kecil membuatnya penampilan anak laki-laki yang masih berusia lima tahun itu terlihat lucu dan tampan. Reno terpana dengan penampilan anak kecil tanpa dia sadari kedua matanya menitikkan air mata. Reno kecil lebih mendekat dan memperhatikan wajah pria tampan itu. Lalu dengan tangan kecilnya dia pun menghapus air mata Reno. “Kenapa Om menangis? Kata Tante Raina hanya bayi yang kecil yang boleh menangis, kalau seperti kita kan sudah besar,” sahutnya membuat Reno kembali menerbitkan senyuman. Reno, jangan ganggu tamu Tante Raina ya, nggak sopan itu namanya,” ucap Bi Mirna saat datang bersamaan dengan suaminya yang sedang duduk di kursi roda. “Maaf Nek, Reno hanya menghibur Om Reno. Tadi Om Reno menangis nggak tahu kenapa, bukan Reno yang buat Om ini menangis,” sahut Reno kecil dengan polos. “Nggak apa-apa Bu, tapi yang dikatakan Reno memang benar entah kenapa saya melihat anak ini seperti berbicara dengan malaikat kecil yang menggemaskan, karena saya juga sangat menyukai anak kecil apalagi kalau laki-laki,” jelasnya tersenyum kecil. “Mas, ini suami saya, beliau nggak bisa ngomong kena stroke,” sahutnya sambil memperkenalkan nama suaminya. Pak Munif pun hanya mengangguk pelan. “Nek, Om ini sama loh namanya dengan Reno.” “Oh ya, wah kok bisa kebetulan gitu ya?” tanya Bi Mirna ikut terkejut. “Nek, Om ini teman Tante Raina?” tanyanya lagi. “Iya, Om temannya Tante Raina,” sahut Reno ikut tersenyum. “Oh kirain pacar Tante Raina, wajah Om lebih cocok menjadi suami Tante Raina,” ucapnya lagi. “Reno, nggak boleh ngomong seperti itu, pasti kecil sudah tahu begituan, pasti dari teman Reno ngaji ya?” selidik Bu Mirna. Saat ingin menjawab tiba-tiba Rina datang dengan membawa empat cangkir minuman teh hangat keluar. “Maaf Pak, hanya ini saja yang bisa kami suguhkan, silakan!” Rina mempersilakan Reno untuk minum. “Oh ya nggak apa-apa.” Reno menikmati teh yang disuguhkan Rina. Sekejap ekspresi wajahnya terkejut. “Wah enak sekali teh hangat ini sangat berbeda dengan buatan Dina di rumah,” gerutunya dalam hati. “Maaf, tehnya kemanisan ya Pak?” tanya Rina polos. “Oh nggak, malah saya sangat menyukainya,” sahutnya canggung. “Reno Sayang!” panggil Rina sontak Reno menoleh dengan wajah bersemu merah saat mendengar kata sayang. “Oh maaf Pak, maksud saya Reno ini,” sahutnya malu-malu. Reno pun masuk ke dalam setalah Rina menyuruhnya pergi. Rina pun menjelaskan maksud kedatangan Reno ke rumah mereka yang pada dasarnya mereka menyetujuinya. Sebelum pergi karena azan magrib sudah berkumandang akhir mereka menunaikan salat. Reno kembali dibuat takjub saat melihat Rina memakai mukena lusuh itu. Wajahnya terlihat bersih dan segar membuat kecantikan alami Rina terpancar. Setelah selesai salat mereka pun makan bersama, meskipun lauknya sangat sederhana tetapi keakraban dan keharmonisan satu lingkup keluarga dia rasakan kembali. Berbeda jauh saat di rumah besarnya tidak ada keharmonisan dalam satu meja makan sekali pun. Lauk yang disajikan hanya gorengan tahu tempe dan tumis kangkung dilengkapi dengan sambal terasi yang menggoda. Setelah selesai makan mereka pun berbincang sedikit dan setelah itu mereka pun pamit dari rumah Rina. Entah kenapa hati Reno sangat bahagia sekali. Bertemu dengan keluarga yang santun dan ramah membuat hatinya damai. “Terima kasih!” “Untuk apa, Pak ?” “Ya saya merasa saat bertemu keluargamu seperti apa yang saya inginkan, mungkin kamu tidak percaya kalau di dalam keluarga saya selalu banyak kebisuan, ketegangan entahlah. Papa dari dulu tidak menyukai saya untuk menjalin hubungan dengan Dina, bukan karena dia miskin tetapi entahlah mungkin filling orang tua lebih tepat,” ucapnya membuat Rina penasaran. Reno pun kembali menceritakan tentang dirinya sampai bertemu dengan Dina yang dulu melamar sebagai sekretarisnya sampai Reno mulai menyukai dan mencintai Dina. Sudah lima belas menit berlalu akhirnya mereka sampai kembali di rumah Reno. Seperti yang dikatakan Tuan Agung Rina tidak membawa pakaian ganti dari rumahnya karena pria paruh baya itu ingin semua tampak baru. Tuan Agung sangat senang dengan keakraban mereka, tapi tidak dengan Dina yang merasa cemburu melihat Reno begitu lepas untuk tersenyum dengan wanita lain. “Kamar kamu di sini saja bersama Rere, jadi kamu tidak perlu naik turun untuk menjaga Rere, dan ini pakaian gantimu. Untuk sementara pakailah ini dulu besok pagi saya akan membelikan pakaian yang baru sesuai perintah Papa,” ucapnya sembari memberikan baju tidur milik Dina. “Maaf Pak, tapi ini kan baju Bu Dina nanti kalau dia marah bagaimana, nggak apa-apa Pak, saya pakai pakaian ini saja,” tolaknya secara halus. “Saya yang meminta pakailah, urusan tentang Dina adalah urusan saya, selamat malam,” sahutnya lagi dan pergi dari kamar Rere. Rina pun tersenyum dan segera menutup pintu kamarnya. Rina menghempaskan tubuhnya di kasur. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena sudah bisa masuk di dalam keluarga itu. Bahkan mereka sangat percaya untuk bisa menikahkan kembali anaknya yang kedua kali. Wanita cantik itu sudah mengantisipasi sebelumnya kalau Agung akan menanyai masalah latar belakang Rina , mungkin juga anak buah Agung sedang menyelidiki siapa Rina sebelumnya. Sebelum masuk di keluarga itu rupanya wanita cantik menjalankan aksinya Rina sudah mengatur semua rencana agar terlihat nyata. Bersama Yola Rina memutuskan tinggal bersama di rumah keluarga Rina yang kebetulan ada di Surabaya. Suasana yang cocok dan tempat tinggal yang bagus untuk ditinggali dan mengatur drama. Baik Bi Mirna Dan Pak Munif juga mengetahui siapa Rina sebenarnya dan mau membantu untuk melancarkan aksi balas dendam. Rina mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di dalam saku celana, lalu mencari nomor Yola dan menghubungi wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD