Rina yang kini berganti nama menjadi Raina Andini. Wanita itu terlihat lugu dan polos Rambutnya hitam yang panjang diikat kucir kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus. Memakai baju yang berbahan kaos lengan panjang berwarna merah muda dengan bunga kecil dipadupadankan dengan celana jeans berwarna biru dongkar dan sepatu cats berwarna putih.
Pria paru baya itu memanggilnya untuk bertemu mereka setelah Rina berhasil menundukkan malaikat kecil itu dengan nyenyak. Meskipun Rina tergolong sebagai wanita karier tetapi kepiawaiannya untuk merawat dan menjaga anak-anak sangatlah pintar. Dia sangat menyukai anak-anak, baginya hal yang paling indah adalah bisa membuat anak-anak bahagia adalah kepuasan tersendiri.
“Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena sudah menolong Rere dan insiden itu. Meskipun saya tidak terlalu menyukai anak perempuan saya juga tidak mau ada anggota keluarga yang mati sia-sia hanya karena keteledoran dari ibu kandungnya sendiri yang nggak becus mengurus anak satu saja. Sekarang katakan kepada kami, siapa kamu? Apakah kamu memang warga sini atau pendatang?” tanyanya dengan penuh selidik.
“Mati aku orang tua ini sangat banyak bertanya dan memang aku harus lebih berhati-hati dengan dia,” batinnya berkata.
“Maaf, saya memang baru di kota ini, setelah meninggalnya kedua orang tua, saya dibawa oleh bibi saya ke kota ini. Sekalian mencari pekerjaan yang penting halal. Saya ingin sekali bisa membantu paman dan bibi mereka sudah tua renta. Saya tadi nggak sengaja berjalan ke taman dan nggak sengaja juga saat melihat ada seorang bayi berada di kereta dorong dengan posisi meluncur, dan untungnya saya tepat berada di bawah sehingga saya bisa menghentikan laju kereta dorong itu,” jelasnya membuat mereka percaya.
“Ya itu kesalahan ibunya yang tidak bisa menjaga sekarang bayi kecil sekalipun. Saya akan menerima kamu di keluarga ini tetapi bukan sebagai baby siter untuk Rere melainkan kamu akan menikah dengan anak saya Reno,” sahut Tuan Agung membuat Rina pura-pura terkejut.
“A—apa maksud Bapak?” tanyanya bingung dengan ekspresi terlihat lugu.
“Di mana rumahmu, kami akan datang sekarang, tidak perlu menyambut kami begitu mewah karena sebenarnya kami tidak melihat orang dari derajatnya tapi melihat dari atitutnya,” jelasnya penuh penekanan sambil melirik ke arah Dina.
Wanita itu pun membalas tatapan mertuanya yang tajam dengan berani. Reno melihatnya itu segera menepuk tangan Dina untuk bisa menurunkan matanya. Seketika dia pun kembali mengalah.
“Se—sekarang?” tanya Raina masih bingung.
“Kenapa, apakah kamu keberatan? Apakah kamu sudah mempunyai kekasih atau sudah menikah?” tanya Tuan Agung kembali.
“Maaf, kenapa Anda begitu yakin dengan orang yang baru kenal untuk dijadikan sebagai menantu di keluarga ini? Kenapa Anda begitu percaya dengan saya sedangkan saya hanya membantu menyelamatkan bayi itu saja. Dan lagian maaf saya juga seorang wanita pasti tahu bagaimana rasanya ada diposisi Bu Dina,” jelasnya sambil menundukkan kepala.
“Saya tahu ini memang hal yang aneh, tetapi kamu perlu tahu Raina saya bisa melihat dari wajah kamu yang polos dan baik, sangat sulit saya bisa mempercayai orang yang baru kenal, terkecuali kamu. Ada sesuatu yang istimewa dari kamu dan saya harap tidak salah. Jadi katakan apa keputusan kamu?” jelasnya lagi.
“Maaf Pak, rasanya sangat aneh dan saya ini hanya butuh pekerjaan agar bisa menghasilkan uang, bukan untuk menikah. Dan lagian saya masih trauma untuk menikah karena pernah mengalami kegagalan berumah tangga. Suami saya mengkhianati saya dengan menikah lagi wanita yang lebih kaya. Pernikahan kami hanya bertahan sebulan. Dan kami sudah resmi bercerai, entah di mana dia sekarang,” jelasnya dengan menitikkan air mata.
“Oh maaf karena telah membuat kamu mengingatkan masa lalumu.”
“Ya Pak nggak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu Pak sudah sore, saya harus mencari pekerjaan lain, permisi!” Rina bangkit dari tempat duduknya ingin meninggalkan itu.
“Ayo segera tahan aku,” batin Rina dengan penuh semangat.
“Tunggu!” Ucapan pria paruh baya itu membuat Rina menyunggingkan sebuah senyuman kecil yang tak terlihat oleh semua orang.
“Ya Pak, ada apa?” tanya Rina menoleh ke belakang.
“Lebih baik kamu bekerja di sini saja, tidak perlu kamu mencari pekerjaan lain, kamu boleh menjadi baby siter Rere,” sahut Tuan Agung membuat hati Rina ingin melompat keluar saat mendengar kalimat itu.
“A—apa Bapak menerima saya untuk bekerja di sini?” tanya Rina dengan wajah berbinar.
“Ya, tetapi dengan satu syarat.”
“Syarat? Jika Bapak menyuruh saya untuk menikah dengan putra Bapak, maaf saya tidak jadi mengambil pekerjaan itu karena seperti yang Bapak bilang kalau saya hanya butuh uang untuk bisa membantu paman dan bibi,” tegasnya.
Tuan Agung berdiri dan menghampiri Rina. Mereka saling menatap. “ Saya hanya ingin kamu tinggal di rumah ini, kamu bisa pulang ke rumahmu di hari minggu sebagai hari libur. Dan saya harap kamu tidak keberatan,” jelasnya lagi dengan penuh keyakinan.
Rina sedikit mengulur waktu berpikir padahal di dalam hatinya sangat menyetujuinya apalagi memang itu yang dia inginkan.
“Ba—baiklah, saya setuju. Terima kasih Pak, dan kapan saya bisa mulai bekerja?” tandanya dengan wajah berbinar.
“Hari ini juga,” jawabnya singkat.
“Terima kasih Pak, kalau begitu saya harus memberitahukan kepada keluarga saya dulu, dan mengambil pakaian saya.”
“Kamu tidak perlu pergi sendirian, biar Reno yang akan mengantarkan kamu. Reno?” panggilnya dan Reno pun segera beranjak dari tempat duduknya.
“Antarkan dia untuk pulang dan sekalian berkenalan dengan keluarganya, setelah itu kalian kembali ke sini dan tidak perlu membawa pakaian lamamu,” sahutnya lagi.
Reno mengangguk dan Rina berpamitan dengan orang tua itu. Sampai di mobil Rina tak kunjung melepaskan senyumannya yang membuat Reno ikut tersenyum melihat Rina yang semakin memesona.
“Maaf jadi merepotkan Bapak untuk mengantar saya,” ucapnya kembali lugu.
“Nggak apa-apa. Oh ya apakah rumahmu jauh dari sini?” tanya Reno penasaran.
“Tidak Pak, tapi rumah saya tidak sebagus rumah Bapak mungkin bisa dibilang seperti gubuk tapi untuk fungsinya sama melindungi dari panasnya matahari dan hujan,” jawabnya membuat Reno tersenyum kecil.
Mereka pun saling mengobrol santai sambil Rina menunjukkan jalan pulang sampai akhirnya mereka sampai di sebuah perkampungan yang padat penduduknya. Untung saja di waktu sore menjelang magrib mereka tidak berkeliaran di luar rumah sehingga terlihat tampak sepi. Reno memarkirkan mobilnya di sebuah perkarangan rumah yang luas. Tampak sebuah bangunan kecil berdiri kokoh tapi sangat usang. Reno memperhatikan ke setiap sudut dan mengingatkan akan kondisi rumah Dina yang juga memprihatinkan saat itu walaupun sekarang keluarga Dina hidup enak dan bahagia karena Reno selalu memberikan uang bulanan kepada orang tua Dina.
“Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam, kamu ke mana ... ucapannya terhenti dan melongo saat melihat Reno ikut berdiri di samping Rina.