“Apa maksud Papa, menikahi wanita yang belum kita kenal? Bagaimana kalau dia sudah memiliki pacar atau suami, kita tidak bisa langsung mengambil keputusan, sementara kita belum tahu latar belakangnya,” sanggah Reno masih tidak percaya dengan keputusan papanya.
“Apa salahnya? Kita bisa bertanya langsung dengan dia dan tinggal kita menyuruh orang untuk mencari tahu latar belakang wanita itu, dengan uang semua bisa dilakukan, ya seperti istrimu itu,” sindirnya yang terang-terangan.
“Pa, kenapa selalu Dina yang harus mengalah, kenapa Papa tidak memberikan Dina kesempatan lagi?” tanya Reno yang masih membela istrinya itu.
“Sudah cukup Papa memberikan kamu kesempatan dan apa hasilnya mempunyai menantu yang tidak berguna berpenyakitan, tukang selingkuh, miskin pula. Lebih baik kita bicarakan langsung dengan wanita itu, lagian untuk menjadi pendamping kamu dia tidak terlalu buruk, hanya tinggal dipoles saja dia juga akan kelihatan cantik. Bukankah istrimu yang miskin itu bisa cantik karena kamu, iya, kan?” tanya orang tua itu mampu membuat air mata Dina kembali menyeruak.
Setelah berdebat panjang lebar Agung kembali meninggalkan sepasang suami istri itu. Dina masih tidak berkata apa pun hanya terdengar suara isak tangisnya saja. Baginya percuma untuk berdebat toh akhirnya Reno pasti akan menuruti permintaan papanya yang memang tidak menyukai Dina menjadi menantunya.
Reno menatap tajam kerah Dina, seketika ingin melangkah jauh untuk meninggalkan Dina yang masih menangis pilu.
“Jika kamu ingin menikah lagi maka aku akan keluar dari rumah ini, sekarang katakan siapa yang kamu pilih aku atau papamu, Mas?” tanya Dina yang masih mengharapkan Reno memilih dirinya meskipun harapan itu tidak seratus persen Reno memilihnya, setidaknya dia akan membuat Reno di dalam pilihan yang sulit.
Reno membalikkan badannya dan kembali menghampiri Dina. Reno memang sangat mencintai Dina tetapi setelah skandal yang dibuat Dina kalau ternyata dia masih berhubungan dengan Rangga mantan pacarnya yang sudah dia lenyapkan dengan tangannya sendiri membuat cintanya pun ikut terkikis.
Pria tampan itu tersenyum sinis mendengar ucapan Dina. “Kamu tahu Din, aku seperti orang bodoh yang sangat mencintaimu, bahkan aku melawan papa agar bisa menikahimu, tapi semua itu sedikit demi sedikit kebusukan kamu terbongkar. Aku semakin yakin kalau Rere bukanlah darah dagingku, karena kamu masih berhubungan dengan orang itu. Jadi jika kamu mau pergi dari rumah ini silakan dan aku tidak keberatan dengan begitu aku dengan mudah menceraikan kamu!” ancamnya membuat Dina mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya mulai mengeras, kedua mata Dina melotot tajam tidak percaya apa yang dia dengar barusan kalau Reno tidak bisa dikendalikan seperti biasanya.
“Kenapa kamu diam? Apakah kita harus membuktikan kalau Rere itu bukan anakku?” tanya Reno tetapi Dina masih terdiam seakan mulutnya terkunci rapat.
“Mas, kamu harus percaya denganku, aku tidak pernah berhubungan dengannya lagi, lagian kamu juga sudah melenyapkan Rangga dan tidak ada alasan lagi kalau aku berselingkuh dengannya,” sanggah Dina berusaha meyakinkan.
“Aku tidak tahu siapa yang salah dan benar di sini, tapi jika suatu hari kamu yang terbukti memang kami selingkuh dibelakangku jangan harap kamu bisa tinggal di sini bersama anakmu!” bentaknya dengan tatapan elangnya.
Reno kemudian melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan Dina yang masih terpaku diam. Sesaat setelah kepergian Reno, Dina langsung merosotkan tubuhnya ke lantai dan menangisi takdirnya yang sudah mempermainkan hidupnya.
Kini malah Dina yang menjadi dilema antara pergi meninggalkan Reno beserta kemewahan yang dia dapat selama tinggal di rumah istana itu atau bertahan dengan risiko berbagi madu dengan yang lain.
“Tidak, aku tidak mau miskin lagi, aku sudah kenyang hidup menderita dan miskin! Aku tidak mau kembali ke gubuk itu! Aku ingin hidup kaya dikelilingi banyak kemewahan!” hardiknya dalam tangisan.
Namun, sesaat timbul dipikirannya untuk bangkit dan dia harus mengumpulkan tenaganya untuk bisa bertahan di rumah itu sambil menyusun rencana agar bisa menggagalkan rencana mertuanya menikahi Reno dan wanita yang baru mereka kenal. Dia lalu berniat untuk mendatangi wanita itu. Namun, dia terlambat karena wanita itu sudah berada di ruang tengah duduk bersama Tuan Agung dan juga Reno.
Tak dipungkiri pesona Rina sebenarnya sudah menyihir Reno. Hanya saja dia tidak ingin terlalu salah tingkah di depan wanita yang baru dia lihat. Sementara itu Rina sudah bisa membaca gelagat pria tampan itu yang sering mencuri pandang darinya.
“Katakan Raina apa kamu ingin mengasuh bayi itu?” tanya orang yang paling dituakan di rumah besar itu.
Langkah kaki Dina melambat menuruni anak tangga satu persatu saat mendengar ucapan orang tua itu seperti petir di siang bolong. Agung melihat kedatangan Dina yang menundukkan kepalanya dan berdiri di hadapan mereka.
“Bagus Dina, kamu harus mendengarkan apa yang akan kami bicarakan, silakan duduk,” ucap Agung dengan tersenyum sinis.
“Di mana bayiku?” tanya Dina dengan nada ketus sambil menatap tajam ke arah Rina.
“Maaf Neng, Rere sudah ditidurkan oleh Raina tadi, dia sangat anteng,” sahut Mbok Surti bersuara tetapi malah membuat Dina tersulut emosi.
“Kenapa kamu yang menjawab, saya tidak bertanya dengan seorang pembantu!” hardiknya dengan kasar.
“Dina, jaga sikapmu! Meskipun Mbok Surti kepala pelayan di sini dia tetap sebagai ibu kedua bagiku, kamu tidak boleh bertindak kurang ajar dengan dia! Cepat minta maaf!” bentak Reno membuat Dina seperti kehilangan harga dirinya saat dimarahi di depan semua orang.
“Den, sudah nggak apa-apa, jangan terlalu diambil hati,” sahut Mbok Surti menenangkan Reno yang ikut tersulut emosi.
“Lihat Reno, istrimu ini rupanya kemiskinan yang dia derita selama ini membuatnya lupa akan kesopanan, apakah hal itu harus diajarkan lagi di rumah ini?” tanyanya dengan nada mengejek.
“Dina lakukan!” perintah Reno yang semakin tajam menatap istrinya.
Dina merasa putus asa tetapi dia juga tidak ingin terbuang dari keluarga kaya ini sehingga dia pun menuruti keinginan suami dan mertuanya untuk meminta maaf kepada Mbok Surti.
“Mbok, aku minta maaf,” ucapnya pelan.
“Sudah nggak apa-apa,” sahut Mbok Surti tersenyum setelah itu dia pun ingin meninggalkan ruang tengah itu.
“Mbok Surti mau ke mana?” tanya Tuan Agung membuat langkah wanita paru baya itu berhenti.
“Saya ke dalam Tuan, masih ada kerjaan di dapur,” sahutnya mengangguk.
“Tidak perlu suruh pelayan yang lain, Mbok itu sudah tua kalau sakit saya yang pusing, lebih baik kamu menjadi saksi dari pembicaraan kami, duduk!” perintah Tuan Agung.
“Apa ini kenapa nggak sesuai dengan apa yang dikatakan Yola sih? Katanya pria tua ini sangat kejam dan menyebalkan tetapi dengan seorang pembantu saja dia sopan, sepertinya dia hanya tidak suka dengan Dina menantunya? Ada rahasia di balik ini semua sangat membingungkan,” batin Rina saat mendengar mereka berdebat.