05. Amarah Sang Mertua

1239 Words
Rina seperti melihat Riandra dalam wajah Rere bayi Dina itu, apalagi saat tangan kecil itu menyentuh pipinya, tanpa dia sadar bulir-bulir air mata sudah membasahi wajahnya. Buru-buru Rina menghapusnya karena tidak ingin terlihat sedih di mata mereka. Rina pun akhirnya mengajak bermain di ruang tengah karena memakai karpet tebal yang lembut dan selalu dibersihkan setiap hari, sehingga bayi itu tidak terkena debu atau kotoran yang menempel pada kulitnya halusnya. Mbok Surti begitu bahagia saat bayi itu ingin bermain dengan senyuman mengembang. Sedangkan di kamar Reno masih menunggu jawaban dari Dina, kenapa dia tidak mau menerima seorang pengasuh padahal dia sakit, apa yang dia sembunyikan sehingga dia takut untuk berterus terang? *** Sudah setengah jam Reno menunggunya tetapi hanya tangisan dari Dina yang menyeruak di kamar luas itu, membuat Reno tidak mengerti apa yang diinginkan istrinya itu. Kadang Reno sudah menyerah untuk bisa berdamai dengan hatinya. Dulu dia sangat mencintai Dina, dia selalu mengorbankan apa saja yang Dina minta, walaupun dia dari keluarga miskin dan hubungannya di tentang oleh papanya dia pun masih nekat menikahinya. Papanya pun tidak bisa berbuat banyak karena Reno akan mengancam akan meninggalkan rumah. Tuan Agung pun setuju walaupun belum bisa menerima Dina sebagai menantunya sampai sekarang. Namun, saat kejadian enam bulan yang lalu membuat Reno sangat bersalah dengan papanya, ternyata Dina masih berhubungan dengan mantan pancarnya. Reno pun masih meragukan kalau anak yang dilahirkannya itu adalah anaknya sendiri tetapi rasa cintanya yang besar kepada Dina telah membutakan hatinya apalagi Dina dengan kondisi sakit seperti ini. Reno pun ingin sekali mencari buktinya tetapi karena amarah yang tidak bisa dia kendalikan sendiri membuat Rangga mantan pacar Dina merenggang nyawa di tangannya. Dina tahu kelemahan Reno yang sangat mencintai dan amarah tingkat dewa, tetapi kali ini Reno tidak mau mengikuti kemauannya sehingga dia harus mencari cara agar tidak menerima pengasuh itu di rumah ini. “Apakah dengan kamu menangis semua akan selesai?” tanya Reno yang sudah muak dengan tingkah Dina yang selalu menangis jika berdebat dengannya. “Kenapa Mas Reno bertanya lagi, bukankah Mas yang membuat aku seperti ini?” tanyanya balik. “Ayolah Sayang, apa susahnya kamu menerima pengasuh itu dan setelah kamu sembuh kamu bisa tidak memakainya lagi, kenapa kamu begitu sulit sekarang di pahami? Kamu tahu sepertinya kamu bukan Dina yang aku kenal, yang polos dan lugu, ceria, dan bisa mengambil keputusan dengan bijaksana. Saat kamu menjadi sekretarisku kamu semua yang menghandle pekerjaanku, kamu membuat keputusan yang masuk akal, dapat di terima secara logika dan berujung kesuksesan.” “Namun, sekarang kamu sangat berbeda Sayang, kamu semakin jauh, apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi, atau karena aku telah melenyapkan selingkuhan kamu yang merupakan mantan pacar kamu yang pemabuk itu? Katakan Dina kenapa, jangan membuat aku salah mengartikan kalau anak itu adalah ....” Ucapannya menggantung saat mendengar suara menggelegar “Reno! Reno!” panggilan itu terdengar sampai ke kamar Reno. Seketika Dina semakin takut mendengar suara bariton itu. Reno segera mengikuti arah sumber suara itu, begitu juga dengan Dina yang perlahan-lahan mengikuti suaminya keluar. “Iya Pa, ada apa?” Pria tua itu menatap bengis wajah menantunya yang berjalan pelan di belakang. Reno ingin membantunya tetapi tangan kekar dari pria itu segera menahannya dengan kuat. “Pa?” “Biarkan dia berjalan sendiri, dia masih bisa tanpa bantuan orang lain, bukan begitu Dina?” tanyanya dengan tatapan tajam kearahnya. “Siapa dia Reno?” tanya Tuan Agung saat melihat ada orang asing di rumahnya. “Reno baru mau memperkerjakan dia sebagai baby siter untuk Rere, Pa,” jawab Reno. “Ya, Papa sudah mendengar dari cerita Mbok Surti, dan istrimu sudah berpenyakitan dan tidak bisa menjaga anaknya sendiri.” “Mbok, bawa mereka dulu ke kamar lain saya ingin bicara dengan mereka,” perintah Pak Agung. “Baik Tuan.” “Ayuk Neng, kita pindah ke kamar lain,” ajak Mbok Surti kepada Rina. Rina pun mengikutinya dan masih menggendong Rere nama bayi kecil itu. “Mbok, kenapa orang tua itu marah besar, apakah dia tidak menyukai Bu Dina, kalau saya lihat sih seperti itu?” tanya Rina ingin mengetahui segalanya. “Iya kamu benar, tetapi Den Reno itu sangat mencintai Neng Dina, ya mau bagaimana lagi namanya cinta sudah buta dan Pak Agung pun mengalah agar Den Reno tidak keluar dari rumah ini, Pak Agung itu sangat menyayangi Den Reno daripada putrinya, karena Pak Agung tidak suka dengan anak perempuan, entahlah,” jelasnya. Mbok Surti membawa ke taman belakang, sungguh pemandangan yang asri dan membuat hati Rina tenang. “Mbok luas banget, tadi kamarnya Pak Reno besar sekarang taman ini sama luasnya,” ucap Rina kali tidak berbohong dia suka dengan alam bahkan hobinya berkebun pun sudah mulai muncul ide-ide untuk menanamnya. “Mbok seandainya saya di terima bekerja di sini, boleh nggak kalau saya menanam berbagai macam bunga atau tanaman lainnya, soalnya bisa mengingatkan saya di kampung,” lanjutnya lagi. “Ya boleh dong, asalkan pekerjaan utama kamu sebagai baby siter Rere tidak terganggu, “ sahutnya dengan tersenyum. “Terima kasih Mbok, saya akan mengingat itu,” sahutnya lagi. Sementara di ruang keluarga itu Tuan Agung masih tidak terima dengan tindakan ceroboh yang di lakukan oleh menantunya yang membahayakan bayi kecil itu. Walaupun Pak Agung tidak menyukai bayi perempuan bukan berarti membuat bayi itu dicelakai oleh siapa pun. “Dina, buat apa kamu keluar sendirian, kamu mau pamer dan minta dipuji sama orang lain kalau kamu yang sakit saja bisa mengurus anakmu itu, begitu pikiranmu? Kenapa kamu tidak ajak Mbok Surti atau pelayan lainnya, begitu banyak pelayan di sini tetapi kamu terlalu sombong untuk tidak membawa salah satu dari mereka. Apakah kamu jijik dengan pelayan di sini? Mereka saya yang gaji mereka bersih, apa salahnya kamu mengajak mereka. Setiap mereka menawarkan bantuan selalu kamu tolak, sudah miskin sombong lagi. Ah saya tahu kamu pasti tidak mau di temani oleh mereka karena kamu masih berhubungan dengan tukang mabuk itu kan?” “Untung saja Reno sudah melenyapkannya, jika kalau tidak kamu pasti akan bertemu orang itu di belakang Reno, iya kan?” tuduh Tuan Agung dengan amarahnya. “Pa? Apa yang Papa katakan?” Reno ingin membelanya. “Buka matamu Reno, jangan terlalu mencintai wanita ini, dia ini musang berbulu domba, sudah dikasih hati malah minta jantung pula. Ya, Papa yang memintanya untuk tidak menerima pengasuh mana pun untuk mengasuh bayinya. Dia sendiri ingin membuktikan kalau dia mampu, tetapi nyatanya apa Dina? Untung saja ada wanita itu yang menolongnya. Ingat Reno wanita ini sudah membuat papa rugi besar, kamu tahu kan masalah yang di timbulkan oleh istrimu ini?” “Gara-gara dia yang menuduh sembarangan dokter itu yang melecehkannya, dan kamu yang mempunyai sikap amarahmu sehingga kamu melukai, mencekalnya , memberikan berita bohong dan sampai kamu kejar dia sehingga menabrak pembatas jalan dan anak kecil itu mati di tangan kamu saat membawanya ke rumah sakit, berapa banyak uang papa harus menutup semua mulut mereka yang berhubungan dengan kematian dokter itu? Dan sekarang kamu berbuat ulah lagi!” bentaknya sambil melotot tajam kearah Dina. “Reno, sudah papa bilang kalau Papa tidak menyukainya bukan karena dia miskin tetapi sikapnya yang ceroboh, ternyata benar kan? Dengar Reno, pecat wanita itu sekarang juga!” hardiknya. “Apa maksud Papa, nggak mungkin Reno memecat wanita itu karena Rere bisa diam di gendongan wanita itu,” sanggahnya. “Papa memang menyuruh kamu memecatnya karena Papa ingin kamu menikahi wanita itu, kamu tahu kan alasan Papa, Reno?” ucapnya sembari mengamati wajah Dina yang sudah menitikkan air mata. ..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD