04. Menjadi Baby Siter

1285 Words
“Apa yang terjadi? Mbok cepat panggil dokter!” perintahnya. “Mbak Dina tadi terkejut saat mendengar gonggongan anjing itu dan pegangan di kereta bayinya terlepas dan untung saja Mbak ini yang menyelamatkannya,” jelas Ibu itu. Reno segera mengangkat dan menggendong Dina sampai masuk ke kamarnya , dia belum terlalu melihat Rina karena masih fokus ke Dina yang masih pingsan. “Mbok, ini bayinya, saya mau pulang dulu dan ini sudah kesorean mau mencari pekerjaan,” pancing Rina dengan wajah memelas dan memberikan bayi itu kepada Mbok Surti. “Tunggu Neng!” panggil Mbok Surti seketika. Rina tersenyum kecil mendengar dirinya dipanggil. "Neng butuh pekerjaan kan?” “Iya Mbok, apa saja yang penting halal, memang ada ya Mbok?” Mbok Surti menyerahkan kembali bayi itu ke tangan Rina untuk di gendongnya. “Maksudnya menjadi baby siter untuk bayi ini ?” tanya Rina polos. “La iya Neng masa sama bapaknya?” guyonannya. “Mbok tetapi katanya orang Bu Dina tidak mau memakai jasa baby siter?” “Iya Mbok tahu, tetapi Neng Dina itu lagi sakit, bagaimana dia bisa merawat bayinya sendiri sedangkan dia juga harus di rawat?” “Ayuk kita ke kamar mereka dulu dan sekaligus meminta izin apakah diterima atau tidak,” ajak Mbok Surti menaiki anak tangga satu persatu. “Nggak apa-apa saya masuk, Mbok?” “Sudah lihat saja nanti, Ayuk. Nggak pakai lama,” sahutnya lagi. Rina pun mengekori Mbok Surti. Dari belakang sambil menggendong bayi kecil itu dengan tersenyum. “Sayang, kamu memang sangat menggemaskan, apa kamu juga menyukaiku sebagai teman barumu nanti? Kamu harus patuh dengan mama barumu nanti, dan jangan pedulikan mamamu yang berpenyakitan itu. Dan papamu memang sangat tampan, kamu mau kan mempunyai dua mama, atau mama Dina kita lenyapkan saja karena dia sangat menyusahkan kamu kan?” gumamnya dalam hati sambil tersenyum. “Apakah Mbok sudah memanggil Om Adi?” tanyanya seketika setelah menyelimuti Dina. Perlakuan Reno terhadap Dina membuatnya marah, ingin sekali rasanya dia melemparkan sebuah benda ke kepala mereka dan melenyapkan seketika. Namun, dia menahannya karena ingin bermain cantik dan tanpa ada yang curiga. “Mbok, punya minyak kayu putih?” “Ada Neng, sebentar.” Mbok Surti mengambilkan minyak itu yang bertengger di meja rias milik Dina, lalu memberikannya kepada Rina. Rina mendekat, dan memberikan minyak kayu putih itu di hidung Dina untuk bisa memberikan reaksi. Seketika Dina pun mulai sadarkan diri secara perlahan-lahan. “Ah ... di—dimana aku? Augh ... Kepalaku pusing sekali,” lirih Dina memegang kepalanya dan berusaha mengumpulkan memorinya. “Kamu sudah di rumah, Sayang, kamu pingsan karena kamu berlari dan itu membuat jantung kamu capek,” jawab Reno sesuai dengan yang dikatakan oleh warga. Reno membantu tubuh Dina untuk bisa bersandar di tempat tidurnya dan melihat bayinya sedang di gendong oleh seorang wanita cantik. “Oh ya Mbaknya yang telah menolong bayi saya, iya kan?” Rina memberikan bayi itu di tangan Dina, seketika bayi itu sendiri langsung menangis keras membuat Dina susah untuk mendiamkannya. “Maaf Bu, biar saya coba untuk mendiamkannya.” Rina langsung mengambil bayi itu dan benar saja bayi Dina terdiam dan seakan-akan memeluk dirinya. Reno dan Dina terdiam dan memperhatikan Rina yang bisa mendiamkan bayi mereka dalam sekejap. Tak lama kemudian Dokter Adi sampai di kamar Reno. Dia langsung memeriksa Dina. “Bagaimana Om, apakah Dina harus di rawat lagi?” tanya Reno sangat khawatir. “Kamu tidak perlu cemas dia baik-baik saja, tetapi jangan sampai terulang lagi karena itu sangat berbahaya,” sahut Dokter Adi setelah selesai memeriksa kondisi kesehatan Dina. “Syukurlah kalau begitu, terima kasih Om.” “Baik Dina, Om pergi dulu dan jangan lupa obatnya di minum.” “Terima kasih, Om." Reno lalu mengantarkan Om Adi keluar kamar setelah selesai memeriksa Dina. “Reno, sebaiknya kamu mencarikan Baby siter untuk anakmu, Dina itu perlu istirahat yang cukup tidak boleh capek karena itu berpengaruh kepada kesehatannya sendiri. Bujuklah istrimu kasihan juga Rere kalau tidak terurus sedangkan dia butuh perhatian khusus, bagaimana Dina merawatnya sendiri jika tubuhnya juga perlu di rawat, kalau kamu sayang sama istrimu lebih baik carikan saja. Om lihat ada wanita di kamarmu sedang menggendong bayinya, Om rasa dia cocok untuk menjadi pengasuh, Rere sangat anteng berada di tangan wanita itu, kamu cobalah dulu, kasihan Dina, dia capek mengurus bayinya apalagi perkembangan Rere sangat cepat dia mulai banyak ingin tahu, kasihan juga dengan Rere, jangan sampai tumbuh kembangnya terhambat karena penyakit Dina, Om pergi dulu, Ren,” jelas Dokter Adi sambil menepuk bahu Reno. Setelah kepergian Dokter Adi, Reno masuk kembali sembari memikirkan apa yang dikatakan Om Adi itu. Reno melihat kondisi Dina yang masih terlihat lemah. “Maaf, Den, saya hanya ingin memberikan pendapat saya saja.” “Katakan Mbok.” “Begini sebelumnya saya minta maaf, ini hanya usul, jika melihat kondisi Neng Dina masih lemah apa sebaiknya bayi ini di carikan pengasuh saja, kasihan Non Rere dan kasihan juga sama Neng Dina, ini tidak baik Den, kita tidak bisa menutup mata melihat kejadian seperti tadi.” “Maaf Neng Dina, bukannya mau ikut campur, tetapi saya sudah lama bekerja di sini, dan saya juga yang mengasuh dan membesarkan Den Reno, tidak masalah buktinya kasih sayang untuk orang tuanya tetap ada, kami hanya membantu. Ibunya Den Reno juga dulu sering sakit-sakitan, dan saya yang mengasuh Den Reno, yang pentingkan peran kalian sebagai orang tua tetap ada, tidak menyerahkan semua tanggung jawab kepada baby siter. Kita tetap mengawasi Neng.” Dina tertegun sejenak tanpa mengeluarkan suara apa pun. “Neng Dina harus sembuh bagaimana mau merawat Rere jika Neng tidak bisa menjaga diri sendiri, kasihan Rere nantinya Neng, apalagi seusia Rere sudah mulai aktif-aktifnya banyak bergerak.” Nasihat Mbok Surti membuat Dina menangis. “Apa yang di katakan Mbok Surti benar Sayang. Mbok Surti telah merawat aku dan Rara sampai kami besar, tetapi kasih sayang kami dengan orang tua tidak pernah tergantikan. Dan Mbok Surti adalah ibu kami yang kedua, dia sudah ikut kami dan tidak mungkin dia semua mengerjakan pekerjaan rumah, dia hanya bisa mengatur dan memberikan perintah kepada anak buahnya karena dia juga sudah tua, tenaganya pun sudah tidak sama seperti dulu,” jelas Reno pelan. “Aduh terlalu banyak drama, apa susahnya sih tinggal baik Mas Reno, aku setuju. Susah sekali sih, sudah berpenyakitan juga masih saja keras kepala begitu, atau ada sesuatu yang dia sembunyikan? Emmmh ...sepertinya begitu, dari raut wajahnya saja terlihat jelas ada yang aneh, seperti ketakutan gitu, ah peduli amat, yang penting aku diterima bekerja di sini dan melanjutkan balas dendamku kepada mereka,” batin Rina berkata. “Mas, aku janji akan merawat Rere dengan baik, aku nggak butuh seorang pengasuh, aku masih bisa kok,” sanggahnya. “Mbok, siapa menurut Mbok bisa menjadi pengasuh anak Reno?” tanya Reno tanpa memedulikan perkataan Dina. “Mbak ini Den, kebetulan dia sedang mencari pekerjaan apa saja yang penting halal,” jawabnya. Reno akhirnya menatap Rina dengan tatapan tajamnya. Rina pun pura-pura polos dan menunduk seakan-akan takut dengan pria tampan itu. “Hei, kamu apa benar kamu mau menjadi pengasuh anak saya?” Reno bertanya dengan dingin. “Mau Pak, tetapi Ibu Dina?” “Kamu tinggal jawab mau atau tidak?” bentaknya seketika. “Ma-mau Pak,” Jawab Rina. “Mbok urus dia, untuk lainnya biar nanti saya bicara lagi dengan wanita ini, sekarang kalian pergi dari sini, saya mau bicara dengan istri saya,” sahutnya dengan tegas. “Baik Den.” Rina dan Mbok Surti keluar dari kamar itu sambil menggendong bayi gembul itu. Walaupun Reno terlihat tegas, dia tersenyum saat Rina keluar dengan anaknya yang tidak rewel. Rina berharap Reno sudah mulai menyukainya karena dengan begitu dia bisa membuat rumah tangga mereka hancur dan menjadi orang ketiga di antara mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD