Embun menarik napas dalam dan menatap kepergian Adhitama. “Andai saja bisa, aku juga nggak mau kamu menikah lagi, Mas. Istri mana yang sanggup berbagi suami? Tapi … semua kulakukan demi kamu. Suatu saat kamu pasti tahu alasanku menyuruhmu menikah dengan wanita lain. Ya, suatu saat nanti ….” Embun bermonolog.
Setelah kepergian Adhitama. Embun kembali menangis. Hatinya rapuh, tetapi di depan Adhitama berusaha terlihat tegar dan kuat. Terkadang ingin sekali menceritakan yang sebenarnya padanya, tetapi hati kecil menolak. Cukuplah Embun simpan sendiri saja semuanya, agar tak membebani orang lain.
Embun mondar-mandir di ruang tengah. Berkali-kali melongok benda bulat yang menempel di dinding, jarum jam sudah menunjuk angka sembilan. Namun, yang dinanti tak kunjung datang. Tak biasanya Adhitama pulang terlambat.
“Mas … kamu ke mana, sih? Masih marahkah gara-gara aku pulang telat kemarin?” Embun mengusap wajah dengan kasar.
Kemudian, Embun mencoba menghubungi suaminya, tetapi nomor Adhitama tak aktif. Embun berdecak kesal. Lalu, Embun duduk di sofa dan bersandar sambil memegang pelipis. Lelah, itulah yang Embun rasakan.
“Kenapa nggak kamu angkat, sih, Mas?! Kenapa bikin aku khawatir?!” Embun melihat ponsel di genggaman, berharap ada pesan ataupun telepon dari Adhitama.
Akan tetapi, harapan hanya tinggal harapan saja. Adhitama sama sekali tak menghubungi Embun. Padahal rencananya malam ini ingin membicarakan tentang calon madu Embun. Embun telah menemukan sosok yang pantas sebagai istri muda suaminya.
Beberapa waktu lalu, Embun diberi informasi oleh Bu Asih. Dia wanita salihah kata Bu Asih. Wanita itu guru ngaji baru di panti. Bu Asih pun meminta Embun untuk menemuinya dan mengatakan sendiri keinginan Embun pada wanita tersebut.
Tiga hari setelahnya, Embun menemui wanita yang dimaksud Bu Asih di panti. Pertama melihatnya Embun begitu terpana. Dilihat dari belakang penampilannya menunjukkan pribadi yang santun. Suaranya pun terdengar lemah lembut ketika mengajar anak-anak, ya, Embun sempat mendengarnya waktu dia mengajar. Setelah melihatnya Embun pun menunggu di ruang tamu panti.
Tak berapa lama kemudian, wanita itu pun mendatanginya. Dia begitu terkejut ketika melihat wajahnya. Ternyata wanita tersebut, adik kelas waktu SMA dulu.
“Hil-hilya, ’kan?” tanya Embun ragu.
Wanita itu hanya mengangguk, kemudian duduk di sebelahnya. Embun tersenyum, berarti tak perlu lagi mengenal lebih jauh. Hilya Nafisa, terkenal sebagai seorang wanita baik dan pendiam, serta santun sejak zaman sekolah dulu. Bu Asih tak salah menyarankan dia sebagai istri kedua Adhitama.
“Mbak Embun nggak lupa padaku ternyata,” ucapnya sambil tersenyum.
“Siapa yang bakal lupa sama kamu? Gadis paling salihah dan baik di SMA dulu. Bahkan prestasinya luar biasa.” Embun menatapnya takjub.
Penampilannya tidak berubah dari dulu, memakai gamis lebar dan jilbab panjang menjuntai menutupi dadanya. Wajahnya begitu teduh, Embun merasa malu dengan pakaian yang dikenakan ketika dekat dengannya. Sangat kontras dengan yang digunakan Hilya.
“Eeem, kata Bu Asih Mbak Embun ada perlu denganku.” Hilya berkata sambil menatap Embun.
Hanya anggukan yang Embun beri. Kemudian, menarik napas dalam.
“Aku mau mencari madu dan pilihanku jatuh padamu,” jawabnya singkat tanpa basa-basi lagi.
Seketika mata Hilya membulat sempurna, mulutnya ternganga.
“Gimana, kamu mau menjadi istri kedua suamiku?” tanya Embun dengan memandangnya lekat.
“Ke-kenapa aku, Mbak?” Bukannya menjawab dia malah bertanya balik.
“Karena menurutku kamu pantas, kamu wanita salihah. Pasti bisa menjadi istri dan ibu yang baik.” Embun tersenyum memandangnya.
Dia hanya bergeming. Kemudian, menunduk dan jemarinya meremas ujung jilbabnya.
“Gimana kamu setuju?”
Dia mendongak. “Kenapa Mbak mencari istri kedua untuk suami Mbak?”
“Karena aku nggak bisa jadi istri sepenuhnya untuk Mas Adhitama. Aku ... mandul, sedang mama mertua ingin segera menimang cucu.” Suara Embun bergetar menahan tangis, berusaha semaksimal mungkin agar tidak menangis di depan Hilya.
Embun tak mau terlihat lemah di depannya, agar dia tak ragu menerima tawarannya.
“Maaf, Mbak aku ... aku takut nggak bisa jadi madu yang baik untuk Mbak.” Hilya menunduk. “Pasti sulit berada di posisi Mbak, aku nggak mau menyakiti hati Mbak,” lanjutnya.
“Kamu pasti bisa. Kamu wanita baik,” ucap Embun sambil menggenggam jemarinya.
“Tapi ... gimana dengan suami Mbak? Dia sudah setuju menikah lagi?” tanyanya lagi.
Embun menunduk, tak tahu harus menjawab apa.
“Suami Mbak nggak mau menikah lagi, ’kan?”
Embun mengangguk. Kemudian, terdengar helaan napas dari Hilya.
“Gimana aku bisa menikah dengan pria yang nggak mencintaiku Mbak?” tanya Hilya.
“Aku mohon Hilya. Aku akan membujuk Mas Tama dan kamu pasti bisa merebut hatinya. Kumohon.” Embun terus memohon.
Kemudian, hening.
“Baiklah, beri aku waktu tiga hari, Mbak.” Akhirnya, dia membuka suara.
Embun tersenyum mendengarnya. Kemudian, dia bilang tak perlu datang lagi ke sini. Hilya akan menghubungi Embun jika dia setuju.
Lamunan Embun seketika buyar. Sudah tiga hari dari waktu dia bertemu Hilya. Embun takut Hilya tak mau menjadi istri kedua Adhitama. Sebab, dia tak kunjung menghubungi. Napas Embun terhela dengan panjang.
Lalu, tiba-tiba ponsel Embun bergetar. Di layar benda pipih warna gold tersebut, tertera nama Hilya, calon adik madunya. Kemudian, Embun menggeser tombol warna hijau dan menempelkan di daun telinga.
[Assalamualaikum.]
[Waalaikumsalam. Hmmm, maaf Mbak, kalau aku ganggu.]
[Nggak apa-apa. Aku dari tadi nunggu telepon darimu. Gimana, kamu mau jadi istri kedua Mas Adhitama?]
[Bismillah, aku ... bersedia, Mbak.] Suaranya terdengar bergetar, apa dia terpaksa menerima tawaran Embun?
[Kamu beneran mau, ’kan? Ikhlas tanpa paksaan?”] tanya Embun meyakinkan.
[Insyaallah aku ikhlas sepenuh hati, Mbak.]
[Alhamdulillah kalau begitu. Emm, besok aku jemput kamu, ya, terus aku ajak ke sini.]
Embun berkata setenang mungkin, meski d**a kembang kempis dan napas memburu waktu. Mata Embun berkaca-kaca, tapi dia harus berusaha tegar. Semua ini maunya.
[Nggak usah, Mbak. Biar aku ke sana sendiri. Mbak kasih alamatnya aja. Biar nggak repot.]
[Baiklah kalau begitu nanti aku kirim lewat WA alamatnya.]
Setelah sedikit berbasa-basi, Embun mematikan sambungan telepon. Mata Embun terpejam, kemudian terduduk di ranjang. Pandangan menerawang ke depan. Lalu, beralih ke jendela kamar. Berharap Adhitama segera pulang.
Embun menahan sesak di d**a, sejujurnya tak rela jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Namun, semua sudah terjadi, Embun telah menemukan calon istri Adhitama. Ucapan yang telah keluar tak boleh dibatalkan sendiri.
“Lebih cepat lebih baik.” Embun bermonolog sambil menahan perih.
Rencananya besok, Embun yang akan mempertemukan mereka harus berjalan lancar. Embun berharap Adhitama menyukai calon istri keduanya. Apalagi wanita tersebut lebih cantik dan salihah darinya. Tubuh yang tinggi semampai, ditambah bulu mata yang lentik dan hidung mancung serta bibir mungil dan tipis, pria mana yang tidak akan suka sekali pandang? Wanita tersebut sangat perfect penampilan fisiknya.
***
Pagi ini tampak cerah, tetapi tak secerah hati Embun. Embun duduk di halaman belakang sambil membaca sebuah novel.
“Sayang ….” Terdengar suara bass seorang pria.
“Hhmmm.” Embun tetap fokus pada novel.
“Maafkan aku kemarin. Sempat marah sama kamu.” Pria hidung bangir itu meraih jemari Embun dan menciumnya penuh cinta.
“Semalam pulang jam berapa, Mas? Ke mana aja? Aku telepon nggak bisa. Kamu bikin aku khawatir.” Embun menatap Adhitama dengan lekat.
“Sengaja aku matikan HP, karena ingin memberimu pelajaran,” jawab Adhitama secara singkat.
Embun langsung mendongak dan memandang Adhitama dengan dalam.
***