Embun memandang Adhitama dengan penuh tanya, sedang dia menatap Embun dengan tajam.
“Apa? Pelajaran apa, Mas?” tanya Embun.
Terdengar Adhitama menghela napas panjang.
“Agar kamu nggak maksa aku menikah lagi.” Adhitama menatap Embun dengan tajam.
“Mas aku minta maaf kalau membuatmu kesal. Tapi, keputusanku udah bulat. Aku udah nemu calon yang pas. Habis ini dia pasti datang. Dia adik kelas SMA-ku dulu. Wanita yang salihah, baik, dan cantik. Kamu nggak akan nyesel.” Embun mencoba tersenyum, meskipun d**a begitu sesak.
“Apa? Kenapa kamu ngotot agar aku menikah lagi? Kalau masalah anak, kita bisa adopsi, Yang.” Adhitama menggenggam erat tangan Embun.
“Kalau adopsi bukan darah dagingmu, Mas. Aku ingin punya anak dari darah dagingmu. Meski bukan lahir dari rahimku, tapi akan kusayangi dengan sepenuh hati.” Suara Embun bergetar menahan tangis.
“Mama begitu menginginkan cucu dari kamu, Mas,” lirih Embun.
“Jangan-jangan Mama yang mendesakmu untuk mencarikan aku istri lagi.” Adhitama menyelisik Embun dalam.
“Ng-nggak, Mas. Ini murni keputusanku,” jawab Embun dengan gugup.
Adhitama tak boleh tahu kalau Bu Retno, mertuanya, yang memaksa mencarikan istri baru. Adhitama tak boleh tahu perlakuan Bu Retno pada Embun.
“Kenapa kamu gugup? Ok, kalau kamu nggak jujur aku akan telepon Mama.” Adhitama tampak mengambil ponselnya lalu menggesernya, sepertinya mencari nomor Bu Retno. Embun begitu panik.
Lalu, terdengar suara bel berbunyi. Embun bernapas lega dan tersenyum. Kemudian, menarik tangan Adhitama, sehingga tak jadi menghubungi Bu Retno.
“Itu dia udah datang.” Embun berkata dengan antusias.
“Siapa?” tanya Adhitama.
“Calon istrimu Mas,” jawab Embun sambil tersenyum.
Sontak pupil mata Adhitama membesar, lalu menangkis tangan Embun yang menggenggam erat.
“Apa maksudmu? Sudah berapa kali kubilang, aku nggak mau nikah lagi!” bentak Adhitama.
“Mas kita temui Hilya dulu, kasihan dia nunggu di luar. Ayuk.” Embun tetap kekeuh mengajaknya bertemu dengan calon adik madunya. Tak peduli dengan ucapan Adhitama.
Pria itu hanya menghela napas panjang sambil geleng-geleng.
“Dasar keras kepala,” gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga.
Adhitama memutuskan duduk di kursi ruang tengah, sementara Embun melangkah keluar untuk membuka pintu. Ketika pintu terbuka terlihat seorang wanita menggunakan gamis warna maroon bermotif bunga dan jilbab senada. Sungguh perfect.
“Mbak Embun,” sapa Hilya.
“I-iya, ayo masuk.” Embun menjawab dengan gugup.
“Silakan duduk. Aku ke belakang dulu manggil Mas Tama.” Embun mempersilakan Hilya untuk masuk.
Hilya hanya mengangguk dan tersenyum. Embun menghampiri Adhitama. Pria itu sedang menonton televisi.
“Mas ayo keluar, temui Hilya. Aku mau buat minum dulu.” Embun tersenyum pada Adhitama.
“Nggak!” sentak Adhitama.
“Mas ayolah, kasihan dia sendiri. Temui dan temani. Biar kalian bisa saling kenal.” Embun terus memaksa.
“Aku bilang nggak ya nggak!” Adhitama menatap Embun dengan tajam.
Embun menarik napas panjang. Kemudian, meninggalkannya menuju dapur. Embun akan membuat minum untuk Hilya dan Adhitama.
Setelah selesai, Embun pun mengajak Adhitama menemui Hilya. Dengan sedikit paksaan akhirnya dia tak bisa menolak.
Embun menaruh minuman di meja dan menawarkan pada Hilya. Wanita bulu mata lentik itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Untuk sekian detik suasana menjadi hening. Semua yang ada di ruangan ini terdiam, larut dengan pikiran masing-masing.
“Mas, kenalin ini Hilya.” Embun memecah kesunyian.
Hilya hanya tersenyum, lalu menangkupkan tangan di dadanya dan memandang Adhitama sebentar, lalu menunduk. Suasana tampak tegang.
Untuk beberapa lama mereka hanya terdiam. Semua seperti larut dalam pikiran masing-masing. Kemudian, Embun pun memulai obrolan untuk mencairkan suasana. Bertanya banyak hal pada Hilya, termasuk anak keberapa, sudah berapa lama mengajar ngaji di panti. Semua itu Embun lakukan, dengan harapan agar Adhitama tertarik dan bisa mengenal Hilya. Namun, ternyata Adhitama hanya bergeming. Dia tampak malas, kemudian tanpa pamit meninggalkan ruang tamu. Melihat sikapnya seperti itu Embun menarik napas dalam. Merasa tak enak pada Hilya.
“Hilya, maafin sikap Mas Tama, ya? Dia itu sebenarnya baik, kok, hanya saja susah dekat dengan orang lain. Apalagi wanita. Tapi, kalau udah kenal orangnya asyik.” Embun tersenyum pada Hilya.
“Iya, Mbak nggak apa-apa. Emmm, tapi sepertinya memang Mas Tama nggak menyukai kedatanganku Mbak.” Hilya menunduk.
“Kayaknya sebelum semua terlambat, mendingan aku mundur lagi Mbak,” lanjut Hilya.
“Hei, kamu ngomong apa, sih? Pokoknya keputusanku harus disetujui Mas Tama. Mama mertuaku juga menginginkan pernikahan kedua ini.” Embun menggenggam erat tangan Hilya.
Hilya hanya membisu, Embun terus meyakinkan kalau semua pasti akan berjalan dengan lancar. Ya, meski di sudut hati terdalamnya merasa tersakiti. Ketika mereka sedang mengobrol tiba-tiba terdengar pintu diketuk, Embun pun melangkah untuk membukanya.
Embun langsung terbelalak saat mengetahui siapa yang datang.
“Mama,” desis Embun tak percaya.
Kenapa Mama harus datang di waktu yang tidak tepat seperti ini. Embun bertanya dalam hati. Embun menghela napas dengan dalam.
“Kenapa kamu menatap Mama kayak gitu? Nggak suka Mama datang?” tanya Bu Retno dengan sinis.
“Eh, ng-nggak Ma. Mari masuk.” Embun tersenyum.
“Tanpa diajak pun Mama juga bakal masuk. Ini, kan, rumah anak Mama,” sahut Bu Retno sambil melirik Embun tajam.
Mendengar ucapan Bu Retno, Embun hanya bergeming. Bu Retno sama sekali tak pernah memikirkan perasaannya. Matanya terasa perih, ingin sekali Embun menangis menumpahkan segala keluh kesahnya atas sikap Bu Retno, tapi Embun tahan karena masih ada Hilya. Juga tak ingin Adhitama tahu perlakuan Bu Retno.
Bu Retno langsung melenggang masuk. Embun deg-degan, saat Bu Retno tiba di dalam.
“Loh, siapa wanita cantik ini?” Suara Bu Retno terdengar bahagia.
Hilya berdiri, lalu mencium tangan Bu Retno dengan takzim.
“Sudah cantik, salihah, sopan pula sama orang tua. Beruntung sekali mertua dan suami kamu.” Bu Retno berkata dengan ceria dan penuh semangat.
Bu Retno mengusap pundak Hilya dengan lembut. Embun iri melihatnya, pasalnya Bu Retno tak pernah memperlakukannya begitu sejak dulu. Ya, aku memang bukan menantu yang diharapkannya. Bukan dari keluarga kaya dan ... mandul pula, batin Embun.
“Kenalkan Ma, dia ... Hilya. Adik kelas Embun waktu SMA dulu. Sekarang dia mengajar di salah satu sekolah swasta di kota ini. Kalau sore mengajar ngaji di panti tempat Embun dulu.” Embun mengenalkan pada Bu Retno.
Embun tersenyum menatap Hilya. Hilya mengangguk dan tersenyum pada Bu Retno.
“Nama yang cantik sesuai dengan orangnya. Cocok sekali sepertinya dengan Tama.” Mata Bu Retno berbinar.
Hilya langsung menunduk setelah Bu Retno mengucapkan itu.
“Embun, apa gadis ini yang akan jadi istri kedua Tama?” tanya Bu Retno tanpa basa-basi.
Embun hanya mengangguk. Seketika Bu Retno langsung memeluk Hilya.
“Akhirnya, Tama bakal punya istri sempurna. Cantik, shalihah, sopan, dan pasti bakal bisa kasih keturunan.” Bu Retno mengurai pelukan dan memegang pundak Hilya sambil tersenyum menatapnya.
“Aku harus bicara sama Tama. Mana Tama? Kenapa nggak menemani calon istrinya?” tanyanya pada Embun.
“Mas Tama baru saja masuk ke ruang tengah, Ma. Tadi dia di sini,” sahut Embun.
“Harusnya kamu suruh tetap menemani di sini, biar mereka saling mengenal. Huh, dasar nggak ngerti apa-apa! Sudah nggak bisa kasih keturunan, masih aja nggak mau pisah!” Bu Retno mengomel sambil melangkah ke ruang tengah.
Segumpal daging dalam d**a langsung berdenyut nyeri. Tanpa sadar air mata pun mengalir membasahi pipi.
“Mbak Embun nggak apa-apa? Ya Allah, aku nggak tahu kalau mertua Mbak seperti ini.” Hilya langsung memeluk Embun.
“Mbak baiknya urungkan niat Mbak yang memintaku menikah dengan Mas Tama.” Hilya menatap Retno dalam.
Embun menggeleng sambil mengusap air mata yang meleleh membasahi pipi.
“Kamu harus tetap nikah sama Mas Tama. Kamu harus bantu aku kasih keturunan untuk Mas Tama, kasih cucu buat Mama.” Embun memohon pada Hilya.
“Tapi, Mbak. Aku nggak sanggup kalau ngelihat Mbak dihina sama mertua Mbak.” Hilya menatap Embun dengan sendu.
“Aku nggak apa-apa Hilya. Kamu tenang aja.” Embun menepuk tangan Hilya dengan pelan.
***