Hilya yang berada di kamarnya, sedang bersedih. Dia tengkurap di atas kasur sambil menangis. Dia pikir kemarin dan semalam, Adhitama memang benar-benar mulai ada rasa suka padanya, tetapi ternyata hanya meras tak enak. “Aku memang bodoh, harusnya nggak usah terlalu percaya diri. Mas Tama hanya mencintai Embun. Aku ini apa? Bukan apa-apa!” Hilya bermonolog. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia juga tadi dengan percaya dirinya mengatakan pada Embun kalau Adhitama tak mau ditinggal Hilya. Hilya merasa malu mengatakan hal tersebut pada Embun. Kemudian, terdengar pintu kamar Hilya diketuk. Hilya segera mengusap air mata yang membasahi pipinya. Lalu, dia melangkah untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka muncul sosok Embun sambil tersenyum. “Boleh aku masuk?” tanya Embun. “Iya

