Saat Embun sedang melamun, Bu Sari datang sambil membawa tiga gelas teh hangat di nampan, dan setoples biskuit.
“Maaf lama, Nak Embun. Silakan dinikmati hidangan sederhana ini.” Bu Sari tersenyum, Embun pun hanya mengangguk.
“Maaf, ya, Mbak Embun, rumahku beda jauh dari rumah Mbak Embun. Takutnya Mbak Embun nggak nyaman di sini. Jamuannya juga sederhana sekali.” Tiba-tiba Hilya sudah muncul.
“Ah, nggak apa-apa, Hilya. Ini saja sudah cukup.” Embun tersenyum.
“Oh iya, Bapak kamu ke mana Hilya?” tanya Embun kemudian.
“Bapak masih belum pulang, Mbak. Mungkin sebentar lagi,” jawab Hilya.
“Kerja?” tanya Embun lagi.
Hilya pun mengangguk.
“Bapak kerja di pasar jual buah, Mbak.” Hilya menjawab sambil tersenyum.
“Emmm, kalau gitu masalah tadi diomongin nanti aja kalau Bapak kamu udah datang.” Embun menatap Hilya sambil tersenyum.
“Masalah apa, Nak Embun? Bukan masalah besar, kan? Apa Hilya membuat masalah?” tanya Bu Sari tampak pamit.
“Nggak, kok, Bu. Tenang aja. Hilya nggak melakukan kesalahan apa-apa.” Embun memegang jemari Bu Sari dengan erat.
Kemudian, terdengar suara seorang pria mengucap salam. Mereka menjawab serempak dan menoleh, tampak pria dengan rambut yang sebagian memutih masuk ke rumah. Wajahnya menunjukkan kelelahan. Ah, melihatnya Embun jadi terenyuh, membayangkan kalau saja itu ayahnya.
Pemandangan selanjutkan membuat mata Embun berkaca-kaca. Hilya menyambut sang ayah dan mencium tangannya dengan takzim. Begitu juga ibunya. Benar-benar keluarga idaman. Meski hidup dalam kesederhanaan, tetapi sangat harmonis dan kelihatan bahagia.
“Wah, ada tamu ternyata. Sudah dari tadi?” tanya ayah Hilya.
“Nggak, Om, baru aja datang,” jawab Embun.
Kemudian, pria itu duduk bergabung bersama mereka. Beliau pun berbasa-basi menanyakan siapa Embun. Setelah dijawab, beliau sangat senang karena anaknya memiliki seorang sahabat. Sebab, selama ini tak pernah ada teman yang bermain ke sini katanya. Kemudian, mereka pun mengobrol banyak hal. Lalu, tiba saatnya Embun menyampaikan tujuan kedatangannya ke sini. Suasana pun terasa tegang.
“Maaf, Om, Tante sebelumnya kalau kedatanganku ke sini mengganggu, serta mengagetkan kalian semua.” Embun menarik napas, mencoba menetralkan degup jantung yang tak keruan.
Ayah dan ibunya Hilya pun hanya bergeming. Mereka menatap Embun dengan pandangan bertanya-tanya.
“Sebenarnya, aku ke sini ingin meminta restu dari Om dan Tante.” Embun berkata dengan sangat hati-hati.
“Restu?” Ayah dan ibunya Hilya saling berpandangan, sedang Hilya hanya menunduk.
“Iya, Om, Tante. Sebelumnya aku dan Hilya sudah membicarakan masalah ini di panti dan di rumahku.” Embun berhenti sejenak, mencoba menetralkan suara.
“Aku ingin kalian merestui Hilya menjadi istri muda suamiku. Menjadi maduku,” lirih Embun.
“Apa? Madumu?” tanya ayahnya Hilya dengan suara bergetar, mungkin kaget karena anaknya akan menikah dengan suami orang.
“Nak Embun nggak salah ngomong, ’kan?” tanya ayahnya Hilya lagi.
Embun hanya menggeleng.
“Benar, Hilya? Kamu mau menikah dengan suami orang?” tanya Bu Sari.
Hilya hanya terdiam.
“Jawab Hilya!” seru ayahnya Hilya.
“Sekali lagi aku minta maaf, Om, Tante.” Embun merasa tak enak.
Terdengar Bu Sari menghela napas panjang.
“Alasan Nak Embun meminta Hilya menjadi madu kamu apa?” Bu Sari pun bertanya dengan nada pelan.
“Karena ... aku belum bisa menjadi istri yang baik buat Mas Tama, Bu. Aku ... nggak bisa memberikan keturunan untuknya.” Embun menarik napas dalam.
Embun menunduk, mencoba menahan agar air mata tidak jatuh. Tak mau orang tua Hilya tahu kalau sebenarnya dia sedih dan tak rela suaminya menikah lagi.
“Maksudnya?” tanya Pak Beni, ayahnya Hilya.
“Aku ... mandul, Om,” lirih Embun.
Bu Sari dan Pak Beni saling berpandangan. Sedangkan Hilya tetap bergeming, dia menggenggam jemari Embun dengan kuat. Embun menoleh padanya, dia tersenyum.
“Jadi Nak Embun ingin supaya Hilya bisa memberikan keturunan di keluarga kamu?” tanya Pak Beni lagi.
Embun hanya mengangguk pelan.
“Lalu, gimana dengan orang tua suami Nak Embun?” Bu Sari ikut menimpali.
“Mama mertuaku sangat ingin Mas Tama menikah lagi. Beliau ingin memiliki cucu dari Mas Tama, Tante.” Suara Embun sedikit bergetar, karena sebenarnya aku memendam rasa sakit di hati.
“Hmmm, tapi apa Nak Embun siap dimadu? Nggak bakal sedih dan sakit hati? Nggak ada wanita yang ingin dimadu, bukan?” tanya Bu Sari lagi.
“Insyaallah aku siap lahir dan batin, Tante. Semua demi kebaikan Mama mertua dan Mas Tama.” Embun berkata dengan lugas dan tegas.
“Mbak, tolong pikirkan sekali lagi. Aku nggak mau nantinya tambah menjadi beban Mbak.” Hilya menatap Embun dalam.
“Aku udah yakin dengan keputusanku Hilya.” Embun menepuk pelan tangan Hilya.
“Gimana Tante dan Om? Kasih restu buat Hilya nggak?” Embun menatap Pak Beni dan Bu Sari bergantian.
Mereka terdengar menghela napas dan saling berpandangan.
“Kalau Om terserah Hilya. Yang ngejalanin Hilya, jadi dia yang bisa nentuin kebahagiaannya sendiri.” Pak Beni menatap Hilya sambil tersenyum.
Embun bernapas lega mendengarnya.
“Kalau Tante?” tanya Embun pada Bu Sari.
“Tante ... kurang setuju,” jawab Bu Sari singkat.
Mata Embun terbelalak, tak menyangka jawaban Bu Sari seperti itu.
“Kenapa, Tante? Aku mohon, berilah restu untuk Hilya.” Embun memohon sambil bersimpuh di hadapan Bu Sari.
“Tante nggak mau ada yang tersakiti di antara kalian. Tante ini wanita, mana ada wanita yang rela dimadu. Meskipun dia mengaku ikhlas.” Bu Sari mengusap pundak Embun pelan dan memintanya untuk duduk di sampingnya.
“Apa Nak Embun benar-benar yakin nggak akan tersiksa dengan pernikahan suami Nak Embun dan Hilya? Pikirkan matang-matang lagi.” Bu Sari tersenyum sambil membelai rambut Embun lembut.
Mendengar pertanyaan Bu Sari, Embun terdiam. Ya, sejujurnya hati kecil Embun sedikit tak rela, tapi dia bisa apa? Embun tak akan pernah bisa memberikan pewaris untuk keluarga Adhitama. Sedangkan Mama mertuanya sangat menginginkan cucu dari Adhitama. Sebab, suami Embun anak satu-satunya dari keluarga Bu Retno. Embun mendesah pelan.
“Benar yang dibilang Ibu, Mbak. Tolong pikirkanlah sekali lagi. Aku nggak mau nantinya menyakiti hati Mbak. Meski Mbak yang memintaku.” Hilya pindah posisi duduk di samping Embun.
Kini, Embun ada di antara dua wanita yang saling menguatkan. Mereka seperti saudara baginya. Walaupun baru saja bertemu dengan Bu Sari, Embun merasa sudah kenal beliau begitu lama. Embun merasa seperti punya ibu. Mata Embun berkaca-kaca, lalu meluncurlah cairan hangat tanpa diminta. Mereka berdua memeluk Embun dengan erat. Sementara, Pak Beni hanya menyaksikan dengan mata berkaca-kaca.
Embun berandai-andai, kalau saja Bu Retno bisa sebijak Bu Sari, pasti hidupnya akan bahagia. Sayangnya Bu Retno tak seperti itu.
“Mbak, aku mau ngobrol berdua. Ayo kita ke teras,” ajak Hilya.
“Eh, iya, ayo.” Embun kaget dengan ajakan Hilya.
Lalu, mereka izin kepada kedua orang tua Hilya untuk keluar. Pak Beni dan Bu Sari pun mengangguk. Mereka pun keluar menuju teras. Hilya dan Embun duduk di kursi yang ada di teras. Embun masih bergeming, pikirannya entak berada di mana. Hilya menatap Embun dengan pandangan sendu. Ada rasa kasihan di hati Hilya. Hilya tak bisa membayangkan kalau dirinya berada di posisi Embun. Tekanan dari mertuanya dan perlakuan mertuanya yang tak begitu baik. Hilya menarik napas panjang.
“Mbak pikirkan dulu matang-matang keputusan Mbak itu. Aku nggak mau nantinya Mbak menyesal. Kita sama-sama wanita, mana ada wanita yang benar-benar rela berbagi suami?” Hilya menepuk tangan Embun pelan, mengagetkan Embun yang sedang melamun.
“Keputusanku sudah bulat, Hilya.” Embun tersenyum.
Hilya menghela napas dalam.
“Aku yakin, Mbak masih ragu-ragu sebenarnya. Mbak, aku tahu Mbak sedang tertekan, kan?” tanya Hilya.
“Aku nggak ragu, Hilya.” Embun tersenyum. “Apa kamu yang ragu? Kamu rela nggak menjadi istri kedua?” tanya Embun.
“Aku insyaallah nggak ragu Mbak. Asal suami Mbak nantinya nggak condong sebelah, tetap adil. Dan kehadiranku nggak membuat Mbak sakit hati,” lirih Hilya.
Embun pun hanya mengangguk perlahan. Air matanya meluncur secara perlahan. Hilya yang melihatnya langsung memeluk Embun dengan erat.
“Maafkan aku, Mbak. Maafkan aku. Aku nggak bisa bayangkan begitu berat takdir hidup yang Mbak jalani.” Suara Hilya bergetar karena dia merasa sedih melihat penderitaan yang dialami Embun.
“Kamu nggak salah, Hilya. Kamu nggak salah. Aku juga nggak apa-apa, kok. Memang kehidupan yang kujalani seperti ini. Mungkin ini memang cobaan untuk rumah tanggaku dengan Mas Tama.” Embun mengurai pelukan dan menatap Hilya sambil tersenyum. “Yang paling penting itu kamu mau jadi maduku dan kedua orang tuamu setuju. Setelah itu acara pernikahan kalian bisa segera dibicarakan,” lanjut Embun.
“Tapi, Mbak—“
“Nggak ada tapi-tapian,” potong Embun.
Hilya pun hanya bisa pasrah. Meskipun sebenarnya dia tertarik pada Adhitama. Ada rasa yang aneh muncul di hatinya semenjak bertemu dengan Adhitama. Hilya mencoba menepis perasaan itu, tetapi tetap saja ada di hatinya, tak mau pergi. Hilya merasa bersalah pada Embun. Hilya menghela napas dalam.
“Sekarang kita kembali ke dalam, aku mau bertanya sekali lagi pada kedua orang tua kamu, Hilya,” ucap Embun.
Hilya hanya menanggapi dengan senyuman. Lalu, mereka pun melangkah ke dalam menuju ruang tamu. Saat tiba di dalam, kedua orang tua Hilya menatap Embun dan Hilya bergantian. Embun dan Hilya kembali duduk ke posisi semula.
Lalu, Embun mencoba menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan. Kemudian, memandang ke arah Pak Beni dan Bu Sari bergantian.
“Jadi, gimana Om, Tante? Apa kalian memberi restu? Keputusanku sudah bulat dan aku rela berbagi suami dengan Hilya. Begitu pun dengan Hilya, rela menjadi maduku. Insyaallah kami berdua ikhlas menjalani peran masing-masing.” Embun menghela napas dalam.
Pak Beni dan Bu Sari saling berpandangan dan memberi kode. Kemudian, Pak Beni yang membuka suara.
“Setelah kami bicarakan baik-baik, ya, kami berdua rela anak kami jadi istri kedua. Apalagi yang meminta adalah istri sahnya. Bukan, suaminya. Itu artinya memang sang istri yang menginginkan suaminya menikah lagi. Apalagi ini demi membantu seorang wanita yang ingin memberikan keturunan pada suaminya.” Pak Beni berkata dengan tegas.
Embun bernapas lega setelah mendengar jawaban dari Pak Beni. Hati Embun begitu bahagia mendengarnya. Embun pun mencium tangan kedua orang tua Hilya bergantian dengan begitu takzim. Berkali-kali mengucapkan terima kasih pada mereka. Bu Sari memeluk Embun dengan begitu erat. Embun menangis haru di pelukan Bu Sari.
“Kalian janji, harus saling menyayangi satu sama lain, jangan ada pertengkaran atau yang lainnya,” ucap Bu Sari sambil membelai lembut rambut Embun.
“Insyaallah, kami akan selalu saling menyayangi. Aku akan menganggap Hilya adik kandungku,” sahut Embun sambil mengurai pelukan.
Suasana pun terasa hening. Mereka hanya saling memandang satu sama lain, lalu seolah-olah saling menguatkan. Embun bersyukur kedua orang tua Hilya menyetujui keputusannya. Kalau tidak setuju, entah bagaimana selanjutnya. Embun tak mungkin mencari wanita lain lagi.
***