Setelah meminta restu pada kedua orang tua Hilya dan mendapat restu, tiba-tiba Embun merasa gamang. Embun bingung dengan keputusan yang akan dibuat. Di satu sisi, Embun tertekan dengan desakan Bu Retno, tapi di sisi lain tak mau dimadu. Memang benar kata Bu Sari, wanita pasti tak akan benar-benar ikhlas melihat suaminya bersanding dengan wanita lain. Akhirnya, malam ini Embun meminta izin pada Adhitama tidak pulang, tapi tidur di panti. Embun ingin bercerita dan meminta pendapat Bu Asih. Dia sudah seperti ibu kandungnya.
“Mas, maaf, ya, aku nginep di panti semalam aja. Boleh, 'kan?” tanya Embun lewat sambungan VC WA.
“Kalaupun nggak aku izinin kamu tetap bakal nginep di sana, 'kan?” tanya Adhitama sambil tersenyum.
Embun pun mengulum senyum. Dugaan Adhitama memang benar.
“Jadi?”
“Iya, aku izinin. Tapi besok pulang, ya? Atau minta dijemput?” Adhitama menatap Embun.
“Nggak usah dijemput, Mas. Naik taksi aja, biar Mas nggak repot.” Embun tersenyum.
Setelah itu, mereka mengobrol banyak hal. Meski hanya perbincangan remeh temeh. Akhirnya, VC pun diakhiri oleh Embun. Embun mengembuskan napas kasar setelah mengobrol dengan Adhitama. Apakah aku sanggup nantinya melihat suamiku bercanda dengan wanita lain? Ah, entahlah. Embun bertanya dalam hati.
“Embun, kamu nggak apa-apa?”
Embun langsung menoleh kaget, karena tiba-tiba seseorang sudah ada di sampingnya. Beliau Bu Asih. Kemudian, Bu Asih ikut duduk di teras panti. Menikmati malam yang sepi.
“Nggak apa-apa, Bu. Emangnya kenapa?” tanya Embun sambil tersenyum.
“Ya, tumben nginep di sini. Biasanya kalau nginep di sini itu ada masalah.” Bu Asih tertawa kecil.
Embun pun menunduk. Insting Bu Asih memang benaran kuat.
“Tuh, kan, bener. Pasti ada yang mau kamu omongin sama Ibu?” tanya Bu Asih dengan nada lembut.
Hanya anggukan yang dilakukan Embun.
“Ya udah cerita aja. Ibu bakal dengerin.” Bu Asih menepuk pundak Embun pelan.
“Menurut Ibu gimana? Apa keputusanku benar, ya?” tanya Embun.
“Keputusan yang mana?” Bu Asih mengernyitkan dahinya.
“Memilih Hilya sebagai maduku, Bu.” Embun menatap Bu Asih dengan sendu.
Bu Asih membelai rambut Embun dengan lembut.
“Hilya gadis yang baik, agamanya juga bagus. Tapi, dia dari keluarga sederhana. Apa kira-kira mamamu bakal setuju?” tanya Bu Asih.
Embun pun menjawab kalau mertuanya sudah setuju Adhitama menikah dengan Hilya. Sebab, mereka sudah pernah bertemu di rumah. Bu Retno langsung jatuh cinta, mungkin karena melihat penampilannya yang islami.
“Terus masalahnya apa?” tanya Bu Asih.
Hanya gelengan yang Embun beri.
“Semua ada di tangan kamu, Embun. Kalau kamu emang meminta suamimu menikah lagi, kamu harus benar-benar nyiapin hati dan pikiran. Jangan sampai kamu tersiksa dan merasa cemburu.” Bu Asih menasihati dengan panjang lebar.
“Apa kamu siap lahir batin, melihat suamimu dimiliki wanita lain?” lanjut Bu Asih.
“Insyaallah siap, Bu. Semua demi kebaikan keluarga kami. Aku nggak mau jika harus bercerai dari Mas Adhitama.” Embun menunduk.
“Cerai? Kok, bisa?” Bu Asih membulatkan matanya, sepertinya heran.
Kemudian, Embun pun menceritakan semuanya. Soal mertuanya yang meminta Embun bercerai kalau tidak mengizinkan Adhitama menikah lagi. Jujur semua ini membuat Embun frustrasi. Embun begitu mencintai Adhitama, tak mau bercerai dengannya. Lalu, Embun diberi pilihan yang sulit, mencarikan istri untuknya atau harus pergi meninggalkan Adhitama.
Bu Asih langsung merengkuh Embun dalam pelukan. Memberi kekuatan padanya.
“Tanyakan pada hati kecilmu, Nak.” Bu Asih membelai rambut Embundengan lembut. Sedangkan Embun makin tergugu di pelukannya.
“Aku ... aku rela dimadu, Bu. Tapi ... entah nantinya jika harus tersakiti karena melihat suamiku perlahan mencintai istri keduanya.” Embun terisak.
“Meskipun sekarang Mas Adhitama bilang nggak mau dan nggak mencintai wanita lain. Tapi, kalau nanti mereka terus bersama pastinya akan tumbuh benih-benih cinta. Apalagi Hilya, mencintai Mas Adhitama,” lanjut Embun.
“Jadi ... kamu denger perbincangan kami tadi sore?” tanya Bu Asih.
Embun mengangguk.
“Jadi gimana keputusan kamu?” tanya Bu Asih lagi.
“Aku akan tetap meminta Mas Adhitama menikah dengan Hilya. Karena aku nggak mau jika harus pergi meninggalkan Mas Adhitama, Bu.” Embun mengurai pelukan.
“Apa pun keputusanmu Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik. Percayalah, Hilya gadis yang baik, dia paham agama, pastinya akan menghormati kamu. Semoga kalian selalu diberi kemudahan.” Bu Asih mengusap pundak Embun pelan.
Embun mengusap pipi yang sudah basah bersimbah air mata. Wanita itu memantapkan hati dan pikiran. Harus ikhlas dan kuat menjalani takdir hidup ini. Tugasnya kali ini membujuk Adhitama agar mau menikah dengan Hilya. Napas ditarik dengan panjang. Bu Asih tersenyum dan menggenggam jemarinya dengan kuat. Seperti ingin memberi kekuatan pada Embun.
Embun beruntung memiliki seorang ibu asuh seperti Bu Asih. Beliau sudah seperti ibu kandungnya. Ya, hanya beliau keluarga yang Embun miliki. Karena memang Embun tak memiliki ayah dan ibu. Rupa mereka pun tak tahu. Orang tuanya meninggal sejak Embun masih bayi, mereka mengalami kecelakaan saat hendak pergi menjenguk salah satu temannya di rumah sakit. Embun selamat karena memang waktu itu tak diajak pergi. Tetapi, dititipkan di rumah tetangga. Itu yang Embun dengar dari Bu Asih.
Embun tak pernah menyalahkan takdir hidup ini. Semua diterima dengan lapang d**a. Embun tahu Tuhan pasti sayang padanya. Setidaknya Embun beruntung masih diberi suami yang begitu sayang dan perhatian padanya. Meskipun tidak dengan mertuanya, terutama Bu Retno. Sejak dulu Bu Retno memang tak begitu suka padanya, katanya asal-usul Embun kurang jelas. Apalagi setelah tahu kalau Embun tak akan pernah bisa memberinya keturunan, kebencian Bu Retno makin tampak jelas. Namun, Embun tetap menghormati dan menghargainya. Tak pernah sekali pun tebersit rasa benci padanya.
Embun mendesah pelan. Tuhan ... beban hidupku begitu berat.
“Sekarang kamu istirahat dulu. Tenangin diri kamu. Udah malam.” Ucapan Bu Asih membuyarkan lamunan Embun.
“Iya, Bu.” Embun tersenyum.
“Ibu duluan, ya?” Setelah berpamitan Bu Asih pergi meninggalkan Embun.
Embun memandang langit di atas sana, tampak bulan seperti sedang tersenyum menatapnya. Embun pun berdiri, lalu masuk ke panti dan mengunci pintu. Kemudian, melangkah menuju kamar panti. Ya, Bu Asih memang sengaja menyediakan satu kamar untuknya, jika sewaktu-waktu dia ingin menginap di sini.
Setiba di kamar, Embun memandang langit-langit. Mencoba memejamkan mata dan tidur, tapi tak bisa. Embun pun mengecek ponsel. Terlihat banyak notif WA dari Adhitama. Ya, tadi memang sengaja ponsel disilent oleh Embun saat berbicara dengan Bu Asih.
Kemudian, Embun membaca chat Adhitama satu per satu. Embun pun tersenyum sendiri, ketika membaca chatnya yang mengatakan kalau dia tak bisa tidur tanpa Embun di sisinya. Seperti ada yang kurang. Embun mendesah pelan.
Akankah pesan seperti ini nantinya akan tetap kamu kirimkan setelah kamu menikah lagi, Mas? Lagi-lagi Embun bertanya dalam hati.
Embun kembali dilema. Tapi, tak boleh sedih. Ini sudah menjadi keputusannya. Embun tak boleh lemah dan goyah. Kembali pada keinginan awalnya, semua dilakukan demi kebaikan keluarga besar Adhitama. Embun pun mengabaikan pesan Adhitama, karena Embun lihat dia sudah tidak online. Mungkin sudah tidur karena sudah larut malam.
Lalu, matanya terbelalak ketika melihat ternyata ada sebuah pesan dari Hilya. Embun pun langsung membacanya.
[Mbak, apa Mbak yakin mau dimadu? Mbak yakin nggak akan sedih? Apa Mbak nggak takut kalau nantinya aku dan Mas Tama saling mencintai? Apa Mbak nggak takut posisi sebagai istri pertama kuambil?]
Embun sama sekali tak menyangka dengan isi chat dari Hilya. Apa dia memang sengaja ingin mengambil posisi Embun? Akan tetapi, rasanya tak mungkin. Mungkin saja itu hanya supaya Embun membatalkan rencana gilanya ini. Lalu, Embun pun mengetik balasan pada Hilya sambil tersenyum.
[Aku sudah mantap dengan keputusanku. Aku memilihmu menjadi istri kedua Mas Tama, karena aku yakin kamu wanita baik, nggak akan pernah merebut posisiku. Kalaupun nanti kalian saling mencintai, aku malah bahagia. Kenapa? Karena kalian pasti akan dengan mudah memiliki anak. Dan Mama pasti senang.] Send.
Setelah mengirim pesan balasan Embun pun mematikan data internet. Kemudian, memutuskan untuk tidur. Namun, lama sekali Embun bisa tidur, masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Embun sungguh resah. Namun, dia berpikir bahwa harus ikhlas. Semua keputusannya sudah bulat.
***
Di tempat lain, Adhitama merasa kesal, karena pesannya tak kunjung dibalas. Dia pun mematikan data Internetnya. Berharap dia bisa tidur, tetapi nyatanya malah semakin tak bisa tidur. Adhitama pun kembali menyalakan internetnya, berharap akan ada balasan dari Embun. Namun, ternyata ketika dilihat tidak ada.
“Embun, kenapa kamu nggak membalas pesanku? Padahal sudah kamu baca.” Adhitama bermonolog.
Adhitama pun menghela napas dalam. Dia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran istrinya. Adhitama sama sekali tak menyangka istrinya akan mendesaknya untuk menikah lagi. Istrinya memang benar-benar aneh, itu yang ada dalam pikiran Adhitama. Di mana-mana seorang wanita pasti akan menolak yang namanya poligami, tetapi tidak dengan Embun. Adhitama tak habis pikir.
Pria itu berencana untuk menggagalkan rencana Embun. Namun, dia bingung bagaimana caranya. Kemudian, Adhitama teringat pernah mencuri nomor Hilya dari ponsel Embun. Dia pun berencana untuk berbicara dengan Hilya. Adhitama mulai mengirim pesan pada Hilya.
[Assalamualaikum, Hilya, ini aku Adhitama.] Langsung terkirim dan dibaca oleh Hilya.
[Waalaikumsalam. Iya, Mas, ada apa?] tanya Hilya.
[Hilya, aku mau tanya sama kamu. Apa kamu memang benar siap dimadu? Jadi istri kedua? Padahal aku sama sekali nggak cinta padamu. Cintaku hanya untuk Embun. Apa kamu mau menikah dengan pria yang sama sekali nggak menginginkanmu. Kenapa kamu nggak cari pria yang masih singgel saja?] Adhitama bertanya banyak hal pada Hilya.
Adhitama menunggu balasan dari Hilya, tetapi lama sekali.
[Halo, Hilya, apa kamu masih di situ?] tanya Adhitama lagi.
[Eh, iya, Mas. Aku masih di sini, kok. Emmm, iya, aku memang nggak pernah berpikir akan menjadi istri kedua, bahkan nggak ada pikiran akan menikah dengan suami orang,] balas Hilya.
[Kalau gitu kenapa nggak kamu tolak? Harusnya kamu tolak. Karena aku nggak akan pernah mau menikah denganmu!]
[Maaf, Mas, aku hanya menjalankan peran saja. Kalau memang ditakdirkan harus menjadi istri kedua, nggak masalah. Aku hanya membantu Mbak Embun.] Akhirnya, itu yang Hilya balas.
Adhitama tak bisa berkata-kata lagi. Dia bingung ketika harus dihadapkan dengan dua pilihan. Memang Adhitama ingin memiliki anak, tetapi dari rahim Embun. Namun, ternyata Embun mandul. Adhitama ingin mengadopsi anak saja, tetapi Embun tak mau.
[Aku ingin kita bicara secara tatap muka. Kapan kamu kita bisa bertemu?] tanya Adhitama.
[Emmm, terserah Mas Adhitama saja. Aku manut saja.]
[Ok, besok siang, pas jam istirahat. Di mana?] tanya Adhitama lagi.
[Aku nurut saja Mas. Karena, aku nggak tahu banyak tempatnya.]
Lalu, Adhitama memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe, yang agak jauh dari kantornya. Adhitama tak mau rekan kerjanya tahu dia bertemu dengan wanita lain. Adhitama tak mau rekan kerjanya berpikir negatif tentangnya.
Lalu, Adhitama pun mengakhiri chat dengan Hilya. Dia berharap ada balasan dari Embun. Namun, nyatanya tak ada. Adhitama menghela napas dalam. Hatinya bertanya-tanya kenapa dia tak membalas chatnya. Adhitama merasa heran, padahal biasanya Embun selalu membalasnya. Bahkan, dia yang selalu memulai dahulu mengirim pesan. Namun, sekarang entah kenapa Embun mengabaikan pesannya. Adhitama berniat untuk menelepon, tetapi ternyata hanya memanggil. Data Embun mati.
"Embun, kenapa kamu mengabaikan pesanku? Apa kamu sudah tidur? Kenapa nggak memberi kabar?" tanya Adhitama pada dirinya sendiri.
Karena, menunggu balasan dari Embun tak kunjung datang. Dia pun meletakkan ponselnya di nakas. Lalu, dia berbaring dengan menatap langit-langit kamar, berharap dia segera bisa tidur.
***