Keesokannya, Embun langsung teringat kalau semalam tidak membalas pesan Adhitama. Dia merasa bersalah karena mengabaikan pesan suaminya. Ya, karena Adhitama terlihat tidak online. Embun pun mengirim pesan sekarang.
[Gimana Mas, semalam? Bisa tidur? Maaf semalam ponselnya aku silent, jadi nggak tahu ada pesan dari Mas Tama. Terus pas mau aku balas, udah nggak online, pasti Mas udah tidur. Aku mikirnya gitu.] Embun menyematkan emot tersenyum di chatnya.
Pesannya terkirim, tetapi masih centang abu, belum dibaca. Kemudian, dia pun pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Embun pun menuju dapur panti, mau membantu menyiapkan sarapan anak-anak.
“Mbak Embun sudah bangun?” tanya Bu Ningrum, pengurus panti bagian untuk mengurus dapur dan sebagainya.
Embun pun hanya menanggapi dengan senyuman.
“Mau masak apa Bu?” tanya Embun.
“Ini mau masak ayam goreng, udah lama anak-anak nggak makan ayam goreng.” Bu Ningrum menjawab sambil melakukan pekerjaannya.
“Mari Bu, biar aku bantu.” Embun menawarkan diri.
“Nggak usah, ini udah banyak yang bantu. Kamu ke depan aja temani anak-anak.” Bu Ningrum tersenyum, lalu menunjuk keluar dengan dagunya.
Embun pun menurut. Lalu, melangkah ke ruang tamu panti. Kemudian, dia melihat ke halaman, ada beberapa anak yang sedang bercanda di sana. Ada yang berlarian, mengobrol di bawah pohon, dan banyak lagi kegiatannya. Melihat semua itu, Embun seperti melihat bayangan masa kecilnya. Masa bahagia tanpa pernah merasakan beban hidup.
“Mbak Embun, sini!” teriak seorang gadis kecil yang sedang duduk di bangku kayu di bawah pohon.
Embun menoleh, lalu melangkah ke sana. Di sana ada beberapa anak yang sedang mengobrol, Embun pun ikut.
Banyak sekali pertanyaan dan cerita lucu dari anak-anak ini. Juga, cerita sedih. Mereka rata-rata begitu merindukan sosok ibu kandung. Ingin dipeluk dan disayangi oleh orang tua. Tidak berbagi kasih sayang seperti saat ini. Embun hanya menyemangati, mengatakan pada mereka kalau pasti akan bertemu di surga nanti. Ya, semoga saja.
Cukup lama mereka mengobrol, hingga tiba waktunya untuk sarapan. Anak-anak panti yang ada di halaman pun berhamburan untuk masuk ke ruang makan. Embun tersenyum menyaksikannya.
Embun pun menuju ruangan Bu Asih.
“Bu, Embun pulang dulu, ya?” pamit Embun pada Bu Asih.
“Nggak nginep sini lagi?” tanya Bu Asih.
Embun hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Yakin hatimu udah lebih baik?” tanya Bu Asih.
“Iya, Bu. Alhamdulillah.” Embun tersenyum tipis.
“Nggak minta jemput Adhitama aja, Nak?” tanya Bu Asih lagi.
“Nggak Bu. Aku nggak mau ngerepotin Mas Tama,” jawab Embun.
Bu Asih berpesan agar Embun memikirkan lagi soal pernikahan kedua Adhitama. Jangan sampai menyesal nanti, katanya. Embun hanya mengangguk dan mengatakan kalau keputusannya sudah bulat.
Setelah itu, Embun mencium tangan Bu Asih dan melangkah keluar. Embun sudah memesan taksi online. Mungkin sebentar lagi juga datang.
***
Setiba di rumah Embun merasa heran, karena pintu tidak terkunci.
“Apa Mas Tama lupa nggak ngunci pintu? Lupa mungkin kalau aku nggak di rumah. Dasar!” Embun hanya geleng-geleng sambil tersenyum.
Embun pun melewati ruang tamu, dan melangkah menuju kamar. Namun, matanya benar-benar terbuka lebar saat melihat seseorang duduk di ruang tengah. Dia tersenyum, kemudian berdiri dan melangkah ke arah Embun. Matanya menatap Embun dalam, penuh kerinduan.
“Aku kangen banget sama kamu.” Adhitama mendekap Embun dengan erat.
Ah, Mas Adhitama, baru ditinggal semalam saja sudah kangen. Embun tersenyum simpul, sambil membalas pelukannya.
Lalu, Adhitama mencium ceruk leher Embun. Kemudian, menatap Embun dengan penuh cinta.
“Kamu nggak kangen sama aku?” tanyanya sambil membingkainya dengan tatapan mesra.
“Kangen, Mas.” Embun membenamkan wajah di d**a Adhitama. Posisi ini memang sangat disukai.
“Mas nggak kerja? Kok, masih di rumah jam segini.” Embun mendongak menatap Adhitama.
“Sengaja meliburkan diri. Karena dari kemarin ditinggal pergi sama kamu.” Adhitama menoel hidungku sambil tertawa kecil.
Embun tersipu malu. Suaminya sampai segitunya ingin menghabiskan waktu dengannya.
“Bolos berarti,” ucapku sambil meringis.
“Suka-suka akulah. Aku, kan, bos.” Adhitama tertawa.
“Ish, dasar,” ucapku.
Kemudian, Adhitama menyalakan televisi. Sementara Embun ke kamar menaruh tas. Setelah itu ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, betapa terkejutnya Embun saat melihat ternyata sudah ada hidangan makanan di ruang makan. Embun pun kembali ke ruang tengah.
“Mas, kamu masak?” tanya Embun.
“Hmmm,” jawabnya.
“Suami idaman.” Embun duduk di samping Adhitama.
“Nah, makanya jangan pernah suruh aku nikah lagi. Biar suami idaman ini Cuma milik kamu satu-satunya.” Adhitama mencubit pipi Embun.
Embun langsung terdiam, padahal dia ingin membahas masalah ini. Ingin bertanya bagaimana Hilya. Napas diembuskan dengan pelan.
“Kok, malah diam?” tanya Adhitama.
“A-aku pengen bahas masalah ini padahal.” Embun menunduk.
“Bisa nggak kalau kamu berhenti menyuruhku menikah lagi? Terutama tentang Hilya.” Adhitama menoleh ke arah Embun, hingga membuat tatapan mereka beradu.
Lalu, Adhitama meraih jemari Embun dan menciumnya dengan mesra.
“Aku hanya ingin ada kamu sampai kapan pun. Hanya ada kita sampai tua bahkan sampai maut memisahkan kita.” Adhitama merengkuh Embun dalam pelukan.
Embun hanya bergeming. Mauku seperti itu, tanpa ada wanita lain dalam kehidupan rumah tangga kita, Mas. Tapi, aku bisa apa? Keadaanlah yang memaksaku harus menentukan pilihan berat ini. Embun berkata dalam hati.
“Mas, udah kubilang berapa kali, sekalipun kamu menolak aku akan terus memintamu menikah lagi.” Embun mengurai pelukan dan menatap Adhitama dengan pandangan memohon.
“Sampai kapan kamu akan kayak gini?” tanya Adhitama.
“Sampai kamu menerima tawaranku dan mewujudkan keinginanku.” Embun tersenyum.
Terdengar Adhitama menghela napas panjang.
“Orang tua Hilya juga udah setuju,” lanjut Embun.
“Apa maksudmu, Embun?” Mata Adhitama membulat sempurna.
“Ya, aku udah minta restu orang tua Hilya.” Embun berkata dengan begitu tenang.
“Minta restu? Kenapa kamu sampai nekat begitu? Astaga Embun. Kamu sama sekali nggak ngehargai aku?” Adhitama terlihat begitu marah.
“Mas, aku, kan, udah bilang semua ini demi kebaikan kamu dan keluarga kita. Mama begitu menginginkan cucu dari kamu. Sementara aku nggak bisa kasih punya anak ....”
Mata Embun berkaca-kaca, lalu buliran bening pun meluncur tanpa diminta.
“Jadi, kuharap kamu bisa ngerti Mas.” Embun memohon pada Adhitama.
“Embun, kita bisa adopsi anak kalau mau. Jadi, nggak perlu harus menikah lagi.” Adhitama terus kekeh dengan pendiriannya.
“Mas ... adopsi anak rasanya akan berbeda.” Suara Embun bergetar menahan tangis.
“Terserahlah.” Adhitama lalu bangkit dan melangkah ke kamar.
“Mas, aku belum selesai bicara!” teriak Embun.
“Percuma bicara, kamu nggak akan pernah dengerin kataku.” Adhitama melambaikan tangannya.
Embun pun mengejar Adhitama. Sampai di kamar Adhitama meraih buku dan membawanya ke balkon. Embun mengekor di belakang dan duduk di sampingnya. Akan tetapi, dia sama sekali tak memedulikan Embun.
“Mas ....”
“Hmmm.” Hanya dehaman yang Embun berikan.
“Ish, jangan gitu dong Mas.” Embun mengerucutkan bibirnya.
“Suka-suka aku!” Adhitama berbicara dengan santai.
Embun mendesah pelan. Ah, Mas Adhitama, kamu tak akan mengerti apa yang kurasakan sebenarnya. Mama terus mendesakku dan memberi dua pilihan yang sulit. Lagi-lagi Embun hanya membatin.
“Aku ingatkan sekali lagi. Berhenti membahas soal pernikahan dan anak!” Adhitama memberikan ultimatum pada Embun.
“Tapi, Mas a--”
“Nggak ada tapi-tapian.” Adhitama meletakkan telunjuknya di bibir Embun, lalu mengecupnya lembut.
Embun langsung terdiam.
“Aku hanya mencintaimu, nggak ada wanita lain di hatiku.” Adhitama menatap Embun penuh cinta.
Ah, andai aku tidak mandul, pasti hidupku akan begitu sempurna. Memiliki suami yang sangat setia dan langka. Embun mengembuskan napas dengan pelan.
Apa Embun akan menyerah? Padahal Embun ingin bertanya tentang Hilya. Bagaimana pendapatnya tentang Hilya. Akan tetapi, keadaan seperti saat ini tidak memungkinkan. Namun, kalau tidak segera diselesaikan kapan akan mendapatkan keputusan yang final? Embun benar-benar dilema! Embun frustrasi. Kemudian, Embun pun meninggalkan Adhitama.
Baiklah nanti malam saja kubahas masalah ini. Batin Embun.
***