▪️4▪️

2177 Words
*** Matanya tersorot kosong. Menyisir pemandangan kota yang penuh kelap-kelip lampu penerangan. Para gedung pencakar langit terlihat beradu terang. Meski para pegawai sudah berangsur untuk kembali pulang. Lampu lalu lintas berubah merah dari kejauhan. Secara perlahan, sebuah kaki menginjak rem dengan halus. Menghentikan mobilnya di urutan sebuah mobil lain. Dalam hitungan beberapa detik untuk menunggu lampu lalu lintas kembali hijau, sebuah dehaman kecil menggema di antara keheningan yang ada. "Laper nggak?" tanyanya tanpa basa-basi. Sebenarnya pertanyaan itu mewakilkan jika dirinya sedang bingung ingin memulai percakapan darimana. "Nggak. Gue mau balik aja." Jawaban yang diterima pun tanpa basa-basi. "By the way, maafin kelakuan Ansel tadi. Dia emang nggak berubah. Masih tetep Ansel yang tempramen." Meski kedua mata itu tak memandang ke arahnya, ia tahu, jika gadis yang duduk di sampingnya kini tengah terluka. "Santai aja. Gue nggak pernah ambil pusing sikap seseorang." Keheningan kembali tercipta. Akhirnya, beberapa detik berlalu dan lampu mulai kembali hijau. Mempersilakan para mobil dan kendaraan lain untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka. Kakinya menginjak gas dengan lembut. Menghantarkan keduanya ke tempat tujuan—Kantor. "Eh, Len, jadi dia yang selama inu bikin lo galau setiap hari?" Kali ini pertanyaan itu berhasil membuat Valen menoleh dan memaku tatapan tajam. Namun, yang ditatap tak menyadari itu dan fokus dengan aksi menyetirnya. "Kapan gue galau? Gue ini anti galau ya!" bantah Valen. Namun, bantahan itu terdengar lucu di telinga Dileon. Hingga membuat Dileon terkekeh pelan. "Masih aja munafik. Gue tau kali." "Ini, nih, yang gue nggak suka dari lo. Lo itu sok tahu banget!" "Oh, jadi lo nggak suka punya atasan kayak gue?" Valen terdiam kesal. Sosok yang sedang menyetir di sampingnya itu selalu saja berhasil membuatnya naik darah. "Bodo amat lah! Ngeselin banget emang." Entah mengapa Dileon selalu suka melihat kesalnya wajah Valen. Seolah hal itu telah menjadi candu. Beberapa tahun bekerja sama dengan Valen adalah tahun-tahun yang menyenangkan setiap kali Valen tergoda untuk kesal dengannya. "Saran gue, mending lo sama dia ngomong berdua baik-baik. Lo maunya gimana, dia maunya gimana. Biar jelas dan lo nggak galau permanen." Saran Dileon memang sempat terpikir oleh Valen. Namun, setiap kali Valen menatap kedua mata Ansel, semua kenangan masa lalu yang menyakitkan akan hadir dan menoreh luka. Ia tak sanggup untuk sedetik saja menatap Ansel, apalagi harus menguras waktu lama untuk membahas keinginan keduanya? "Entah gue sanggup atau enggak. Tapi ... untuk saat ini, gue masih belum sanggup ngelakuin itu." *** Malam telah mulai larut. Tanpa Gezra sadari, Zevia terjaga dalam tidurnya. Ia menatap sang suami yang terlelap tidur di sofa tanpa selimut yang menghangatkan. Hanya berbekal jaket denim favorit yang sudah mulai usang dan tak layak pakai. Zevia tersenyum, ia seolah ingin menjadi jaket denim yang selalu melekat bersama Gezra dan menjadi favorit untuk sosok itu. TING Suara notifikasi masuk ke sebuah ponsel. Layar yang mengeluarkan cahaya terang itu membuat Zevia penasaran dan akhirnya meraih sebuah ponsel yang tergeletak di meja samping katil ia tidur. "Hapenya Gezra. Tumben banget nggak diumpetin," gumam Zevia sembari membuka notifikasi yang masuk. "Operator rajin banget kirim SMS malem-malem gini." Saat ia membuka notifikasi tersebut, ternyata hanya dari operator. Ia pun berniat untuk mengembalikan ponsel Gezra ke tempat semula, namun ada sebuah bisikan yang menggagalkan rencana itu. "Sesekali gue kepoin hape suami sendiri nggak masalah dong? Gue penasaran, Gezra sering chattingan sama siapa." Niat itu pun tersalurkan. Dengan lincah ibu jarinya menelusuri roomchat Gezra di sebuah aplikasi chatting. Ia hanya menemukan obrolan tentang perkajaan dengan Ansel dan klien lain termasuk dengan sang papa mertuanya. Tak ada tanda-tanda mencurigakan bahwa Gezra main belakang dengan perempuan lain. Hal itu cukup melegakannya. Tapi, sejak awal ia memang percaya jika Gezra bukan tipe orang yang suka mempermainkan perasaan. "Zev?" "Ah!" Zevia terkejut hingga ponselnya hampir terjatuh. Sontak ia pun langsung mengembalikan ponsel Gezra ke tempat semula sembari tersenyum kikuk. "Kamu kok bangun? Tadi kan lelap banget." "Kamu sendiri kenapa nggak tidur? Kesehatanmu harus segera pulih, Sayang. Sana tidur lagi." Gezra mengubah posisinya menjadi duduk. Sesekali ia meregangkan tubuhnya dan menguap. "Aku nggak bisa tidur. Pengen peluk kamu." Zevia mengerucutkan bibirnya sembari merentangkan kedua tangannya manja. "Sini ... tidur sama aku aja." Melihat manjanya sang istri, Gezra hanya tersenyum tipis. Ia pun bangkit dari sofa dan berjalan menuju katil. "Kalau aku tidur sini, nanti kamu nggak leluasa." "Aku sukanya sempit-sempitan sama kamu." Jawaban Zevia kembali membuat Gezra terkekeh. "Oke. Sekarang kita tidur lagi." Gezra pun akhirnya merebahkan diri di samping sang istri. Memeluknya erat dan mencium keningnya dengan hangat. "Tidur ya. Jangan mikir yang macem-macem biar kamu cepet pulih dan kita bisa bikin dedek bayi lagi." Ucapan Gezra berhasil membuat Zevia melayangkan cubitan kecil di perut sang suami. Membuat sang empu merintih pelan dan menatap sang pelaku. "Kok kena cubit sih?" "Kamu nggak usah mikir aneh-aneh mulu deh." Rona merah tercetak jelas di pipi Zevia. Membuat siapapun yang melihat pasti akan gemas dibuatnya. Begitupun dengan Gezra. "Mikir aneh-aneh gimana? Kan wajar kalau aku bilang gitu, Sayang." "Udah, ah! Tidur. Jangan godain aku terus." Gezra terkekeh pelan lalu mencubit gemas hidung sang istri. "Good night, My Little World." "Alay banget sumpah!" "Namanya juga lagi belajar gombal. Jangan dihina dong." Zevia terkekeh. "Good night too, My Gez!" ucapnya sembari mengecup singkat bibir manis seorang Gezra. *** Kunjungan pagi seorang dokter membuat Zevia dan Gezra tersenyum bahagia. Karena pada akhirnya, Zevia diperbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan. Setelah memberi resep untuk diminum beberapa hari, sosok berjas putih bersama dengan sang rekam medis pun keluar dari ruangan Zevia. "Sayang, aku bayar administrasi sama nebus resepnya dulu ya." Zevia mengangguk dan mempersilakan sang suami untuk menyelesaikan urusannya. Sebelum Gezra benar-benar menghilang dari balik pintu, mereka kehadiran seorang tamu yang tak lain dan tak bukan adalah Ganiel. "Papa?" Ganiel menoreh senyum dan menyapa kedua anaknya. "Pagi, Gez, Zev. Gimana kabar kalian?" "Ah, kebetulan papa dateng. Tolong jagain Zevia bentar ya, Pa. Aku mau urus administrasi sama nebus resep. Soalnya hari ini Zevia udah boleh pulang." Ganiel mengangguk dan Gezra pun langsung keluar dari ruangan. Meninggalkan sang papa dengan sang istri. "Gimana keadaanmu, Zev?" Ganiel melangkah mendekat ke sebuah katil di mana Zevia berada. "Udah jauh lebih baik, Pa. Papa gimana? Maaf, ya. Gegara aku sakit, Gezra harus ambil cuti. Papa jadi keteteran sendiri, deh." Tampak raut wajah kecewa yang terpancar. Namun, senyuman Ganiel selalu berhasil menghapus raut kekecewaan itu. "Nggak usah mikirin itu. Papa seneng karena Gezra mempedulikan istrinya daripada pekerjaannya. Itu pertanda, papa berhasil mendidik Gezra sebagai suami yang bertanggung jawab." Jawaban Ganiel benar-benar membuatnga lega. "Makasih, ya, Pa." "Zev, papa tahu kamu pasti masih merasa kehilangan calon bayi kamu. Tapi pesan papa, jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Yakin aja, pasti akan ada saatnya kalian kembali dipercaya untuk seorang buah hati." Zevia mengangguk. Senyumannya melengkung indah meski kedua matanya terpancar sebuah kepedihan. Ganiel mengatakan hal yang benar. Zevia terkadang masih larut dalam kesedihan. Hingga Ganiel menyadarkannya akan realita yang harus dihadapi dan meninggalkan luka untuk mengais semangat baru. "Ah, mungkin kamu tahu tentang Mama Fraya. Tentang keguguran yang Mama Fraya alami. Mama Fraya juga pernah berada di posisimu. Saat Gezra masih berumue tiga tahun, Mama Fraya mengandung anak kedua kami. Tapi, karena kelelahan dan divonis mengidap kanker otak, kandungan mengalami keguguran." Cerita itu pernah didengar olehnya. Ia tak menyangka jika cerita itu juga akan menimpa dirinya. Ia menjadi paham betapa terpukulnya Fraya saat kehilangan seorang anak apalagi ditambah dengan kabar bahwa kanker telah merenggut hidupnya. "Tapi Mama Fraya kuat, ya, Pa. Mama Fraya selalu tersenyum setiap kali ketemu sama Zevia. Mama Fraya nggak pernah mengeluh sampai Zevia aja nggak tahu kalau Mama Fraya sakit keras." Memori tentang Fraya kembali terputar. Membuat linangan air mata berhasil lolos walau akhirnya langsung diseka dengan kasar. "Papa yakin, kamu ... lebih kuat dari Mama Fraya. Itulah kenapa ... Gezra beruntung karena berhasil memiliki istri sekuat kamu, Zev." "Zev harap, Gezra bener-bener berpikir seperti itu, Pa." *** "Pagi!" Valen memutar kedua bola matanya malas. Ia tak merespon apapun dan hanya fokus melihat laptop yang penuh dengan uraian naskah. Rentetan paragraf kadang membuat otaknya berputar tanpa arah. Hingga pening menghampiri dan membuat lambung terasa mual. Apalagi jika ditambah melihat naskah amburadul dengan PUEBI yang ngalor-ngidul tanpa arah. Benar-benar pusing tujuh keliling. "Nggak boleh nyuekin bos, lho. Bisa kena marah ntar," bisik rekan kerja yang melihat aksi cueknya. "Sialan," gumamnya kesal. "Pagi juga, Bos. Maaf, ya. Saya sedang sibuk revisi naskah jadi nggak denger kalau Bos nyapa saya." Dileon—Seseorang dengan sapaan Bos— hanya menahan senyum. Ia menarik sebuah kursi kosong yang berada di dekat tempat kerja Valen. Lalu duduk di sana dan menopang dagu. "Udah sarapan? Galau juga butuh tenaga lho." "Sialan," gumamnya lagi. "Udah, kok, Bos. Tapi saya nggak galau, jadi Bos jangan sok tahu," jawab Valen dengan sedikit ketus. Dileon terkekeh mendengar jawaban bawahannya itu. Tak lama kemudian, ia bangkit dan tiba-tiba saja pergi dari tempat kerja Valen. "Sumpah gaje banget! Untung dia itu Bos. Kalau nggak, udah gue habisin biar nggak ngeledek gue mulu. Heran, dah. Suka banget usilin gue." Kepergian Dileon membuatnya puas bermonolog sembari kembali mengecek naskah. "Jangan-jangan Bos Dil suka sama lo, Len," bisik Ollin—rekan kerja yang sedari tadi memperhatikan Valen dan Dileon. "Cuih, gue nggak sudi disukain sama cowok kayak dia. Tapi, dia juga nggak mungkin suka sama gue lah, Lin. Lo, kan, tau sendiri kalau dia gagal move on dari mantan tunangannya yang model itu." Alhasil, rumpi pagi pun kembali tercipta. Bukan naskah yang menjadi topik melainkan masa lalu sang bos yang menjadi tema gosip pagi yang cerah ini. "Iya juga sih. Gue juga masih sering lihat si Bos chattingan sama mantan tunangannya itu. Kasihan banget. Mana mantan tunangannya itu udah mau bikah sama sutradara pula." Ollin tampak sangat antusias mendalami acara gosip mereka. Membuat Valen juga ikut semangat mendengarnya. "Serius? Gue pikir mereka bakal balikan lagi. Tapi ternyata sepahit itu hidup si Bos," kekeh Valen yang merasa puas melihat keterpurukan Dileon. "Kambing, lo kayaknya seneng banget lihat Bos menderita." "Iyalah. Abisnya dia rese banget. Suruh siapa suka campurin urusan orang." "Ehem." Dehaman seseorang memecah keasyikan acara gosip pagi ini. Ollin langsung bangkit dari duduk dan berpaling ketika melihat sosok yang baru saja datang. Sedangkan Valen hanya pura-pura tak melihat dan kembali fokus—meski sebenarnya tak bisa fokus— ke laptopnya. "Udah puas ngerumpiin bos kalian?" Dileon melipat tangannya ke d**a sembari menatap Valen yang berusaha untuk mengacuhkannya lagi. "Karena lo udah buang-buang jam kerja, malam ini lo harus lembur dan gue yang pantau." "Hah?! Kok cuma saya? Ollin gimana?" "Kalau ngebantah, gue tambahin lagi hukumannya." Tanpa menunggu bantahan lagi, Dileon langsung masuk ke ruang kerja Kepala Editor. Well, awalnya Valen hanya ingin membela diri karena Ollin yang memulai gosip antara mereka. Tapi justru Ollin selamat dan dirinya yang terkena hukuman. Poor Valen. "Dileon sialan!" *** Drrtt *+62 813-xxxx-xxxx : Hari ini aku check up.* *+62 813-xxxx-xxxx : Kamu kerja? Semangat ya!* Gezra hanya mendengus pelan. Ia kembali menghapus semua pesan itu dan berharap semua akan segera berakhir—Kyra menyerah. "Sayang? Aku udah siap. Yuk!" Tampak Zevia sedang asyik menenteng dua tas besar berisi pakaian. Gezra hanya menatapnya lesu. "Kan aku udah bilang, jangan bawa yang berat-berat. Turunin tasnya, biar nanti aku yang bawa." "Nggak apa-apa. Kan aku udah sehat." "Zev, nggak usah ngebantah. Turunin tasnya, kamu bawa yang ini aja." Gezra pun mengambil dua tas besar yang ada di genggaman sang istri dan mengalungkan tas kecil ke pundah Zevia. "Makasih, Gez." Kedua mata mereka tertaut satu sama lain. "Buat?" "Kamu udah segininya sama aku. Padahal, dulu aku sering nyakitin kamu." Gezra tersenyum. "Mulai lebay, nih. Pasti lagi laper, kan?" "Ih! Aku serius." Kedua tas yang ada di genggaman Gezra pun akhirnya kembali turun ke lantai. Kedua kakinya melangkah mendekati sang istri yang masih memaku tatap padanya. "Boleh aku minta satu hal?" "Apa?" "Percaya sama aku. Kalau hatiku, nggak akan pernah terbagi lagi." Zevia mengerutkan keningnya heran. "Emangnya pernah terbagi?" Pertanyaan itu membuat Gezra menyentil pelan kening sang istri da membuatnya merengek kesal. "Nggak usah pura-pura amnesia." "Jahat. Istrinya baru sembuh udah disentil-sentil aja. Sakit tau!" Gezra terkekeh gemas melihat Zevia yang masih mengerucutkan bibirnya kesal sembari mengelus bekas sentilan yang ia layangkan. Rasanya kebahagiaan yang saat ini ia rasakan selalu ingin ia genggam. Ia menyadari jika roda terus berputar, namun ia terus berharap jika putaran roda itu takkan berhenti di titik yang menyulitkan hubungannya dengan Zevia. "Aku harap, rasa percaya antara kita nggak akan pernah terkikis, Zev." batin Gezra penuh harap. "Yuk, kita pulang. Aku udah kangen rumah, nih." Mereka pun bergegas pulang. Gezra dengan dua tas besar di kedua tangan dan tas ransel menggantung di punggung, sedangkan Zevia membawa barang-barang yang sekiranya ringan seperti bantal dan tas kecil yang mengalung di pundak. Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya mereka kembali pulang. Zevia cukup lega karena diperbolehkan pulang lebih awal. Sebab, rumah sakit adalah tempat yang membosankan baginya. TING Lift yang mereka nanti pun akhirnya terbuka. Dengan segera, keduanya memasuki lift yang kebetukan sedang kosong. Sehingga mereka bisa langsung turun ke lantai dasar dan menuju tempat parkir. Setelah beberapa saat, lift pun berhenti di tempat tujuan. Secara perlahan, pintunya terbuka dan membuat napas seorang Gezra tercekat untuk sesaat. "Zevia? Gezra?" "Kyra?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD