4. Putri Bos Mafia

1070 Words
Jordan baru saja mengelilingi kediaman Connor yang luas dan terletak di atas perbukitan. Sekeliling tanah kediaman Connor dari arah gerbang masuk yang ada sekitar dua ratus meter di bagian bawah sampai ke halaman luas bagian belakang perbukitan dipagari tembok berlapis-lapis dengan bahan berkualitas tinggi dan juga baja di lapisan bagian dalamnya, tidak bisa hancur oleh bom ataupun rudal. Pada empat penjuru kediaman Connor terdapat menara pemantau seperti mercu suar dengan misil yang juga bisa ditembakkan otomatis begitu ada ancaman mendekat. Rollo sebagai bos mafia kejam dan mungkin terkejam yang pernah ada di Swedia, memang sangat menjaga kehidupan pribadinya. Sejak Priskila hamil, Rollo lebih sering bekerja di rumah, sementara asisten pribadinya, Wilson yang bolak-balik mengerjakan pekerjaan di kantor perusahaannya serta membawa dokumen-dokumen penting untuk Rollo tandatangani. Rollo mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang real estate untuk menyamarkan bisnis gelapnya yang tentu saja pemerintah ataupun aparat mengetahuinya tetapi tidak pernah mengusiknya. Karena beberapa pejabat penting pemerintahan bahkan ada yang meminta bantuan Rollo dan kelompoknya untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa mereka kerjakan. Intinya Rollo Connor memang tidak bisa tersentuh hukum, tetapi bukan berarti dia tidak memiliki musuh. Lawan bisnis, aparat yang ingin cuci tangan dari tindak kejahatannya yang dilakukan kelompok Rollo sering dengan sengaja mengadu domba kelompok Rollo dengan kelompok mafia atau gangster lain. Tidak terkecuali Ben Horik yang haus kekuasaan dan kekuatan sudah sering kali bersinggungan dengan kelompok Rollo. "Orang kalian gagal bulan lalu, jangan sampai kali ini gagal lagi!" dengkus Kalf Robson pada pria yang datang menghadap ke ruangan kerjanya. Benar, Kalf Robson, pria yang dianggap sahabat oleh Jordan. Ben Horik memasukkan Kalf ke Seminari hanyalah untuk sebuah kepentingan politik baginya. Karena, putra dari adik perempuannya tersebut tidak pernah meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pastur, bahkan saat keponakannya itu berada di Seminari. Tentu saja, Ben memfasilitasinya. "Baik, Bos! Kali ini orang kita jauh lebih pengalaman dan dia sudah memiliki seseorang yang bisa membantunya masuk ke dalam kelompok Connor. Segera gadis sombong itu menjadi milik Bos!" sahut sang bawahan yang disenyumin sinis dan anggukan oleh Kalf. -- "Jordan ...!" Lagertha berteriak dan menghampiri Jordan yang masih berlari kecil di taman belakang. Napas Jordan masih terlihat turun naik setelah dia marathon dari gerbang bawah hingga mencapai kediaman Connor di atas bukit. Kegiatan yang setiap pagi dan sore Jordan lakukan jika tidak menemani Lagertha pergi keluar kediaman. "Aku basah dan berkeringat," ucap Jordan berusaha mengelak dari Lagertha yang hendak menyentuh lengannya. "Memangnya sejak kapan tubuhmu tidak basah dan berkeringat saat aku sentuh?" kekeh Lagertha yang tetap menggerakkan ujung telunjuknya mengikuti jalur keringat yang bercucuran di lengan Jordan. "Kamu ingin pergi?" Jordan bertanya karena pakaian Lagertha terlihat lebih rapi dari biasanya gadis itu pakai. "Ya, bersama Mama. Cepatlah mandi, sarapan dan ini ...!" Lagertha menyahut ceria sembari menggoyangkan kunci mobil baru ke depan wajah Jordan. Jordan mengangguk, sedikit tersenyum menanggapi Lagertha yang selalu bersemangat juga sering menggodanya dengan segala macam cara. Jordan berjalan menuju kamarnya di lantai tiga kediaman, bersebelahan dengan kamar pribadi Lagertha yang juga memiliki pintu penghubung diantara kamar mereka berdua, atas permintaan Lagertha yang memohon pada Papanya. Lagertha mengikuti langkah kaki Jordan, menelan salivanya sendiri melihat punggung liat Jordan dan otot lengan pria itu yang terlihat semakin kekar sejak rutin latihan bersama Maximus juga Papanya selama sebulanan ini. "Lihat putrimu! Tatapannya begitu lapar memandang Jordan!" Priskila sedang sarapan di teras belakang bersama Rollo dan diam-diam selalu memperhatikan putrinya yang benar-benar terlihat sedang jatuh cinta pada Jordan. "Dia sama sepertiku, selalu lapar ingin memakanmu." tukas Rollo sembari memasukkan potongan daging ke mulutnya dan menyuapkan juga untuk istri cantiknya itu. "Sungguh, aku sangat kuatir ..." desah Priskila menghela napas setelah menelan daging di dalam mulutnya dan mengambil gelas berisi air untuk dia minum. "Jangan kuatir! Jordan pria yang baik dan jujur. Dia sebenarnya murid terbaik dari Seminari tetapi difitnah dan di buang ke penjara hingga Ibunya sakit lalu meninggal. Lihatlah, dia selama ini tidak menanggapi godaan Lagertha, bukan?" "Aku bukan kuatir Jordan yang akan menyakiti Lagertha. Tapi Lagertha yang bisa memperkosa pengawalnya itu!" imbuh Priskila seraya tertawa kecil mengingat dirinya dahulu juga lebih dulu 'memperkosa' Rollo di malam pertama pernikahan mereka. Tangan Rollo membelai perut Priskila yang mulai membukit kecil, "Aku ingin kamu perkosa lagi seperti dulu," bisiknya lembut. Priskila langsung mendesah tertahan saat tangan Rollo sudah menelusup ke balik gaun dan menyentuh kulit lembutnya. "Oh, Rollo ...jangan sekarang. Lagertha mengajakku pergi ke spa, pulangnya ...ehmm ..," Sejak hamil, tubuh Priskila tumbuh semakin sensitif. Sentuhan Rollo dengan cepat membuat bagian tubuh Priskila melembut dan basah. Perubahan hormon kehamilan yang tentu saja juga sangat disukai oleh Rollo, karena itu pulalah dia enggan meninggalkan istri cantiknya untuk pergi bekerja selama ada Wilson yang bisa mengerjakan pekerjaannya. "Aku akan bermain cepat," ajak Rollo akan reaksi tubuh Priskila yang telah duduk gelisah di kursinya. "Lagertha bisa memergoki kita di sini ..." balas Priskila yang akhirnya pasrah tubuhnya diangkat oleh Rollo untuk didudukkan di atas pangkuan suaminya itu. "Dia mungkin sedang menunggui Jordan mandi di kamar sambil membolak-balik Alkitab," cetus Rollo tertawa kecil mengingat putrinya gencar mendekati Jordan dengan berbagai cara. Rollo hanya menurunkan sedikit celananya dan menaikkan gaun Priskila yang dia sobek celana dalamnya tanpa menurunkannya dari kaki jenjang istrinya itu. Para pelayan yang berjaga di sekitar taman, langsung masuk ke dalam rumah untuk memberikan privasi kepada pasangan majikan mereka yang terlihat semakin manis dan romantis bersama. Rollo bahkan tidak terlihat kejam sama sekali ketika Priskila bersamanya. Di dalam kamar, Jordan baru saja keluar dari bilik mandi dengan handuk melilit rendah pada pinggang liatnya. "Jordan, aku tidak mengerti akan maksud ayat ini KaruniaMu cukup bagiku, maka cukuplah KaruniaMu bagiku. Bagaimana jika aku ingin lebih dan lebih banyak lagi? Bagaimana jika aku ingin lebih kaya? Bukankah sedikit kurang relevan jika hanya cukup?" Lagertha sengaja mencari apa pun yang bisa dia tanyakan agar tidak diusir Jordan diminta kembali ke kamarnya. Mata Lagertha diam-diam mengintip tubuh Jordan yang jantungnya berdebar-debar indah dalam rongga dadanya. Jordan menjelaskan pada Lagertha secara mudah dan gamblang, namun ketika dia memandang gadis muda yang duduk di atas pingiran ranjangnya itu, ternyata Lagertha tidak berkedip menatap ke bagian perutnya. "Kemana arah tatapanmu, Nona Muda? Apakah kamu sungguh tidak mengerti atau ingin menggodaku lagi?" tanya Jordan sembari tersenyum geli, mencengkeram dagu Lagertha untuk dia bawa menatap matanya. Lagertha sengaja membuka mulutnya dan kelopak matanya berkedip sangat manis menatap mata Jordan yang juga masih tetap tersenyum memandangnya. "Hanya ciuman, maukah kamu memberitahuku bagaimana rasanya?" bisik Lagertha sambil bangkit dari duduknya di atas ranjang untuk semakin mendekati wajah Jordan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD