Wilson, asisten Rollo membawa Jordan dan Maximus langsung ke ruangan kerja Rollo di kediaman pribadinya.
Sedangkan Lagertha pergi menemui Mamanya yang sejak mendapat kabar dirinya hilang hingga diburu oleh pengawalnya yang berkhianat, terbaring lemas di atas ranjang.
"Mama ..." panggil Lagertha setelah membuka pintu kamar, langsung berhambur untuk memeluk wanita yang telah melahirkannya tersebut namun sering dia buat cemas.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu terluka? Apakah kamu dilecehkan? Apakah para pria itu menyentuh tubuhmu?"
Priskila berusaha bangkit untuk duduk, masih tetap memeluk wajah Lagertha yang bersandar manja di dadanya. Perawat yang hendak masuk ke dalam kamar Priskila dilarang oleh pelayan kamar untuk masuk karena ada Lagertha yang bersama Nyonya mereka.
"Aku baik-baik aja. Pria yang saat ini bertemu dengan Papa, menyelamatkanku tepat waktu sebelum para berandalan memperkosaku ..."
"Memperkosamu? Oh, kamu hampir diperkosa, Lagertha?"
Priskila terkejut dan segera mengurai pelukannya dari Lagertha untuk melihat serta memperhatikan tubuh putrinya tersebut yang memakai jubah kebesaran pada tubuhnya.
"Ini jubah Max!" kekeh Lagertha saat tatapan Priskila memperhatikan jubah pada tubuh putrinya tersebut.
"Mereka hampir memperkosaku, tetapi belum memperkosaku, Mama!" Lagertha membelai wajah Priskila yang menatapnya lekat-lekat itu dengan telapak tangan lembutnya.
"Mari, Mama harus lihat pria penyelamatku! Kata Max, dia adalah ninja yang akan menjadi pengawalku." Lagertha membawa tubuh Priskila berdiri yang dia pegangi erat.
"Dia sangat tampan!" tambah Lagertha berbisik yang akhirnya Priskila tersenyum menanggapi ucapan putrinya tersebut.
"Kamu menyukainya?" cetus Priskila yang dianggukkan Lagertha cepat.
"Ya! Aku menyukainya. Ayo, Mama harus memberikan suara agar pria tampan itu menjadi pengawalku, kuatir Papa menolaknya ..."
"Menolaknya?" kutip Priskila dan menuruti langkah putrinya itu yang membimbingnya berjalan lebih cepat ke ruang kerja Rollo.
"Ya, karena dia sangat polos, Mama!" sahut Lagertha sudah mengetuk pintu ruangan kerja Rollo dan memegangi Priskila yang tidak henti-hentinya tersenyum menatap putrinya tersebut.
Selama ini Lagertha tidak pernah menunjukkan ketertarikan sedikitpun pada lawan jenis. Putri Priskila bersama Rollo tersebut selalu menolak para pria yang mencoba mendekatinya.
Tetapi kini, Lagertha bahkan terang-terangan berkata pada Priskila jika dia menyukai pria yang telah menyelamatkannya dari para berandalan.
"Kenapa kalian ke sini?" Rollo terkejut melihat Priskila yang turun dari ranjang dan sedang di gandeng oleh Lagertha telah memasuki ruangan kerjanya.
"Dimana dia? Apakah Papa tidak menerimanya?" Lagertha langsung bertanya karena dia tidak melihat Jordan dan Maximus di dalam ruangan kerja Papanya tersebut, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan dari Papanya itu.
Priskila mengulum senyum, bertukar pandangan dengan Rollo yang langsung paham maksud ucapan putrinya.
Rollo memegangi lengan Priskila dan membawa istrinya itu duduk ke sofa, sedangkan Lagertha melihat ke kiri dan kanan juga berjalan ke lorong rak buku dalam ruangan kerja Papanya tersebut untuk mencari Jordan.
"Kamu bertanya dia itu siapa, Young Lady? Apakah kamu tidak lelah? Kamu mau dibuatkan masakan ikan dari danau beku?" Rollo bertanya pada Lagertha yang akhirnya menghenyakkan bokongnya duduk di samping Priskila dan menyandarkan wajah ke pundak Mamanya tersebut, seakan tulang belulang di tubuhnya rontok melemas.
"Kamu tidak rindu dan menyayangi Papamu lagi?" goda Rollo yang biasanya Lagertha akan menemui dan menciumnya terlebih dahulu sebelum ke Priskila.
Lagertha bangkit dari duduknya malas-malasan lalu mengecup cepat pipi Rollo. Namun lengan Rollo jauh lebih cepat merengkuh pinggang putrinya untuk dia tahan duduk di atas sebelah pahanya.
Meskipun telah dua puluh tahun usia Lagertha, bagi Rollo saat bersamanya, gadisnya itu tetaplah seperti gadis kecil yang sebenarnya kemanapun Lagertha pergi selalu berada dalam pantauannya.
Priskila mengulum bibirnya menahan tawa yang hendak meledak melihat putri mereka baru pertama kali uring-uringan, bahkan semenjak gadis itu kecil.
"Papa dan Mama punya hadiah untukmu, mau?"
Rollo berkata juga berusaha menahan tawa, pura-pura tidak mengetahui jika putri kesayangannya itu sedang uring-uringan mencari Jordan.
"Aku tidak mau hadiah! Aku mau pengawal ninja. Ninja yang tampan dan polos!"
Rollo tidak kuasa untuk menahan tawa yang akhirnya meledak dan bergetar keluar dari rongga dadanya. Priskila juga tertawa kecil, menaikkan kedua alis indahnya memandang Lagertha yang mengalihkan tatapan dari kedua orangtuanya yang tertawa menatapnya.
"Pria yang datang bersama Max masih terlalu muda untuk menjadi pengawalmu. Dia juga belum cukup pengalaman ..."
"Mustahil!" potong Lagerta sudah berpindah duduk ke sofa dari paha Rollo.
"Kemarin Papa memberikan sepasukan pengawal yang bahkan usianya sama denganku!" protes Lagertha cepat yang membuat tawa Rollo semakin menjadi.
"Kamu tidak sedang jatuh cinta 'kan, Young Lady?" Rollo menatap lekat mata Lagertha setelah bertemu pandangan dengan istrinya.
Kelopak mata Lagertha berkedip beberapa kali, "Tidak, tentu saja! Aku hanya ...mengantuk sekarang. Bye Mama, bye Papa!"
Lagertha bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar untuk menghindari godaan dari Papa dan Mamanya yang membuat wajahnya terasa panas dan jantungnya berdegup tidak normal.
"Dia ada di tempat latihan bersama Max!" tutur Rollo berteriak.
Tangan Lagertha yang telah memegang handle pintu, seketika melepaskannya dan berlari kembali ke arah kedua orangtuanya masih duduk di sofa dan sedang merapat saat Lagertha bangkit berdiri tadi.
"Kamu memang Papa terbaik dan paling hebat sedunia! Terima kasih, Papa!"
Lagertha langsung naik ke pangkuan Rollo, memberikan kecupan basah ke pipi Papanya dan juga Mamanya yang tersenyum bahagia melihat putrinya sudah kembali ceria lagi.
"Tadi Papa mengatakan ada hadiah untukku, apa itu?" tanya Lagertha sembari menduduki satu paha Rollo, menyampirkan lengan ke bahu Papanya, menghadap ke Mamanya yang tertawa semakin manis di mata Lagertha.
"Mama hamil. Dia adalah hadiah untukmu," Priskila berkata seraya membelai tangan Rollo yang mengusap permukaan perutnya.
"Sungguh? Mama hamil anak Papaku? Itu adalah adikku? Och ternyata Papa masih hebat hingga bisa menghamili Mama!" ceplos Lagertha langsung turun dari paha Rollo, menempatkan wajahnya di atas pangkuan Priskila.
"Bukankah tadi kamu baru saja mengatakan jika Papamu ini adalah Papa terhebat sedunia, Young Lady?" kekeh Rollo sudah menduga jika Lagertha akan sangat antusias dan bahagia dengan kehamilan Priskila.
"Och, aku akan memiliki adik. Dia adalah hadiah untukku!" ucap Lagertha tidak mempedulikan perkataan papanya.
Bola mata Lagertha berbinar bahagia menatap Priskila yang menangkup wajah putrinya itu dengan kedua tangan dan mengecup keningnya lembut.
"Mama tidak boleh lelah. Mari, aku akan mengantar Mama istirahat di kamar!"
"Mama tidak lelah, Sayang. Mama bahagia melihatmu baik-baik aja. Adikmu juga turut bahagia. Tolong kurangi pergi keluarnya ..."
"Ya, Mama. Aku akan mendengarkanmu. Aku tidak akan pergi-pergi lagi. Aku akan mengawasi Jordan latihan agar dia nanti bisa melindungiku dan adikku!" jawab Lagertha cepat memotong ucapan Priskila.
Ucapan spontan Lagertha tersebut yang menjadi doa bagi dirinya dan adiknya ketika tragedi yang tidak pernah diduga dan sangka memporak-porandakan kediaman Rollo Connor.