Setelah beberapa jam dalam pencarian Lagertha, Maximus ingat jika dia meninggalkan Jordan tanpa bahan makanan atau pun minuman di rumahnya.
"Teruskan pencarian dan laporkan padaku sekecil apapun penemuan kalian. Ada yang harus aku kerjakan dulu." ucap Maximus dalam sambungan radio ke anak buah kepercayaan Rollo yang ikut menyusuri jalanan mencari keberadaan Lagertha.
Setelah membeli banyak bahan makanan yang bisa di simpan dalam jangka waktu lama, minuman dan buah, Maximus melajukan mobilnya kembali pulang ke rumah tinggalnya.
Namun betapa terkejutnya Maximus begitu dia memasuki rumahnya, melihat gadis muda yang telah membuatnya serta anak buah Rollo yang lainnya membuang-buang waktu menyusuri selak beluk jalanan, ternyata berada di rumahnya bersama Jordan.
“Kau? Kenapa ada di sini?” Maximus tak bisa menahan keterkejutannya, menatap Lagertha dan Jordan bergantian.
Namun, ucapan dari gadis muda putri bosnya itu yang tak lain adalah Lagertha berkata tanpa beban, seakan tak mengetahui jika banyak anak buah dari papanya masih berkeliaran di jalan-jalan serta tempat-tempat demi mencari dirinya.
"Aku adalah wanitanya Jordan. Dimana ada Jordan, tentu disitu harus ada aku." tutur Lagertha santai seakan dia sudah mengenal lama dengan Jordan.
Maximus menaikkan alisnya, menoleh pada Jordan yang menggelengkan kepala dengan tatapan polos tapi Maximus justru ingin tertawa besar melihat kedua orang itu yang sepertinya sudah memiliki ikatan bathin kuat.
Entah itu ikatan bathin seperti majikan dengan pengawal atau pasangan kekasih, Maximus tidak peduli. Tetapi tujuannya telah selangkah jauh lebih maju untuk menjadikan Jordan sebagai ninja pengawal Lagertha.
"Halo, wanitanya Jordan. Siapa namamu? Dimana rumahmu? Apakah kamu lapar?" seloroh Maximus sembari berjalan ke balik pantry meletakkan bahan makanan dan buah yang dia beli.
"Jordan menyelamatkanku! Yeah, aku sedikit lapar. Apa yang kamu beli, Max?" sahut Lagertha menghampiri Maximus dengan langkah ringan.
"Kalian ..." Jordan ikut menghampiri Maximus dan Lagertha di meja pantri, menatap kedua orang yang terlihat sudah saling mengenal dan mengulum senyum tersebut bergantian.
"Dia ..."
Maximus dan Lagertha sama-sama membuka mulut, berkata bersamaan. Lalu Maximus mempersilakan Lagertha untuk berbicara lebih dulu.
"Dia teman Papaku. Aku mengenalnya tetapi tidak mengetahui jika dia tinggal di rumah terpencil seperti ini. Seleramu sangat kuno, Max!" tutur Lagertha sembari memindai ruangan rumah sederhana Maximus yang memang bergaya sedikit kuno, jauh berbeda dengan kediaman Lagertha yang mewah juga sangat megah.
Maximus menggedikkan satu bahunya, tersenyum menanggapi penilaian Lagertha yang memang sangat blak-blakan dalam memberikan pendapat.
"Dia Lagertha ...mulai besok menjadi majikanmu, Jordan!"
"Apa?!"
"Majikan?"
Lagertha dan Jordan berteriak bersamaan, saling menatap lalu memandang Maximus yang sudah selesai membuat tiga mangkuk soup instant.
"Kamu ingin pengawal pribadimu adalah seorang ninja yang tampan bukan? Jordan adalah jawabannya!" sahut Maximus mencondongkan tubuh besarnya seraya menyodorkan mangkuk soup instant ke arah Lagertha yang masih membulatkan mata biru indahnya menatap tangan kanan Papanya tersebut.
"Kamu sudah setuju ikut denganku. Selain aku akan mengajarkanmu berlatih lebih mendalam lagi, kau akan bekerja menjadi pengawal pribadi dari nona cantik ini. Kau pasti akan menyukai pekerjaanmu ini, Jordan!" Maximus menjawab pertanyaan di tatapan Jordan yang belum hilang sambil memberikan mangkuk soup instant ke pria muda nan tampan itu.
Jordan menatap Lagertha yang telah menyeruput soupnya santai hingga berbunyi seakan dirinya tidak terkejut lagi. Gadis muda itu bahkan duduk seperti pria di kursi bar depan pantry Maximus.
Bagaimana mungkin gadis yang tomboi tersebut membutuhkan pengawal pribadi. Kecuali ...
Jika Lagertha adalah seorang putri! Tetapi Putri mana di Swedia ini yang bersikap seperti laki-laki bahkan ketika minum semangkuk soup instant.
"Baiklah, tidak ada pertentangan dari kalian berdua. Aku akan memberitahu Papamu sekarang,"
Maximus menghubungi Rollo menggunakan panggilan telpon, mengabarkan jika Lagertha berada di rumahnya dan dalam keadaan sangat baik. Tidak lupa Maximus menceritakan mengenai pengawal ninja yang dia bawa untuk Lagertha pada Rollo.
"Papa ...!" panggil Lagertha ceria saat Maximus memberikan ponsel ke tangan gadis itu.
Lagertha menceritakan jika dirinya diselamatkan dan pria penyelamatnya tersebut lulus untuk menjadi pengawal pribadinya.
"Ya, aku hanya ingin dia sendiri yang menjadi pengawalku! Tidak perlu lagi ada pasukan yang mereka hanya bisa membatasi gerak kebebasanku aja!" cetus Lagertha berbicara sambil menatap lekat ke dalam mata Jordan yang masih bingung tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Jangan kuatir, Papaku akan membayarmu mahal! Yang penting kamu mengikutiku kemanapun aku pergi, hanya kamu! Tidak ada Maximus!"
Jordan menggelengkan kepalanya pelan, "Aku bukan ninja ..." gumamnya lirih.
Kepala Jordan berkecamuk kilasan masa lalu dan kenangan akan Yuri yang tewas di atas ranjangnya. Kejadian tersebut membuat Jordan sedikit merasa kuatir juga trauma yang dia simpan sendiri.
Meskipun status Jordan sebagai calon Pastur dicabut dari Seminari, tetapi pria muda itu sangat paham akan kepercayaannya yang harus suci dari hubungan duniawi terutama tidak menyentuh wanita.
Tetapi, kini Jordan dihadapkan pada pilihan yang tidak memiliki jalan mundur untuk menjadi pengawal Lagetha, gadis muda yang ceria juga sangat cantik.
"Aku sudah mengetahui kemampuanmu saat menyelamatkanku. Kamu hanya kurang pengalaman dan aku tidak keberatan untuk memberikan banyak pengalaman padamu!" Lagertha menjawab cepat dengan jawaban ambigu tetapi pikiran polos Jordan hanya bisa menatap gadis muda itu sedikit tercenung.
"Lagertha adalah guru yang hebat untuk pengalaman, Jordan!" sarkas Maximus menanggapi ucapan Lagertha yang langsung terkekeh mendengarnya.
"Terkadang apa yang kita inginkan tidak selalu berada di jalan yang kita impikan, Jordan. Kita bertemu juga bukan suatu kebetulan tapi semuanya terhubung seperti ada benang tidak kasat mata yang mengikat takdir kita," retoris Maximus yang langsung dimengerti oleh Jordan.
Maximus bukan pria bodoh yang tidak mengenal Tuhan, meski jalan yang dia pilih adalah menghabisi nyawa manusia lain. Maximus sungguh sangat paham namun dia tetaplah pembunuh kejam yang tidak tertandingi juga terkenal hingga ke negera-negara tetangga.
Lagertha menatap lekat wajah Jordan yang terlihat manis, bukan berandalan tetapi tatapan mata pria itu seperti selalu menghindari matanya.
"Baik, aku akan menerima pekerjaan menjadi pengawalmu." putus Jordan setelah memikirkan perkataan Maximus.
Menjadi Pastur dan membantu melayani umat adalah impian Jordan. Namun sepertinya Tuhan ingin dia menempuh jalan lain sehingga dirinya harus melewati pembuangan di penjara terpencil selama enam tahun sebelumnya hingga dirinya mengenal ilmu beladiri di dalam penjara.
"Mungkin menjadi pengawal gadis muda ini, adalah jalan yang Tuhan inginkan untuk ku lewati." gumam Jordan dalam hati lalu menyeruput soup di mangkuknya hingga tandas.
Jordan yang polos belum mengetahui jika Lagertha adalah putri dari bos mafia yang paling kejam di utara Swedia. Banyak musuh serta anak buahnya yang mengincar Lagertha untuk menjatuhkan Rollo Connor.
Sanggupkah Jordan menjadi pengawal dan menjaga Imannya menghadapi gadis muda yang bukan hanya cantik tetapi akan terang-terangan menggoda Jordan disetiap kesempatan?