Kamu gila, ya?!

1160 Words
“Kamu gila, ya?! Memutuskan mau menikahi saya hanya karena alasan konyol seperti itu?!” teriak Zahra dengan lantangnya. Tidak lagi peduli ada Ibu, Bapak, bahkan Pak Kiyai dan Bu Nyai. Orang terpandang di lingkungan tempat ia tinggal. Bahkan rumah yang kini Zahra dan keluarga tempati adalah berkat mereka semua. Bapaknya Zahra diberi pekerjaan sekaligus tempat tinggal. Terlalu gila memang pemuda di depan Zahra. Memutuskan datang melamar karena alasan yang tidak masuk akal. Gus Yusuf menatap dengan mantap. Tidak ada keraguan sedikit pun tergambar di wajah yang sejujurnya tampan. Aura wajah shaleh sering terjaga air wudhu nampak jelas dari cahaya yang memancar. “Ya, saya gila! Kamu yang sudah bikin saya gila!!” tukas Yusuf. Membidik langsung anak mata lawannya. Zahra menggeram gemas. Bagaimana bisa ia menikah karena hal itu. Terlebih ia masih terbilang muda. Yusuf pun tak kalah muda. Hanya selisih tiga tahun di atas usia Zahra. “Tunggu, tunggu!” Bu Nyai menginterupsi. Sudah saatnya ia dan suami mengetahui. Apa alasan yang mendasari putranya memutuskan segera menikah dan memilih calon istri dari kalangan biasa. Bukan alim terpelajar. “Sebenarnya apa yang terjadi? Yusuf, jelaskan kepada Ummi dan Abi. Kalau masih mau kami uruskan pernikahan kalian.” “Nikah?” Zahra menelan ludah kasarnya. ... Beberapa hari yang lalu. “Pak, Zahra bantu Bapak apa? Sini, mumpung PR Zahra sudah selesai.” Parang yang tergeletak di tanah diraihnya. Ramlan terlihat begitu kelelahan setelah membersihkan lingkungan pesantren secara acak. Terkadang di taman, kadang di halaman depan, kadang juga di kebun belakang. Tergantung di mana rumput-rumput liar telah meninggi dan memanjang. Kebetulan kali ini Ramlan membersihkan di kebun belakang. Padang berumput telah terbabat sebagian. Dan kini d**a tua Ramlan kembang kempis tidak karuan karena kecapekan. “Tidak usah, Zahra. Sana kamu bantu Ibu di rumah saja. Ini pekerjaan berat. Biar Bapak yang lakukan.” Zahra mendengkus sebal. Kedua tangannya saling bertumpuk di depan d**a. Wajahnya tertekuk kesal. Di sana sini dia tidak diperbolehkan ikut membantu. “Ish, Ibu bilang, sana bantu Bapak. Bapak bilang sana bantu Ibu. Kenapa sih Zahra tidak diperbolehkan membantu? Zahra kan sudah bukan anak kecil lagi. Zahra bisa bantu pekerjaan Ibu, Zahra juga bisa bantu pekerjaan Bapak. Zahra...,” “Kumpulkan rumput-rumput, juga ranting kayunya. Nanti sore kita bakar,” ucap Ramlan akhirnya. Tidak kuat mendengar celoteh protes putrinya. Kalau tidak seperti itu, gadis cerewetnya Ramlan akan merepek panjang kali lebar, tidak kelar-kelar. “Yeaaa!” Dengan bahagianya, Zahra langsung mengumpulkan rumput-rumput yang baru ditebas Ramlan. Aroma khas yang menguar, bunga-bunga ilalang yang menempel di baju, jilbab hingga rok panjangnya tidak ia hiraukan. Gadis itu terus bekerja dengan riang gembira. Ramlan tersenyum memperhatikan. Ia bersyukur memiliki seorang putri ringan tangan. Selalu ingin meringankan pekerjaan. “Hati-hati, Zahra! Jangan ke sana-sana. Nanti ada ular.” Ramlan memperingatkan. Selain mengangkut dan menumpuk rumput, Zahra ikut mencabutinya menggunakan tangan. “Awas tanganmu teriris, Zahra. Sudah! Biar Bapak yang babat rumputnya. Kamu angkat dan kumpulkan saja. Zahra mengangguk. Khawatir juga kalau tiba-tiba hewan tak berkaki bersarang di balik rerumputan tersebut. Zahra paling takut ular. Selain cacing juga serangga lain yang ditakuti kaum hawa pada umumnya. “Assalamualaikum, Pak Ramlan. Di cari Pak Kiyai di teras pondok. Bisa Bapak menghadap sekarang?” Seseorang berpakaian santri datang mendekat dan mengabarkan pesan dari Pak Kiyai. “Oh iya, saya langsung ke sana,” sahut Ramlan. Langsung meletakkan parang yang langsung diambil Zahra. “Biar nanti Bapak yang lanjut, Zahra. Bapak menghadap Pak Kiyai dulu. Kamu lanjut kumpulin ranting-ranting yang di sana. Di tumpuk di tempat yang sama. Nanti Bapak bakar sekalian dengan sampah lainnya.” “Iya, Pak.” Parang yang baru dipegang, segera disimpan. Zahra mengikuti instruksi yang Ramlan perintahkan. Hingga lebih dari lima belas menit, Ramlan belum juga kembali. Pekerjaan merapikan hasil babatan rumput telah usai. Telah terkumpul semua. Zahra mengedarkan pandangan. Berharap sosok bapaknya segera muncul dari kejauhan. Nihil. Menunggu hingga sepuluh menit kemudian pun Ramlan belum juga datang. Zahra lelah menunggu. Ia berinisiatif untuk melanjutkan pekerjaan bapaknya yang tertunda. “Bapak kemana sih? Kok lama banget. Zahra lanjutin aja deh!” Ia mengayunkan parang membabat rerumputan. Sebelumnya, pepohonan telah ia sibak dan dipukul-pukul menggunakan ranting kayu berukuran satu kepal tangan. Tujuannya, kalau-kalau ada hewan berbahaya seperti ular dan lainnya, hewan tersebut bisa terlihat dan segera lari menjauh. “Babat, babat, babat rumputnya. Rumput terbabat kerja selamat!” Ia bersenandung kecil dengan merubah lirik lagu berkebun anak-anak. Sepertinya Ramlan tidak kembali ke tempat Zahra. Entah apa yang sedang diperintahkan Pak Kiyai kepada bapaknya itu. Sampai seluruh kebun bersih, Zahra masih bekerja sendiri. “Subhanallah, capeknya! Kalau begini, aku harus minta upah sama Bapak!” Zahra menengok ke kiri dan kanan. “Mana sih Bapak? Dibantuin malah ngilang!” Pinggang pegalnya ditegakkan. Bibir berkeluh-kesah, pedahal Ramlan sudah melarang dirinya mengerjakan. Zahra mengusap pinggang yang lelah. Kemudian terdiam. Merasa bersalah. “Bapak juga pasti kelelahan. Kenapa aku malah mengancam akan minta upah?” Ia merasa bersalah sendiri. “Ya Allah, sudah capek, haus, air minumnya habis pula!” Botol berisi air minum yang ia bawakan untuk Ramlan telah habis hingga tetes terakhir. Dijungkir balikan seperti apa pun botolnya, tidak ada air yang keluar. Habis, bis. “Bapak kemana sih?” keluhnya, lelah. Bahkan bekal singkong goreng yang Zahra bawa telah habis di makan sambil membabat rumput sedari tadi. “Ya Allah, sudah sore masih terik!” Zahra yakin, belang di wajahnya akan semakin kontras begitu kain jilbabnya dibuka. “Huh, sambil ngunyah dan minum juga tetap saja lelah. Hebat banget Bapak kerja gak pake ngeluh.” Zahra kembali celingukan mencari bayangan bapaknya. Bukan Ramlan yang didapat. Melainkan pohon jambu air yang buahnya cukup lebat. Berada di dekat dinding pembatas pesantren, pemisah dengan lingkungan luar. Dengan penuh ketertarikan, ia mendekati. “Ah, gimana mau naik? Pake baju beginian?!” Zahra merutuki pakaian muslimah yang ia kenakan. Kalau bukan ingin menyenangkan Bapak dan Ibunya, ia lebih suka mengenakan pakaian potongan set celana panjang. Meskipun penampilan tomboynya akan kontras dengan penampilan para penghuni pesantren kebanyakan. Tapi Zahra suka. Dengan begitu, gerakannya tidak akan tertahan. “Duh, gimana ini? Mana gak pakai celana panjang!” Setelah memastikan keadaan, Zahra mengangkat naik bawah rok gamis agar bisa segera tiba di atas pohon jambu untuk memuaskan dahaga dan rasa laparnya. Angin sepoi-sepoi di atas sana pasti cepat meredakan rasa lelahnya juga. Zahra memang lihai soal panjat-memanjat. Tak butuh waktu lama, gadis delapan belas tahun itu sudah sampai di dahan atas. Menikmati buah berair segar sambil mengayunkan kakinya bebas di udara. Butik busana muslim tempat ia diberi gamis secara gratis, terlihat dari dahan pohon yang ia duduki. Zahra memperhatikan orang lalu-lalang keluar masuk dari sana. “Astagfirullah, Zahra! Ngapain di situ?!” “Ust Syifa?” Zahra juga terkejut. Di bawah sana, di balik dinding pembatas, terdapat Ustadzah Syifa di depan butiknya tampak tengah bersiap untuk pulang. Perempuan yang sudah Syifa anggap teman bahkan seperti kakak perempuannya sendiri itu turut kaget. Melihat teman kecilnya tengah menikmati buah di atas pohon dengan kaki menjuntai digoyang-goyangkan. Sudah seperti seekor primata besar. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD