Gara-gara Semut dan Ulat

1260 Words
"Assalamualaikum, Ustadzah Syifa! Mau jambu? Zahra lempar ya!" Syifa menggelengkan kepala. "Turun, Zahra! Kalau mau buah, besok saya bawahan dari kedai. Turun, nanti jatuh. Kamu perempuan. Maasyaa Allah, mana pakai gamis begitu." Syifa kehabisan kata-kata melihat putri pekerja pesantren tempatnya mengajar berkelakuan seperti laki-laki. Makan buah pakai manjat pohon segala. Yang ditegur hanya nyengir. "Ustadzah mau gak? Zahra lempar kalau mau." Syifa menggelengkan kepala lagi. Lehernya terasa pegal, terus menengadah ke atas. "Sudah, turun! Nanti jatuh. Anak perempuan kok manjat-manjat." "Sebentar, Ust! Di sini pemandangannya bagus." Syifa hanya bisa menghela nafas panjang. Zahra memang bukan anak didiknya di dalam pesantren sana. Mereka bertemu beberapa kali secara tidak sengaja. Berpapasan begitu saja. Melihat cara berpakaian Zahra yang terlihat berbeda, Syifa terketuk untuk memberikan beberapa stelan gamis kepada gadis tersebut secara percuma. Ia bahkan membebaskan Zahra untuk memilih model dan warna yang sesuai keinginannya. "Ya sudah. Hati-hati ya! Saya mau pulang dulu. Salam sama orang tua kamu." Zahra mengangguk dari atas pohon. "Ust!" panggilnya teringat sesuatu. Syifa menghentikan langkah, kembali menengadah. "Kata Bapak sama Ibu, Terima kasih atas gamisnya." "Cuma Bapak sama Ibu? Kan kamu yang dikasih gamisnya." "He he! Iya, Zahra juga mau bilang terima kasih lagi. Ternyata gamis dari butik Ustadzah Te O Pe Be Ge Te!" "Apaan tuh?" "Top banget!!" Syifa terkekeh. Kemudian geleng-geleng kepala. Geli melihat gaya bicara gadis tanggung tersebut. "Adem kan?" "Iya. Adem. Tapi bukan itu juga sih. Nyaman bisa dipake manjat pohon. Nih, Zahra pakai Ha ha ha!" "Astagfirullah!" Betis gadis itu terlihat saat Zahra menggoyangkan kaki. Syifa menarik nafas panjang, kemudian ia hembuskan. Ada satu hal yang terlewat. Ia harus memberikan celana dalaman panjang untuk mendukung gerak aktif Zahra. "Zahra, besok ke butik ya! Saya mau ngomong sesuatu. Sekarang mau pulang dulu. Assalamualaikum." "Hati-hati Ust! Walaikumussalam." Zahra melambaikan tangan. Tersenyum menatap langkah menjauh ustadzah colongannya. Ustadzah colongan? Ya, karena bukan santriwati pesantren tempat bapaknya bekerja, Zahra tidak bisa mengikuti kelas. Sayangnya, ia menyukai kelas Qira'ah Syifa. Untung saja pembelajaran dilakukan di pelataran masjid lingkungan pesantren. Bukan di kelas seperti awal-awal. Zahra jadi bisa mengikuti secara diam-diam dari kejauhan. Sementara itu, tak jauh dari tempat Zahra memanjat pohon jambu air, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun terlihat membawa keranjang sampah. Isinya hendak dibuang di tempat Zahra menumpuk rerumputan tadi sesuai titah Ramlan. Dari tempatnya menjungkirkan isi keranjang, pemuda tersebut mendengar suara senandung muratal merdu yang sejujurnya makhrajul huruf beserta ilmu tajwidnya masih banyak keliru. Ia terkekeh sejenak. Mencibir orang yang hanya memperhatikan lagu mengajinya tanpa peduli ilmu lain yang lebih mendasar. Kemudian tergelitik, berusaha mencari sumber suara muratal tersebut disenandungkan. Puas mencari di sekeliling, tidak ia temukan siapa pun. Lalu ia tertarik melihat ke atas pohon. Ada dahan yang bergerak meskipun tidak ada pergerakan angin. Sepertinya suara itu pun berasal dari sana. Benar saja. Ia mendapati satu pasang kaki menjuntai ke bawah diayunkan secara bergantian. "Astagfirullah!" Pemuda tersebut memalingkan wajah. Ada betis dan paha yang tidak seharusnya ia lihat. "Hei! Ngapain di atas sana?! Turun, turun!!" serunya tanpa melihat lagi ke atas dahan. Zahra terkejut mendengar suara lelaki dari arah bawah. Kemudian bergegas memperbaiki bawahan gamisnya. Kain-kain itu dijepit sedemikian rupa agar tidak menimbulkan celah. "Eh, ngapain di situ?! Kamu mau ngintip ya?! Dasar m***m!!" Dengan galaknya Zahra memarahi lelaki di bawahnya. "Kamu yang ngapain naik-naik ke atas pohon begitu. Kamu yang punya kebun ini? Santai banget makanin buah di sana. Turun!! Mau saya laporin ke Pak Kiyai atau Bu Nyai?" "Duh, mati aku! Bapak bisa kena masalah kalau begini!" batin Zahra, resah. "I–iya, iya! Saya turun. Tapi jangan lihat ke sini!" "Ini juga gak lihat ke situ! Siapa juga yang mau lihat." Laki-laki itu tidak berani memastikan sebelum mendengar suara kaki menjejak tanah. "Mm–maaf, tolong jangan lapor ke Pak Kiyai atau Bu Nyai. Nanti Bapak saya bisa kehilangan pekerjaan," pinta Zahra begitu tiba di dekat lelaki yang memergokinya. Dari pakaian yang dikenakan. Lelaki itu pasti santri juga. "Bapak?" Kening bercahaya itu berkerut sejenak. "Iya, Bapak saya yang bersih-bersih di sini. Tadi saya bantu kerja. Terus haus, laper juga. Lihat jambu itu, saya tergoda. Maaf. Nanti saya akan minta maaf secara khusus ke pemilik pesantren. Kamu bisa gak ngadu, kan?" Zahra berbicara sambil terus mengibas pakaian dan jilbabnya. Pohon jambu tadi, banyak sekali semutnya. "Oh, kamu anaknya Pak...," Ada beberapa petugas kebersihan di pesantren. Lelaki itu tidak hafal keseluruhan. "Ramlan. Saya Zahra, anaknya Pak Ramlan." "Pak Ramlan? Zahra?!" "Iya. Tolong jangan bilang..., duh, semutnya banyak banget." Zahra merasakan ada beberapa semut masuk ke dalam jilbab dan pakaiannya. Demi membersihkan semut di leher, Zahra menggosok lehernya secara kasar. Demi menghilang semut yang merambat di paha, secara tidak sadar, ia menyibak pakaian bawahnya. Semut nakal itu mulai menggigiti betis dan paha dalamnya. "Astagfirullah!" Lelaki di depan Zahra beristighfar. Tubuhnya kaku mulai gemetar. Baru pertama kali melihat aurat wanita secara langsung seperti itu. "Astagfirullah!" Zahra ikut menjerit. Kemudian berbalik. Segera menurunkan rok. Berharap tidak ada lagi semut berulah di dalam pakaiannya. "Dasar m***m! Pergi sana! Mau saya laporkan ke pengurus pondok, bilang kamu m***m dan ngintip saya?! Sengaja kan? Mau memanfaatkan keadaan!!" Zahra kian kesal mendengar kekehan pelan lelaki yang kali ini sudah kembali ada di depannya. "Siapa yang salah, siapa yang mau melaporkan," cibir lelaki itu ikut kesal. Seharusnya pencuri yang dilaporkan, bukan pemergoknya. "Hei, ada ulat di jilbabmu." Lelaki itu mengingatkan. Setelah sebelumnya hanya diam dan memperhatikan Zahra menepuk-nepuk pakaian juga lengan-kaki agar semut-semut pergi. "Ulat? Mana?!" Tubuh Zahra menegang, kemudian gemetar. Ia juga takut ulat. Tepatnya geli. Apalagi mendapati hewan berkulit lembek itu tengah berusaha merambat naik menuju ke wajahnya. "Tolong!" Mata Zahra memejam kuat. Geli membayangkan hewan lunak itu sebentar lagi akan menebarkan bulu gatalnya di sekitar wajah. "Heei tolongin!" Zahra hampir menangis. Kesal melihat lelaki di depannya malah terdiam. Sedangkan si ulat tidak bisa diam. Terus bergerak. Menggelikan. "Ii–iya, sebentar." Lelaki berpakaian koko putih itu mencoba mengibas jilbab Zahra. Ulat itu berpindah tempat. Menjadi lebih turun tapi masih melekat kuat pada permukaan jilbab. "Yah malah nempel di situ!" Dengan satu gerakan menepuk bagian atas jilbab perempuan di depannya, si ulat terhempas ke tanah. Tapi kemudian kedua orang yang terlibat saling tolong-menolong tersebut saling memandang dan saling terpaku. Lelaki tersebut merasakan sensasi empuk saat menepuk. Dan Zahra merasa seperti telah dilecehkan. Sepertinya si ulat ikut tergelak setelah terjun bebas dari bagian atas d**a Zahra. "Mm–maaf!" ucap lelaki itu secara lirih. Demi Allah, ia tidak berniat serta berpikiran untuk berbuat m***m ataupun c***l. "Iiiy! Dasar m***m! Cabulll! Saya laporin ke Bu Nyai, baru tau!!" Zahra segera menyilangkan tangan di depan d**a. Melindungi aset berharganya. Tapi tetap saja. Rasanya seperti ia tengah tak berbusana dan ditatap tajam oleh lelaki barusan. "Mm—maaf. Saya tidak sengaja. Saya...," "Guus! Guus Yusuf!! Gus di mana?" teriakan lain menggema kian mendekat. Zahra segera pergi meninggalkan tempat. Keputusannya untuk menunggu Bapak, ternyata keliru. Seharusnya ia langsung pergi dari sana sejak tadi. Bukan malah menikmati buah yang tentunya belum ia halalkan dengan izin meminta. Zahra menghilang dari pandangan. Lelaki itu bernafas lega setelah sebelumnya terasa sesak seperti ada beban yang menimpa. Terlampau banyak 'rezeki' yang diperolehnya hari ini. Rezeki tak disangka-sangka. Setelah sebelumnya tidak sengaja melihat, kali ini tidak sengaja memegang. Pantas saja banyak lelaki membicarakan dan tergila-gila. Memang sensasinya luar biasa. "Astagfirullah!" Lelaki bersarung motif batik itu berusaha membuang semua ingatan tentang rezeki hari ini. Walau terkadang ia tersenyum-senyum sangat mengingat sendiri. Setelah kejadian tersebut, Yusuf jadi terlihat aneh. Bahkan beberapa orang mengatakan, belakangan ini dirinya terlihat seperti orang gila. Sering tertangkap basah melamun kemudian tertawa. Cintakah ia pada pandangan pertama? Cinta yang langsung membuatnya dirinya menjadi seperti orang gila. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD