Huaaa! Bapak Ibu jahat!!

1119 Words
"Jadi, kamu memutuskan untuk menikahi Zahra karena tidak sengaja telah melihat auratnya yang tersingkap?" Bu Nyai memastikan. Putranya mengangguk tanpa berpikir lagi. Lalu Bu Nyai menatap suaminya meminta pertimbangan. Pak Kiyai sendiri tampak kebingungan harus bersikap seperti apa. Di satu sisi, ia mendukung istrinya yang menginginkan Yusuf bersanding dengan mereka yang memiliki jalur penyebaran dakwah. Di sisi lain ia setuju dengan keputusan putranya yang memilih untuk memutus syahwat melalui sebuah pernikahan. Hanya saja, ia masih tergelitik alasan mendasar putranya. Menikah hanya karena melihat aurat Zahra yang tersingkap. Itupun secara tidak sengaja. "Saya serius Ummi, Abi, Bapak, Ibu dan Zahra. Ini bukan sekedar sengaja atau tidak sengaja. Tapi karena insiden itu, pikiran saya tercemari. Setiap syetan berhasil membuat saya ingat, pikiran saya jadi kotor. Jadi saya memutuskan untuk datang membersihkannya. Mensucikan apa yang masih kotor. Menghalalkan apa yang masih haram.” "Mana bisa menikah dengan alasan seperti itu?!" Zahra masih tidak terima. Terus berusaha menolak. Ia bahkan merengek dan meminta tolong kepada Ramlan untuk membantunya keluar dari situasi yang konyol tersebut. "Bisa saja. Tanpa alasan pun sebuah pernikahan bisa saja diselenggarakan. Apanya yang tidak bisa?" "Saya tidak kenal kamu. Kamu juga tidak kenal saya. Bagaimana bisa tiba-tiba—," "Selama belum ada yang menjatuhkan pinangan kepada kamu, maka semuanya masih sangat bisa," potong Yusuf dengan cepat. Menjadikan tatapan Zahra semakin memicing, penuh rasa tidak suka. Bagaimana bisa, ia yang merasa dilecehkan, tiba-tiba akan menikah dengan pelaku pelecehan itu sendiri. "Kecuali sudah ada yang meminangmu. Soal tidak kenal, bukan masalah. Kami datang agar kita bisa saling mengenal tanpa pacaran. Kita akan langsung serius ke jalur pernikahan. Setelah itu, kita akan saling mengenal luar dalam." Ada gelak yang berusaha disembunyikan Pak Kiyai dan Bu Nyai. Tapi turut bangga melihat sikap gentle dan berani putranya. Bukan perkara mudah, memutuskan berani menikah muda. Banyak pertimbangan yang biasanya masih belum kepikiran untuk pemuda seusia Yusuf. Yusuf menatap Ramlan. Berusaha menyingkirkan keraguan di mata orang tua Zahra. "Pak, apakah sudah ada yang datang masuk meminang putri Bapak?" "Su—," "Belum!" Ramlan dan Zahra saling berpandangan. Ucapan orang tua itu jauh lebih cepat dari kalimat Zahra sendiri. Ish! Zahra menggigit bibir, gemas. "Tidak bisa seperti ini. Pokoknya tidak bisa." Zahra terus memberontak. Halimah berusaha menenangkan putrinya. Meminta dengan sangat untuk menjaga sikap di depan orang besar di hadapan mereka. "Kenapa tidak?" tanya Yusuf. "Saya masih sekolah!" "Tidak masalah." "Saya belum cukup umur!" "Bunda Aisyah Radhiyallahu Anha bahkan lebih muda usianya dari kamu." "Tapi hukum negara—," "Landasan kita hukum agama." "Tapi—," "Sudah-sudah! Kenapa jadi berkelahi seperti ini?" Bu Nyai mencoba menengahi. Ia mengulum senyum, geli. Merasa terhibur dengan pertengkaran lucu anak muda di depannya. "Jadi bagaimana pendapat Pak Ramlan selaku wali dari Zahra? Benar kata Yusuf. Kami datang untuk bisa saling mengenal terlebih dahulu." Ramlan tampak gusar. Bingung sendiri atas maksud tamu agungnya. Ia tidak pernah membayangkan akan berbesanan dengan orang besar. Apalagi dalam waktu dekat seperti ini. Zahra, putrinya pun masih terlampau kecil dalam kacamatanya sebagai orang tua. Belum ada niatan untuk dilepas mengarungi samudera rumah tangga yang badai sulit dibayangkan. "Kami sebagai orang tua Zahra...," Ramlan menatap putrinya. Jelas terlihat kalau Zahra tidak menginginkan hubungan itu terjadi. "Kami merasa amat tersanjung atas kunjungan juga niat baik dari Pak Kiyai dan Bu Nyai. Tapi kami rasa, Zahra masih terlampau kecil. Dia masih sekolah. Kami takut malah menyusahkan ke depannya." Zahra bisa bernafas sedikit lega. Ramlan. Menunjukkan keberpihakan kepada dirinya. "Seperti yang Yusuf katakan tadi, Pak Ramlan. Itu bukan masalah. Zahra bisa saja pindah ke pesantren jika diperlukan. Niat baik selalu dimudahkan oleh Allah, Pak. Iya kan, Bu, Halimah?" Bu Nyai meminta pendapat ibunya Zahra. "Hah? Gimana gimana?" Halimah gelagapan. Sejak tadi ia hanya menyimak saja. "Eee, kami ngikut baiknya saja. Tapi tidak ingin memaksakan kehendak. Khawatir hasilnya malah tidak baik. Tentu kita sebagai orang tua tidak menginginkan putra-putri kita mengalami kegagalan." "Insyaa Allah, tidak akan, Bu," sahut Yusuf tanpa diminta. "Saya sudah mantap. Akan berusaha menjaga semuanya semampu yang saya bisa." Sejujurnya Ramlan dan Halimah cukup terpukau pada keberanian Yusuf dalam mengemukakan keinginannya untuk menikahi Zahra. Entah apa yang dilihat Gus muda itu dari putrinya saat memutuskan yakin menikah. Pedahal pada pertemuan ini saja, keduanya masih terlibat adu geraman. "Ngegombal sih gampang!" celetuk Zahra. "Saya tidak menggombal. Bagaimana mungkin menggombal dengan melibatkan Allah dalam mengambil keputusan?" "Tau dari mana kalau itu petunjuk dari Allah? Bukan dari syetan karena kamu sudah melenceng duluan. Jadi nafsu dan syahwat kamu yang memimpin. Hingga akhirnya keputusan hasil bisikan syetan kamu akui kalau itu dari Allah." Tegas Zahra menampik semua alasan laki-laki itu. Tidak ingin mimpi konyol lelaki bernama Yusuf itu dibuat percobaan dalam kehidupan nyata mereka. Apalagi melibatkan dirinya menjadi istri lelaki tersebut. Yusuf terlihat menghela nafas panjang dan berat. Zahra menyeringai, merasa telah berhasil mempermalukan. Semoga lelaki itu mundur. "Baik, kalau begitu." Yusuf meraih dan menggenggam tangan Ummi dan Abi. "Ummi, Abi, ayo kita pulang." Yeaaay! Zahra hampir tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Lelaki di depannya itu kalah telak. Mulai mengatur langkah mundur ke belakang. Lagian sih! Sok banget ngaku-ngaku dapet petunjuk di dalam mimpi. Kayak orang suci saja yang mimpinya memiliki arti yang bisa langsung ditebak. "Jadi, bagaimana soal lamaran dan lainnya?" tanya Pak Kiyai. Belum paham pada jalan pikiran putranya. "Yusuf mau memantapkan hati lagi. Zahra benar. Mungkin yang kemarin-kemarin, bisikan syetan mempengaruhi." Anak mata Yusuf kembali menyandera Zahra. Kemudian berusaha ia alihkan sebelum kedipan mata yang ke-dua. "Saya akan mencari jawaban kepada Allah. Bersiaplah! Kalau dalam waktu sepuluh hari saya datang kembali. Tidak ada alasan untuk kamu menolak lamaran suci ini." Geraham Zahra saling beradu dan menimbulkan bunyi gemeletuk. Saking sebalnya ia mendapati kepercayaan diri Yusuf. Memangnya mimpi apa lelaki tersebut sampai se-PD itu? Mungkin lelaki itu tidur sambil menelan gulingnya. Jadi saat bangun berlaku aneh seperti itu. Tidak. Tentu saja Zahra tidak akan terima. Mana mau dia dijadikan pelampiasan mimpi c***l Gus m***m. "Gimana, Pak? Kita bakal besanan dengan Kiyai besar." Suara Halimah terdengar bergetar, setelah tamu-tamu agungnya pulang. "Iya, Bapak juga gak nyangka. Zahra sudah bisa dinikahkan kan, Bu?" Ramlan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Heh?!" seru Zahra. Tidak percaya kedua orang tuanya mulai kena sirep pemuda tadi. Ramlan dan Halimah saling pandang. Kemudian bersamaan menatap putri mereka yang tampak marah mendengar ucapan keduanya barusan. "Bapak! Ibu! Zahra belum mau menikah!! Zahra masih mau sekolah. Mau menggapai cita-cita." "Zahra, kata siapa kamu tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu setelah menikah? Dunia menikah tidak sesempit itu, Nak. Apalagi zaman sekarang yang semua hal serba canggih dan ada," kata Ramlan tanpa memperhatikan perasaan putrinya. "Benar, Zahra. Kapan lagi orang besar mau mengambil kita menjadi besan. Hi hi hi! Pak, besan kita Kiyai, Pak! Mantu kita seorang Gus!" Halimah menambahkan tanpa ketinggalan ekspresi penuh kebahagiaannya. "Huuaaa! Bapak Ibu jahat!!" Zahra benar-benar tidak tahan. Bersambung!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD