—Si Cinta Pertama

1559 Words
“Kak Satria?” Lelaki yang dipanggil Satria itu, menatap Lyara dengan senyuman mengembang. “Kamu apa kabar, Ra?” “Luar biasa! Aku gak menyangka ketemu Kak Satria di sini,” ucap Lyara sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Jadi, ini anak Kak Satria? Ya ampun, aku gak kenal. Maaf,” katanya lagi. Ia menggeleng, “Aku baik-baik,” jawaban Lyara terbata-bata. Satria yang menjulang di depannya terkekeh pelan. Lyara tahu itu karena salah tingkahnya yang tidak pada tempatnya. Satria mengangguk juga tapi pandangannya jelas bahwa ia juga kaget dengan siapa yang ditemuinya itu. Lelaki dengan tinggi seratus delapan puluh lima itu tersenyum. Ia berlutut di depan Lyara tapi pandangannya beralih pada anak kecil di depan Lyara. Lyara menatap Kamara dan tersenyum padanya. “Halo, salam kenal ya, Kamara,” katanya dengan senyum ceria. Kamara mengangguk dan tersenyum. “Kak, masih lama ngobrolnya?” Lyara menatap ibu muda di belakang Kamara lalu tersenyum. “Sudah selesai. Maaf membuat anda menunggu,” Satria menurunkan Kamara dari kursi dan mempersilakan ibu muda itu untuk maju. “Maafkan saya, Mom, saya baru bertemu teman lama,” ucap Lyara meminta pengertian. Ibu muda itu tidak menjawab dan hanya membantu anaknya yang duduk di kursi. Lyara melirik Satria yang membantu Kamara membenarkan gaun birunya. “Lyara, aku pergi dulu biar gak ganggu kamu. Kamu bisa hubungi aku disini? Aku akan tunggu, kita harus ngobrol dengan santai nanti,” Satria meletakkan kartu namanya di meja cat. “Aku harus tahu kemana aja kamu selama ini,” ucapnya dengan tatapan yang selalu membuat Lyara berdebar. Kepala Lyara mengangguk dengan senyuman masih di wajahnya, “Aku kabari nanti, Kak,” janjinya. “Dadah Kamara,” Lyara melambaikan tangan pada Kamara yang sangat penurut dan pendiam itu. Kamara mengangguk dan berdadah kepada Lyara dengan kalem. Lyara beralih pada anak perempuan di depannya yang menyerahkan gambar unicorn. “Halo, kamu mau unicorn warna apa?” tanya Lyara dengan ceria. Menepiskan degupan jantungnya yang meracau karena bertemu Satria. Siapa yang menyangka kalau ia akan bertemu lagi dengannya. Dengan Satria. Dengan cinta pertamanya. Tapi bibirnya ditekuk cemberut. Satria sudah bahagia dengan hidupnya. Dengan istrinya yang Lyara tidak tahu siapa. Juga dengan Kamara. -o0o- Sudah pukul tiga. Lyara berdiri dan meregangkan punggungnya. Setelah dua jam lebih duduk dan melukis setiap wajah, ia akhirnya bisa bebas juga. Tangannya membuka masker dan mengeluarkan kartu nama yang ditinggalkan Satria di mejanya tadi. Tangan kirinya memengang kartu nama itu. Matanya menatap kartu itu dengan lekat. Ia tersenyum. Rasanya seperti menemukan diary lama dan membukanya kembali. Bertemu dengan Satria membuatnya senang. Merasa seperti menemukan kembali potongan dirinya yang nyata di masa lalu. Di masa paling bebas dan membahagiakan bagi dirinya. Saat ia tidak harus memikirkan uang. Mereka saling mengenal sejak kecil. Lyara yang sering ikut Ayah saat menghadiri berbagai pertemuan pengusaha, atau menghadiri ulang tahun direktur siapa, atau acara di perusahaan siapa, membuatnya sering bertemu dengan Satria. Saat itu Satria sudah SMA, sedangkan Lyara masih SMP. Karena sering bertemu itulah Lyara menjadi dekat dengannya. Sejak dulu, Satria adalah anak lelaki yang tampan, baik, dan tentu saja tinggi. Dalam pertemuan-pertemuan itu Lyara sering mengobrol dengan Satria. Lelaki itu juga selalu menanggapinya dengan baik. Lyara bahkan sudah seperti bertemu kakaknya sendiri jika bertemu Satria. Pertemuan mereka yang biasanya hanya terjadi jika ada acara perusahaan, menjadi lebih akrab. Satria kadang datang ke rumah atau mampir ke sekolah Lyara hanya untuk memberikan hal-hal kecil yang dibelinya saat ke luar negeri. Lyara masih ingat saat Satria datang ke rumah hanya untuk menyerahkan pouch bergambar sakura yang didapatkannya saat pergi ke Jepang. Karena hal itulah, Lyara jadi jatuh cinta padanya. Ia juga memberikan ciuman pertamanya untuknya. Meskipun Satria tidak menerimanya dan dengan jelas menolaknya. Cinta monyet yang ternyata hanya menyisakan kesedihan. Karena saat Lyara naik ke kelas sebelas, ia dikenalkan pada pacar Satria yang saat itu sama-sama sedang kuliah. Patah hati pertamanya harus beriringan dengan kecelakaan Ayah dan semuanya menghilang setelah Lyara lulus SMA. Semua impian dan cita-citanya harus dikuburkan. Begitu juga dengan cinta pertamanya. Lyara baru akan mengeluarkan ponsel saat ada yang duduk di kursi di depannya. Lyara memasukan kembali ponsel dan menyelipkan kartu nama Satria di dalam tas. Bibirnya masih tersenyum dan berbalik. Tapi senyumnya memudar dan bibirnya cemberut saat melihat siapa yang duduk di kursi kecil di depannya dengan canggung. Kursi itu terlalu kecil untuk badan tinggi, tegap, dan berotot milik Raja. Juga senyum di bibir Raja terlalu lebar untuk orang yang tidak diharapkan kehadirannya. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar saat melihat bibir Raja. Lyara mengutuk diri sendiri yang kembali memikirkan adegan tak senonoh tadi malam. Ia menggeleng, melirik Raja dengan tajam. “Apa yang sedang anda lakukan? Aku rasa kita sudah saling sepakat untuk tidak bertemu lagi, Pak Raja?” Alis Raja terangkat dan matanya menatap Lyara dengan tatapan terluka, “Aku tidak menyetujui itu. Kamu yang mengambil keputusan sendiri,” ucapnya dengan ringan. Senyumnya kembali. Apa yang bisa diharapkan dari orang ini, Lyara?! Dia mendengkus. “Aku juga mau di lukis,” ucap Raja dengan senyum manis. Ia mengeluarkan ponsel dan melakukan pembayaran dengan cepat. Tangannya menunjukan transaksi berhasil di layar. “Aku sudah bayar dan aku pilih ini,” katanya lagi sambil menyerahkan kartu dengan gambar harimau. Lyara duduk di kursinya. “Kami buka booth untuk anak-anak. Apakah anda masih anak-anak?” tanyanya tanpa minat. Ia masih kesal padanya. Raja menggeleng. “Anda bukan anak kecil. Untuk apa ikut dilukis wajah?” Suara Lyara membawa Raja menatap kembali matanya. “Atau anda membayarnya untuk anak anda?” “Easy, Nona, aku belum menikah. Kamu tahu baru semalam aku mencampakkan Dinda,” jawab Raja dengan sambil memajukan bibirnya. Lyara menatap lelaki di depannya dengan alis bertaut. Terdengar seperti rajukan anak-anak yang sejak tadi berlari-lari dan bermain di sekelilingnya. “Aku sudah bilang kalau jadwalku padat,” jawab Lyara. “Lalu?” Raja menatapnya dengan senyum melebar. “Aku tidak punya ekstra tenaga untuk meladeni anda,” jelas Lyara. Tangannya mengelap setiap kuas. Boothnya sepi sekarang. “Kamu masih marah karena tadi malam?” Lyara mengenal nada itu. Nada merajuk tadi malam saat ia pertama kali bertemu Raja di depan pintu lobi. Sekarang lelaki itu sedang mengejeknya dengan nada yang sama dan kalimat yang sama. Memalukan! “Jangan marah. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak membenarkan apa yang kulakukan tadi malam. Aku sedikit mabuk. Hm? Kamu mau memaafkan aku? Kamu bisa pegang janjiku untuk tidak menciummu lagi.” Suara seksinya yang berkata dengan lembut membuat Lyara menahan napasnya. Ia bisa merasakan pipinya memanas. Mata Lyara membelalak, “Jangan bicara sembarangan, banyak anak kecil di sini!” Raja terkekeh, “Oke. Oke. Tapi kamu memaafkan aku, kan?” Lyara mendengkus melihat tatapan mata Raja yang membulat menatapnya. tahu ini demi kepentingan Raja sendiri dalam membuat kesepakatan dengannya. Tapi sungguh, Lyara tidak bisa membantu dalam prosedur yang dilakukan oleh Rakha. Rakha yang biasa memberinya pekerjaan yang masuk ke agensi. Dengan prompt yang sudah tersedia, naskah yang harus Lyara hapalkan, juga properti yang tinggal ia pakai. “Baiklah. Aku memaafkanmu, Pak Raja. Tapi aku tetap tidak bisa membantumu untuk mempercepat proses pekerjaanku untukmu,” katanya menjelaskan. “Aku akan memastikan kamu cepat-cepat bekerja padaku,” jawab Raja. Lyara menatap senyuman itu dengan alis bertaut. Sepertinya ia harus bersiap-siap untuk pekerjaannya dengan lelaki ini. “Kamu free setelah ini?” “Aku masih punya satu jadwal,” jawab Lyara. Sebelum Raja kembali bertanya tentang jadwalnya, ia cepat-cepat menambahkan “Anda benar-benar mau dilukis?” Raja tersenyum, mengangguk, lalu mengangkat tangannya untuk membuka kacamata. Dan Lyara bisa melihatnya. “Ada apa dengan jari-jari itu?” Ia bisa melihat lecet di buku-buku tangan kanan Raja. Matanya memicing, masih menatap jari-jari Raja. Tangannya menjnjuk, “Apakah itu karena anda berbuat sesuatu kepada orang yang bersamaku di toilet tadi malam?” Alis Raja terangkat mendengar pertanyaan Lyara. Ia mengangkat tangannya dan memerhatikan jari-jarinya. Ia menyeringai, “Hanya memberinya sedikit salam,” jawabnya dengan mata yang menghitam. Lyara bisa melihatnya bagaimana senyum Raja menghilang dan berganti dengan wajah marah seperti yang dilihatnya saat ia pertama kali melihat lelaki itu di depan lobi hotel. “Its oke. Aku baik-baik saja,” ucap Raja lagi. Lyara menatapnya sekali lagi. Raja melihatnya di toilet dengan lelaki kurang ajar itu. Apakah itu karena Raja sedang mabuk? Juga karena sebelumnya ia melihat Dinda di hotel? Tidak mungkin itu karena membela dirinya, kan? Lyara menggeleng. tidak mungkin. Jangan besar kepala, Lyara! “Aku yang tidak baik-baik saja.” Raja kembali menatap Lyara. Pandangannya meminta penjelasan, “Apakah maksudmu kamu keberatan karena aku memberinya sedikit pelajaran?” Lyara menggeleng, “Karena tadinya aku yang ingin membuatnya seperti itu!” Mata Raja membelalak dengan bibir menyungingkan senyum, “Apa?” “Aku keberatan karena anda yang membuatnya babak belur!” cecar Lyara. Tawa Raja meledak. “Oke, jadi maksudmu, kamu yang seharusnya membuatnya seperti itu?” Kepala Lyara mengangguk sekali dengan mantap. “Apakah dia meminta ganti rugi padamu?” tanya Raja dengan nada serius. Lyara menghela napas, mengangguk lagi. “Baiklah aku akan mengganti kerugianmu,” ucap Raja kemudian dengan lebih santai. Senyum Lyara dikulum, tidak mau jika lelaki di depannya melihatnya, “Itu lebih baik,” jawab Lyara sambil berbalik, mengambil kuasnya. Dengan kuas di tangan, Lyara menatap Raja untuk mengikuti keinginannya dilukis. Tapi saat mendekati wajahnya, kelebatan ingatan Raja yang mendekat padanya lalu menciumnya kembali melintas dalam kepalanya. Raja tersenyum dengan memiringkan kepala di depannya dan Lyara menahan napasnya. Oh, tidak! -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD