—Sat Set Seorang Raja

1402 Words
“Kenapa? Kamu terpesona?” Lyara mengeryitkan alis dan berdecak. “Gak apa-apa kok kalau kamu terpesona sama aku. Aku juga udah duluan terpesona sama kamu sejak tadi malam,” jawab Raja dengan pertanyaannya sendiri. Lyara menggeleng. Ia menyapukan kuasnya pada cat orange. “Itu sebabnya aku bisa cium ka—“ “Bisa diem gak?!” Suara Raja berhenti saat Lyara menempelkan tangan kirinya untuk menutup mulutnya Raja. Lyara menatap mata Raja yang membulat, lalu melembut saat tatapan mereka bertemu. Lyara menatapnya dengan tatapan kesal. Tapi Raja menatapnya dengan lembut. Lyara berkedip sekali lagi, memerhatikan sekitar. Anak-anak bisa saja mendengar kata cium-cium dari mulut Raja. “Bisakah anda diam?” Kepala Raja memiring saat Lyara merendahkan suaranya dan melepaskan tangannya dari bibir Raja. Lyara berkedip saat telapak tangannya menyentuh bibir itu. Kepalanya lagi-lagi menampilkan cuplikan adegan kotor itu! Arggh! Lyara menarik tangannya. Tapi dengan cepat, lelaki itu menangkap pergelangan tangan Lyara dan menahannya di bibir. Lyara mematung merasakan bibir lembut Raja di telapak tangannya. Jantungnya yang malang kembali berdebar. “Aku cuma mau bilang terima kasih.” Lyara perlahan menarik tangannya dari genggaman Raja. Suaranya mengalun. “Meskipun bukan aku yang menghajar lelaki kurang ajar itu, anda sudah mewakilinya,” lanjutnya setelah tangannya benar-benar dilepaskan Raja. Senyum Raja membuat Lyara kembali salah tingkah. “Hm.” Apa itu? Jawaban apa itu?! Lyara kembali berdecak. Lelaki itu memang tidak bisa ditebak. “Yah, meskipun ada yang masih lebih kurang ajar,” Lyara melirik Raja sekali lagi. Lelaki itu terkekeh. Lyara menganggap Raja mengerti apa maksudnya. “Tapi aku sudah meminta maaf, Lyara,” ucap Raja lembut. “Tapi anda sudah meminta maaf,” ulang Lyara mengangguk. “Anda masih mau tetap di lukis?” Lyara tersenyum pada seorang mama yang membawa anaknya ke booth dan sedang memilih-milih gambar yang mereka inginkan. Raja berdiri, memberikan kursinya kepada mama muda dan anak gadisnya yang berusia sekitar tiga tahun. Melihat gerakan itu, Lyara menatapnya dengan pandangan heran. Bisa juga lelaki itu mengalah. “Halo, cantik,” sapa Lyara. Sudut matanya melirik Raja yang mendengkus. Lalu beralih kembali pada anak gadis di depanya. Lyara menerima kartu dan mengangguk. Ia hampir selesai dengan lukisan bunga-bunga di kening anak gadis itu saat ponselnya bergetar. Lyara mengabaikannya sebentar dan tetap fokus pada anak di depannya. Setelah selesai, ia merapikan kuasnya dan ingat dengan ponselnya yang bergetar. Membuka panggilan tak terjawab dari Leora. Ia mengerutkan kening. Seingatnya ia tidak punya jadwal main dengan adik cantiknya itu hari ini. Jadi, karena booth kembali sepi, Lyara menekan ikon telepon. Matanya menyipit kembali saat melihat Raja kembali duduk di kursi kecil di depannya. “Aku pikir anda sudah pergi,” ucap Lyara pada lelaki yang hanya menjawabnya dengan gelengan. Suara Leora di seberang telepon membuat Lyara mengalihkan perhatiannya. 'Kak, Ayah—' “Ayah kenapa, Yora?” serbu Lyara dengan cepat. ‘Ayah kena serangan lagi, Kak. Aku sama mama baru sampai di rumah sakit.’ “Rumah sakit mana?” buru Lyara. Ia mengangguk mendengar jawaban Leora. “Kakak kesana, tapi tunggu—“ “Ayo pergi!” suara Raja membuatnya kembali menatap lelaki itu. Lyara mengangguk patuh. “Kakak pergi sekarang. Temani ayah, Yora,” pintanya pada adiknya. Ia menurunkan tangan yang gemetar memegangi ponselnya. “Pak Raja, aku—“ Raja menangkup tangan Lyara yang gemetar. “Fokus, Lyara!” Suara itu kembali membuatnya patuh. Ia menatap mata hitam Raja yang juga menatapnya. Berusaha menenangkan debar jantungnya, menenangkan dirinya. Ia menarik napas sambil menanamkan bahwa ia harus bisa menjadi yang bisa diandalkan. Ia anak pertama yang harus kuat. “Di mana?” Dengan suara gemetar, Lyara bersuara, “Citra Sehat.” “Ayo!” Lyara mematung, “Tapi-“ Raja menempelkan ponselnya di telinga kiri, “Genta, aku butuh cepat ke Citra Sehat. Juga, urus booth face painting sampai jam… “ menoleh pada Lyara. “Empat.” “… jam empat.” Ponselnya kembali diturunkan setelah mendengar jawaban Genta, dan kembali menarik Lyara untuk bangun dari duduknya. “Genta bisa menangani hal ini dengan baik.” Raja berkata lagi. Lyara mengangguk. Ia juga akan menghubungi Andin. Cepat-cepat Lyara melepas apronnya dan mencoba membereskan kuas. “Tinggalkan.” Entah kenapa, suara tegas itu selalu membuat Lyara patuh. Tangannya melepaskan kuas, meninggalkannya di dalam pot air. Dengan langkah setengah berlari, Lyara mengikuti Raja yang berjalan di depannya. Tangannya di genggam erat. Lyara mengikuti lelaki itu. Lyara sadar dengan apa yang dilakukannya sekarang. Tapi ia tidak akan sanggup untuk melawan lelaki dominan seperti Raja. Kepalanya hanya dipenuhi oleh cara bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit dengan cepat. Kepalanya sudah membayangkan bagaimana macetnya lalu lintas Bandung di minggu sore seperti ini. Dan Lyara tidak mengerti kenapa Raja menekan tombol lift ke lantai paling atas. Lyara menyentakkan tangan Raja, “Motor saya di bawah, Pak Raja, anda salah menekan tombol.” “Kita tidak ke bawah, Lyara. Kita ke atas.” “Aku sedang diburu waktu!” “Aku tau, itu sebabnya aku membawamu ke atas.” Dan Lyara tidak punya waktu untuk kembali mendebat Raja saat melihat Genta sudah menunggunya di luar lift dan menuntun mereka ke tangga menuju rooftop. Lyara semakin kehilangan kata-kata saat melihat sebuah heli sudah menyala dan siap berangkat. Mata Lyara menyipit karena deru angin yang menerpanya. “Sudah kubilang kita akan lebih cepat.” -o0o- Dokter Fahri bilang ayah sudah kembali stabil. Tapi beliau harus tetap dimonitor. Lyara mengangguk mendengarkan penjelasan dokter. Dokter Fahri adalah dokter yang memangani ayah. Ia juga mengangguk saat dokter bilang bahwa mereka tidak bisa menunggu terlalu lama untuk operasi. Lyara mengerti. Ia harus cepat-cepat mendapatkan uangnya. “Terima kasih, Dokter,” ucapnya setelah Dokter Fahri selesai dengan penjelasannya. “Saya tahu kamu kesulitan. Tapi saya juga tidak bisa melakukan apa-apa, prosedur rumah sakit,” Dokter Fahri mengembuskan napasnya. “Saya hanya berharap kamu segera melunasi biayanya supaya kita cepat-cepat bisa menyelamatkan Ayah kamu." Lyara mengangguk lagi membiarkan Dokter Fahri berlalu dari hadapannya. Ia juga tahu hal itu. Sama seperti dirinya yang tidak bisa menerima pekerjaan begitu saja tanpa perjanjian dan tanpa agensi, Dokter Fahri juga sama. Setiap hal punya prosedurnya masing-masing. Ia mengerti. Mengeluarkan ponsel dari tasnya, ia membuka aplikasi bank akunnya. Ia baru saja punya dua puluh lima. Itu termasuk bayaran untuknya malam ini. Setelahnya ia menuju meja administrasi mengisi deposito untuk perawatan Ayah. Ia berniat menyerahkan semuanya. Tapi saat melihat uang yang berada di dalam deposito rumah sakit milik ayah, Lyara mengerutkan kening. Ia berbalik dan melihat Raja yang berdiri tak jauh dari dirinya. Lelaki itu tidak melakukan apapun. Hanya berdiri dengan punggungnya menekan tembok, tangan kiri tersaku santai, dan tangan kanan memegangi ponselnya. Mata Raja masih terpaku pada layar benda kotak itu. Kemudian kepalanya terangkat, menoleh padanya, sudut bibirnya terangkat, dan ponsel di tangan kanannya beralih ke tangan kiri sebelum mengangkat tangan pada Lyara. Lyara berbalik kembali menghadap meja administrasi dan menyelesaikan pendaftaran dan lain sebagainya. “Sudah selesai?” suara Raja terdengar tepat di telinga kanannya. Dengan jantung mencelos, Lyara berbalik, “Bisakah anda datang tanpa membuatku kaget?” tanya Lyara sambil mengusap telinga kanannya yang geli. Seringai Raja terlihat, “Maaf,” bisiknya lagi. “Apakah ini juga karena anda?” Lyara mengangkat selembar kertas yang tadi diberikan petugas administrasi. “Aku mendengar kata dokter tadi,” jawab Raja yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Lyara. “Jadi, uang ini memang dari anda?” tegas Lyara. “Bisakah kamu terima saja dan biarkan ayahmu mendapatkan perawatan? Aku masih merasa bersalah karena apa yang kulakukan,” Raja mengangkat bahu. “Aku sudah bilang aku tidak menjual apapun dari tubuhku!” ucap Lara dengan bibir bergetar. Kepalanya tidak bisa menerima jawaban yang diberikan Raja. Ia tidak bisa menerima uang sebesar ini secara cuma-cuma. Uang ini tidak mungkin tidak memiliki tujuan. Uang ini ada untuk sesuatu. “Demi apapun Lyara aku tidak membayar apapun dari dirimu. Ini adalah rasa bersalahku!” jawab Raja. Tangannya menyentuh lengan Lyara. Gadis itu menepiskan tangan Raja. Matanya masih menatap mata Raja yang menatapnya dengan alis bertaut. “Kamu hanya sedang kalut. Tenangkan dirimu, lalu kita bicara lagi,” ucap Raja. kemudian berbalik dari hadapan Lyara. Napas Lyara memburu. Ini tidak bisa selesai begitu saja. Langkah kecilnya menyusul langkah lebar kaki Raja. Tangannya meraih lengan Raja, memintanya berhenti. Lelaki itu berhenti. Lyara berdiri tepat di depannya, melihat alis Raja yang terangkat menatapnya. Tanpa mengindahkan apa kata lelaki itu Lyara mendongak, menatapnya lagi. Kepalanya mengangguk membenarkan tindakannya sekarang. “Pekerjaan apa yang harus kulakukan untuk anda?” -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD