–Pagi Seperti Biasa

1406 Words
Setelah mandi dan menggosok bibirnya dengan sikat gigi untuk menghilangkan ingatannya tentang ciuman yang didapatkannya tadi malam, Lyara kembali menggeleng saat melihat pantulan wajahnya di cermin. Sungguh itu bukan ciuman pertamanya. Tapi bayang-bayang bibir hangat itu menyentuh bibirnya membuat Lyara merasa putus asa. Bibirnya yang sudah menganggur lebih dari lima tahun itu akhirnya disapa oleh orang tidak dikenal. Iya, Lyara tahu namanya. Tapi hanya itu. Ia tidak tahu apapun tentang Raja. Itu sama saja dengan ia tidak mengenalnya, bukan? Bukan tanpa alasan kenapa ia membiarkan dirinya sendiri selama ini. Tidak punya pacar, tidak ada gebetan. Bukan karena ia sok suci dengan tanpa berpacaran. Hanya saja semua kesibukannya membuatnya tidak memikirkan apapun selain bekerja mencari uang. Untuk biaya kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai. Untuk uang sekolah adiknya, Leora. Untuk kebutuhan Mama yang selalu ingin lebih. Juga mengumpulkan uang untuk operasi Ayah. Kuliahnya yang harus tertunda karena tidak ada biaya. Membuat Lyara belum lulus di usia yang menginjak dua puluh empat ini. Untunglah, ia sudah selesai menyusun skripsi. Tanggal sidangnya juga sudah ditentukan. Ia akan bisa secepatnya menyelesaikan pekerjaanya menjadi talent Lofou dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin memakai bajunya sendiri saat bekerja. Ia ingin mengerjakan hal yang sudah ia pelajari. Ia ingin bekerja di tempat yang lebih baik. Bukan pekerjaan yang membuatnya harus menipu orang-orang. Lyara memang suka akting. Ia masuk kelas akting karena ia menyukainya. Tapi bayangan di kepalanya tentang akting bukanlah yang seperti ini. Bukan seperti yang dilakukannya selama ini. Lyara ingin bekerja memakai pakaian pilihannya sendiri. Ia sudah pernah bekerja dengan memakai seragam. Saat menjadi hair stylist, kurir pengantar makanan, saat menjadi pelayan di toko beauty, saat menjadi pelayan di sebuah gerai minuman boba, bahkan sekarang pun. Saat bekerja untuk Lofou, pakaiannya adalah pilihan Alina. Saat melihat orang-orang yang bekerja lainnya, Lyara senang sekali melihat berbagai style yang dipakai oleh orang-orang itu. Pakaian yang menjadi pilihan mereka hari itu. Pakaian yang memberi kesan siapa pemakainya. Tentu saja Lyara menyukai semua pakaian pilihan Alina. Sebagai penata gaya dan busana di Lofou, Alina adalah orang yang hebat. Lyara tidak pernah salah kostum saat datang ke setiap acara kliennya. Semua diperhitungkan dengan baik dan matang olehnya. Gaunnya, setelannya, tas dan sepatunya, Alina adalah yang terbaik untuk hal itu. Tapi ia juga ingin menjadi dirinya sendiri. Lyara menatap kembali pantulan dirinya di cermin. Kepalanya mengangguk. ini bukan saatnya meratapi nasib. Biar bagaimanapun, semua pekerjaannya baik yang sudah pernah dilakukannya sampai apa yang sedang dijalaninya sekarang. Semuanya sudah membawanya menjadi dirinya yang sekarang. Dan ia menyukai dirinya yang saat ini. Menjadi Lyara yang tidak pernah menyerah pada apapun. Meskipun ada satu atau dua hal yang membuatnya marah, membuatnya menangis, membuatnya sedih dan membuatnya merasa tidak punya harga diri seperti apa yang terjadi tadi malam. Ia selalu bisa bangkit kembali. Yang penting ia mendapatkan uang untuk biaya kuliahnya, untuk Leora, untuk Mama, juga untuk Ayah. Semuanya sudah cukup. “Kak, mau pergi lagi pagi-pagi gini?” Lyara berbalik, adiknya yang cantik dan masih kelas tiga SMA itu, Leora, baru bangun. Duduk di atas tempat tidur yang mereka tempati bersama-sama. “Heem, aku ada kerjaan lagi pagi ini,” jawab Lyara. Ia kembali menatap cermin. Hanya tinggal mengoleskan lip tint dan make up-nya untuk hari ini selesai. “Ini hari minggu loh, kak. Kak Yara juga baru datang lewat tengah malem tadi kan?” Leora mengucek matanya sambil menggapai ponselnya dan melihat jam di layarnya, “Baru jam lima atuh, Kakak,” katanya kembali protes. Dengan senyum mengembang Lyara berdiri dan menghampiri Leora yang kembali bergelung di selimutnya. “Kamu yang harusnya cepet bangun. Udah siang,” jawabnya sambil menepuk pelan pipi adiknya itu. “Aku mau tidur sampai siang,” jawab Leora. “Anak gadis gak boleh gitu, Yora,” Lyara tersenyum jahil sebelum menarik selimut yang dipakai Leora. “Kakak!” Leora menggeram dan beringsut meraih selimutnya. “No! No! Bangun, Putri Tidur,” Lyara menggulung selimut dan menjauhkannya dari tempat tidur. “Aku Anna bukan Aurora,” erang Leora. Ia sekarang membuka matanya. Lyara tergelak, bisa-bisanya Leora protes dengan panggilan putri tidurnya. “Baiklah, Anna, meskipun hari ini bukan my coronation day, tapi kamu harus bangun. Jangan sampe ketemu Hans,” katanya sambil lalu. Ia beranjak dari tempat tidur dan meraih sisir di meja rias. “Aku harus ketemu Hans dulu sebelum terpesona sama Kristoff, Kak,” Leora masih menjawabnya. Melihat Lyara yang melepaskan selimutnya, Leora tersenyum dan kembali membentangkan selimut. “Jadi, aku harus kesiangan,” lanjutnya sambil mencebikkan bibirnya. Lyara menggeleng menatap adiknya yang sudah kembali menutup matanya. Tangannya sekarang merapikan rambutnya dan membuat gelungan. Selesai merapikan rambutnya, Lyara sudah siap untuk kembali pada pekerjaannya. Pagi ini, ia punya jadwal untuk kembali menemani kliennya. Ucapannya pada Raja tadi malam bukan bualan. Jadwalnya memang padat. Tapi bukan hanya tentang pekerjaannya sebagai pacar bayaran. Ia juga punya kehidupan lain. Lyara juga baru selesai dalam menyusun skripsinya. Sebetulnya ia baru kembali menerima banyak klien setelah menyelesaikan tugas akhirnya itu. Waktunya banyak tersita, karena itu ia sempat libur beberapa waktu sebelum kembali menyanggupi pekerjaannya. Jika bukan karena uang yang dikumpulkannya untuk operasi Ayah dipakai Mama untuk membeli satu tas itu, Lyara berniat untuk menunda pekerjaan sampai sidang minggu depan. Tapi Mama memang tidak bisa terlepas dari hidup mewahnya dulu. Meskipun ia sudah memintanya berulang kali selama enam tahun ini. Setelah menutup kembali pintu kamar, ia mengetuk pintu kamar Ayah. Terdengar suara Ayah dari dalam dan Lyara membuka pintunya. “Selamat pagi Ayah ganteng,” sapanya dengan ceria. Di dalam kamar itu ada dua kasur single size. Satu milik Mama, satu lagi milik Ayah. Mama bilang tidak mau tidur bareng ayah lagi sejak pindah kemari. Meskipun begitu, Mama masih mau mengurus Ayah. Dengan janji bahwa Lyara akan memenuhi keinginan Mama. Itulah sebabnya ia bekerja apa saja yang bisa dikerjakannya. Karena Mama yang bersedia mengurus Ayah. “Sttt, Mamamu masih tidur,” ucap Ayah dengan bisikan saat Lyara masuk. Lyara melihat Mama yang masih bergelung dalam selimutnya. Ia tidak bisa menyalahkan mama dalam situasi seperti ini. Meski dengan susah payah, ia juga bisa memahami Mama. Saat masih gadis, Mama adalah anak dari seorang juragan tembakau. Menikah dengan Ayah dalam masa keemasan Ayah. Hidupnya selalu dalam kemewahan. Tapi saat Ayah terlibat dalam sebuah kecelakaan, perusahaannya yang dipegang temannya kolaps, dan bangkrut menyisakan banyak hutang. Kehidupan Mama berubah dalam sekejap. Lyara mengangguk dan duduk di samping tempat tidur Ayah. “Aku udah bikin sarapan. Minum dan sarapan ayah udah aku simpan di kursi ayah. Oke?” katanya dalam bisikan. Ayah mengangguk, “Kamu mau pergi lagi?” “Heem, aku ada kerjaan lagi pagi ini, Yah,” jawab Lyara. “Maafkan ayah karena bikinkamu kesulitan, Yara,” Ayah berkata kembali dalam bisikannya. Tidak mau membuat Mama terbangun. Lyara menggeleng. Setelah menjalaninya selama enam tahun ini, ia sudah terbiasa dengan semuanya. Saat pulang ke rumah, ia harus membereskan semua hal. Mulai dengan mencuci piring, mencuci baju, membereskan baju yang sudah kering, memasak, dan menyapu juga membereskan rumah. Setelah berkutat dengan pekerjaan berisik di luar, setidaknya membereskan rumah dalam keheningan malam membuat kepalanya diam. Mama memang berjanji mengurus ayah, tapi tidak dengan mengurus rumah dan semuanya. Leora sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Jadi ia tidak mencemaskan adiknya. Hanya Ayah yang masih harus ia cemaskan. Dan Mama santai mengurus dirinya sendiri. “Aku harus melakukannya, Ayah. Aku anak paling tua. Aku harus bertanggung jawab pada keluarga,” jawab Lyara. Masih dengan bisikan yang sama. “Ayah berhutang banyak padamu, Nak,” jawab Ayah. “Tidak, Ayah. Selama delapan belas tahun ayah sudah memberikan semua yang aku mau. Aku bekerja bahkan belum ada setengah dari semua waktu yang ayah berikan sama aku,” Lyara menepuk pelan punggung tangan Ayah. Ayah menggenggam tangan putrinya itu dengan erat. Ponsel Lyara bergetar dalam tasnya. Ia membukanya dan melihat nama Rakha. Keningnya berkerut, jarang sekali lelaki itu menghbunginya pagi-pagi seperti ini. Apakah ia sudah membaca laporannya? Bagus sekali! Lyara mengulurkan tangan dan mencium tangan Ayah, “Aku harus berangkat, Yah. Aku pamit, ya,” katanya sambil menekan ikon berwarna merah. “Berisik ih, kalian gak bisa gak sih gak ngobrol dulu pagi-pagi kayak gini?!” suara serak Mama terdengar. Lyara saling berpandangan dengan Ayah lalu tersenyum, “Maaf, Mah. Lyara pergi sekarang,” katanya meminta maaf. Ayah mengangguk saat Lyara berjalan ke pintu dan melambaikan tangan padanya. Setelah menutup lagi pintu, Lyara kembali melihat ponselnya yang berkedip, pesan dari Rakha. [Rakha : Ra, lo tau udah dapet peringatan, kan? Kok masih barbar banget?] Lyara menatap ponselnya dengan marah. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD