9
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Pekanbaru ke Sungai Pakning, lalu mengantre ferry untuk menyeberang ke pulau Bengkalis, Layla tiba di rumah orangtuanya hampir pukul sepuluh malam. Aroma kampung halamannya itu begitu khas. Udaranya segar. Menenangkan hati.
Mobil mungil Layla terparkir dengan rapi di halaman rumah. Pintu rumah yang tadinya tertutup, tiba-tiba terbuka.
Layla keluar dari mobil. Adik lelakinya dan sang ayah berdiri di ambang pintu menyambutnya. Layla memeluk ayahnya dengan perasaan rindu sekaligus sedih. Rongga matanya terbakar. Air mata mengancam akan keluar.
“Bagaimana keadaan Mama, Pa?”
“Mamamu masih pusing, tapi sangat keras kepala. Menolak dibawa ke rumah sakit. Tadi pagi Iwan datang memeriksa.”
Iwan adalah anak tetangga mereka yang menjadi dokter dan buka praktik sendiri.
“Dari dulu Mama tidak suka rumah sakit. Semoga vertigo Mama cepat sembuh ya, Pa. Jangan terlalu khawatir.” Layla menenangkan ayahnya. Mereka masuk ke dalam rumah. Arie pun menutup dan mengunci pintu.
“Mamamu sudah tidur. Dari tadi dia menunggumu, tapi rupanya kantuk membuatnya lelap,” jelas sang ayah pelan saat keduanya berjalan menuju kamar tidur.
Layla mengangguk pelan.
“Kenapa kau pulang sendiri?” tanya sang ayah.
“Harvey sibuk, Pa.”
Sang ayah terdiam. Namun, ekspresinya menunjukkan ia tak senang putrinya dibiarkan menyetir sendiri.
Andai saja ayahnya tahu, Layla tak akan dibiarkan menyetir dan pulang sendirian jika Harvey berkesempatan bertemu dengannya sebelum ia pergi tadi.
Layla membuka pintu kamar orangtuanya. Terlihat sang ibu sudah tidur. Ia duduk beberapa waktu di sisi ibunya. Lalu berpamitan untuk mandi, makan dan istirahat.
***
Sebelum menikahi Layla, Harvey tak pernah sekalipun merasa kalau rumah mewahnya terlalu besar untuknya. Orangtuanya sudah lama tiada. Kakak laki-lakinya, satu-satunya saudaranya, tinggal dan menjalankan bisnis di Jakarta. Namun hari ini, untuk kali pertama, Harvey merasa demikian. Keheningan terlalu mengigit. Tanpa Layla, rumahnya terasa amat sangat sepi.
Harvey duduk di ranjang dan memandang tempat Layla biasa tidur. Dadanya menyesak oleh perasaan rindu.
***
Sayup-sayup suara kokok ayam jantan menyapa telinga Layla. Ia membuka mata. Cahaya temaram dari lampu tidur memenuhi pandangannya.
Sesaat Layla terdiam, mengumpul kembali kesadarannya yang mengendap tatkala terlelap.
Dinding seluruh kamar berwarna krem dipadu dengan ungu gelap. Ia sedang berada di kamar tidurnya yang ada di rumah orangtuanya.
Kesadaran itu membuat d**a Layla memberat seketika. Rasa sedih melingkupinya.
Tadi malam, meski lelah setelah menempuh perjalanan jauh, tapi Layla sulit tidur. Ia memikirkan Harvey. Apakah Harvey di rumah saja dan merindukannya? Atau suaminya itu sedang bersama wanita lain untuk menggantikannya?
Harvey pria tangguh dengan nafsu besar. Sejak menikah, bisa dibilang, mereka tidak pernah absen berhubungan intim—kecuali ketika Layla sedang haid.
Layla menarik napas panjang, berusaha melegakan sesak di d**a, lalu meninggalkan ranjang.
Udara dingin kampung menyambutnya ketika keluar dari kamar. Layla yang hanya mengenakan baju tidur berlengan sesiku dan celana selutut, bergidik dingin dan memeluk tubuh sendiri ketika berjalan ke dapur.
Rumah masih sepi. Sang ibu dan Arie masih di peraduan. Sang ayah tampak sedang mengopi dekat meja makan. Layla menyapa ayahnya lalu masuk ke kamar mandi. Setelah melakukan panggilan alam dan mencuci muka, Layla keluar dari pintu dapur. Ia disambut oleh langit yang mulai menerang. Ada satu dua bintang menghias angkasa.
Layla berdiri di tengah-tengah halaman belakang yang luas, menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembusnya pelan-pelan. Berharap sesak di dadanya terhapuskan oleh udara segar kampung.
***
Harvey terbangun saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Pada hari kerja, lebih tepatnya sejak menikah, ia tidak pernah bangun sesiang itu. Selalunya, jika sampai pukul delapan ia belum bangun, sang istri akan membangunkannya. Dengan kecupan lembut di bibir.
Dengan cepat Harvey melirik ke sisinya dan mendapati tempat itu kosong. Nyeri hampa menjalar ke hatinya. Tadi malam ia memikirkan Layla hingga dini hari. Merindukannya. Tanpa Layla, ranjang mereka terasa dingin.
Harvey bangkit, meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal tidurnya yang masih dalam kondisi aktif. Bukan perbuatan yang patut ditiru. Meski telah menggunakan stiker anti radiasi, tapi membiarkan ponsel yang dalam kondisi aktif di dekat kepala saat tidur adalah perbuatan ceroboh. Radiasinya sangat tinggi. Semua orang tahu itu.
Harvey memeriksa ponsel. Rasa hampa itu menganga. Tak ada satu pun pesan dari Layla. Harvey segera menghubungi sang istri. Berkali-kali, tapi tak ada tanggapan. Harvey menghela napas panjang, bangkit dan berjalan malas ke balkon kamar. Rumahnya menghadap timur. Matahari tampak telah meninggi dan bersinar terik.
Harvey meninggalkan balkon dan ke kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian ia sudah berpakaian rapi. Ketika tiba di ruang makan dan mendapati tempat itu hening, ada nyeri tak terperi menikam dadanya.
Setiap pagi selama lima bulan terakhir, ia melihat seorang wanita cantik di sana, menyambutnya dengan senyum, kopi panas dan sarapan yang lezat.
Dengan suasana hati yang memburuk, Harvey mengambil segelas air hangat, meneguknya cepat, lalu meninggalkan rumah.
***
“Nak Harvey barusan telepon.”
Layla yang duduk santai di kursi samping rumah dan sedang minum air kelapa muda, tersedak.
Maria, sang ibu, duduk di kursi tak jauh dari putrinya. “Dia menanyai keadaan mama. Kata Arie, Harvey sering mengiriminya pesan, menanyai kondisi mama.”
Layla diam. Ia meneguk air kelapanya. Tiga hari sudah ia meninggalkan kota Pekanbaru. Kondisi sang ibu kian membaik. Seharusnya Layla kembali pada suaminya, toh ia sudah tahu keputusan apa yang harus diambil. Akan tetapi Layla bukan jenis orang yang pandai berpura-pura. Jika bertemu Harvey, Layla yakin tak akan mampu menyembunyikan rasa sakit itu dari matanya. Jangan-jangan ia akan menangis di hadapan lelaki berengsek itu.
“Kondisi mama sudah membaik, Layla. Kau boleh pulang ke Pekanbaru. Kasihan suamimu. Tak ada yang mengurusi makan minumnya.”
Mungkin niat ibunya baik, tak mau merepotkan sang anak, tapi entah bagaimana, Layla yang sedang sensitif, merasa tersinggung. “Mama mengusirku?”
Maria menepuk pelan paha putrinya. “Tentu saja tidak, Sayang. Mama senang kau ada di sini. Tapi bagaimanapun kau sudah menikah. Kau memiliki kewajiban sebagai istri, tidak baik meninggalkan suami terlalu lama.”
Wajah Layla seketika memuram, dan itu tak luput dari mata sang ibu.
Tiga hari ini, Harvey rutin mengirim pesan, yang hanya dibalas Layla sesekali dan sekadarnya. Sementara untuk panggilan, juga panggilan video, Layla mendiamkannya.
Apakah Harvey merindukannya? Merindukan tubuhnya? Apakah wanita lain, yang mungkin mengisi harinya selama Layla tidak ada, tidak cukup memuaskannya?
“Kalian bertengkar?”
Layla tersadar dari lamunannya. “Apa?”
“Kau dan Nak Harvey bertengkar?”
Layla membisu.
“Pertengkaran adalah bumbu dalam kehidupan berumahtangga, Nak. Jika ada masalah, entah kecil atau besar, segera bicarakan. Suami istri harus saling terbuka.”
Sayangnya Harvey tidak, desah Layla merana dalam hati. Tanpa sadar matanya memanas ketika teringat bahwa lamaran Harvey dan lima bulan pernikahan mereka yang manis, tak lebih dari obsesi seks pria itu semata.
“Aku ingin berpisah dengan Harvey, Ma,” ucap Layla pelan. Layla tahu dirinya egois jika memilih berpisah, padahal tadi malam ia sudah bertekad akan bertahan, demi menjaga air muka kedua orangtuanya. Namun, Layla sadar ia tak akan sanggup hidup serumah, bertatap muka dan disentuh oleh pria yang telah menyakitinya.
“Perpisahan bukan solusi pertengkaran suami istri, Sayang.”
Tadinya Layla berharap sang ibu mendukung keputusannya agar ia mantap melangkah, tapi ia harus kecewa. Seharusnya Layla tahu, ibunya bukan generasi modern yang memandang perceraian sebagai hal lumrah dilakukan jika pasangan suami istri sudah merasa tidak cocok. Menikah hanya sekali untuk seumur hidup, itulah yang selalu ibunya katakan padanya dan berpesan agar ia memilih suami baik-baik.
Namun egonya terlalu besar, bukan? Layla terlalu percaya diri dan naif, berpikir playboy seperti Harvey akan jatuh bertekuk lutut di kakinya. Jatuh cinta setengah mati padanya.
“Dia tidak mencintaiku, Ma.” Pengakuan itu akhirnya terucap.
Sang ibu memandang putrinya dengan terkejut Layla menunduk dalam-dalam.
“Kalau begitu, kenapa dia menikahimu?”
Demi bisa meniduriku! Tapi itu hanya jeritan di dalam hati, Layla malu mengakuinya pada sang ibu.
Melihat keterdiaman dan penderitaan yang tercermin di wajah Layla, sang ibu menghela napas panjang. “Cinta bisa dipupuk, Layla. Menikah tak selalu melulu tentang cinta. Asalkan kalian berdua bahagia, itu sudah cukup. Cinta akan hadir seiring berjalannya waktu.”
“Tanpa cinta, dia akan cepat bosan, Ma. Saat itu tiba, dia akan menceraikanku.”
Sang ibu terdiam sejenak, lalu meremas tangan anaknya, berusaha menenangkan. “Kau berpikir terlalu jauh.”
“Tidak. Yang kukatakan benar, Ma. Harvey tampan dan kaya, dia dikelilingi wanita-wanita cantik. Tanpa cinta, aku akan terdepak dengan mudah.”
“Kalau begitu buat dia jatuh cinta kepadamu.”
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink
penting: part selanjutnya akan dilanjut stlg mencapai 500 loves
so, jangan lupa tap love ya! makasi.