8
“Sayang, kau tidak keberatan kalau kita menunda punya anak, bukan?”
Layla yang sedang menyesap teh hangat, menoleh, menatap sang kekasih dengan heran. Kerut samar menghiasi keningnya.
Kala itu seminggu menjelang hari pernikahan mereka. Pada sore dengan rinai gerimis membelai bumi, keduanya duduk di beranda rumah Layla, menikmati teh dan kudapan buatan sang gadis.
Harvey tersenyum lembut. “Aku ingin menikmati waktu berduaan denganmu lebih lama.”
Kerut di kening Layla memudar. Meski kecewa karena sebenarnya ia ingin segera punya momongan, tapi alasan sang calon suami membuatnya, mau tidak mau, tersanjung. Harvey pasti sangat mencintainya hingga ingin menikmati waktu sepuasnya dengannya lebih dulu, baru memiliki bayi, bukan? Layla pun mengulas senyum manis. “Yah …, kalau itu maumu, Sayang. Tapi kira-kira sampai berapa lama?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan itu nanti? Yang jelas, aku ingin kau minum pil.”
“Baiklah.” Layla mengangguk.
Layla duduk di sofa yang ada di kamar dengan d**a berat. Kenangan itu menghantamnya dengan telak. Sekarang ia tahu alasan di balik permintaan Harvey waktu itu. Memang tidak ada kebohongan di sana. Harvey mengatakan dengan jelas ia ingin berduaan saja dengan Layla. Yang menyakitkan adalah alasan di balik kata-kata manisnya.
Layla mengerjap. Setetes air mata bergulir di pipinya, diikuti tetes-tetes yang lain. Ia menghela napas panjang dan memandang foto pernikahan mereka yang menempel di dinding di atas kepala ranjang.
Pantas saja dulu Harvey tidak ingin mengadakan pesta, rupanyanya pernikahan mereka hanya bersifat sementara. Harvey pasti ingin sesedikit mungkin orang tahu tentang pernikahan mereka, agar kelak, ketika berpisah, pria itu tak perlu menjawab keingintahuan orang-orang.
Sementara Layla, ayahnya mengadakan pesta pernikahan meriah di kampung. Semua kerabat, teman, kenalan, diundang. Betapa ironis.
Kini, pernikahannya dan Harvey berada di ujung tanduk, apa yang harus Layla lakukan? Berpisah dengan Harvey akan membuat orangtuanya malu. Sementara untuk tetap melanjutkan, sungguh Layla tak kuat bersandiwara. Tadi malam dan tadi pagi saja, butuh energi besar untuk bersikap seolah-olah ia tidak tahu keberengsekan suaminya itu.
Tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja, berdering. Layla tersentak dan meraih ponselnya.
Arie memanggil …
“Halo?” Layla segera menyambut panggilan tersebut. Tidak biasanya sang adik menghubunginya lewat panggilan. Biasanya mereka cuma berkirim pesan.
“Kak, vertigo Mama kambuh.”
Rasa khawatir seketika menyerang Layla. Ibunya memang punya riwayat sakit vertigo. “Bagaimana kondisi Mama sekarang?”
“Yah, masih pusing, katanya. Tadi dokter Iwan sudah memeriksa Mama dan meresepkan obat.”
“Kakak akan segera pulang.”
Setelah percakapan berakhir, Layla segera berkemas.
Tak lama kemudian, ia sudah melaju di jalan raya dengan mobil mungilnya yang telah berbulan-bulan terpakir manis di garasi.
Layla hanya berpamitan lewat pesan pada Harvey, tak mau suaminya itu mencegahnya pulang sendirian.
Sembari menyetir, pikiran Layla melanglang buana. Mungkin, perpisahan sementara ini baik untuk hubungan mereka. Mungkin waktu yang berlalu akan membuatnya lupa akan percakapan yang didengarnya. Mungkin, sakit hatinya akan membaik dan ia bisa mencintai Harvey seutuhnya seperti dulu lagi.
***
Aku pulang Bengkalis. Mama sakit.
Apa-apaan ini!
Harvey memandang ponselnya dengan mata membeliak. Ia segera menyentuh layar ponsel, memanggil Layla. Namun berkali-kali mencoba, tidak ada respons.
Harvey mengumpat tepat saat pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk lebih dulu. Arion melangkah masuk dengan wajah berseri.
“Hei, Bung! Ada apa? Kau tampak kesal.”
Harvey mendengkus. “Ada apa dengan wanita? Mereka penuh misteri.”
Arion tertawa dan duduk di kursi depan meja kerja Harvey. “Layla membuatmu kesal.”
Harvey mengertakkan rahang. Menahan diri mencurahkan isi hati.
“Lima bulan kau hidup bagai di atas awan. Jadi apa yang dia lakukan hingga kau kesal begini?”
Harvey menghela napas panjang. “Dia pulang Bengkalis.”
Arion mengangkat alis. “Apa yang salah dengan itu?”
Harvey terdiam. Bagaimana ia menjelaskan? Walaupun Layla bersikap manis, perasaan Harvey mengatakan ada yang salah. Entah bagaimana, ketika mereka berdekatan, Harvey merasa ada tembok di antara mereka—tepatnya tembok yang dibangun Layla.
“Sejak kemarin, sikapnya aneh. Matanya sembap karena menangis. Tapi dia bungkam ketika aku bertanya.”
“Jangan-jangan diam-diam dia memiliki kekasih dan saat ini mereka sedang bermasalah,” goda Arion.
Harvey memandang sahabatnya dengan tatapan membunuh. Suasana hatinya sedang buruk. Ia tak butuh provokasi.
“Kau bilang dia pulang Bengkalis, kan? Mungkin kekasihnya tinggal di sana dan dia pulang untuk memujuknya.”
Rona seketika meninggalkan wajah Harvey.
Melihat itu, tawa Arion kembali berderai. “Aku hanya bercanda, Bung!”
Namun yang Arion tidak tahu adalah, candaannya membuat suasana hati Harvey semakin buruk. Jangan-jangan sahabatnya itu benar. Jangan-jangan Layla diam-diam memiliki kekasih di kota kelahirannya. Harvey tak pernah memeriksa ponsel istrinya. Ia sepenuhnya memercayai Layla. Mungkinkah ketika ia pergi bekerja, istrinya itu diam-diam menjalin asmara lewat ponsel? Atau bahkan, jika pria itu datang ke rumah mereka pun, Harvey tak pernah tahu. Ia tak pernah memeriksa rekaman CCTV, baik yang di halaman depan dan beranda, maupun sekeliling.
“Aku hanya bercanda, Harv,” kata Arion saat melihat ketegangan Harvey. “Layla perempuan baik-baik. Dia tidak mungkin selingkuh.”
Gerakan jemari Harvey yang akan menghubungi sekuriti untuk bertanya apakah selama ia tak berada di rumah, ada tamu lelaki bertandang, seketika terhenti.
Di lubuk hatinya yang tak tercemar oleh buruk sangka, Harvey sangat setuju dengan yang dikatakan Arion. Layla perempuan baik-baik.
Setelah sesaat terdiam, akhirnya Harvey menghubungi Arie. Satu jawaban dari adik iparnya itu akan mengangkat seluruh kecurigaannya.
“Arie, Mama sakit?”
“Ya, Kak. Vertigo Mama kambuh,” terdengar balasan di ujung sana.
“Kakakmu pulang Bengkalis hari ini, kau tahu?”
“Ya. Tadi Kak Layla mengabari Papa.”
Setelah berbasa-basi sejenak, mengatakan ia akan meluangkan waktu ke Bengkalis untuk menengok sang ibu mertua, Harvey pun mengakhiri percakapan. Dadanya lega luar biasa. Setidaknya Layla tidak berbohong. Ia harus membuang jauh-jauh buruk sangkanya.
“Ibunya sakit?” tanya Arion.
Harvey mengangguk samar.
“Apa kubilang, dia perempuan baik-baik. Tidak mungkin menduakanmu.”
Harvey hanya diam. Perkataan Arion lewat begitu saja di telinganya, bahkan tidak menyentuh kesadarannya. Ia sepenuhnya sedang bingung dengan perasaan gelap asing yang memenuhi dadanya ketika berpikir Layla menduakannya. Ia siap merantai Layla di rumah jika sampai wanita itu berpaling darinya, dan ia tak akan sungkan-sungkan menghabisi, siapapun pria yang menjadi pasangan selingkuh Layla.
“Terkadang wanita spesial memang menguras emosi kita.”
Kalimat Arion itu memutus lamunan Harvey. Ia mengangguk pelan menyetujui. Selama ini tak pernah ada wanita yang mampu memancing emosi apa pun dalam dirinya.
***
Love,
Evathink
Follow i********:: evathink