5

1013 Words
5 Layla menatap pantulan dirinya di cermin. Tampak gaun satin bewarna merah mencetak sempurna setiap lekuk tubuhnya, dipadu dengan sepatu hak tinggi bewarna senada. Panjang gaun itu semata kaki dengan belahan hingga separuh paha, dan memiliki model punggung terbuka. Tadinya, Layla tak ingin memakai gaun tersebut, selain karena warnanya provokatif, juga modelnya terlalu seksi. Akan tetapi, Harvey meyakinkan bahwa alih-alih terlihat nakal, Layla justru anggun memukau. Rambut Layla disanggul, dengan anak rambut ikal yang dibiarkan tergerai di bagian kiri dan kanan. Kalung berlian hadiah pernikahan dari Harvey, melingkar indah di leher jenjangnya. Giwang bermata berlian di telinganya, tampak berkedip-kedip menggoda. “Sudah siap?” Layla berbalik dan menatap Harvey yang tampak rapi dan tampan dalam balutan setelan jas lengkap. Ia tersenyum dan mengangguk. “Ayo, aku tak mau kita terlambat.” Layla melangkah mendekati Harvey. Alih-alih mengajaknya pergi seperti yang dikatakan, Harvey justru memeluk Layla. “Harvey?” Layla memandang sang suami dengan bingung. “Kau sangat cantik malam ini, Sayang.” Layla tersipu malu oleh pujian sang suami. Harvey menunduk dan mengecup lembut bibir Layla. “Jika tidak memikirkan David dan yang lain menunggu kita, aku lebih senang tidak ke mana-mana. Kau membuatku ingin merobek gaun ini, saat ini juga.” Layla tertawa kecil dan mencubit pelan perut Harvey. Harvey pura-pura kesakitan, lalu tertawa. Setelah itu, Harvey merangkul pinggang Layla, dan mereka siap menuju hotel tempat makan malam diadakan. *** Harvey senang makan malam bersama David, Arion, Flora dan Karenina berjalan lancar. Malam ini adalah kali kedua David bertemu Layla. Ketika pertama kali di acara pernikahan mereka dulu, David hampir tak punya kesempatan bercakap-cakap dengan Layla. Selama makan malam, David bersikap hangat dan sopan kepada Layla. Melihat sinar kagum memancar dari mata David, diam-diam Harvey kian bangga pada sang istri. Layla memang mampu memukau siapapun. Harvey yakin, jika Arion belum jatuh cinta setengah mati pada Flora, pria itu pun akan terpikat. “Sayang sekali Kak Anita tidak bisa datang,” gumam Layla ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah seusai makan malam. Sebenarnya Layla belum pernah bertemu dengan Anita, istri David. Layla mengenalnya hanya lewat cerita Harvey dan David. “Kita bisa mengunjunginya kapan-kapan.” “Benar?” Layla menoleh dan menatap Harvey dengan mata berbinar. Harvey menoleh sekilas pada sang istri, lalu kembali memfokuskan pandangan pada jalan raya. “Tentu.” “Terima kasih, Sayang.” *** Tiba di rumah, begitu menjejakkan kaki di ruang tamu, Layla terkejut saat Harvey menariknya ke dalam pelukan. “Harvey ….” “Dari tadi aku terpaksa menahan diri dan tersiksa karenanya.” Harvey dengan cepat menarik restliting gaun Layla sementara bibirnya melumat bibir sang istri dengan buas. “Kita akan melakukannya di kamar.” Layla mencoba mendorong Harvey menjauh. “Tidak. Kita akan melakukan di sini. Sekarang.” Ini bukan kali pertama Harvey mengajaknya bercinta di ruang tamu. Harvey bukan tipikal kaku yang hanya akan bercinta di kamar tidur. Awalnya Layla menolak, tapi cumbuan dan rayuan Harvey membuatnya terlena. Gaun Layla jatuh ke lantai. Ia merasa terekspos dalam balutan bra dan celana dalam minim. Harvey memandang tubuh Layla dan berdecak kagum. “Kau sangat seksi, kau tahu.” Rona panas membakar pipi Layla dan sekujur tubuhnya. Harvey menyeringai dan melanjutkan cumbuannya. Akhirnya keduanya pun bercinta di sofa ruang tamu. *** Sinar hangat mentari pagi memasuki kamar melewati tirai tipis jendela. Harvey memandang pantulan dirinya di cermin. Kemeja berlengan panjang warna abu-abu, dan celana kain jahitan khusus, membalut sempurna tubuhnya. Tanpa sadar Harvey tersenyum. Harus ia akui, pipi dan juga tubuhnya, tampak lebih berisi. Berat badannya naik 2kg. Untunglah perutnya tidak membuncit. Harvey pikir, ia harus menambah durasi olahraganya jika tak mau tubuhnya diselimuti lemak. Sejak menikah lima bulan lalu, bisa dibilang selera makannya menjadi amat sangat baik. Sang istri sangat pintar memasak dan membuat kudapan. Tak jarang Harvey mendapat kiriman kue-kue atau cake pada siang menjelang sore. Jadi, sulit untuk mencegah berat badan melejit. Dengan senyum samar masih terulas di bibir, Harvey meninggalkan kamar, berjalan santai menuruni anak tangga satu demi satu menuju lantai dasar. Tiba di ruang makan, ia melihat Layla sedang sibuk dekat meja makan dengan posisi membelakanginya. Harvey melangkah pelan, lalu memeluk sang istri dari belakang. Layla terkejut. “Selamat pagi, Sayang.” Harvey mengecup lembut pipi Layla. Layla berbalik dan tersenyum manis. “Pagi, suamiku.” Harvey mengecup bibir istrinya. “Ayo duduk, aku baru selesai membuat kopi,” kata Layla sembari melepaskan diri. Wanita itu menarik kursi dari balik kepala meja. Senyum Harvey melebar. Ketika menikahi Layla, ia hanya menginginkan seks yang hebat, sama sekali tak menyangka akan mendapatkan perlakuan bak raja. Ketika masih lajang, Harvey memiliki pengurus rumah, Bi Minah, yang datang setiap hari untuk membersihkan rumah. Setelah menikahi Layla, Harvey berencana mempekerjakan pengurus rumah yang tinggal bersama mereka dan bisa membantu Layla kapan saja. Ia tak mau sang istri kelelahan. Akan tetapi Layla menolak. Mengatakan ia lebih senang dengan pengurus rumah yang datang di pagi menjelang siang, dan pulang setelah pekerjaannya selesai. Layla ingin tetap memiliki privasi. Harvey duduk di kursi yang Layla siapkan untuknya. Ia menatap sang istri dengan mata berbinar. “Semakin hari, kau terlihat makin cantik, Sayang.” Rona merah samar merambat di pipi Layla. Wanita itu memandang Harvey dengan malu-malu. “Kau juga makin tampan, Harv.” Harvey tertawa ringan. Pujian sang istri jelas berlebihan. Seharusnya Layla bilang ia tampak sedikit gemuk. Layla menghidangkan kopi untuk Harvey. Di atas meja makan tampak beberapa biji bakpao dalam sebuah piring. Harvey mengangkat gelas kopinya dan meniup pelan, lalu menyesap lamban. Kopi buatan Layla adalah kopi ternikmat yang pernah Harvey cicip. Layla menarik kursi dan duduk. Ia menuang teh yang mengepulkan uap panas ke dalam gelas. Tidak seperti Harvey yang suka minum kopi—dan wajib setiap pagi, Layla lebih suka teh, atau sesekali cokelat panas. “Bakpao ini isi apa?” tanya Harvey sembari meraih sebiji bakpao. “Sayur.” Bakpao sayur adalah kesukaan Harvey. Senyum terukir di bibirnya. Bisa dibilang, sejak menikahi Layla, senyum dengan setia menghias bibirnya. Bagaimana tidak? Hidupnya begitu sempurna. Lima bulan ini tidak ada konflik berarti. Mereka hidup sangat bahagia bak di negeri dongeng. *** Love, Evathink Follow i********:: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD