4

1097 Words
4 Layla menggeliat, lalu membuka mata perlahan-lahan. Seluruh kamar terang benderang bermandikan cahaya matahari. Sejenak Layla memejam. Ketika membuka mata kembali, ia melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul sebelas siang. Layla menguap dengan suara pelan. Dengkuran halus terdengar dari sisi kirinya, sementara lengan yang hangat melingkar di perutnya. Perlahan Layla berbalik ke samping. Seraut wajah tampan tampak terlelap. Sejumput anak rambut menutupi keningnya. Senyum bahagia menghias wajah Layla. Ia mengulurkan tangan menyentuh anak rambut tersebut dan menyingkirkannya dari kening. Tadi malam Layla menyerahkan diri seutuhnya kepada Harvey Almanzo, pria yang telah resmi menjadi suaminya. Ia bahagia. Amat sangat bahagia, dan sejujurnya ada rasa bangga karena mampu mempertahankan prinsipnya, menyerahkan miliknya yang paling berharga kepada sang suami. Setelah puas memandang wajah Harvey, Layla perlahan-lahan bangkit. Ia duduk di bibir ranjang sementara matanya menyapu pakaian mereka yang berhamburan di lantai. Rona panas menjalar di leher dan wajahnya. Percintaan mereka tadi malam amat sangat liar, dan berulang-ulang. Dengan tubuh lenguh dan rasa nyeri di pusat diri, Layla bangkit, memungut pakaian mereka di lantai dan berjalan menuju kamar mandi yang terdapat di kamar. Layla meletak pakaian mereka ke keranjang baju kotor, lalu masuk ke kamar mandi. Mata Layla menyapu ke seantero ruangan. Senyum samar menyungging di bibirnya. Seumur hidupnya, Layla belum pernah mandi di kamar mandi seluas dan semewah itu. Layla mendekati bak berendamnya yang besar dan tampak menggoda, lalu mengisi air sambil menuang sabun dan membuat busa. Alangkah terkejut dirinya ketika mematikan keran air dan siap masuk ke dalam bak, pintu kamar mandi terdengar terbuka. Layla berbalik. Tampak Harvey melangkah masuk dan tersenyum. Mata pria itu menjilat seluruh tubuh polos Layla. Wajah Layla memanas. Ia membuang muka karena malu menatap tubuh polos Harvey, sementara kedua tangannya bergerak cepat menutupi p******a dan kewanitaannya, suatu gerakan yang sebenarnya tidak diperlukan mengingat Harvey bukan hanya sudah melihat, tapi juga menyentuh dan mencicipi setiap senti tubuhnya, bahkan yang paling intim sekalipun. Namun Layla belum terbiasa. “Apa yang kaulakukan di sini?” Harvey tertawa kecil sambil terus melangkah. “Aku mau mandi.” “Tunggu aku selesai, atau kau bisa menggunakan kamar mandi lain,” balas Layla gugup dan memandang suaminya dengan sorot malu-malu. Harvey tiba di dekat Layla. Matanya menekuri sekujur tubuh sang istri dengan sorot lapar. Sesuatu berdenyut dan meleleh dalam diri Layla. Harvey seakan tak terpuaskan. “Aku ingin mandi bersamamu.” Harvey menunduk dan mengecup lembut bibir sang istri, lalu membopongnya masuk ke dalam bak. “Harvey!” Layla terkejut. Harvey terkekeh. Ia turut masuk ke dalam bak. “Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.” Layla ingin mengatakan kalau ia masih merasa nyeri, tapi Harvey telah mencumbunya dengan penuh gairah. Layla pun terpedaya. Kenikmatan yang Harvey ciptakan pada tubuhnya sungguh teramat menggiurkan untuk ditolak. Keduanya pun bercinta dengan penuh gairah dan liar. *** “Ya, Bu. Untuk sementara saya tidak jualan.” Sembari menyiapkan sarapan, Layla berbicara di ponsel. “Baik. Akan saya kabari nanti.” Lalu panggilan berakhir. Layla menatap ponselnya sejenak, lalu meletakkannya ke atas meja. Sejak Harvey melamarnya, Layla tak lagi membuat bolu kemojo untuk dijual. Ia terlalu disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka, terutama untuk acara di kampung halaman. Sampai hari ini, seminggu sudah mereka menikah, tak terhitung berapa banyak panggilan ingin memesan bolu kemojo yang ia terima. Harvey tidak melarang jika Layla ingin terus melanjutkkan bisnisnya, bahkan suaminya itu berniat menyediakan toko khas oleh-oleh untuknya. Akan tetapi, Layla memilih menjadi istri sepenuhnya. Bisa dikatakan, ia tak punya lagi tenaga untuk berperang di dapur. Seluruh energinya telah habis digunakan untuk melayani sang suami. Lihat saja, sepekan menikah, mereka hampir tak beranjak meninggalkan rumah. Harvey seakan tak terpuaskan dan terus-menerus mengajaknya mengarungi samudra hasrat. “Selamat pagi, Sayang.” Layla tersentak dan menoleh pada sumber suara. Harvey tampak tampan dan segar dalam balutan celana jins selutut dan kaus oblong putih. Rambutnya lembap, kesan baru selesai mandi. “Pagi.” Harvey memeluk dan mengecup pipi Layla. “Siap untuk nanti malam?” Harvey menatap lembut sang istri. Layla balas menatap dan mengangguk mantap. Nanti malam mereka akan makan malam bersama Karenina, Arion, Flora, dan David, kakak laki-laki Harvey yang datang dari Jakarta. Makan malam ini bisa dikatakan untuk merayakan pernikahan mereka. “Bagus!” Harvey melangkah menuju kepala meja. Layla dengan sigap menarik kursi untuk sang suami. “Kau tak perlu melakukan ini, Sayang. Aku bisa melakukannya sendiri.” Layla tersenyum. “Aku senang bisa melayanimu, suamiku.” Senyum Harvey melebar. Hati Layla berbunga-bunga. Ia pun menghidangkan kopi hitam panas untuk Harvey dengan wajah berseri-seri. Pagi itu, untuk kali pertama mereka sarapan di ruang makan. Biasanya, mereka tak pernah beranjak dari kamar tidur sebelum pukul satu siang. *** “Aku tak habis pikir denganmu.” Harvey yang sedang mengendarai mobil, melirik sekilas ke kursi penumpang. David Almanzo, kakak laki-lakinya, tampak memandang lurus ke depan, pada jalan raya yang padat. Harvey baru saja menjemputnya dari bandara. David datang dalam rangka undangan makan malam untuk merayakan pernikahan Harvey dan Layla. Anita, istri David, tidak ikut karena baru melahirkan sebulan yang lalu. “Kenapa?” tanya Harvey. “Aku tidak tahu kalau kau serius menjalin hubungan dengan seseorang.” Mau tak mau Harvey tertawa kecil mendengar kalimat sang kakak. “Kita terpisah sedemikian jauh, Dav. Tentu saja kau tidak tahu apa-apa tentang kehidupanku.” David dan Harvey hanya selisih umur satu tahun. Sedari kecil, Harvey sudah terbiasa memanggil sang kakak dengan nama tanpa embel apa pun. David melirik Harvey. Kerut di keningnya mendalam. “Apakah ini sejenis hubungan satu malam, lalu gadis itu hamil?” Kali ini Harvey tertawa kuat. “Tentu saja tidak! Aku bukan anak kecil lagi, Bung! Aku tahu cara menggunakan pelindung.” “Lalu, kenapa terburu-buru? Kau tak mengenalkannya kepada kami dan menikahinya tiba-tiba, bahkan tanpa resepsi.” “Resepsi sudah dilangsungkan di kampung Layla.” “Itu tak sama, oke? Kau tahu maksudku. Setidaknya kau mengadakan resepsi untuk kerabat kita dan relasimu.” David hadir ketika resepsi di rumah orangtua Layla, dan kembali ke Pekanbaru keesokan harinya bersama salah satu sopir supermarket Harvey. “Aku hanya tidak mau lelah mempersiapkan semua itu. Aku butuh tenaga untuk malam pengantin kami.” “Dasar berengsek!” umpat David kesal. “Itu alasan yang tidak relevan.” Harvey hanya tertawa melihat kegusaran sang kakak. Setelah tawa Harvey berhenti, keheningan mengiringi mereka. Tak lama kemudian, mobil Harvey membelok ke hotel Arion. “Kenapa hotel?” tanya David heran. Biasanya, setiap kali datang Pekanbaru, ia akan menginap di rumah Harvey. “Aku asumsikan kau tak mau memergokiku sedang bercinta dengan pengantinku di ruang tamu atau ruang makan.” “Dasar b*****h!” Harvey tergelak. *** Love, Evathink Instagram: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD