3

1004 Words
3 “Jadi kau akan menikah?” Seringai mengejek di wajah Arion membuat Harvey mendengkus. Arion tertawa. Keduanya saat ini sedang berada di teras rumah Arion, sementara malam kian larut. Sejak Flora hamil—lebih tepatnya hamil kali kedua, karena yang pertama keguguran—Arion sangat jarang meninggalkan sang istri kala malam hari, bahkan untuk menemani Harvey minum-minum di bar. Menurut Harvey, sahabatnya itu sudah menjadi b***k cinta. Dulu Arion pria yang sinis pada cinta, tapi itu sebelum Flora membuatnya jatuh bertekuk lutut. “Bukankah kau yang menyarankanku menikahinya?” Alis Arion terangkat. “Kau menganggapnya serius? Padahal aku hanya bercanda.” Harvey memandang pepohonan bunga yang ada di halaman. “Tapi aku rasa itu ide yang cemerlang.” “Pernikahan bukan perkara main-main, Harv.” Harvey memandang sahabatnya dengan sebal. “Sepertinya kau tak senang aku akan menikah.” “Kau ingin menikah hanya untuk bisa berhubungan seks dengan gadis itu. Tidak lucu jika beberapa bulan kemudian, kau menyandang status duda.” “Siapa bilang aku akan bercerai setelah menikah beberapa bulan?” “Aku mengenalmu seperti mengenal diriku sendiri, Kawan. Kau mudah bosan, sama seperti aku.” “Sepertinya sampai hari ini kau tidak bosan pada Flora. Aku sama sekali belum mencium bau anyir perselingkuhanmu.” “Aku mencintai Flora, dan itu membuatku tak bisa berpaling darinya. Sementara kau? Kau bilang kau tidak mencintai Layla.” Harvey terdiam. Ia memang tidak mencintai Layla. Akan tetapi ia menginginkan gadis itu. Apa pun akan Harvey lakukan untuk memilikinya, termasuk mengambil keputusan besar, yaitu menikah. “Keputusanku sudah final,” kata Harvey mantap. Saat ini, ia tak mau memikirkan apa yang akan terjadi nanti pada pernikahannya dan Layla. Yang terpenting, Layla menjadi miliknya, atau ia akan menjadi gila. Keheningan menyelimuti keduanya. Harvey meraih jus buah yang tadi Flora hidangkan dan menyesapnya. “Jadi, apakah kita akan mengundang penari telanjang untuk pesta lajangmu?” Suara Arion memecah keheningan. Harvey tersedak. Arion tertawa melihat itu. “Kau ingin aku tak jadi menikah?? Layla pasti murka jika tahu.” “Layla tidak akan tahu.” Arion menyeringai usil. “Bagaimana jika Flora tahu?” Seringai usil di wajah Arion seketika hilang tak berjejak. Harvey tertawa melihat itu.“Kenapa? Takut?” Arion hanya bisa menyeringai masam. *** Pesta pernikahan Layla dan Harvey diselenggarakan di rumah orangtua Layla. Ayah Layla ingin seluruh kerabat dan teman-temannya menjadi saksi kebahagiaan sang putri. Harvey dianjurkan mengadakan pesta kali kedua di Pekanbaru untuk para kerabat dan relasinya. Namun Harvey tidak ingin melakukannya. Ia tak mau dipusingkan oleh urusan mempersiapkan pesta. Apalagi dengan waktu yang sangat singkat. Meski sedikit kecewa karena tidak akan dikenalkan pada kerabat dan relasi Harvey, Layla berusaha maklum. Sehari setelah pesta, Layla dan Harvey kembali ke Pekanbaru. Mereka tiba di rumah ketika sinar mentari terakhir menghilang dalam dekapan malam. Layla melangkah menapaki anak tangga menuju lantai dua, tempat kamar tidur mereka terletak, diikuti oleh Harvey yang membawa koper mereka. Ketika pintu kamar terbuka, langkah Layla terhenti. Ia terpaku. Kamar itu luas dengan segala perabotan mewah yang dipilih Layla—atas permintaan Harvey. Yang membuat Layla terkejut adalah taburan kelopak bunga mawar di seluruh lantai kamar, juga ranjang. Di atas meja rias, meja nakas, dan meja sofa, ada vas berisi banyak kuntum bunga mawar yang tampak segar. Wangi semerbak memenuhi indra penciuman. “Kau suka?” tanya Harvey lembut. Pria itu berdiri tepat di belakang sang istri. Layla berbalik. Memandang sang suami dengan mata berbinar. “Bagaimana kau melakukan ini?” “Sejujurnya?” Layla mengangguk. Harvey tertawa kecil. “Aku meminta bantuan dari Flora dan Arion.” Layla pernah sekali diajak Harvey makan malam di rumah Flora dan Arion. Sejak kali pertama berkenalan dengan Flora, Layla menyukainya. Flora wanita yang baik dan ramah. “Aku harap tidak merepotkan mereka.” “Aku rasa tidak. Saat aku mengatakan ide tentang bunga ini, Arion bilang ia dan Flora dengan senang hati membantu.” Layla lega mendengar itu. Ia pun melangkah masuk ke dalam kamar dengan perasaan penuh cinta. Ketika berada di tengah kamar, Layla berhenti melangkah dan berbalik. “Ini sangat romantis, Harvey.” Harvey melepas gagang koper yang dibawanya. Ia meraih pinggang Layla dan menarik sang istri mendekat padanya. “Kau belum jawab. Kau suka, Sayang?” Layla tersenyum dan mengangguk. “Sangat suka. Terima kasih, Harv.” Harvey menunduk dan mengecup bibir Layla. Awalnya hanya ciuman lembut dan singkat. Makin lama ciumannya berubah panas dan liar. Tiba-tiba saja, entah siapa melepas pakaian siapa, seluruh kain yang membalut tubuh keduanya berhamburan di lantai. Sembari mencium bibir Layla, Harvey membopongnya ke ranjang, lalu membaringkannya di sana. “Harv …,” desah Layla ketika Harvey mencumbunya dengan liar. *** “Harv ….” Desahan Layla kian memicu gairah Harvey. Jari jemarinya dengan liar bergerilya di seluruh tubuh wanita itu. Harvey bak musafir yang terdampar di gurun pasir, lalu menemukan oasis. Sudah berbulan-bulan ia mendambakan mengarungi samudra hasrat dengan Layla, baru malam inilah tercapai. Jadi, sulit untuk dirinya bersikap sabar dengan cumbuan lebih lembut dan lama. Bibir Harvey menjelajah p******a Layla. Lidahnya menjulur, menjilat pelan puncak cokelat kemerahannya yang mencuat tegang. Layla mendesah dan menggelinjang. Gairah makin dahsyat membakar Harvey. Sementara bibirnya bermain bergantian di kedua belah p******a sang istri, jamarinya menelusuri perut Layla, lalu turun semakin ke bawah, dan berhenti ketika menemukan apa yang dicarinya. “Harvey ….” Geliatan dan desahan Layla kian intens, memacu Harvey bertindak makin liar. Jarinya menyentuh pusat diri Layla—tak terhitung sudah berapa ribu kali ia mengkhayal menyentuh tempat rahasia itu. Awalnya dengan gerakan lembut, lalu intens. Layla mendesah parau. Matanya sayu. Tiba di satu titik, wanita itu merintih dengan tubuh melengkung, sementara napasnya berubah kasar dengan mata yang terpejam rapat. Harvey memandang ekspresi sensual itu dengan gairah berkobar-kobar. Satu detik kemudian, dengan tak sabar ia memosisikan diri di antara kaki Layla. Mata Layla perlahan-lahan terbuka. Tatapan keduanya beradu. Harvey tersenyum tipis, lalu menyatukan tubuh mereka. Api gairah membakar keduanya dengan hebat. Desahan dan rintihan yang silih berganti, dan suara deru napas yang memburu mengiringi keduanya menggapai puncak-puncak kenikmatan tiada tara. *** Love, Evathink Instagram: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD