bc

Enchanté

book_age16+
804
FOLLOW
3.2K
READ
possessive
dominant
scandal
kickass heroine
drama
bxg
male lead
affair
bodyguard
gorgeous
like
intro-logo
Blurb

Samantha harus bertahan dalam rumah tangga yang seperti neraka akibat perjanjian pernikahan yang dia lakukan. Seiring berjalannya waktu, Samantha mendapatkan banyak terror dari orang yang tidak dikenal bahkan dianiaya oleh orang tak dikenal. Dalam keadaan keadaan yang terpuruk Sebastian hadir sebagai orang yang mengulurkan tangan untuk Samantha dan memasang badan untuk melindunginya.

Tapi … rupanya ada rahasia di balik hadirnya Sebastian dalam hidup Samantha, kehadirannya bukan kebetulan semata.

Credit:

Ilustration: @zallodesign

Font: Canva.com

chap-preview
Free preview
Prolog
Enchanté Prolog Hah … hah … hah … hah … hah Hembusan nafas yang keluar berupa uap dari pernafasannya itu adalah satunya-satunya hal yang menjadi temannya dalam kesendirian ini. Kakinya terus melangkah, semakin lama semakin berat karena jalan bersalju yang dia lewati membuat sepatunya basah. Rasanya, kakinya pun akan segera membeku jika dia tidak menemukan tempat yang hangat. Hah … hah … hah … hah … hah Nafasnya semakin pendek, semakin cepat, dan semakin menyesakkan. Sesekali dia menoleh ke belakang dan menghentikan laju kakinya. Berharap ada satu atau dua kendaraan yang lewat. Ketika beberapa detik dia berhenti dan harapannya kembali dibenturkan dengan kenyataan, dia melangkah lagi. Tidah tahu arah, tidak tahu harus ke mana. Itulah yang terjadi saat ini, dia sedang tersesat setelah terpisah dari rombongan keluarganya. Kakinya kembali melangkah, semangatnya mulai hilang digantikan dengan rasa takut yang melanda hatinya. Dia takut akan terpisah selamanya dari keluarganya, dia takut jika keluarganya tidak menemukan jejaknya, dia takut tidak akan bisa kembali ke rumahnya, dia takut jika mati membeku di jalan bersalju ini dan tidak ada yang menemukan mayatnya karena terkubur oleh salju. Imajinasinya sebagai anak-anak semakin liar ketika nafasnya kini benar-benar hampir habis dalam artian dadanya mulai sesak, seolah-olah oksigen disekitarnya tidak lagi bersedia bekerja sama denganya dan membuat paru-parunya berfungsi dengan baik. Ini terlalu dingin dan terlalu basah untuk anak usia 10 tahun dengan tubuh kurus seperti dia. Tubuh ringkihnya tidak lagi mampu menahan suhu dingin yang mengoyak empat lapisan bajunya. Pikirannya mulai melayang-layang tak tentu arah membawa bayangan ilusi yang membuatnya berpikir jika saat ini, ibunya berada di depannya, merentangkan ke dua tangan, menunggunya berlari ke arah si ibu. Melihat harapannya terkabul, dia senang bukan main. Tak pikir panjang dia pun berlari ke arah ibunya. “Ibu! Aku ingin pulang …,” rengeknya sembari berlari ke arah ibunya. Tiiiin … Tiiiin … TIIIIIIIIINNN! Cahaya menyilaukan itu membuatnya terhenti, sosok ibu yang tadinya berdiri menunggunya untuk dipeluk berganti dengan sorot lampu mobil yang melaju kencang ke arahnya. Tak ada waktu baginya untuk menghindar, tubuhnya membeku di tempat hingga mobil itu semakin dekat dengannya. TIIIIIINNNN Gelap, semuanya mendadak menjadi gelap. * Di atas kemudi itu jari-jarinya bermain, mengetuk kemudi mobilnya sesuai dengan irama musik yang dia dengarkan dari radio mustangnya. Tubuhnya bergoyang-goyang mengikuti setiap nada yang keluar, kadang-kadang bibirnya pun ikut bernyanyi jika dia tahu liriknya. Gadis kecil berambut pirang madu di sisi penumpang pun ikut menggoyangkan tubuhnya saat sang ayah menyanyikan lagu Rock With You milik Michael Jackson itu. Jalanan yang bersalju dan suhu yang luar biasa dingin di luar sama sekali tidak menyurutkan keasyikan mereka bernyanyi dan berjoget bersama hingga lagu di radio mereka berganti dengan lagu yang tidak mereka terlalu sukai. “Apa yang kau inginkan saat makan malam nanti, Sweetie?” “Ice cream!” seru bocah perempuan itu. Belum mengerti jika es krim bukanlah pilihan yang tepat untuk makan malam, karena ibunya pasti akan mengomel jika tahu anak gadisnya makan es krim sebelum makan malam. “Bagaimana kalau ayah buatkan ayam mentega? Apa kau mau?” Bocah itu menggelengkan kepalanya, ayahnya sama sekali tidak tahu caranya menggunakan dapur dengan benar. Dapur mereka hanya akan berubah menjadi medan perang jika ayahnya mengambil alih posisi ibunya di dapur. Tapi itu seru! Dia bisa ikut bermain-main di sana dan dia tidak akan mendapatkan omelan ibunya, karena semua itu—memasak di dapur—sepenuhnya adalah ide sang ayah. “Ayah! Awas!!” pekiknya saat dia melihat ada seorang anak lelaki keluar dari kabut ke arah mobil mereka. Kaki ayah menginjak rem sekuat tenaga, jalanan yang ini sangat licin membuat rodanya tetap melaju walau remnya sudah diinjak dalam-dalam. Tiiiin … Tiiiin … TIIIIIIIIINNN! Melihat jarak mereka semakin dekat dengan anak lelaki itu, ayah membanting setirnya ke kiri dan tangannya kembali memencet klakson agar anak itu tersadar. TIIIIIINNNN Ciiiittttttt Mobil berhenti tepat sebelum menabrak sebuah pembatas jalan, Ayah menegakkan tubuhnya dan melihat anak gadis yang duduk di sebelahnya. “Sam, are you okay, Sweetie?” Ayah mengulurkan kedua tangannya menangkup wajah gadis kecil bermata bulat besar itu, memeriksa jika saja anak gadisnya itu terluka. Bocah berusia enam tahun mengangguk-angguk dengan cepat, secara reflek dia meyentuh dadanya yang berdebar dengan sangat kencang. Pikirnya, dia dan ayahnya akan mengalami kecelakaan hebat. Beruntung mobil mereka berhenti sebelum menabrak sesuatu. “Ayah akan turun untuk memeriksa sesuatu … kau tunggu di sini saja, okay?” Ayah membuka seatbeltnya, dia kemudian turun dan berjalan menuju ke jalanan. Dari dalam mobil, Sam melihat ayahnya sedang menghampiri seorang anak. Ya, anak lelaki yang tadi berlari menuju ke arah mobil ayahnya yang sedang melaju. Sam berpikir, anak yang saat ini sedang digendong ayahnya itu sudah gila karena hanya orang gila yang ingin menabrakkan diri ke mobil, ‘kan? “Dia kenapa, ayah?” “Sepertinya dia terluka, kita harus membawanya ke rumah sakit.” Ayah memasukkan anak itu ke mobil bagian belakang, mengambilkan sebuah selimut dan menyelimuti anak itu. Tak berselang lama, ayah kembali ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya. Mobil itu menembus hujan salju yang semakin lebat, sesekali Sam menengok ke belakang melihat keadaan anak lelaki yang sedang meringkuk di kursi belakang. Selain gila, anak itu juga kasihan. Pikir Sam. Sebenarnya apa yang dilakukan anak itu di jalanan, mengapa sendirian di tengah hujan salju yang semakin lebat ini, dan mengapa pula dia ingin menabrakkan dirinya ke mobil? Sam benar-benar tidak mengerti. “Duduk yang benar, Sam.” Ayah mengingatkan Sam agar duduk menghadap ke depan. Sam menurut, untuk terakhir kalinya dia melihat anak lelaki itu. Dalam hati kecilnya, dia ingin anak lelaki itu segera bangun. Terdengar dari radio yang mereka nyalakan lagu You Are Not Alone yang dinyanyikan oleh Michael Jackson. Di kursinya, Sam terlonjak gembira, dia paling suka lagi ini. Sam belum benar-benar mengerti arti lagunya, tapi bersama dengan sepupunya, dia pernah menari dengan melambai-lambaikan tangan di udara saat mereka menyanyikannya bersama-sama di kamar Sam. Sam sangat menghayati lagu tersebut karena mendapatkan pengaruh dari sepupunya. Di balik kemudi, ayah hanya tersenyum melihat tingkah bocah berusia enam tahun itu. Namun, tak lama kemudian Sam menghentikan tarian sendunya saat melihat gerakan dari kaca tengah mobil ayahnya. Buru-buru Sam menoleh ke belakang. Anak lelaki itu telah bangun, dia menatap bingung pada gadis bermata biru bulat yang berbinar cerah ke arahnya. Berbeda dengan Sam, dia begitu senang melihat anak lelaki itu sudah bisa membuka matanya. “Kau sudah bangun! Ayah dia bangun!” “Ahhh, benarkah? Nak … bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja?” “Kau siapa? Kalian siapa?” Anak lelaki itu panik, mungkinkah dia akan diculik. Tapi penculik mana yang membaca bocah yang lebih kecil darinya untuk ikut menculik? “Tenanglah, kau sepertinya shock, kami akan membawamu ke rumah sakit, nanti aku akan mengantarkanmu pulang ke rumahmu, okay?” Ayah berusaha meyakinkannya sembari tetap fokus menyetir. “Benar! kami akan mengantarkanmu, siapa namamu? Namaku, Sam!” seru Sam dengan gembira sembari mengulurkan tangannya. Senyumnya merekah sangat lebar. Anak lelaki itu menatap Sam dengan hati-hati, tapi senyuman Sam seolah membawa kehangatan ke dalam tubuhnya yang hampir saja membeku itu. Merasa jika Sam bukanlah ancaman, dia pun mengulurkan tangannya pada Sam. “Seb … namaku Seb.” “Hampir mirip dengan namaku, benar ‘kan, Yah?” tanya Sam pada ayahnya. “Benar sekali, kau pintar sekali, Sweetie.” Sam terkikik pelan, “Enchanté, Seb!” serunya lagi dengan senyum menawan yang masih merekah di wajahnya. Keceriaan Sam pada akhirnya menular pada Seb, anak lelaki itu tersenyum tipis. Seb tidak menyangka, dia pikir hidupnya telah berakhir beberapa saat yang lalu. Namun, siapa sangka sebuah kehangatan membuatnya kembali hidup dan ingin bertahan hidup.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook