09: A Happy Husband and Wife

2725 Words
(Peringatan! Dalam chapter ini terdapat adegan kekerasan yang akan membuat sebagian pembaca merasa tidak nyaman. Apabila hal itu mengganggu anda, mohon untuk melewatkan bagian tersebut. Jadilah pembaca yang bijak, terima kasih) Pagi itu tak seperti biasanya, ketika membuka pintu biasanya Samantha akan melihat Sebastian berdiri di samping kamarnya penuh kesigapan. Berbeda dengan pagi itu, ia tak melihatnya, jangankan melihat sosok bodyguardnya yang super menawan itu, mencium aroma tubuhnya saja tidak. Kadang Samantha penasaran, parfum apa yang digunakan oleh Sebastian hingga ia memiliki aroma maskulin yang menenangkan sepanjang hari, jadi meski terkadang Samantha merasa jengkel karena diikuti terus menerus oleh Sebastian ia merasa tenang dan aman, mungkin juga karena ia tahu jika Sebastian ada di sekitarnya untuk menjaga dirinya hingga ia tidak perlu cemas. “Selamat pagi, Nyonya Muda.” Seorang pelayan wanita tengah membawa sebuah vas berisi bunga menyapa Samantha. “Pagi Louisa, apa kau melihat bodyguardku?” Samantha tak malu-malu untuk menanyakan keberadaan Sebastian pada sang pelayan atau takut jika akan ada rumor beredar. Lagipula sudah tugas Sebastian berada di sampingnya sejak ia membuka mata sampai hendak tidur. Tapi apa ini? Samantha terdiam sejenak, ia menghela nafasnya, mengapa dirinya begitu gelisah karena keabstainan Sebastian? Apa karena apa yang telah terjadi semalam? Ia merasa takut setelah semua yang terjadi antara dirinya dan juga James tadi malam. Saat mata Samantha terpejam ia masih ingat betapa mengerikannya apa yang terjadi tadi malam, ia tak pernah menyangka jika hal semacam itu akan terjadi padanya. James datang dalam keadaan mabuk berat, sangat berat sampai sopirnya harus membopong James untuk naik ke atas ranjang tempat mereka biasa tertidur. Sebagai seorang istri, Samantha ingin memberikan perhatian yang cukup untuk suaminya. Ia membantu James membuka sepatu hingga kaus kakinya, lalu berusaha untuk melepaskan dasi yang pasti membuat leher James sangat tidak nyaman. Ketika tangan Samantha hampir melepaskan dasi dari leher James, pria itu mendadak membuka matanya. Melihat Samantha ada di hadapannya, matanya merah nyalang penuh amarah, seketika mencengkram pergelangan tangan Samantha. “Apa yang kau lakukan, jalang!” Meski mabuk, James masih bisa mengenali Samantha. Tatapan matanya menyiratkan kebencian yang luar biasa pada Samantha. Hal yang sampai detik ini tidak pernah dimengerti oleh Samantha, mengapa kebencian James begitu besar terhadapnya? Apakah karena pernikahan mereka yang dipaksakan oleh Cornelius atau karena James merasa terancam hanya karena Samantha menduduki sebuah jabatan di perusahaan mereka? Samantha berusaha mengerti tapi rasanya semakin sulit setiap harinya. Seringkali James pulang ke rumah bersama dengan kekasihnya dan mereka b******a di rumah ini. Samantha harus menahan rasa sakitnya setiap kali itu terjadi, karena ia tahu bukan dirinya yang James cintai akan tetapi wanita itu. Cornelius pun bukannya tak melarang James, akan tetapi James benar-benar mengabaikan perkataan Cornelius. Sehingga seringkali Cornelius harus meminta maaf kepada Samantha karena kesalahan James. Hal itu pun sudah menjadi rahasia umum di mansion Cornelius, yang terus menerus coba ditahan oleh Cornelius agar tidak keluar dari pintu rumahnya. “Aku tidak sudi disentuh olehmu!” James menggeram, ia menarik paksa tangan Samantha hingga gadis itu berguling ke sampingnya. Amarah James membawanya menaiki Samantha, ia mengekang kedua tangan Samantha dengan sangat kuat di atas kepalanya. Samantha tak berdaya, meski tak sebesar Sebastian tapi tubuh James yang sedikit dempak membuatnya sangat berat hingga Samantha tak memiliki kekuatan untuk melawan James. “James, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” Ucapan Samantha itu terabaikan oleh James yang gelap mata, bukan melepaskan Samantha ia malah menindih Samantha dengan kuat. “Bukankah kau ingin menyentuhku? Kau ingin aku menyetubuhimu kan? Kau memang jalang sialan!” “Sadarlah! Kau sedang mabuk, James!” Samantha berusaha memohon agar James sadar. Namun, James tampaknya memang tak ingin melepaskan Samantha malam itu, menggunakan tangannya yang bebas ia merobek pakaian Samantha hingga separuh tubuh bagian depannya terpampang . “Aku akan membuatmu menyesal karena berani menyentuhku!” PLAKKK! James melayangkan tangannya dengan keras ke wajah Samantha hingga wajah gadis itu berpaling. Setitik darah muncul di sudut pipinya, James tak peduli melihat bekas telapak tangannya yang besar itu membekas di wajah Samantha. Pria itu semakin dipenuhi oleh emosi, ia menarik wajah Samantha, melihat air mata mulai menggenang membuatnya semakin geram. “Kau pikir air matamu itu akan meluluhkanku? Jangan harap!” “Ja-jamess…” Samantha berusaha bicara tapi lehernya tercekik oleh cengkraman tangan James. “Biar kusentuh tubuhmu seperti yang kau inginkan!” James kembali merobek pakaian Samantha, kini tubuh bagian depan gadis itu terlihat jelas. Sangat jelas hingga membuat amarah James berganti dengan gairah yang membara. Begitu bringas James merobek semua pakaian Samantha, menampar wajahnya berkali-kali dan mencekiknya sampai gadis itu hampir tak bisa bicara. James melakukannya, dengan sangat kasar dan brutal hingga setelahnya Samantha hanya bisa menangis di bawah guyuran air pancuran di kamar mandi. “Nyonya Muda ….” Panggilan Louisa itu memecahkan lamunan Samantha hingga ia terkesiap. Samantha mendongak dan seketika itu juga ia melihat sosok Sebastian telah berdiri di sebelah Lousia, menatapnya penuh selidik. “Tuan Grand sudah datang,” imbuh Louisa sembari melirik ke arah Sebastian. Lirikan yang menandakan ketertarikan terhadap wajah Sebastian yang menawan. Tak ada yang bisa memungkiri jika Sebastian memang sangat atraktif, dengan mata abu-abunya yang sedingin musim salju itu semua wanita—kecuali Samantha—pasti akan terpesona dan terperangkan di dalam dinginnya mata itu. “Baiklah, terima kasih, Lou.” Begitu panggil Samantha pada Louisa, lantas gadis itu kemudian tersenyum pada Sebastian sebelum pergi untuk kembali melaksanakan tugasnya. “Anda mencari saya?” tanya Sebastian penuh rasa penasaran. “Kau mabuk-mabukan?” tanya Samantha yang mencium sedikit aroma alkohol melekat pada tubuh Sebastian. Semalaman Sebastian memang menghabiskan banyak minuman menemani sepupunya yang sedang dilanda kegalauan. Tapi dirinya sendiri terbawa suasana hingga akhirnya ia pun menenggak banyak minuman. Akibatnya, ia tak bisa bangun sepagi biasanya, ketika matanya terbuka pun ia memerlukan banyak waktu untuk menghilangkkan hangovernya. “Hanya minum sedikit,” ucapnya pelan. “Tidak sesedikit itu sampai baunya masih menempel, jika kau tidak berniat bekerja kau boleh berhenti kapan saja.” Samantha menantang, memang itu yang dia inginkan, tidak ada orang yang selalu mengikutinya kapanpun. Tapi … mengapa rasanya aneh, mengapa ia langsung menyesal setelah mengatakannya? Seolah ia tak ingin Sebastian pergi dari sisinya, seolah ia ingin Sebastian ada di sampingnya dan menjaganya. Tak ingin larut dalam pikirannya, Samantha bergegas melangkah pergi. Mendengar hal itu Sebastian mengulurkan tangannya, menarik lengan Samantha hingga tubuh gadis itu berputar berbalik ke arahnya. Hingga scraf yang digunakan oleh Samantha untuk menutupi lehernya terlepas dan menunjukkan luka akibat cengkraman James semalam. Hal itu pun tertangkap oleh mata Sebastian, pria itu sangat terkejut hingga melebarkan matanya. Menyadari arah pandangan Sebastian tepat di lehernya yang memar, Samantha langsung menutup kembali lehernya menggunakan scrafnya, tak ingin seorang pun tahu kekejaman apa yang telah ia alami semalam bahwa dirinya telah dilecehkan oleh suaminya sendiri. “Siapa yang melakukannya?” suara Sebastian menjadi begitu dalam dan serak. Samantha memalingkan wajahnya yang mulai panas dan matanya yang mulai memerah. Dalam hatinya ia ingin berteriak pada Sebastian bahwa James telah membuatnya terluka, tapi mulutnya bungkam. Samantha tak bisa melakukannya, Samantha berusaha melepaskan tangan Sebastian dari lengannya tapi genggaman Sebastian lebih kuat. “Katakan siapa pelakunya!” Samantha juga ingin memberitahu Sebastian, tapi dia tidak bisa melakukannya dan mempermalukan dirinya sendiri jika dirinya tidak memiliki harga diri di depan suaminya. Samantha tak ingin Sebastian tahu jika harga dirinya telah dihancurkan oleh suaminya sendiri. “Ini bukan urusanmu, tolong lepaskan tanganmu, jangan melewati batas!” Samantha berkata tegas dengan menahan air mata yang mulai mendesak keluar. “Sam ….” Saat itu juga, detik itu juga, Samantha menoleh ke arah Sebastian, ia sangat familiar dengan panggilan itu. Hanya ada beberapa orang yang memanggilnya seperti itu, lantas bagaimana Sebastian tahu panggilannya dan mengapa jantungnya berdebar kencang tak karuan saat namanya terlontar dari bibir Sebastian dengan cara seperti itu. Mungkin hanya kebetulan semata, begitu Samantha meyakinkan dirinya sendiri. Ia meyakini banyak kemungkinan terjadi dalam sebuah kebetulan, termasuk bagaimana caranya Sebastian memanggilnya dan mengapa itu terasa sangat akrab di telinganya. Ya, mungkin itu hanya kebetulan semata. * Kantor walikota hari ini dipenuhi oleh banyak orang dari berbagai kalangan, hari ini adalah peresmian sebuah kantor walikota setelah direnovasi sehingga banyak penduduk yang diundang. Namun dari sebagian yang diundang, banyak dari mereka adalah kalangan pengusaha yang menempatkan operasional mereka di sini, selain itu kalangan sosialita pun hadir di sini. “Aku tidak ingin kau mempermalukanku,” bisik James sembari meremas keras paha Samantha. Ucapan itu meski dikatakan lirih dapat terdengar oleh Sebastian yang duduk di samping sopir. Pria itu berusaha menahan emosinya, setelah tidak mendapatkan jawaban dari Samantha tentang bekas memar di lehernya ia semakin yakin jika James adalah pelakunya. Entah apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh James hingga leher Samantha terluka seperti itu. Namun Samantha memilih untuk diam, seandainya saja Samantha mengatakan satu kata saja, memerintahkannya untuk menghajar siapapun yang melukainya maka dengan senang hati ia akan melakukannya. Dari kaca tengah mobil, Sebastian memperhatikan interaksi sepasang suami istri yang tak pernah tampak serasi sama sekali itu. Bagaimana mereka bisa terlihat serasi jika Samantha tampak sangat mengagumkan dengan rambut pirang madunya sementara si suami malah bertubuh dempak dengan wajah murung setiap saat. Jangankan dari wajah, dari pemilihan pakaian saja mereka sangat bertolak belakang. Sebastian sangat tahu jika Samantha sangat tidak suka menggunakan dress seperti itu, gadis itu terlalu bebas untuk terkungkung dalam aturan sosial yang mengharuskannya berpenampilan sempurna layaknya sosialita, tapi demi citra hubungannya dengan James, ia melakukannya. “Apa kau mendengarku?!” desis James di dekat telinga Samantha. Dari kaca Sebastian bisa melihat jika Samantha sangat tidak nyaman di dekati oleh James, ia hanya bisa mengepalkan tangannya menahan segala gejolak amarah. Jika amarahnya meledak ia tidak akan ragu untuk melemparkan James keluar dari mobil. “Kita sudah sampai.” Sebastian sengaja menginterupsi James, ia langsung keluar membuka pintu berjalan memutar untuk membukakan pintu Samantha. “Silakan.” “Terima kasih.” Samantha menatap Sebastian sebentar, ia merasa tak enak hati karena tidak menjawab pertanyaan Sebastian. Ia lebih memilih untuk diam, tak ingin masalah keluarganya keluar dari kamar pribadi mereka. Di sisi lain, Cornelius keluar dari mobil yang berbeda di depan mereka. Pria itu benar-benar sangat luar biasa, pada usianya yang tak lagi muda ia terlihat masih gagah. Cornelius melihat ke arah Samantha, lebih tepatnya ia memperhatikan James. Anaknya itu pun segera melangkah ke samping Samantha, memberikan sikunya untuk digandeng oleh Samantha. Sekilas saja Sebastian langsung tahu tak ada di antara Samantha maupun James yang saling menaruh perasaan. Mereka berdua terhalang oleh tembok kebencian yang sangat luar biasa. Meski begitu, Sebastian mengakui jika keduanya bahkan bisa menutupi tembok besar itu dengan sangat-sangat baik. Sebastian melihat bagaimana keduanya saling memandang seolah ada percikan cinta pada tatapan mata mereka, padahal Sebastian bisa melihat dengan jelas bahwa cinta itu tak pernah ada di antara mereka. Meski demikian, rupanya kedatangan mereka cukup ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang diundang oleh Pak Walikota. Tatapan para tamu mengarah ke mereka saat keduanya mulai memasuki ruangan pesta peresmian. Banyak dari mereka yang menyukai kebersamaan keduanya. “Meski mereka dijodohkan, ternyata mereka sangat serasi.” “Sepertinya mereka saling mencintai, lihat tatapan mata James.” “Beruntung sekali Samantha ….” “Madison kehilangan ikan besar.” Satu nama itu menyentil pendengaran Sebastian, ia tidak hanya menyelidiki tentang Samantha seorang akan tetapi juga seluruh keluarga Sullivan. Madison sangat berperan penting dalam hubungan James dan Samantha yang rusak, gadis itu adalah putri seorang wakil walikota, gadis yang cukup populer di kalangan sosialita meski umurnya baru saja menginjak dua puluh tiga tahun, ia baru menyelesaikan sekolahnya di Harvard, dan seorang gadis yang menjadi kekasih gelap James. Demi menjalankan tugasnya, Sebastian memperhatikan sekelilingnya. Rupanya bukan hanya pasangan Sullivan yang menjadi pusat perhatian, tanpa ia sadari sosoknya yang rupawan, gagah, tinggi, dan terlihat sangat dingin itu mencuri perhatian yang harusnya disorot pada pemeran utama. Tapi kebanyakan para wanita kalangan atas itu memperhatikan setiap gerak Sebastian yang sangat … atraktif. “Oh, shoot,” umpatnya pelan setelah melihat salah satu dari sekian banyak kalangan sosialita itu adalah ibunya. “Dia benar-benar kemari,” batinnya lagi. Setelah memastikan bahwa wanita bergaun hitam itu benar-benar ibunya, Sebastian yang cukup panik itu memalingkan wajahnya dengan harapan bahwa ibunya tak akan ikut-ikutan memperhatikan kedatangan pasangan Sullivan ini. Tapi ini tidak akan bertahan lama, ia harus pergi sebelum ibunya melihat keberadaannya di sini. “Nyonya Muda, saya harus pergi ke toilet. Tidak lama.” Tanpa menunggu jawaban, Sebastian langsung pergi begitu saja. Sementara Samantha memperhatikannya tak rela. Sebastian berusaha untuk keluar dari kerumunan orang-orang kaya itu, jalannya cukup membuatnya kuwalahan padahal dirinya harus segera pergi dari ruangan ini sebelum sang ibu menemukannya. Pasti akan mudah untuk menemukannya di antara orang-orang ini karena bentuk badannya yang tinggi, itulah sebabnya mengapa Sebastian ingin segera pergi. “Kau akan menghindari ibu?” Langkah Sebastian berhenti langsung. Dia membeku di tempatnya. Tak ingin menoleh ataupun membuat gerakan sekecil apapun. Namun ia bisa mendengar suara heels ibunya yang mengetuk lantai meski banyak sekali suara di sekitar mereka, hal itu menandakan jika ibunya sedang berjalan ke arah Sebastian dan kemungkinan besar akan berjalan ke depan Sebastian untuk menghadangnya. “Apa ini caramu bekerja, Sebs?” Wanita yang super cantik itu kini ada di hadapan Sebastian. Usia benar-benar tak bisa memakan wanita itu, dari penampilannya saja orang-orang tidak akan percaya jika wanita itu memiliki dua anak yang usianya sudah sangat dewasa. Sayangnya, Sebastian bukan anak kandungnya. Matilda Macalistaire adalah adik dari ayah Sebastian, sejak kematian orang tua Sebastian, dialah yang merawat Sebastian bersama dengan dua anaknya yang lain, Alma dan Denver. Sehingga Sebastian pun menghormatinya layaknya ibu kandungnya sendiri. “Ibu, bisakah kita bicara di tempat lain?” “Di mana? Di kantor Garnet atau di rumah Tuan Cornelius?” tanyanya lirih. “Ibu ….” Matilda menepuk pundak Sebastian sembari terkekeh pelan. “Tenanglah … Ibu tak akan mengungkap identitasmu. Jadi tidak perlu menghindariku.” Memang Matilda adalah yang terbaik, ia sangat menyayangi Sebastian layaknya anaknya sendiri, bahkan bisa dikatakan Sebastian adalah anak emasnya. Ia menyayanginya melebihi dua anak kandungnya sendiri. “Aku sangat menyayangi ibu,” bisik Sebastian pada Matilda. “Kembalilah ke tempatmu atau dia akan curiga … sejak tadi dia menatapmu.” “Sam?” Sebastian hampir tak percaya dengan ucapan ibunya, karena selama ini Samantha selalu bersikap dingin padanya. Rasanya tak mungkin jika Samantha menatapnya. “Sam?” Matilda tak asing dengan nama itu. “Ceritanya panjang, aku akan kembali.” “Kembalilah … kurasa anak wakil walikota itu akan—Oh tidak!” seru Matilda saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri cairan wine itu terguyur ke wajah cantik Samantha. Melihat ibunya yang terkejut, Sebastian seketika menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi. “Ya Tuhan.” Seketika itu juga Sebastian pun langsung melangkah cepat, membelah kerumunan yang mulai mendatangi tempat Samantha dan Madison. Sebastian benar-benar kesal karena hanya untuk menggapai Samantha saja begitu sulit, ia hanya ingin melindungi perempuan itu tapi kenapa rintangannya serasa seperti melewati gunung berbatu. Sialan. “Ouh, maafkan aku … aku sungguh-sungguh tak sengaja.” Suara Madison yang manja itu terdengar sampai ke tempat Sebastian yang masih berjuang untuk keluar dari tempatnya. Ia bisa melihat orang-orang sedang menunggu reaksi dari Samantha, apakah Samantha akan marah atau memilih untuk memasang topeng dan mengatakan semua baik-baik saja. Karena hampir separuh orang yang ada di sini tahu hubungan James dan Madison. “Tidak—” Sebastian tahu, Samantha memilih memasang topengnya untuknya melindungi nama Cornelius. Akan tetapi Sebastian lebih cepat, ia tak akan membiarkan Samantha mengucapkan satu pun kata yang akan membuat harga dirinya semakin terluka. Sebastian melepaskan setelan jasnya untuk menutupi tubuh Samantha yang tersiram air. “Jangan katakan apapun,” ujar Sebastian, setelahnya ia membawa Samantha pergi dari tempat tersebut menuju ke toilet untuk membersihkan pakaian dan riasan Samantha. Cukup lama Sebastian menunggu di depan toilet wanita, ia tak memperkenankan siapapun masuk ke dalam toilet saat mendengar Samantha menangis di dalam toilet. Ia sendiri tak bisa masuk untuk memberikan ruang pada Samantha agar gadis itu lebih tenang. Setelah sekitar setengah jam kemudian, Samantha akhirnya keluar. Terlihat matanya sembab, riasannya tak lagi seperti awalnya tapi tetapi tetap bisa menutupi memar-memar di wajahnya hingga Sebastian tak pernah tahu memar di sudut bibir dan matanya. “Apakah anda ingin kembali ke rumah?” tanya Sebastian. “Untuk apa, aku tidak melakukan apapun.” Samantha menegakkan dagunya, ia kemudian melangkah di depan Sebastian dengan rasa percaya diri yang cukup untuk membuat semua wanita iri pada kepercayaan dirinya. Di belakangnya, Sebastian tersenyum, ia bangga bisa mengawal seseorang yang kuat dan tangguh seperti Samantha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD