Hidung Sebastian mengernyit ketika ia membaui aroma cairan keruh berwarna merah keunguan yang ada di dalam gelas. Hari ini, ia pergi berkeliling pabrik pembuatan wine milik keluarganya di pinggiran kota. Bersama dengan sekertaris barunya, Maya Fernandez, ia pergi mengunjungi salah satu pabrik pembuatan wine. Bukan asal saja Sebastian pergi untuk melakukan sidak dadakan ini, sebelumnya Sebastian telah memeriksa semua hal tentang perusahaan kakeknya, produk apa saja yang dihasilkan, lantas bagaimana ulasan konsumen tentang produk mereka.
Rupanya ada beberapa produk yang mendapatkan ulasan kurang baik dari konsumen mereka, melihat dari laporan tahunan produk tersebut selalu mengalami penurunan penjualan. Sehingga Sebastian merasa perlu untuk memeriksa sendiri apa yang sebenarnya menjadi kendala produknya tidak berkembang dengan baik di pasar.
“Di mana letak bahan bakunya berada?” tanya Sebastian dengan nada dingin menusuk.
Di belakangnya adalah direktur pabrik serta beberapa pimpinan pabrik yang bertugas mengawasi operasional pabrik, mereka saling menatap karena bingung dengan permintaan Sebastian. Tak ada pimpinan atau pun utusan yang berasal dari kantor pusat yang melakukan sidak secara mendadak dan meminta untuk menunjukkan tempat penyimpanan bahan baku.
“Tentu saja bahan baku kami simpan di ruang pendingin, Tuan.”
“Bisakah kau menunjukkannya padaku? Selain itu aku juga ingin melihat proses pembuatan awal dari wine mengerikan ini ini.” Gelas berisi wine itu disodorkan Sebastian ke muka direktur pabrik, Deryl Frank.
Saat aroma menguar dari gelas itu menusuk penciuman Deryl, keningnya langsung berkerut dalam dan ia merasa mual. Deryl tak pernah mencium aroma seburuk ini dalam hidupnya. Mengerikan, seperti kubangan kotoran yang dijadikan satu dalam mangkuk yang kecil ini.
“Kurasa ada yang salah dengan wine yang kalian buat, kita memiliki dua produk utama dan tiga produk sampingan, aku mengerti jika kalian hanya fokus pada produk utama tapi ini … apa ini? Kalian membuat sampah!” Sebastian menyorongkan gelas itu ke tubuh Deryl, cairan di dalamnya bergejolak hingga tumpah di kemeja putihnya dan menimbulkan bercak berwarna kemerahan.
“Aku ingin melihat semua proses dan bahan bakunya, sekarang!” Sebastian berkeras, ia tidak akan membiarkan kecurangan terjadi di dalam perusahaannya. Sekecil apapun itu ia akan memperbaikinya.
Ketakutan dengan aura yang menguar di sekitar tubuh Sebastian, seolah pria itu begitu kejam, bawahannya pun gemetar ketakutan, mereka tak tahu lagi harus seperti apa untuk menghindari amukan Sebastian. Mereka tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Sebastian dan menunjukkan segalanya yang ada.
Semakin Sebastian melihat semuanya, dari bahan baku hingga proses pembuatan Wine di pabriknya, ia semakin kesulitan untuk mengendalikan amarahnya sendiri. Berkali-kali Sebastian melonggarkan dasi yang ia kenakan, rasanya ia tak bisa bernafas jika dasi itu masih melingkar di lehernya. Puncaknya, Sebastian menghela nafasnya, berusaha sekuat tenaga untuk meredam amarahnya, ia menatap satu per satu orang-orang yang telah bekerja dengan perusahaan keluarganya cukup lama itu.
“Mengapa kalian melakukan ini? Menggunakan anggur kualitas buruk dan menyimpannya dalam ruang pendingin, apa kalian sudah sinting?!” Sebastian tidak mengatakannya dengan amarah yang meledak, tapi suaranya teredam dengan geraman yang tertahan. Seandainya ia tidak teringat apa kata sang ibu, maka ia pasti sudah memecat semua orang yang ada di hadapannya saat ini.
“Kami hanya melaksanakan perintah.”
“Siapa yang memberi perintah pada kalian?” Sebastian benar-benar berada di ambang batas kesabarannya. Jika memang ada orang yang berusaha mempermainkan perusahaannya demi keuntungan pribadi.
Ketakutan yang menyelimuti setiap orang di hadapan Sebastian membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi dingin dan semakin dingin. Bahkan tatapan tajam Sebastian tampaknya bisa membelah leher tiap orang yang ada di sana. Di sisi lainnya Maya begitu memperhatikan bosnya, ia terpesona oleh kharisma Sebastian yang tegas di hadapan bawahannya.
“Baiklah ….” Sebastian memecah keheningan yang telah membekukan ruangan. “Jika kalian memilih bungkam, aku akan mencari sendiri. Tapi ….” Sebastian menegakkan kepalanya, menatap setiap orang begitu tajam dari balik bulu mata lentiknya, tatapan yang begitu mengintimidasi.
“Jika aku menemukan dalang dibalik semua ini, jangan harap kalian bisa hidup dengan tenang.”
Begitu mengintimidasi sampai membuat semua orang gemetar dan salah seorang di antara mereka akhirnya memilik untuk berlutut, memohon belas kasih Sebastian untuk memaafkannya. Deryl dan manajer pabrik, menatap orang tersebut dengan gelisah. Mereka takut jika orang itu akan membuka mulut dan membongkar semuanya.
“Saya tidak bersalah, saya tidak bersalah, Tuan Macalistair.”
Sebastian menatap orang yang memohon itu dengan tatapan penuh cemoohan, orang seperti itu hanya mementingkan dirinya sendiri, orang yang tak setia. Namun, Sebastian berusaha untuk memakluminya, begitulah sifat dasar manusia, dalam keadaan terdesak mereka akan egois, mereka akan berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri dan menyingkirkan kesetiaan.
“Maya.” Sebastian memanggil sang sekertaris yang sedari tadi berdiri mengawasi setiap hal yang ada di dalam ruangan ini.
“Iya, Tuan.”
“Berikan dia uang pesangon, aku tak ingin melihatnya lagi menghirup udara di perusahaan ini.”
Satu kalimat yang berhasil membuat orang tersebut luluh lantak, ia menyesal karena telah membuka mulutnya, meski ia memohon berderai airmata, Sebastian sama sekali tak peduli. Pria itu melenggang pergi meninggalkan para pegawainya yang tenggelam dalam ketakutan abadi.
Sampai di dalam mobilnya, Sebastian langsung menyandarkan punggungnya di jok penumpang. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam, tak menyangka jika menerima tantangan dari kakeknya rupanya sesulit ini, menyesal ia pernah menantang sang kakek untuk membuat anak perusahaan mereka di California akan berkembang pesat. Padahal saat hari pertama datang ke perusahaan, banyak orang yang meremehkannya karena ia tak memiliki latar belakang pendidikan bisnis atau pengalaman yang baik, ia hanya mantan tentara, hanya seorang veteran perang. Kini melihat dengan mata kepalanya sendiri jika pabriknya pun turut bermasalah membuat Sebastian harus berusaha ekstra keras untuk menahan sifat tempramennya.
Belum usai ia melepaskan penatnya, dering ponsel yang kencang dan sangat menuntut itu membuat Sebastian tak memiliki pilihan lain selain mengambil ponsel di saku celananya dan melihat siapa nama pemanggilnya. Ketika tertera nama Garnet di layar ponselnya, Sebastian langsung mematikannya. Tak peduli apa yang diinginkan oleh Garnet, jika itu adalah hal yang penting sepupunya tak akan menyerah.
Dugaannya benar, Garnet tidak menyerah, rasanya Sebastian perlu menyematkan nama itu sebagai nama tengah Garnet. Pasti akan terdengar lebih baik—Garnet-Tidak Mudah Menyerah-Giovanni. Akhirnya, Sebastian mengalah lalu mengangkat panggilan telfon dari sepupunya.
“Hmmm.” Sebastian sangat malas untuk menjawabnya, baru saja ia menerima panggilan secepat itu pula ia ingin mengakhirinya.
“Apa yang membuat suaramu begitu tidak bersemangat? Apakah sekertarismu tidak terlihat cantik hari ini?”
Sebastian memutar bola matanya kesal, ia mendengus cukup kencang dan itu terdengar sampai pada Garnet.
“Hentikan dengusan nafasmu itu, Dude! Kau membuatku merinding!”
“Apa yang kau inginkan?” tanya Sebastian.
“Aku menemukan orang yang kau cari,” ujar Garnet.
Mendengar hal itu rasa lelah Sebastian mendadak sirna, semula dirinya bersandar pada jok mobilnya kini ia duduk tegak dengan mata berbinar.
“Benarkah?”
“Iya, Francois Rosamund. Pemilik kebun anggur terluas di California.”
“Ya, benar sekali … berikan aku aksesnya, aku ingin bertemu dengannya.”
“Wait … kenapa kau terdengar sangat bersemangat, ada apa antara kau, Sebastian Macalistair yang begitu acuh tak acuh dengan Tuan Francois Rosamund? Bukan untuk kerja sama, ‘kan?”
“Kau terlalu banyak bicara, berikan saja aku aksesnya.” Sebastian mulai menggeram, ia tak terbiasa dengan hal yang bertele-tele.
“Apa kau tidak ingin tahu sesuatu tentang Tuan Francois Rosamund?”
Kening Sebastian berkerut, ia mengingat kembali masa kecilnya, masih jelas dalam ingatannya tentang pria bernama Francois Rosamund itu, pria yang sangat hangat, penyayang, selalu memiliki suasana hati yang baik. Sebastian masih ingat betapa jeleknya suara Francois saat menyanyi, tapi anehnya ia malah terhibur, apalagi putrinya ikut menyemarakkan nyanyian sang ayah hingga membuat suasana menjadi ceria.
“Apa?” Sebastian tergelitik untuk mengetahui apapun tentang Francois, bukan hanya itu tujuannya, ia ingin mencari tahu juga tentang putrinya.
“Putri tunggal Tuan Francois adalah menantu pengusaha wine terbesar yang menjadi saingan perusahaanmu.”
Mata Sebastian melebar ketika mendengar ucapan Garnet, ada perasaan tak nyaman muncul di dalam hatinya, seperti kulit yang baru saja dicubit, begitulah rasanya. Namun Sebastian berusaha untuk mengendalikan dirinya, ia ingin memastikan sendiri kebenarannya.
“Tidak hanya itu,” imbuh Garnet yang belum selesai bicara. “Ayah mertuanya, Tuan Cornelius meminta jasaku untuk menyiapkan seorang bodyguard untuk menjaga menantunya itu. Aku ingatkan padamu, jangan terlibat terlalu dalam dengan orang ini, Dude. Keluarga mereka complicated.”
Sebastian terpaksa memijit batang hidungnya karena ia lelah mendengar ocehan Garnet yang panjang dan lebar itu. Kadang ia merasa heran, darimana asalnya kekuatan Garnet hingga ia bisa berbicara sebanyak itu.
“Aku tahu apa yang aku lakukan, Giovanni. Just Mind Your Business.”
::
Garnet menatap sepupu yang telah menjadi sahabatnya itu penuh kecurigaan. Masih ingat dalam benaknya bagaimana Sebastian memintanya untuk memikirkan urusan masing-masing, tapi sekarang, saat ini, di depannya, Sebastian duduk dengan wajah angkuhnya, memohon pada Garnet. Jika permohonan itu adalah hal yang masuk akal, Garnet pasti akan dengan mudah menurutinya, tapi apa yang diingikan oleh Sebastian adalah hal yang sangat … mustahil untuk diberikan.
“Kau bilang kau bisa melakukan apa saja.”
“Memang,” balas Garnet dengan sombongnya.
“Lalu?”
“Apakah menurutmu itu mungkin?”
“Mungkin saja, kau tahu latar belakangku, apa lagi yang kau butuhkan.”
“Kompetensi! Kompetensi, bro! aku tidak melakukan nepotisme.” Garnet berapi-api, ia merasa jika dirinya adalah pejuang demokrasi yang sangat jujur dan bersih. “Meski kau sepupuku yang paling aku cintai—” Tak sempat Garnet menyelesaikan kalimatnya, Sebastian memotong ucapannya begitu saja.
“Kuberikan lima puluh persen sahamku di perusahaan, bagaimana?”
“Deal!” Bahkan Garnet tidak berpikir dua kali untuk menerima suap dari Sebastian.
“Aku tidak melakukan nepotisme, tapi aku menerima suap.” Sebastian meniru cara bicara Garnet sembari terkekeh pelan yang disambut gelak oleh Garnet.
“Hanya mengambil peluang, bukankah itu yang harus kita lakukan untuk mendapatkan banyak keuntungan.”
“Dasar sinting!”
Bertambahlah gelak tawa Garnet melihat wajah Sebastian yang dibalut kesal dan geli itu. Setelahnya ia memanggil Rebeca untuk masuk ke dalam ruangannya, sementara Sebastian menikmati kopi yang disuguhkan padanya.
Masuknya Rebeca ke dalam ruangan Garnet itu cukup menarik perhatian Sebastian hingga ia melirik gadis itu dari balik cangkir kopinya. Sebastian penasaran, gadis seperti apa yang membuat Garnet bisa menurut padahal sebelumnya sama sekali tak pernah mendengarkan kata siapapun. Jika dilihat secara fisik, Rebeca adalah gadis yang cantik, pembawaannya ceria, cerdas, bisa mengimbangi Garnet yang banyak bicara.
“Ada apa, Pak?”
“Buatkan berkas kandidat untuk Tuan Sebastian Macalistair.”
“Maksudnya?” tanya Rebeca yang tidak begitu paham, karena biasanya orang datang ke kantor mereka untuk meminta jasa, tapi ini berbeda.
“Dia ....” Garnet menggunakan jari tengahnya untuk menunjuk sepupunya. “Dia akan menjadi kandidat bodyguard kita, jadi tolong urus semuanya, jadikan dia kandidat terbaik di perusahaan ini.”
“Begitu rupanya, baiklah, itu perkara yang mudah. Hanya itu saja?” tanya Rebeca lagi seolah ia menantang kemampuan Garnet.
“Ubah nama belakangnya, apapun yang terlintas di kepala kecilmu, jadikan itu nama belakangnya.” Mendengar hal itu Sebastian tersedak oleh kopinya sendiri, beberapa percikan membuat pakaiannya menjadi kotor.
“Kau tidak serius, Giovanni!”
“Oh, dia sangat serius, Tuan Sebastian.”
“Kalian berdua sama-sama sinting.”
Keduanya—Garnet dan Rebeca—tertawa secara bersamaan, membuat Sebastian semakin yakin jika mereka bukan hanya sebagai atasan dan sekertaris, Garnet jatuh cinta pada Rebeca.
::
Ruangan yang bercahaya remang dan cukup sunyi itu menjadi teman Sebastian untuk memeriksa dokumen milik Samantha yang diberikan oleh Garnet padanya. Rupanya benar apa yang dikatakan oleh Garnet sebelumnya, Samantha telah menikah dengan putra seorang konglomerat terkaya di California. Mengetahui hal itu Sebastian berusaha untuk mengendalikan gejolak aneh yang muncul di dalam dadanya, ia tak seharusnya memiliki perasaan semacam ini pada istri seseorang, ia ingin melupakan perasaan yang telah tertanam dulu.
Sebastian membalikkan lembaran dokumen tersebut, ia mencari tahu apa penyebabnya Cornelius menginginkan bodyguard untuk menantunya, bukan hanya bodyguard biasa yang mereka miliki tapi bodyguard dari perusahaan lainnya.
Tatapan mata Sebastian tak bisa lepas dari sebuah gambar yang menunjukkan potongan-potongan cctv. Gambar itu tidak terasa asing baginya, lantas untuk memastikan kembali apa yang dia pikirkan dibukalah halaman-halaman selanjutnya, ia melihat beberapa foto wajah Samnatha yang membiru di beberapa bagian.
Melihat hal itu, tangan Sebastian terhenti, gemetar memegang lembaran dokumen, ada amarah di dalam hatinya yang bergejolak, menuntut untuk diluapkan. Perasaan tak rela meliputi hati Sebastian, ia benar-benar kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini. Sebastian menutup lembaran dokumen itu, ia membutuhkan udara segar, balkon adalah satu-satunya tempat yang paling dekat untuk mendapatkan udara segar. Sebastian pergi ke sana, angin menerpa wajahnya saat ia membuka pintu yang menghubungkan antara ruangannya dengan balkon.
Dalam-dalam Sebastian menghirup udara segar, nyatanya itu pun tak cukup untuknya menenangkan pikiran. Sebastian merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan bungkus rokok, satu batang rokok dikeluarkan dari tempatnya lalu ia menyalakan korek dan membakar ujung rokok hingga serupa bara.
“Samantha … Kuharap ini bukan dirimu.”
Sebastian berharap dalam kemustahilan, karena jelas-jelas Samantha yang ia tahu dan Samantha yang menjadi menantu Cornelius adalah orang yang sama.