02: The Bruises Stay

2277 Words
Kaca rias itu memantulkan tampilan wanita dengan rambut pirang madu yang bergelombang indah jatuh di antara bahunya. Cermin itu memantulkan segala hal yang dia dapatkan dari objek apapun yang ada di depannya, termasuk juga wajah elok Samantha. Terpaksa keelokan itu kini harus ditutupi oleh memar kebiruan di sudut matanya, di tulang pipinya, bahkan di sudut bibirnya juga ada bekas memar kebiruan yang belum hilang sepenuhnya. “Erghhh….” Samantha meringis pelan ketika tangannya menyentuh bagian memar, ia berusaha menutupi memar itu menggunakan foundation. Sudah sejak satu jam yang lalu, Samantha duduk di hadapan kaca rias berukuran sedang itu, bergulat dengan riasan wajahnya, ia juga harus sangat berhati-hati saat menekankan setiap riasan ke wajahnya. Sekali saja bagian memarnya tersentuh ringan, rasanya akan menyengat hingga membuat kening gadis itu mengkerut dalam. “Seharusnya kau minta saja penata rias untuk menutupi semua luka di wajahmu itu, tidak perlu repot-repot sendiri melakukannya.” Suara James menyebrang hingga ke telinga Samantha. Menggunakan kaca di depannya, Samantha bisa melihat sosok suami yang membencinya setengah mati itu. James sedang berdiri di depan kacanya sendiri, mengenakan setelan berwarna burgundy yang sangat tidak cocok dengan warna kulitnya yang agak gelap. James berusaha untuk mengikat dasinya, tapi beberapa kali mencoba dasi yang terpasang di lehernya itu terlihat berantakan. Samantha geli melihat suaminya yang tak bisa memasang dasi, tapi ia segera mengalihkan pandangannya kembali pada dirinya. James tidak suka jika Samantha terlibat terlalu dalam, jadi tak ada gunanya untuk membantu membetulkan letak dasi itu, bahkan memikirkannya saja Samantha enggan. “Mereka akan bergossip tentang kita.” Samantha menghela nafasnya, kemudian berusaha kembali memperbaiki riasannya untuk yang terakhir. Merasa telah selesai, Samantha memperhatikan setiap lekukan yang ada di wajahnya, memastikan tak ada memar yang tertinggal di sana. Foundation yang ia gunakan cukup berhasil untuk menipu mata dunia, menutupi bekas memar di wajah Samantha dengan sangat sempurna. “Sejak kapan kau mempedulikan kita?” James melenggang menuju ke ruang kerjanya mengambil tas kerja. “Aku hanya menghormati ayah.” Samantha menjawab pelan, karena yang ada dalam pikirannya hanyalah untuk menjaga nama baik Cornelius. Bagaimana pun, ayah mertuanya itu adalah penyelamat bagi dirinya dan ayahnya, saat ayahnya mengalami kritis dan membutuhkan pertolongan, Cornelius hadir dalam hidupnya dan mengulurkan tangannya untuk membantunya. “Akan lebih baik jika kau mempertahankan sikapmu ini.” Seperti biasanya, James yang selalu membencinya akan pergi begitu saja. Tidak pernah menganggap kehadiran Samantha dalam hidupnya. Bahkan Samantha masih ingat betul malam pertama pernikahan mereka, alih-alih melakukan dansa pertama dengannya, James menghilang begitu saja seolah-olah pernikahan itu tidak ada artinya. Samantha tak berpikir bahwa pernikahan mereka berarti, tapi setidaknya apa salahnya berpura-pura hanya satu malam demi menjaga nama baik Cornelius. Hal yang paling tidak terlupakan pula oleh Samantha adalah mungkin ia satu-satunya wanita di dunia ini yang memergoki suaminya, pria yang baru saja bersumpah setia di hadapan pendeta dengannya, tengah asik b******a dengan seorang wanita di kamar pengantin mereka. Samantha tak bisa merasa sakit hati, ia bahkan tak mencintai James, jangankan untuk mencintai James, ia bahkan hampir tak mengenal James, yang Samantha tahu James dulu adalah kakak kelasnya di sekolah, anak populer, kapten tim basket yang digandrungi oleh banyak gadis, dan tentunya ia mengencani hampir separuh populasi perempuan di sekolah mereka dulu. Hanya sebatas itu, jadi saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, Samantha tak terkejut sama sekali. Ia malah memilih untuk pergi dan mencari kamar lain lalu tertidur hingga pagi. Tok Tok Tok Ketukan pelan dipintu menarik Samantha dari lamunannya, secara refleks ia menoleh dan mendapati Adrian, Sekertaris pribadi Cornelius sedang berdiri di ambang pintu. Mata Samantha bergerak ke seluruh ruangan mencari jejak keberadaan James, tampaknya suami pemarahnya itu sudah pergi. “Tuan Cornelius sudah menunggu anda, Nyonya.” “Iya, aku akan segera turun.” Samantha merapikan kembali untuk yang terakhir kali riasannya, menata rambutnya sedemikian rupa untuk berjaga-jaga siapa tau riasan yang dia kenakan luntur sewaktu-waktu karena dirinya bukan orang yang suka menambal riasan seperti yang dilakukan perempuan pada umumnya ketika merasa riasan mereka sudah luntur. “Bagaimana penampilanku?” Samantha bertanya pada Adrian yang masih teguh berdiri di ambang pintu. Memperlihatkan gaun hijau gelap yang dia kenakan pada sang sekertaris sembari memberinya seulas senyum hangat. Pria itu—Adrian Wells—Adalah sekertaris kepercayaan Cornelius dan orang pertama di kediaman Sullivan yang menjadi sahabat Samantha. Pria itu seumuran dengan Samantha, sehingga mereka cukup akrab dan Samantha merasa nyaman dengan Adrian karena pria itu selalu sopan padanya tapi tetap asik saat peran mereka berubah menjadi teman. “Cantik.” Satu kata itu meluncur dari bibir Adrian. “Adrian, coba lihat aku dengan baik …,” paksa Samantha lagi. Adrian tak kuasa menghadapkan pandangannya pada perempuan pemilik rambut pirang madu itu, bukan karena ia takut untuk jatuh cinta, tapi karena Adrian melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wajah yang elok itu babak belur sebelumnya. Setiap kali Adrian ingin menatapnya, bayangan wajah babak belur itu terlintas dalam benaknya. Adrian sangat tak tega melihatnya, terlebih lagi ia juga melihat video penganiayaan itu, sempat jatuh air mata Adrian melihatnya, ia marah dan ingin menghajar para b******n b******k itu dengan tangannya sendiri seandainya Cornelius tak menghalanginya. Adrian percaya pada Cornelius akan membereskan mereka, pria tua itu tidak pernah membiarkan keluarganya tersakiti. “Adrian ….” Terpaksa Adrian pun mendongakkan kepalanya, ia menatap wajah sayu Samantha lekat-lekat. Memang secara sekilas, bekas memar itu tak nampak, Samantha pasti menambahkan banyak riasan ke wajahnya. Tapi, mata itu tak pernah bisa menipu, mata yang menahan rasa sakit. Buru-buru Adrian memalingkan wajahnya, tak ingin mengingat lagi bayangan wajah penuh lebab milik Samantha. “Anda sangat cantik,” jawabnya pasrah. Samantha tersenyum lebar mendengarnya, sedetik kemudian ia merengek kesakitan karena bibirnya masih terasa perih jika ia tersenyum terlalu lebar atau berbicara terlalu banyak. “Seharusnya anda menurut pada Tuan Besar, anda harus dirawat dengan baik.” Samantha menolak dirawat di rumah sakit, ia memilih untuk mengobati lukanya sendiri meski membutuhkan waktu yang lebih lama. Ia bersikeras dan membujuk Cornelius agar dirinya tak harus pergi ke rumah sakit. Pergi ke rumah sakit hanya akan membuat berita di luar semakin tersebar, Samantha tak ingin jika keluarga Sullivan menjadi bahan pembicaraan. “Aku sudah lebih baik, ayo, ayah sudah menunggu.” Samantha berjalan di samping Adrian pergi menemui Cornelius yang sudah berada di meja makan. Tak ada tanda-tanda James di sana, Samantha sudah terbiasa karena James akan melakukan segala cara agar tidak berada dalam satu ruangan yang sama dengannya lebih dari lima belas menit. “Hari ini kita akan pergi ke GG Security.” Suara Cornelius menggema di seluruh meja makan. Hal itu membuat Samantha dan Adrian menaruh perhatian mereka seutuhnya pada pria berusia tujuh puluhan itu dengan seksama. Cornelius masih tampak gagah meski usianya tak lagi mudah, ia masih memiliki sorot mata yang tajam, penilaiannya terhadap banyak hal pun masih sangat baik. “Untuk apa, Ayah?” tanya Samantha sembari mengoleskan selai ke atas roti panggangnya. “Mencarikanmu, bodyguard.” :: Sungguh, memiliki seorang bodyguard tidak pernah ada dalam kamus Samantha. Bahkan memimpikannya saja tidak. Perlakuan istimewa itu seharusnya didapatkan untuk seseorang yang istimewa pula, seperti Ratu Inggris, Putri-Putri Spanyol, Para Presiden, anak-anak konglomerat, bukan orang biasa seperti dirinya. Saking merasa tak pantasnya Samantha bahkan merasa ruangan mewah yang memiliki pemandangan skyview milik CEO dari GG security ini terlalu istimewa untuknya. Samantha benar-benar merasa tak nyaman, rasanya ia ingin sekali pergi dari ruangan itu daripada harus terjebak dalam ruangan ini. “Ayah … apakah semua ini perlu?” Samantha berbisik, seolah-olah jika ia bicara dengan nada bicara normal akan ada seseorang yang mendengarnya. “Semua ini?” Samantha mengangguk pelan, ia menunjuk seluruh ruangan yang dia tempati saat ini. “Ya, semua ini … mencari bodyguard? Aku tidak membutuhkannya.” Samantha berusaha untuk membujuk Cornelius untuk yang kesekian kalinya. Dia benar-benar merasa jika bodyguard yang akan dikirimkan untuknya pasti tak akan berguna sama sekali. “Sudah cukup aku mendengarmu, Nak. Jangan buat aku selalu cemas, aku tidak selamanya bisa hidup denganmu, jadi menurut saja.” Cornelius mengatakannya dengan tegas. Samantha hendak menjawab ucapan Cornelius, pendiriannya masih sama, ia tak ingin ada pria asing yang berkeliaran di sekitarnya. Samantha masih cemas jika ia melihat orang asing, sungguh, ia tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu meski hanya sedetik saja. Kejadian itu benar-benar mengusik ketenangan Samantha bahkan menjelang tidur di malam hari. Sesaat kemudian tepat saat Samantha hendak berbicara seseorang membuka pintu ruangan tersebut. Tampak seorang perempuan bertubuh mungil dengan rambut pirang strawberry bergelombang yang sangat memikat masuk ke dalam ruangan, di belakangnya disusul seorang pria bertubuh gagah dengan rambutnya yang sewarna tembaga masuk ke dalam ruangan itu. “Tuan Sullivan, maaf membuat anda lama menunggu.” Pria itu segera menjabat tangan Cornelius dan memberikannya pelukan singkat, setelahnya ia beralih pada Samantha. Pria itu menatap Samantha dari ujung kepala hingga ujung kaki sekilas, lalu mengulas sebuah senyum di wajahnya dan mengulurkan tangannya pada Samantha. “Garnet Giovanni, saya adalah CEO perusahaan ini, Nona ….” “Samantha,” balas Samantha singkat sembari menjabat tangan Garnet. Dengan penuh paksaan, Samantha pun harus melengkungkan bibirnya demi mengubahnya menjadi bentuk senyuman. Dalam hatinya ia berharap semoga senyumannya tidak berubah menjadi seringaian yang mengerikan. “Baiklah sebaiknya langsung saja ya, Tuan Cornelius. Seperti pertemuan kita yang terakhir … saya sudah mempelajari berkas-berkas dari Nona Samantha, sehingga sekertaris saya sudah mempersiapkan beberapa dokumen beberapa calon kandidat yang pantas untuk menjadi bodyguard nona Samantha.” Garnet menjelaskan penuh wibawa. Rebeca kemudian menyerahkan dokumen yang ia tenteng kepada Samantha. Terdapat tiga kandidat yang terbaik di perusahaan mereka, kandidat-kandidat ini memiliki biaya yang paling mahal di antara bodyguard lainnya karena latar belakang mereka yang luar biasa. Tak sembarangan orang yang memilih mereka untuk dijadikan sebagai bodyguard mereka. “Tanpa mengurangi rasa hormatku pada anda, Tuan Giovanni. Sebenarnya saya sama sekali tidak membutuhkan seorang bodyguard.” Sampai akhir Samantha masih bersikeras pada pendiriannya. “Menurut anda, siapa di antara ketiga orang ini yang paling bisa kupercaya.” Berbeda dengan Samantha yang sama sekali tak menginginkan hadirnya seorang bodyguard di sampingnya, Cornelius bahkan sudah melihat tiga dokumen pemberian dari Rebeca. Dari ketiga dokumen itu ada satu orang yang membuatnya sangat tertarik, seseorang dengan bekas luka di alis bagian kanannya sehingga membuat alisnya terbelah, seorang dengan wajah kokoh dan pandangan mata yang tajam. Garnet sempat bingung karena mertua dan menantu ini tak memiliki kesepakatan dalam pengambilan keputusan. “Bagaimana kalau kalian membicarakan masalah ini terlebih dahulu?” tanya Garnet yang berusaha untuk sebuah solusi, ia tak ingin terlibat dalam pertikaian rumah tangga seseorang. “Mencari bodyguard adalah keputusanku, anakku tidak memiliki suara dalam hal ini,” ujar Cornelius bahkan tanpa menatap ke arah Samantha. “Baiklah kalau begitu, saya akan memanggilkan kandidat terbaik seperti yang anda minta.” Garnet memberikan isyarat pada Rebeca untuk memanggilkan kandidat yang dimaksud. Setelah Rebeca keluar, Garnet bersandar pada kursi, tatapan matanya mengarah pada Samantha, ia bisa melihat jika gadis itu sangat keberatan dengan keputusan ayah mertuanya, tapi bukan itu yang menarik perhatian Garnet, melainkan tatapan matanya yang menyorot kesakitan. Hal itu membuat Garnet bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi pada gadis secantik itu hingga mata yang seharusnya berbinar penuh kebahagiaan tergantikan oleh rasa sakit tertahan. Tak lama kemudian, Rebeca kembali masuk ke dalam ruangan, tentu saja ia tidak sendirian, ada seorang pria yang teramat tampan dengan jambang tipis belum dicukur dan bekas luka yang membelah alis kanannya masuk dan berdiri di tengah ruangan. Pria itu bertubuh sangat tegap, terlihat dari jasnya yang berjuang keras menahan tubuhnya maka bisa disimpulkan jika tubuhnya pun terbangun dengan otot-otot dengan sangat baik. “Dia adalah Sebastian Grand, bodyguard terbaik yang dimiliki oleh GG Security.” Garnet mulai memperkenalkan sepupunya sendiri, pria itu tampak sangat bangga bisa melihat Sebastian berdiri di ruangannya dan menjadi bagian dari perusahaannya. “Seperti yang telah anda baca dalam dokumennya, dia adalah mantan pasukan khusus tentara Amerika, selain itu banyak pengalamannya mengawal seseorang dari berbagai ancaman dan berhasil, dia yang terbaik beberapa tahun terakhir, Tuan Cornelius.” Garnet menuturkan panjang. “Baiklah, aku akan menggunakan jasanya.” Cornelius bahkan tak berpikir dua kali untuk menyepakatinya. Sejak awal ia lebih tertarik dengan Sebastian karena selain memiliki perawakan tubuh yang baik, Sebastian terlihat seperti seorang pria yang hanya akan fokus pada tujuan utamanya. Menjadi bodyguard tujuan utamanya pasti untuk melindungi, sehingga dengan begitu ia akan sangat fokus dan tak membiarkan menantunya terluka lagi. “Baiklah, Rebeca akan mempersiapkan dokumen kontraknya, sementara itu Nona Samantha bisa berkenalan dengan calon bodyguardnya.” Samantha menghela nafasnya, ia terlihat berat hati menerima keputusan ini, namun dirinya tak memiliki pilihan lainnya. Pada akhirnya ia terpaksa menoleh ke tempat di mana sang calon bodyguard barunya itu berdiri. Samantha melihat dari ujung kakinya, ia melihat sepatu bodyguard itu yang mengkilap dan terawat, perlahan-lahan pandangan mata Samantha semakin ke atas, setelan yang digunakan oleh pria itu tampak melekat sangat sempurna untuk tubuhnya. Sekali lagi Samantha mengeluh, mengapa calon bodyguardnya ini sangat tinggi, ia harus mendongak hanya untuk mencari-cari letak wajahnya. Sampai pada akhirnya ia menemukan wajah milik calon bodyguardnya itu, Samantha tertegun, sorot mata birunya terperangkap dalam sorot mata hangat keabu-abuan milik sang calon bodyguard. Entah mengapa, Samantha merasa sangat mengenali sorot mata tajam itu, hanya saja ia tak ingat, di mana pernah melihatnya. “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” ucap Samantha pelan. Dalam hatinya ia berharap bahwa sang bodyguard tak akan betah dengan kehidupannya yang sangat membosankan ini. “Senang bertemu dengan anda, Nona Samantha.” “Ehm.” Samantha berdeham untuk meredakan gejolak hatinya yang tak karuan karena mendengar suara pria itu anehnya membuatnya sangat terpengaruh, seolah-olah seluruh tubuhnya memberikan isyarat bahwa ia sangat mengenal orang itu. Samantha benar-benar tak memiliki petunjuk sama sekali. “Senang bertemu dengan anda, Tuan ….” “Grand … Sebastian Grand, tapi anda bisa memanggilku Sebastian atau Sebs.” “Sebastian ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD