05: Unforgettable Blue Eyes (Pt.2)

1198 Words
“Tuan Grand ….” Panggilan Rebeca tak diindahkan oleh Sebastian yang sedang menghisap rokoknya sembari menikmati pemandangan kota dari atas balkon. “Tuan Grand ….” Sekali lagi Rebeca memanggil pria bertubuh jangkung dan berotot itu, tetap saja panggilannya sama sekali tak digubris karena Sebastian tidak merasa jika dirinya memiliki nama itu. “Tuan Grand!” Tak sabar lagi, akhirnya Rebeca menepuk pundak lebar Sebastian, membuat pria itu berbalik dan menunduk untuk menatap Rebeca. Tatapan Rebeca cukup tajam, sampai rasanya tatapan itu pasti bisa menyahat leher Sebastian. “Mulai sekarang nama anda adalah Sebastian Grand, anda tidak boleh melupakan itu.” “Aku hanya belum terbiasa.” Sebastian lantas mematikan rokoknya di dinding balkon. “Tuan Giovanni sedang menunggu anda,” ujar Rebeca. “Untuk bertemu dengan Tuan Cornelius.” Rebeca langsung menambahkan ketika mendapatkan tatapan penuh tanda tanya dari Sebastian. Sebastian sangat antusias sekali untuk segera masuk ke dalam ruangan Garnet dan menemui Samantha, memastikan bahwa gadis itu masih sama seperti di dalam ingatannya. Seorang gadis ceria yang memiliki rambut sewarna madu yang bergelombang indah, dihiasi dengan matanya yang sebiru laut mediterania, serta senyumannya yang akan membuat orang di sekitarnya ikut tersenyum. Di depan pintu ruangan Garnet, langkah Sebastian terhenti, ia tak pernah merasa gugup, bahkan ketika ia ditempatkan di barisan depan untuk menyergap musuh di daerah konflik ia tak pernah merasa segugup ini. Sebastian menghela nafasnya sepelan dan sedalam mungkin, berusaha mengusir semua rasa gugupnya. Dalam hatinya Sebastian menghitung hingga sepuluh sampai akhirnya ia menyentuh kenop pintu lantas memutarnya, mengikuti Rebeca yang lebih dulu masuk ke dalam. Jantung Sebastian berdegup begitu kencangnya, sampai ia takut jika orang-orang di sekitarnya akan mendengar. Perlahan ia mendekat pada kursi tamu, ia melihat Garnet di ujung kursi, ada seorang pria tua yang tampak masih bugar sedang memegang tongkatnya. Pandangan Sebastian kemudian terjatuh pada sosok yang saat ini sedang memunggunginya. Rambut pirang madu yang terurai dari belakang itu masih diingat jelas oleh Sebastian, degupan jantungan pun semakin kencang, Sebastian mengepalkan tangannya untuk mengontrol perasaannya sendiri. Dalam hatinya, Sebastian berharap jika ia akan mendapatkan senyuman hangat dari gadis itu sebagai tanda penyambutan teman lama. Perlahan-lahan tubuh Samantha berbalik, perlahan-lahan juga Sebastian berharap dirinya menghilang dari dunia ini. Pikirannya berkecamuk penuh dengan tanya yang berkutat dalam benaknya. Bagaimana jika Samantha mengenalinya, apakah mereka akan menjadi teman seperti dulu, apakah gadis itu akan melompat dan memeluknya? Apakah dia akan tersenyum dan memanggil namanya seperti saat masih kecil dengan suara riangnya. Lantas … bagaimana dia akan bereaksi, jantungnya sudah berdetak tanpa rima yang jelas saat ini. Apakah dia akan membalas pelukan hangatnya, atau dia akan pergi dari ruangan itu seperti orang bodoh? Sebastian benar-benar tak tahu. Dia … “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” ujar pemilik bibir merah dengan mata biru yang cerah. Sebastian membeku, benar-benar membeku, ia masih melihat anak kecil itu di sana, di mata sayu yang tampaknya tengah menahan sakit. Namun, ia tak melihat lagi anak kecil yang ia kenal, waktu telah merubahnya, keadaan menciptakan sosok baru yang jauh lebih dewasa, lebih tangguh, dan lebih memikat. Hanya saja, rupanya mata itu tidak mengenalinya sama sekali, sehingga debaran yang mendobrak hati Sebastian mulai tenang. “Senang bertemu dengan anda, Nona Samantha.” Sebastian bersikap seprofesional mungkin, sementara tak jauh di tempatnya, Garnet menatapnya penuh curiga. Dia sangat mengenali sepupunya itu, bahkan selama menjadi sahabat dari sepupunya sendiri itu, Garnet tidak pernah melihat Sebastian menatap seseorang seperti itu, seolah-olah perempuan yang ada di hadapannya itu begitu berharga baginya. Hanya ada satu hal yang Garnet tidak mengerti, mengapa jika Sebastian mengenal gadis itu tapi sebaliknya gadis itu seolah lupa dengan sosok Sebastian. Sungguh ada hal mencurigakan dalam keadaan ini, hanya saja Garnet belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “Senang bertemu dengan anda, Tuan ….” Sebastian menatap mata biru Samantha lekat-lekat, rupanya harapan di dalam hatinya masih belum sepenuhnya meredup. Dia masih ingin Samantha mengingatnya meski samar-samar. Akan tetapi rupanya, harapan itu tak kunjung terwujud sampai akhirnya Sebastian memilih untuk melepaskannya. “Grand … Sebastian Grand, tapi anda bisa memanggilku Sebastian atau Sebs.” Begitulah akhirnya ia memperkenalkan dirinya, bukan sebagai Sebastian Macalistair, melainkan sebagai Sebastian Grand—bodyguard baru Samantha. “Sebastian ….” Ada percikan aneh ketika mata Sebastian tak sengaja melihat bibir kemerahan Samantha mengeja namanya lirih. Begitu aneh sampai ia tak mampu memalingkan wajahnya dari gadis itu. “Baiklah, kau bisa bekerja mulai besok.” Suara Garnet memecah keheningan di dalam ruangannya. “Kalau begitu, aku dan menantuku harus undur diri, terima kasih atas bantuanmu.” Cornelius beranjak, ia berdiri menggunakan tongkat yang dibawa. Keduanya lalu beranjak pergi dari ruangan Garnet. Mata Sebastian terpejam saat penciumannya membaui aroma parfum yang menguar dari tubuh Samantha, ada gejolak hasrat di dalam hatinya yang mendorong dirinya untuk menerkam Samantha sekarang juga, namun nuraninya begitu kuat menahannya. Hanya saja gerik Sebastian itu terawasi oleh Garnet yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari sang sahabat. “Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan menantu Tuan Sullivan?” tanya Garnet penuh selidik. Mata Sebastian yang semula mengekor pada pada Samantha hingga keluar dari ruangan Garnet kini tertuju pada satu sosok yang menunggu jawaban darinya. “Tidak ada.” “Tidak mungkin.” Garnet mencibir, ia bangkit dari tempatnya, melangkah ke arah Sebastian, tangannya disilangkan di depan tubuhnya, benar-benar mencurigai hubungan misterius antara Sebastian dan Samantha. “Hssss, aku berusaha mengoreknya sejak pertama kali kau menyebutkan nama Tuan Francois Rosamund, aku berusaha mencari tahu … tapi mengapa aku tak menemukan keterkaitannya.” “Berarti kemampuanmu tidak sehebat itu,” ujar Sebastian sembari melangkah melewati Garnet dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Garnet berbalik, ia masih tak ingin menyerah, ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Rasa penasarannya semakin besar jika Sebastian semakin menutupi. “Apa dia mantan pacarmu? Tapi kupikir kau tidak pernah berhubungan dengan siapapun.” “Pikir saja sesukamu.” “Ayolaaahh … aku sudah lama tidak bertemu denganmu, kupikir tidak akan pernah bertemu lagi setelah mendengar perang yang pecah di Afghanistan itu. Tapi lihatlah … kau mendadak meuncul di sini, dalam keadaan sehat tapi—” Mendadak Garnet mengantung kalimatnya sendiri. Dalam benaknya terlintas sebuah ingatan samar-samar yang terjadi sebelum keberangkatan Sebastian ke Afghanistan. “Apakah dia adalah gadis yang rambutnya dikepang dua itu?” tanya Garnet blak-blakan. Sungguh dia baru saja mengingat, dulu saat mereka duduk di bangku sekolah menengah atas, Garnet pernah menemukan sebuah potret anak gadis dengan rambut yang dikepang, seorang gadis yang senyumnya begitu lebar sampai-sampai siapapun yang melihatnya pasti akan ikut tersenyum. Garnet menatap Sebastian, menemukan wajah Sebastian memerah karena pertanyaan Garnet. Meski Sebastian memiliki sikap yang acuh tak acuh dan seringkali ketus dan minim ekspresi, akan ada saat-saatnya Sebastian tidak bisa menutupi perasaan yang sesungguhnya. “Wajahmu merah,” “Ruanganmu sangat panas.” Meledaklah tawa Garnet mendengar jawaban Sebastian yang tidak masuk akal. Namun, bagi Sebastian tak ada yang lucu, ia menyandarkan punggungnya sembari menatap langit-langit. Ia menatap lampu kristal yang memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Teringat akan pertemuan singkatnya dengan Samantha baru saja, apakah dirinya berubah begitu drastis sampai Samantha tak mengenalinya? “Lalu apa yang akan kau lakukan dengan perusahaanmu?” Pertanyaan Garnet menarik Sebastian dari angannya-angannya, ia menegakkan tubuhnya dan menatap Garnet. “Just Mind Your Business, Giovanni!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD