13: 24/7

2101 Words
“Berikan aku satu tim yang terdiri dari dua orang sebagai tambahan.” Sebastian menghisap rokoknya sembari menelepon Garnet. Ia sangat yakin sekali di ujung saluran telepon Garnet sedang mengerutkan keningnya dan berpikir bahwa dirinya sudah gila karena tiba-tiba saja menelepon untuk meminta satu tim pengamanan untuk Samantha. “Untuk apa? Bukankah kau pernah bilang jika kau sendiri saja mampu untuk menjaga Nyonya Muda?” Sebastian meniupkan asap rokok dari mulutnya, kemudian ia mematikan rokoknya yang sudah habis terhisap olehnya. Seingatnya, dia tidak pernah mengatakan hal itu atau mungkin dirinya memang lupa. Tapi siapa yang peduli, saat ini Sebastian membutuhkan beberapa tenaga tambahan bukan untuk menjaga Samantha tapi mengawasi siapapun yang berpotensi untuk mencelakai Samantha. “Dua orang, aku butuh dua orang untuk membantuku.” “Aku akan mencari kandidat terbaik yang bisa membantumu. Oh ya, datanglah ke kantorku besok ada beberapa berkas yang harus kuberikan padamu.” “Baiklah … ohya, akhir pekan ini Rebeca tidak sibuk, ajak dia makan malam dan bawakan mawar putih.” “Cepat sekali kau mendapatkan informasi,” ujar Garnet keheranan karena informasi itu tak mudah ia dapatkan meski sudah bertanya berkali-kali pada Rebeca tapi Sebastian bisa dengan mudahnya mendapatkannya. “Aku bisa mengambil alih pekerjaanmu jika mau,” ucap Sebastian sembari terkekeh pelan. “Coba saja kalau berani,” balas Garnet tak takut ditantang oleh Sebastian, ia terkekeh mendengarnya. “Well, terima kasih, dude!” Garnet tak bisa lebih berterima kasih daripada ini. Ia tahu jika dirinya, yang tak pernah singgah pada satu wanita akhirnya malah jatuh hari dengan sekertarisnya sendiri. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi begitulah adanya … dirinya telah jatuh hati pada Rebeca. “Tidak masalah, tapi kau harus bekerja lebih keras.” “Ahaha, sialan kau … kemarilah sekarang, mungkin kita bisa menghabiskan produk baru dari Tuan Cornelius.” “Tidak, kau tahu aku sangat sibuk.” Garnet kembali tertawa membayangkan Sebastian harus berjuang pagi-pagi sekali setelah minum semalaman lalu ia harus menjaga seseorang sepanjang waktu, pekerjaan yang sebenarnya sangat membosankan bagi Garnet. Namun, Garnet cukup menyukai pekerjaannya ini, menyediakan jasa bodyguard untuk siapapun yang membutuhkan. Ia bisa mengakses banyak informasi kepada siapapun pula. Hampir seluruh orang-orang berpengaruh menempatkan kartu As mereka pada Garnet, sehingga hal itu pun membuat Garnet cukup terkenal dan disegani oleh mereka. Setelah menutup panggilan teleponnya, Sebastian kembali mengambil sebatang rokok dari bungkusnya. Ketika menyalakan korek api, mendadak ponselnya kembali berdering. Alih-alih menyalakan rokoknya, Sebastian mengambil ponselnya dan melihat siapakah yang meneleponnya tengah malam begini. Melihat nama Cornelius ada di layar ponselnya membuat kening Sebastian berkerut cukup dalam, selama ini menjadi bodyguard Samantha belum pernah pria itu meneleponnya. Seketika itu juga Sebastian mengangkat panggilan telepon yang tampaknya sangat mendesak itu. Sebuah teriakan adalah hal pertama yang didengar oleh Sebastian saat panggilan tersebut tersebut. “Apa yang kau kerjakan sebagai bodyguardnya?!” “Ada apa, Tuan Cornelius. Apa yang membuat anda marah?” Sebastian tetap mencoba tenang, ia tahu ada hal yang tak beres sedang terjadi di mansion mewah milik Cornelius. Sembari mendengarkan perkataan di panggilan telepon, Sebastian bergegas mencari kunci mobilnya dan bersiap untuk kembali ke mansion tersebut. Seperti biasanya, Sebastian selalu menjaga Samantha sampai lampu kamar perempuan itu dimatikan dan menunggunya untuk beberapa saat. Memastikan bahwa Samantha akan tidur dengan damai, begitu juga dengan malam ini. Sebastian memastikan bahwa Samantha pasti akan baik-baik saja, apalagi beberapa hari ini ia tidak mendapati James kembali ke rumah itu, pikirnya malam Samantha akan aman. Rupanya malam ini ia salah, menurut penuturan Cornelius yang jauh dari kata tenang itu, ada sebuah teror yang terjadi di mansion mereka. Sebuah bom molotov dilemparkan di kamar Samantha dan membakar kamar tersebut. Beruntung, Samantha segera bangun dari tidurnya dan langsung keluar dari kamar dan sensor kebakaran langsung berfungsi dengan baik sehingga api tak menyebar ke tempat lainnya. Sebastian tidak peduli dengan apapun, ia melajukan mobilnya seperti orang sinting, menginjak gas sedalam-dalamnya. Meski begitu rasanya masih lama baginya, beruntung jalanan malam itu sepi sehingga Sebastian bisa melaju tanpa hambatan. Secepat ia melaju, secepat itu pula kecepatan detak jantung Sebastian saat ini, kegelisahannya begitu luar biasa sampai ia tidak memikirkan keselematannya sendiri ketika mengendarai kendaraannya. Hal pertama yang dilakukan oleh Sebastian ketika tiba di depan mansion keluarga Sullivan adalah berlari ke tempat di mana Samantha saat ini berada. Semua anggota keluarga yang hanya terdiri dari Cornelius dan Samantha ditambah dengan Andre itu berkumpul di ruang keluarga. Langkah Sebastian terhenti di ambang pintu keluarga, pandangan matanya beredar mencari sosok Samantha. Saat mata abu-abunya menubruk sesosok perempuan yang terbalut selimut tebal dan gemetar di dalamnya itu ia merasa jika lututnya sangat lemas. Untung saja Sebastian bisa mengatasinya, ia langsung melangkah ke arah Samantha, mengabaikan keberadaan Cornelius dan juga Andre yang ada di dalam ruangan itu. Sebastian merengkuh bahu Samantha, menghadapkan perempuan itu kepadanya, jelas tampak di matanya kekhawatiran yang luar biasa hingga mata abu-abu itu berkaca-kaca. Bibir Sebastian gemetar hebat, ia tak bisa mengeluarkan kata-kata yang sudah berada diujung lidahnya, matanya mengamati Samantha, memperhatikan bekas memar yang masih tersisa di beberapa bagian, Sebastian memastikan lagi apakah Samantha terluka atau tidak. “Apa anda … ehm ….” Sebastian berusaha untuk mengatur suaranya. Membuat Cornelius dan Andre menatapnya bingung, begitu pula dengan Samantha. Gadis itu bahkan tak mengerti dengan sikap yang ditunjukkan Sebastian padanya, mengapa pria itu terlihat sangat cemas, mengapa mata abu-abunya berkaca-kaca, mengapa bibirnya bergetar hanya untuk mengatakan sepatah kalimat, mengapa tak ada yang bisa keluar dari bibirnya meski sudah berusaha, Samantha ingin mengetahui alasan di balik semua itu. Apakah seorang bodyguard selalu bersikap seperti itu pada majikannya? “Apa anda baik-baik saja?” Dan setitik bening dari mata abu-abu Sebastian terjatuh, bergulir membuat jejak basah di wajah kiri Sebastian. Ingin rasa hatinya memeluk Samantha dengan erat, ingin menenangkan gadis itu, kejadian yang baru saja terjadi pasti membuatnya takut. Seharusnya ia ada di sisi Samaantha kapan saja, tapi apa yang dia lakukan? Meninggalkannya dan membuatnya terluka dan ini sudah yang kedua kalinya. Samantha mengangguk samar dengan tatapan penuh rasa ingin tahunya atas sikap Sebastian. Namun sesaat kemudian rengkuhan di bahunya terasa renggang, Sebastian melepaskan rengkuhannya, ia memalingkan wajahnya karena tahu jika air matanya pasti membuat semua orang di ruangan itu bingung. “Tuan Grand.” Sebuah panggilan membuat Sebastian berbalik, ia menghadap pada Cornelius yang duduk pada sebuah sofa, di sampingnya berdiri Andre. Keduanya menatap Sebastian dengan tatapan yang juga ingin tahu, mengapa Sebastian bersikap berlebihan tapi agaknya mereka mengabaikan hal tersebut karena saat ini bukan itu yang terpenting. “Ya, Tuan Cornelius.” “Bisa kita bicara di ruanganku?” Dibantu oleh Andre Cornelius berdiri menggunakan tongkatnya. Pria itu jelas sekali tampak marah dengan keadaan yang terjadi, Sebastian pun sudah siap jika dia menjadi sasaran amarah dari Cornelius. “Baik, Tuan.” Sebastian pun mengekor di belakang Cornelius. * “Sebenarnya bagaimana ini bisa terjadi?” begitu tanya Sebastian saat mereka sampai di ruangan Cornelius dan pria itu telah duduk pada singgasananya di dampingi oleh Andre. Pertanyaan itu membuat Andre menggelengkan kepalanya pada Sebastian, memberikan isyarat padanya untuk tetap diam. “Itulah yang ingin kutanyakan padamu, mengapa ini bisa terjadi?” tanya Cornelius dengan nada dingin yang bisa membekukan apapun di sekitarnya. Pria tua yang sangat berwibawa itu sangat berbahaya jika amarah menguasai pikirannya. Sebastian bungkam, ia tak bisa menjawab karena ini memang salahnya. Seharusnya ia tidak pernah meninggalkan sisi Samantha sama sekali tapi apa yang ia lakukan, ia bahkan telah membahayakan nyawa Samantha dengan sembrono. Sebastian tak ingin membayangkan bagaimana kejadian itu terjadi, hal itu pasti membuat Samantha sangat ketakutan, saat ini dirinya hanya mampu mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Tak bisa melakukan apapun dan hal itu pun tak luput dari pengamatan Cornelius. “Seharusnya kau menjaganya, itu adalah tugasmu, kau kubayar untuk menjaganya bukan membiarkan sebuah bom dilemparkan ke dalam kamarnya!” Perkataan Cornelius memang benar, tugasnya adalah menjaga Samantha, seharusnya ia tidak membiarkan gadis itu terluka meski hanya sedikit saja. Tapi apa yang telah ia lakukan, ia malah membuatnya terluka, ia membuat wajahnya dipenuhi oleh memar, ia membuat sebuah bom hampir merenggut nyawanya. Lelaki macam apa dirinya yang tak bisa menjaga ucapannya sendiri. “Saya bersalah.” “Bagus jika kau merasa bersalah.” “Saya akan bekerja dengan lebih baik,” ujar Sebastian, hanya itu yang bisa ia katakan. Bekerja dengan lebih baik, terdengar memang sangat klise tapi ia tak tahu lagi harus berbuat seperti apa saat ini. “Itu yang kuharapkan. Aku ingin kau menjaga putriku dari apapun … bahkan dari suaminya sendiri, apa kau mengerti?” Mendengar hal itu, Sebastian menatap Cornelius terkejut. Bukan menantu seperti yang biasa dikatakan olehnya tapi seorang putri? Apakah Cornelius memang sangat menyayangi Samantha layaknya putrinya sendiri sampai hal itu keluar dari mulutnya. Cornelius menyadari rasa penasaran Sebastian pada ucapannya, Cornelius terlihat salah tingkah setelah mengatakannya. Bahkan Andre pun tampak terkejut tapi sepertinya pria itu sudah terlatih untuk menjaga ekspresinya sehingga terlihat tidak terlalu kentara jika ia terkejut. “Dia sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, itu bukan masalah, ‘kan?” “Saya tidak berhak mencampuri urusan pribadi anda, Tuan. Akan tetapi bisakah saya meminta satu hal.” “Apa itu?” “Tolong perbarui kontrak saya.” “Perbarui kontrak? Apa maksudmu?” tanya Cornelius penasaran. Sebastian menghela nafasnya sejenak, kemudian ia berjalan mendekat ke arah Cornelius dengan mantab, tak ada keraguan dalam setiap langkahnya. Dirinya percaya apa yang akan dia lakukan ini adalah jalan terbaik agar dirinya bisa menjaga Samantha lebih dekat dan lebih baik. “Saya ingin kontrak saya diperbarui, tolong tulis dalam kontrak saya untuk bekerja dua puluh empat jam dalam menjaga nyonya muda.” Perkataan Sebastian sontak membuat Cornelius dan Andre terkejut bukan main, menjaga selama dua puluh empat jam bukan perkara yang mudah. Apalagi jika dilakukan sendirian saja. “Saya akan membentuk tim untuk menjaga nyonya muda, sehingga dia tidak akan ditinggalkan sedetik pun dan tak akan ada yang bisa menyakitinya.” “Idemu bisa diterima, Andre … kau bisa menambahkan itu dalam kontraknya dan beritahu Giovanni hal ini.” Cornelius langsung menyetujui perkara ini, karena ia tak ingin melihat Samantha terluka. Cornelius menyadari jika umurnya tak lagi muda dan bisa kapan saja mati, jika dirinya tidak ada maka keselamatan Samantha akan sangat terancam. Demi membuat Samantha tetap aman, Cornelius bersedia melakukan apa saja. “Andre buatkan kontrak itu sekarang juga.” Andre mengerti jika Cornelius ingin bicara berdua saja dengan Sebastian, ia pun langsung beranjak pergi dari ruangan Cornelius dan membiarkan dua pria yang berbeda generasi itu dalam ruangan. Seperginya Andre dari ruangannya, Cornelius masih menatap Sebastian dengan lekat. Kali ini kemarahannya sudah mulai mereda, namun ada hal lain yang tersimpan di matanya. Ada keingintahuan yang sangat ingin dikonfirmasi oleh Cornelius. “Apa hubunganmu dengan Samantha?” Cornelius bukan tipe seseorang yang suka berbasa-basi, sikap yang ditunjukkan oleh Sebastian jelas menunjukkan jika pria itu memiliki perasaan lebih terhadap Samantha. Bahkan Cornelius melihat sendiri mata pria muda yang gagah itu memerah bukan hanya dipenuhi air mata yang siap tumpah tapi juga kekhawatiran yang mendalam. Sebagai sesama pria, Cornelius tahu sekali perasaan semacam itu. Dimana dirinya merasa sangat cemas akan tetapi merasa tak berdaya karena keadaan, ia ingin melawan kondisi dan memeluk wanita yang paling ia cintai namun keadaan memaksanya untuk bungkam dan membeku tanpa bisa melakukan apapun, Cornelius tahu betul rasanya. “Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan nyonya muda.” Sebastian mengatakannya tanpa berkedip, menunjukkan kejujurannya. Selain perasaan yang ia simpan sendiri di dalam hatinya yang paling dalam mereka memang tidak memiliki hubungan apapun. Jangankan memiliki hubungan, Samantha bahkan tak mengenalinya sama sekali. “Jangan berbohong padaku, aku tahu tatapan mata itu.” Cornelius bersikeras, mendesak Sebastian untuk mengungkapkan perasaannya. “Saya tidak memiliki hubungan—” “Cukup … jangan berdusta lagi.” Cornelius jengah karena Sebastian begitu gigih mempertahankan pendiriannya. “Dengar, Sebastian Grand … kau mungkin bingung mengapa aku membiarkan putraku yang seorang b******n itu berbuat sesuka hatinya, bahkan melakukan perselingkuhan dengan wanita itu … tapi aku tidak akan pernah membuat menantuku menjadi wanita kotor. Apa kau mengerti?” “Saya mengerti.” “Jadi apapun perasaanmu saat ini ….” Mata Sebastian melebar, ia tak menyangka jika perasaannya akan sejelas itu hingga Cornelius mengetahuinya dengan sangat tepat. Cornelius memajukan tempat duduknya, menatap Sebastian dengan sungguh-sungguh. “Jadi simpan itu baik-baik, gunakan perasaanmu itu untuk melindunginya apapun yang terjadi. Aku ingin dia menjadi wanita kuat yang tangguh dan bersih dari segala skandal,” tutur Cornelius lagi. “Saya mengerti.” Sebastian pun tak ingin mengungkapkan perasaannya, namun jika Cornelius saja tahu mungkin Samantha juga tahu tentang perasaannya. Apalagi apa yang telah dia lakukan pada gadis itu tempo hari di bawah hujan deras, tak mungkin Samantha tak mengetahuinya, sebagai seseorang yang telah dewasa Samantha akan dengan mudah mengenal perasaan-perasaan semacam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD