01. It’s You, The One I Missed.

2621 Words
Enchanté 01. It’s You, The One I Missed.   Ruangan besar dan luas bergaya Prancis yang didominasi oleh warna putih itu terasa begitu dingin, bukan karena suhu udara akibat hujan salju di luar rumah melainkan karena ketegangan yang meningkat sejak beberapa menit yang lalu. Di samping seorang pria berusia tujuh puluhan itu, Sam—Samantha—hanya memandangi kuku jari tangannya yang patah. Bahkan bernafas dengan normal pun terasa sulit dalam situasi seperti ini. Di seberangnya, James Sullivan—suaminya—sedang menatapnya tak suka. Sam tak bisa menyalahkan James atas rasa tidak sukanya, dirinya sendiri pun merasa tidak nyaman berada di sisi James.   “Istrimu mengalami kecelakaan dan kau tidak membawanya ke rumah sakit?” Suara serak Cornelius Sullivan menggema ke seluruh sudut ruangan. Sam bahkan merasa tirai bergerak karena mengalami resonansi akibat suara dari ayah mertuanya itu.   Cornelius menoleh pada Sam, melihat dengan iba gadis berambut pirang madu yang menawan, wajahnya yang biasanya cantik kini dipenuhi oleh lebam di beberapa bagian. Lebam yang paling kentara ada di area sekitar mata dan bibir. Tidak hanya itu, ada bekas luka di sekitar leher dan juga juga bagian tubuh lainnya. Dari kacamata orang lain di luar ruangan itu, mereka akan mengira jika luka yang di alami oleh Sam bukan luka akibat kecelakaan seperti yang dikatakannya pada sang mertua, melainkan luka yang disebabkan oleh kekerasan.   Tapi … dalam hati, Cornelius yakin jika luka yang diderita oleh Sam bukanlah kecelakaan akibat terjatuh dari tangga seperti pengakuan menantunya. Meski usianya tidak lagi muda, dia bisa membedakan mana luka akibat terjatuh dan mana luka akibat dianiaya. Menantunya terlalu baik untuk mengadu dan menyudutkan suaminya, Cornelius bisa memahami itu.   “Ayah … aku melakukan perjalanan dinas ke Jepang, mana aku tahu jika dia mengalami kecelakaan. Dia tidak memberitahuku.” James melemparkan tatapan penuh cemoohan pada istrinya itu. Kesal karena harus melibatkan ayahnya pada situasi yang jelas-jelas tidak akan pernah menguntungkannya.   “Bagaimana kau tidak bisa tahu kondisi istrimu sendiri?” Cornelius menatap tajam pada James, tatapan penuh ancaman yang bisa membuat hidup James berakhir kapan saja. Ayahnya, Cornelius Sullivan bukanlah orang sembarangan. Memiliki ladang anggur terluas di California dan perusahaan wine yang besar membuat keluarga mereka paling kaya di kota. Semua dalam kendali Cornelius Sullivan, begitu juga dengan kehidupan James.   Bahkan pernikahannya dengan Sam merupakan rencana dari Cornelius untuknya. James sama sekali tidak pernah memiliki perasaan pada Sam, di mata pria itu Sam hanyalah seorang gadis yang rela melakukan apapun untuk uang, dan bukan dari kalangan yang pantas mendampinginya sebagai istri.   Sam berasal dari kota yang sama dengan mereka, ayahnya memiliki satu hektar ladang anggur yang gersang dan juga peternakan sapi. Hutang akibat pengobatan membuat keluarga Sam bangkrut, ladang tak terurus, sapi-sapi yang mati karena mereka kurang pakan membuat semuanya lebih buruk. Sementara ayahnya harus menjalani pengobatan kemoterapi dan itu tidaklah murah. Dalam keadaan terjepit, Sam mendatangi Cornelius dan ingin menjual semua ladang miliknya kepada perusahaan Cornelius. Alih-alih membeli ladang tersebut, Cornelius menawarkan sesuatu yang lain. Pernikahan.   “Jika ayah sangat mempedulikannya, mengapa bukan ayah sendiri yang menikah dengannya!”   “Jaga mulutmu, James!”   “Sejak awal aku tidak ingin menikahinya, ayah yang memaksaku. Sekarang kau menyalahkanku karena kecelakaan yang dia alami. Aku ini suaminya, bukan babysitter.”   “Kau benar … kau adalah suaminya. Suami macam apa yang tidak bisa melindungi istrinya?”   “Apa kau bisa melindungi istrimu, ayah?”   “James, cukup!”   “Sekarang kau ikut bicara?” bentak James pada Sam yang berusaha untuk menengahi pertengkaran ayah dan anak karena kecelakaan yang dia alami ini. Sam merasa bersalah karena dua pria itu harus bersitegang karena dirinya, tidak sedikitpun terbesit dalam benaknya jika dia akan berada di antara dua pria dewasa ini dan membuat hubungan keduanya merenggang.   “Bukan begitu ….” Sam menundukkan kepalanya, jari-jari tangannya saling mengait dengan kuat. “Ayah, aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil.” Sam sudah menganggap Cornelius sebagai ayahnya sendiri. Pria itu begitu baik padanya, bahkan terlalu baik, segala kebutuhan Sam dipenuhi, dan selalu membantu Sam dalam hal apapun.   Tiba-tiba terdengar suara ponsel bergetar, Cornelius mengambil ponsel di dalam sakunya dan dia melihat sebuah pesan telah dikirim kepadanya. Mata Cornelius terbelalak saat melihat video terlampir dalam pesan itu. Rahangnya mengetat melihat adegan demi adegan di dalamnya.   “Tidak perlu berbohong lagi.” Cornelius menatap Sam. “Nak, tidak perlu berbohong padaku lagi.”   “Hah! Sekarang Ayah tahu kalau dia berbohong?!” James melemparkan tatapan jijik pada Sam. Merasa penilaiannya tidak pernah salah, seorang wanita yang rela melakukan apapun demi uang bukan wanita yang baik. “Sekalinya jalang … akan tetap jalang!” cibirnya.   Tapi, James melewatkan satu hal. Alasan. Alasan mengapa Sam menerima tawaran pernikahan dari Cornelius.   “Kau benar … sekalinya jalang akan tetap jalang!” Cornelius melemparkan ponselnya pada James. Ponsel itu berhasil mendarat tepat di pangkuan James, membuatnya segera melihat apa yang baru saja dilihat oleh Cornelius, mencari tahu apa penyebab dari amarah Cornelius yang semakin besar.   “Sepertinya aku mengenal salah satunya,” kata Cornelius ketika James melihat sebuah video dari rekaman CCTV yang dikirimkan ke ayahnya. Reaksi James sangat mirip dengan Cornelius pada awalnya, tapi semakin lama dia melihat video tersebut tangannya gemetar hingga menjatuhkan ponsel tersebut ke lantai.   “Jalang yang kau hina itu adalah orang yang tidak ingin membuatmu malu karena tidak bisa melindungi istrinya sendiri.”   “Mengapa kau tidak mengatakan apapun padaku?!” James menatap Sam dengan tajam.   “Kau baru kembali dari Jepang, aku tidak ingin membebanimu.”   “Lihat … kau lihat! Dia masih memikirkanmu!” hardik Cornelius pada anaknya yang tidak tahu diuntung itu.   Helaan nafas kasar terhembus dari pernafasan James, perasaannya kini campur aduk. Bukan karena Sam terluka akibat penganiayaan, tapi ada hal besar dibalik kekerasan yang diterima oleh Sam. Dalam video yang dilihat oleh Cornelius dan juga James, terlihat jika Sam yang baru saja kembali dari groceries dicegat oleh tiga orang pria bertubuh lebih besar dari Sam. Salah satu dari mereka tiba-tiba menarik Sam dan menguncinya di dinding, mereka kemudian berusaha melecehkan Sam. Saat tersudut Sam terus memberontak, hingga mereka memukulinya. Hampir saja Sam tidak sadarkan diri, mendadak seseorang datang dan menolongnya, menghajar para bajingann brengsekk yang telah menyerang Sam.   Dari keseluruhan video tersebut hal yang paling menggangu James adalah pria yang mencoba melecehkan Sam memiliki sebuah tato pada pergelangan tangannya, James mengenali siapa pelaku penganiayaan terhadap Sam. Dari CCTV memang tidak terlihat dengan jelas tato apa yang ada di pergelangan tangan Sam, tapi bukan hal mudah bagi Cornelius untuk menemukan pemilik tato tersebut. Inilah yang ditakutkan oleh James.   “Kita akan pergi ke rumah sakit setelah ini,” ujar Cornelius pada Sam.   “Tidak perlu, Ayah. Luka-luka ini akan sembuh.”   “Kau turuti saja semua ucapan ayahku, jangan membantahnya.” James mengurut batang hidungnya. Masalah di perusahaannya hampir saja bisa selesai diatasi, sekarang dia dihadapkan oleh masalah lain. “Sialan!” geramnya dalam hati.   Sam mengangguk, dia tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh James karena Sam pun memiliki pemikiran yang serupa. Saat kejadian berlangsung, Sam ingat jika salah satu penyerangnya memiliki sebuah tato di pergelangan tanganya, Sam pun tahu siapa pemilik tato tersebut, dia tidak ingin membuka mulutnya dan mengatakan kebenarannya pada Cornelius karena dia tahu, penyerang itu memiliki kaitan dengan James. Akan tetapi, tampaknya percuma saja dirinya bungkam karena pada akhirnya Cornelius mengetahuinya. Cepat atau lambat ayah mertuanya pasti akan mengungkap siapa tiga orang yang telah menyerangnya.   :::   Suara bell pintu berkali-kali terdengar, siapapun tamu yang datang itu dia pasti orang yang sangat gigih. Apabila itu orang lain, maka setelah bell ketiga dan pemilik apartemen belum membuka pintu, dia akan pergi karena mengira pemiliknya mungkin tidak ada di rumah, berbeda dengan pria satu ini. Bell pintu itu terus ditekan, dimain-mainkan sampai akhirnya seseorang membuka pintu dengan terpaksa.   “Dude! Aku kira kau sudah mati, kenapa lama sekali membuka pintu?” tanyanya pada sosok berwajah lebam-lebam yang terlihat sangat malas menghadapinya. Mulut pria itu seketika terbuka lebar mendapati wajah sahabatnya penuh dengan luka lebam, salah satu matanya pun bengkak. “What the heck! Apa yang terjadi pada wajah tampanmu ini!” decaknya sembari mengulurkan tangan untuk meraih wajah sahabatnya itu.   Segera tangan pria itu ditepis begitu saja. “Akhirnya kau kemari,” katanya lemah, mengabaikan kekhawatiran sahabat sekaligus sepupunya yang kurang ajar karena mengganggu tidurnya. Lalu berbalik, berjalan menuju ke sofa dan melemparkan tubuhnya ke sofa yang sangat nyaman itu.   “Sebastian, aku serius, apa yang terjadi pada wajahmu?” Pria itu terdengar sangat cemas, ia pergi mencari letak obat-obatan pertolongan pertama karena merasa jika Sebastian tidak mengobati luka yang ada di wajahnya.   Sebastian Macalistair bukan hanya sahabat bagi Garnet Giovanni, tapi juga sepupu dari pihak ibu. Mereka dibesarkan seperti saudara kandung, dibawah atap rumah keluarga besar Macalistair, keluarga yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat, memiliki sebuah korporasi raksasa dalam berbagai bidang, yang paling utama adalah bidang food and beverage, mereka menguasai hampir enam puluh persen pasar global, dan empat puluh persen pasar nasional.   Sementara Garnet, memiliki perusahaannya sendiri. Sebuah perusahaan security yang menyediakan jasa keamanan terbesar di California. Biasanya dia tidak memiliki waktu luang untuk bersantai atau bermain-main. Hanya setelah mendengar jika sepupunya, Sebastian baru saja pindah ke California membuatnya sangat bersemangat.   Setelah rapat bersama dengan beberapa kliennya selesai, Garnet kegirangan menuju ke apartemen Sebastian, berniat untuk mengajak pria itu bersenang-senang. Sayangnya, wajah lebam penuh luka yang menyambutnya membuat Garnet kehilangan minatnya.   “Baru beberapa hari di sini, kau sudah berbuat onar. Kali ini siapa yang kau hajar?” tanya Garnet, seolah-olah Sebastian adalah pria yang suka berbuat onar. Padahal yang terjadi itu sebaliknya, Sebastian baru saja menolong seseorang.   Seseorang yang tidak tahu diri, begitu Sebastian menyebutnya setelah mendapati orang yang dia tolong pergi dari rumah sakit tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Sebastian, bahkan pergi secara diam-diam. Jika mengingat lagi kejadian itu, rasanya luka yang ada di wajahnya ini terasa semakin sakit.   “Argh! Pelan-pelan!” desis Sebastian dengan mata tajamnya menusuk Garnet yang sedang mengoleskan obat ke wajahnya.   Bukannya menuruti ucapan Sebastian untuk mengobatinya dengan pelan, Garnet menekan kapas obat itu lebih kencang lagi hingga akhirnya Sebastian merintih kesakitan.   “Kalau tahu sakit, seharusnya kau segera pergi ke rumah sakit.”   “Sudah.” Sebastian membalas dengan suara malas. Setelah Garnet selesai mengoleskan obat ke wajahnya, Sebastian kembali membaringkan tubuhnya. Semua badannya terasa sakit setelah bertarung melawan tiga orang bajingann yang hendak melecehkan seorang wanita.   Ah, itu adalah hari pertama di California yang sial bagi Sebastian. Seminggu lalu, Sebastian pindah ke California setelah mendapatkan mandat dari kakeknya untuk mengambil alih anak perusahaan mereka yang ada di California. Satu hari setelah tiba di California, Sebastian memutuskan untuk pergi melihat keadaan perusahaannya. Dalam perjalanannya, Sebastian melihat tiga orang pria dewasa dengan tubuh besar yang sedang berusaha untuk melecehkan seorang wanita. Tergerak hatinya untuk menolong wanita itu, akhirnya terjadilah perkelahian antara Sebastian dengan tiga orang yang terlihat seperti anggota gangster.   Sempat hampir kalah, Sebastian bisa membalikkan keadaan dan menghajar tiga pria itu bergantian. Setelah ketiganya kalah dan kabur, Sebastian mendapati wanita yang dia tolong gemetar ketakutan lalu jatuh pingsan. Akhirnya Sebastian membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat, setelah mendapatkan perawatan dan Sebastian mengurus administrasinya wanita itu pergi secara diam-diam.   “Biar kupanggilkan dokter Kai, sepertinya bukan hanya wajahmu yang terluka.” Garnet terlihat sangat cemas melihat Sebastian yang tampak kesakitan hanya dengan membaringkan tubuhnya.   “Aku baik-baik saja.”   “Ya, tentu saja kau baik-baik saja. Mantan US Army pasti kebal, bahkan peluru tidak akan menembus kulitmu yang tebal seperti baja ini.” Garnet memprovokasi Sebastian, dia pun sengaja menyentuh bagian tubuh Sebastian yang terluka hingga pria itu bergerak kesakitan.   “Sialan kau! Sepertinya kau mau membunuhku!”   Garnet tertawa dengan keras, melihat Sebastian masih bisa memakinya tampaknya percuma saja dia merasa cemas. Pria itu lebih tahan banting dari apapun.   “Tenanglah, kau tidak akan mati hanya dengan sentuhan tanganku yang lembut ini.”   “Dasar gila! Pergi sana, jangan pernah kembali lagi!” Sebastian mengusir Garnet dengan begitu dramatis. Seolah-olah Garnet telah menyakitinya. Tapi Garnet hanya tertawa sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.   “Oh, man, I miss you.”   “Jangan pernah mengatakan hal menjijikkan seperti itu!” erang Sebastian sembari mengambil bantal sofa dan menutup telinganya dari kata-kata penuh kerinduan dari Garnet.   “Kenapaa? Aku sangat merindukanmu, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Tujuh tahun? Aku sangat-sangat-sangat merindukan My Baby Carrot.” Garnet merasa geli sendiri mendengar ucapan yang terlontar dari bibirnya sendiri.   “Stop it, Giovanni!” Tak beda dengan Sebastian yang seketika itu juga semakin merapatkan bantal sofa itu ke telinganya.   ‘Baby Carrot’ adalah panggilan kesayangan dari ibu Sebastian untuknya, panggilan dari semasa Sebastian masih mengenakan popok hingga dia berusia tiga puluh dua tahun. Sewaktu kecil, Sebastian sangat menyukai wortel, dia bisa menghabiskan dua hingga tiga buah wortel dalam sekali makan, itu sebabnya dia dipanggil ‘Baby Carrot’ oleh ibunya. Dan Sebastian harus terima jika panggilan itu benar-benar menjadi titik lemahnya di hadapan keluarga Macalistair. Sebastian jijik, Sebastian muak jika ada orang lain selain ibunya memanggil dia seperti itu.   Terdengar nada dering ponsel milik Garnet, segera dia mengambil ponsel dalam sakunya. Bola matanya berputar setelah dia melihat nama si penelepon di monitor ponselnya.   “Rebeca never leave me alone, s**t!” gumamnya kesal pada sekertaris pribadinya itu. Padahal Garnet sudah berpamitan pada sekertarisnya untuk pergi dan meminta perempuan itu untuk mengubah jadwalnya hari ini. Entah keadaan genting apa yang membuat Rebeca nekad menelepon bosnya yang tengah asik menggoda sepupunya ini.   “Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan servis area,” kata Garnet tepat setelah dia mengangkat panggilan dari Rebeca.   “Dasar sinting,” gumam Sebastian yang tidak habis pikir dengan tingkah sepupunya yang gila ini.   Sementara itu di ujung saluran, Rebeca terdengar sedang menghela nafasnya. Setelah dua tahun menjadi sekertaris pribadi dari Tuan Garnet Giovanni, dia masih heran dengan tingkah kekanakan bosnya yang terkadang di luar nalar itu.   “Tuan Sullivan ingin bertemu.”   Empat kata dengan nada tegas itu berhasil membuat Garnet menjadi lebih serius. Teringat jika dia memiliki janji penting dengan orang terkaya di California itu. Garnet menyandarkan punggungnya sembari menepuk keningnya.   “Mengapa aku bisa lupa, baiklah aku akan segera kembali.”   “Lima belas menit?” Rebeca bertanya.   “Tiga puluh menit,” balas Garnet sembari bergegas untuk pergi dari apartemen Sebastian.   “Dua puluh menit?”   “Dua puluh menit!” Garnet menutup panggilan tersebut. Tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Sebastian yang berupa rintihan itu menghentikan langkahnya, ia pun berbalik dan melihat jika Sebastian sedang bersandar di sofa sambil menatapnya.   “Kau mengatakan sesuatu?”   “Bisakah kau mencari seseorang untukku?” tanya Sebastian.   “Siapa yang ingin kau cari? Kenapa kau ingin mencarinya? Oh, man, cepatlah, Rebeca akan menggantungku jika aku terlambat.”   Sebastian menatap geli pada Garnet, sepupunya itu terlihat aneh, seperti seseorang yang takut pada kekasihnya. Selama ini dia tidak pernah melihat Garnet menurut pada siapapun, bahkan ibunya sendiri. Kini mendengar jika Garnet takut pada Rebeca itu seperti sesuatu yang baru, Garnet yang baru.   “Francois Rosamund.”   “Wait … do I know this man?”   “Rebeca is waiting.” Sebastian sengaja menggunakan nama Rebeca untuk mengingatkan Garnet jika dia memiliki janji penting dengan kliennya, dan Rebeca sedang menunggu sambil membawa tali yang siap digunakan untuk menggantung Garnet apabila pria itu terlambat.   “Baiklah, aku pergi! Senang bertemu denganmu lagi, Sebs!”   Sebastian hanya melambaikan tangannya dengan malas untuk mengantar kepergian sepupunya yang sinting itu. Setelah itu dia kembali menenggelamkan dirinya di dalam sofa. Mendadak Sebastian teringat pada gadis yang dia tolong tempo hari. Terpikir olehnya, bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja setelah percobaan pelecehan itu?   “Apa peduliku? Ahh, sudahlah!” Sebastian berusaha melupakan kejadian yang membuatnya babak belur dengan susah payah, karena wajah wanita itu entah bagaimana mengingatkannya pada sosok dari masa lalunya, Samantha Rosamund.   ::: To be continued :::                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD