Sebastian hampir tersedak oleh ludahnya sendiri ketika ia mengikuti Samantha masuk ke dalam ruang tamu, ia melihat Matilda sedang duduk bercengkrama bersama Cornelius. Keduanya tampak akrab dan bersahabat, kedatangan Samantha dan Sebastian menghentikan aktifitas keduanya untuk sesaat.
Tatapan Matilda jatuh pada Samantha, matanya menelusur ke atas hingga ke bawah lalu mengangguk samar. Seolah ia menyetujui penampilan Samantha yang baru saja memanen anggur, gadis itu hanya menggunakan skinny, boots, dan kemeja longgar yang tak menunjukkan lekuk indah tubuhnya sama sekali. Namun, meski demikian kecantikannya tak berkurang.
Setelah menatap Samantha, pandangan Matilda pun jatuh pada sosok menawan Sebastian yang berdiri sigap di belakangnya. Ia tersenyum samar ke arah Sebastian, sementara pria itu berusaha keras untuk mengontrol ekspresinya. Dia tidak mengerti, mengapa ibunya begitu nekat untuk mengambil alih tugasnya dalam mendapatkan tanah milik Francois.
“Nyonya Macalistaire … ini adalah menantuku, Samantha.” Cornelius memperkenalkan Samantha dengan kebanggaan yang jelas terdengar dalam suaranya. “Samantha, beliau ini adalah … Nyonya Matilda Macalistaire, salah satu komisaris dari perusahaan—”
“Saya tahu ayah,” sela Samantha tapi dengan tenang, setenang air yang tertampung di dalam danau, sama sekali tak beriak.
Matilda berdiri, ia tersenyum begitu hangat ke arah Samantha dan mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan gadis cantik yang memiliki mata layaknya lautan mediterania itu.
“Setelah melihatnya secara langsung sekarang aku mengerti mengapa kau begitu membanggakannya, Tuan Cornelius. Kau memiliki menantu yang luar biasa cantik,” puji Matilda dengan sungguh-sungguh.
Samantha segera menjabat tangan Matilda dan membalas senyumannya meski ia merasa tak begitu nyaman. Bagaimana pun, Matilda adalah orang yang hendak membeli tanah milik ayahnya, sementara Samantha masih belum memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan tanah itu. Apakah ia akan mengambil dua puluh juta dollar dan melepaskan tanah ayahnya atau mempertahankan tanah itu dan berjuang keras untuk membuat tanah yang lama tak diurus itu menjadi subur kembali.
“Anda terlalu memuji saya, Nyonya.”
“Tidak, aku tidak berlebihan … kemarilah,” Matilda kemudian mengajak Samantha duduk di sofa yang tak jauh dari mereka.
Di sisi lainnya, Sebastian semakin was-was degan tingkah ibunya itu. Namun jika melihat apa yang dilakukan oleh ibunya, sepertinya tak ada yang perlu dicemaskan olehnya. Ibunya adalah seorang profesional ia tahu apa yang dilakukannya.
Matilda menggenggam telapak tangan Samantha penuh kehangatan seorang ibu, ia menatap Samantha dengan sungguh-sungguh. Tak ada keangkuhan seorang konglomerat ataupun orang yang serakah seperti pengusaha rakus lainnya.
“Apa yang membuatmu lama untuk melepaskan tanah itu? Kau tahu … tanah itu bernilai sangat mahal dan kami sudah memberikan harga yang paling tinggi.” Matilda sama sekali tak berbasa-basi, seketika itu secara perlahan-lahan Samantha menarik tangannya dari genggaman Matilda. Ia bahkan memberikan jarak kepada tempat duduk mereka lalu tersenyum simpul.
“Sebelumnya saya masih mempertimbangkan apa yang harus saya lakukan dengan tanah tersebut, tapi saat ini saya semakin yakin bahwa saya tidak akan menjual tanah itu apapun yang terjadi.” Samantha mengatakannya dengan sadar.
Sadar bahwa dirinya akan selamanya terikat dengan keluarga Sullivan, akan sulit baginya melepaskan diri dari jeratan James. Setiap hari dia pasti akan mendapaat makian, celaan, bahkan mungkin kembali dilecehkan seperti malam itu lagi. Akan tetapi, Samantha tak akan menjual impian sang ayah begitu mudahnya.
“Tidak masalah … pada waktunya nanti kami akan membeli tanah itu.”
“Silakan anda berusaha.”
“Kurasa percakapan ini sudah cukup,” Cornelius menyela, ia tak ingin melihat menantunya tersudut meski ia cukup terkesan dengan keberanian Samantha menghadapi Matilda.
Dalam dunia bisnis Matilda terkenal sebagai pengusaha wanita bertangan besi, ia tak segan-segan untuk menghancurkan lawan bisnisnya jika rencananya tak sesuai dengan harapannya. Beruntung Cornelius menjalin kerjasama dengan Matilda sudah sejak lama sehingga ia bisa menghindari tangan besi Matilda. Melihat Samantha yang cukup berani menghadapi Matilda membuat Cornelius semakin bangga.
“Samantha, nak … kau boleh pergi.” Cornelius meminta Samantha untuk meninggalkan ruang tamu. Samantha mengangguk mematuhi ayah mertuanya.
“Nyonya Matilda … senang bertemu dengan anda.” Samantha berdiri kemudian memberikan salam pada Matilda lalu beranjak pergi. Sebelum benar-benar pergi dari ruang tamu, Samantha menghentikan langkahnya lantas ia berbalik pada Cornelius dan Matilda.
“Tidak ada yang bisa membeli sebuah mimpi, Nyonya.” Ucapan Samantha itu menarik perhatian Cornelius dan juga Matilda, keduanya menatap Samantha dan gadis itu hanya tersenyum simpul. “Saya hanya mengatakannya saja,” katanya kemudian melangkah pergi diikuti oleh Sebastian di belakangnya.
“Aku suka gadis itu, dia tangguh.”
Cornelius menyandarkan punggungnya dan tersenyum bangga, bukan hanya Matilda bahkan dirinya sendiri pun menyukai karakter Samantha yang sebenarnya. Gadis itu memang keras kepala, kadang terlihat lembut layaknya wanita lemah, akan tetapi jika sudah berkemauan maka tekadnya akan sebulat lingkaran yang sempurna, ia pun sangat menjaga nama keluarga Sullivan karena Cornelius tahu betul skandal yang disebabkan oleh anaknya tapi Samantha sekuat tenaga membuat menepis skandal itu.
“Kurasa aku tidak salah memilih menantu, bukan begitu, Matilda?”
“Tentu saja, tapi ….” Matilda terdiam sejenak, ia teringat akan tatapan anaknya kepada Samantha saat di pesta peresmian kantor walikota dan juga tatapan mata Sebastian yang penuh kecemasan saat anaknya itu melihat dirinya ada di rumah Cornelius. Seolah-olah dirinya adalah sebuah ancaman untuk Samantha.
“Tapi?” Cornelius penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Matilda, mengapa wanita itu harus memberi jeda pada ucapannya.
“Anda harus berhati-hati atau orang lain akan mengambil menantumu itu,” ucap Matilda dengan sedikit nada bercanda. Seketika itu Cornelius tertawa, menganggap ucapan Matilda hanya gurauan semata.
Padahal, Matilda serius mengatakannya. Sebagai seseorang yang bekerja di bidang yang serupa dan telah lama bekerja sama ia pun tahu skandal apa yang dibuat oleh James dan menjadi aib bagi keluarga Sullivan.
“Siapa yang berani mengambilnya … tidak ada orang yang akan berani mengganggu keluarga Sullivan,” ucap Cornelius dengan percaya diri.
Tanpa menyadarinya ada orang yang siap kapan saja untuk mengambil Samantha, dan orang itu saat ini sedang berjalan di belakang Samantha dengan tatapan yang tak pernah lepas dari sosok Samantha, terus mengawasinya tanpa berpaling sedikit saja.
“Saya pikir mereka tidak akan menyerah,” ujar Sebastian dari belakang Samantha.
“Kalau begitu aku akan membuat mereka mundur.” Samantha asal saja mengatakannya, ia sendiri masih tidak tahu bagaimana caranya agar dirinya bisa mempertahankan tanah milik ayahnya itu.
Mendengar Samantha mengatakan hal itu membuat Sebastian tersenyum bangga, seandainya saja Samantha adalah wanitanya tentu ia sudah memeluk Samantha dengan erat dan memberikan seluruh dukungannya. Namun ia hanya bisa tersenyum seperti orang bodoh sambil mengikuti Samantha.
*
Garnet terperanjat saat pintu ruangan kerjanya dibuka dengan kasar, ia mendapati Sebastian tengah berjalan ke arahnya bersungut-sungut penuh amarah. Ada apa lagi dengan anak ini, pikirnya. Kemarin ibunya datang dengan aura lembut mematikan, sekarang anaknya yang datang padanya dengan kegelapan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sepertinya Garnet harus meminta seseorang untuk menyingkirkan kesialan dalam hidupnya, tapi … dirinya sendiri pun tak percaya dengan hal-hal semacam itu.
BRAK
Pelan memang, tapi bagi Garnet saat Sebastian meletakkan sesuatu di atas mejanya sepelan apapun rasanya itu seperti diletakkan dengan sangat kasar.
“Ada apa dengan wajah jelekmu itu?” tanya Sebastian sembari memandangi wajah ketakutan Garnet.
“Tanyakan itu pada dirimu dan ibumu, kenapa kalian tidak berhenti menggangguku!” seru Garnet dengan dramatis. Sebastian hanya memutar matanya tak habis pikir.
Setelah melihat ibunya datang ke rumah keluarga Sullivan tempo hari, Sebastian langsung saja menemui ibunya. Ia meminta—menuntut penjelasan pada sang ibu, mengapa ibunya harus mengotori tangannya sendiri untuk mengatasi tanah yang akan mereka beli. Akan tetapi jawaban sang ibu benar-benar di luar dugaan Sebastian.
“Pantas saja kau sangat melindungi gadis itu, jika aku seorang pria pun aku pasti akan langsung menyukainya.”
“Bukan itu poinnya,” ucap Sebastian yang merasa jengkel karena ibunya terus saja membawa perkara perasaan ke dalam urusan ini.
“Kalau begitu berapa hari?”
“Apa yang berapa hari, bu?”
“Berapa hari sampai aku bisa mendapatkan kontrak jual tanah itu?” tanya Matilda dengan tatapan tajam bak elang yang hendak mencengkram mangsanya. Sebastian bepikir sejenak, kira-kira berapa hari dia bisa mendapatkan tanah itu. Setelah menghela nafasnya, ia pun menatap Matilda bersungguh-sungguh.
“Tiga puluh hari.”
“Itu terlalu lama.”
“Tiga puluh hari atau kita tidak akan mendapatkan apapun,” ancam Sebastian.
“Baiklah, tiga puluh hari. Jika lebih dari itu kau tidak bisa mendapatkannya maka jangan salahkan ibu jika menggunakan cara yang biasa ibu lakukan untuk mendapatkannya.”
“Tidak perlu khawatir,”
Setelah percakapan itu Sebastian merasa cukup tenang, setidaknya dia tidak akan diganggu oleh ibunya selama tiga puluh hari ke depan.
“Kau tidak akan diganggu oleh ibuku sementara waktu ini.” Sebastian membalas ucapan Garnet.
“Benarkah?” tanya Garnet dengan mata melebar seperti anak kecil yang berusaha untuk mendapatkan sebuah janji. Sebastian hanya mengangguk untuk meyakinkan Garnet. “Baiklah, itu cukup … setidaknya satu keluarga Macalistaire saja sudah cukup menggangguku.”
“Kau juga bagian keluarga itu, bodoh.”
“Ehehe, kadang aku suka lupa kalian terlalu elit untuk orang sepertiku….”
“Dasar sinting!”
“Sinting begini kau masih membutuhkanku, ada apa kau kemari?” tanya Garnet sembari melirik ke arah tangan Sebastian yang belum ditarik dari mejanya. Di bawah tangan itu terdapat sebuah kertas yang lebih mirip pada sebuah foto ketimbang sebuah kertas. Garnet mengira jika Sebastian mungkin akan menunjukkan foto wanita cantik atau semacamnya untuk dicari informasinya, setidaknya itu bisa mengalihkan pikirannya dari Rebeca yang terus menerus keluar dan masuk ke dalam ruangannya dan mengacak-acak hatinya.
“Ini.” Akhirnya Sebastian menyodorkan foto yang sejak tadi ditutupi oleh tangannya. Dan hati Garnet kecewa melihat foto tersebut, rupanya itu bukan foto cantik, melainkan hanya foto sebuah mobil putih yang baru saja dirusak dengan cat merah. Jika itu mobil biasa mungkin tidak akan jadi masalah tapi itu adalah Mercedez series E keluaran terbaru. Hanya orang berkecukupan yang mampu membeli mobil mewah seperti itu, dan siapa pula yang berani merusaknya. Seolah-olah mereka bisa mengganti biaya perbaikannya saja.
“Di sini bukan tempat cat mobil, Tuan Sebastian Macalistaire.”
“Sepertinya kau memang sudah gila,” balas Sebastian sembari memutar bola matanya.
“Tenang-tenang … aku hanya bercanda. Lalu apa yang kau inginkan dari foto ini?” Garnet mengambil foto tersebut, mengamatinya lekat-lekat, tulisah di mobil itu benar-benar menjijikkan. Siapa orang gila yang mau berbuat sekotor ini hanya untuk mempermalukan seseorang?
“Aku ingin kau mencari siapa orang yang merusak mobil ini dan siapa yang menyuruhnya.”
“Jadi kau berpikir bahwa ini bukan perusakan biasa?” tanya Garnet, sejak awal dia sudah merasa curiga. “Keluarga Sullivan? Maksudku, Samantha Sullivan?”
Sebastian memejamkan matanya, ia tidak suka saat nama Samantha disebutkan bersama dengan nama keluarga Sullivan yang menjeratnya dalam pernikahan yang tak menguntugkan itu.
“Ini adalah mobil Samantha, seseorang merusaknya … aku sudah mengira seseorang tapi aku ingin meyakinkan diriku bahwa memang dia orangnya, dan ….” Sebastian mengeluarkan beberapa foto lagi untuk diserahkan kepada Garnet. Foto yang sebenarnya Garnet sudah tahu sebelumnya, foto cctv saat kekerasan terjadi pada Samantha setelah pergi ke groceries.
“Apa menurutmu orang yang sama mendalangi semua ini?”
“Ya.” Sebastian menjawab dengan pasti, instingnya sebagai seorang tentara selalu kuat dan tidak pernah meleset, kecuali saat … Sebastian tak ingin membayangkannya lagi, itu adalah hal paling mengerikan yang pernah terjadi padanya selama ia berada di kemiliteran.
“Baiklah, aku akan mencari informasi tentang hal ini. Lalu apa lagi yang kau butuhkan?” tanya Garnet lagi.
Sebastian berpikir sejenak ada satu hal yang cukup mengganggu Sebastian sejak pesta peresmian kantor walikota tempo hari. Memar di wajah dan leher Samantha.
“Bisa kau awasi James Sullivan untukku?” tanya Sebastian lagi.
“Astaga … permintaanmu banyak sekali.”
“Orang itu, sepertinya dia sudah gila.”
“Apa maksudmu dia sudah gila?” tanya Garnet yang penasaran dengan perkataan Sebastian.
Bukan hanya perkara tentang memar di leher Samantha dan wajahnya saja, akan tetapi Sebastian menyaksikan sendiri interaksi antara James dan Madison di pesta tersebut, meski mereka berusaha menyembunyikannya tapi terlihat sangat jelas sekali apabila keduanya memiliki sebuah affair. Sebastian memang sudah mengetahuinya sejak pertama ia menyelidiki keluarga itu, yang ingin Sebastian pastikan adalah tidak ada keterlibatan Madison dalam semua yang terjadi pada Samantha.
“Kau tidak perlu tahu, aku hanya ingin kau mengawasinya untukku. Dan laporkan semuanya padaku.”
“Itu perkara yang mudah … tapi bisakah kau memberi sedikit saja cluenya, hm?” tanya Garnet yang sangat penasaran dengan maksud Sebastian sebelumnya.
“Intinya pria itu gila.” Sebastian tidak ingin membuat Samantha malu karena telah dianiaya oleh suaminya sendiri, itu adalah hal paling kejam yang bisa terjadi pada seorang perempuan. Samantha mungkin tidak beruntung karena mendapatkan suami yang perilakunya sangat keji, jadi ia tidak perlu dipermalukan dengan menyebarkan aibnya.
“Astaga … baiklah aku mengerti, aku akan melaksanakan permintaanmu. Tapi bisakah aku juga meminta saranmu.”
“Tentang?”
“Rebeca?”
“Kau pandai dalam mencari informasi tapi kau tidak bisa berkutik di depan Rebeca? Apa kau benar-benar Garnet Giovanni yang kukenal.”
“Semua bodoh dalam perkara cinta, Tuan Sebastian Macalistaire. Begitu juga denganmu.”
Perkataan Garnet memang benar, Ia seolah mendapatkan skak mat dari ucapan Garnet padanya, bahkan dirinya sendiri pun akan tampak sangat t***l jika berurusan dengan semua perihal tentang Samantha.
“Baiklah, aku akan membantumu sebagai ganti bantuanmu padaku,”