“Mungkin ini terdengar sangat cliché, tapi Tuan Grand ….”
Suara Samantha benar-benar mengalihkan perhatian Sebastian, sepanjang perempuan itu bicara, ia tak bisa berpaling. Pandangan matanya hanya tertuju pada bibir tipis yang dipoles tipis oleh lipstik berwarna peach yang sangat cocok dengan warna kulitnya.
Sebastian dulu sempat membayangkan, bagaimana jadinya jika Samantha jadi sosok perempuan dewasa, apakah dia akan liar dan suka membangkang, atau dia akan menjadi perempuan yang sangat feminim dan suka memakai gaun dan riasan—jujur saja, Francois dulu sangat kaya raya, entah apa yang membuatnya sampai di titik sekarang. Setelah kembali melihat Samantha setelah bertahun-tahun berlalu, rupanya apa yang ada dipikiran Sebastian tidak ada yang benar.
Perempuan yang memiliki warna mata sebiru laut mediterania itu tumbuh menjadi sosok cantik menawan yang akan dengan mudah memikat para pria di sekitarnya. Tidak akan ada pria yang tidak tertarik dengan Samantha, ia memiliki postur tubuh yang indah, tidak terlalu tinggi dan tak juga terlalu pendek, sangat pas. Bintik-bintik cokelat di sekitar wajahnya membuatnya terlihat unik, apalagi warna rambutnya yang sepirang madu itu terlihat indah ketika diurai dan mengayun di belakang punggungnya.
Punggungnya … ada lekuk yang indah dan menggoda untuk dipeluk, ingin rasanya Sebastian melingkarkan tangannya pada lekuk yang tercipta membentuk pola seperti biola di pinggangnya.
“Tuan Grand??” Suara Samantha yang semerdu nyanyian burung di pagi hari itu mengurai lamunan-lamunan Sebastian. Pria itu terkesiap, tak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia baru saja berfantasi tentang perempuan yang kini jadi majikannya.
“Ya?”
“Apa kau mendengarkanku?”
“Anda bilang apa?” Tentu saja Sebastian tidak mendengar apapun yang diocehkan oleh Samantha, pria itu terlalu sibuk dengan fantasi liarnya dengan Samantha sehingga semua hal yang ada di sekitarnya bahkan setiap kata yang diucapkan oleh Samantha itu sama sekali tak masuk ke dalam telinganya.
Samantha menghela nafasnya, ia mendongak sedikit untuk menatap Sebastian yang berdiri di depannya. Sebastian mendadak memalingkan mukanya ketika matanya bertubrukan dengan leher jenjang Samantha yang terbuka lebar dan seolah memanggilnya untuk diendus.
Diendus. Hahaha. Sebastian mentertawakan dirinya sendiri dalam hati, bagaimana bisa ia memilih kata diendus padahal ada hal lain yang bisa ia lakukan dengan leher itu selain mengendusnya. Namun, yang jelas saat ini ia tak ingin semakin tergoda dengan Samantha, cukup pikirannya saja yang berfantasi liar, jangan kelakuannya juga ikut liar. Tugasnya adalah melindungi Samantha, titik.
Berbicara soal melindungi Samantha, sudah seminggu lamanya ia menjadi bodyguard perempuan itu. Benar pula apa yang dikatakan oleh Samantha saat pertama kali mereka bertemu. Sebastian masih ingat saat pertama kalinya ia mengekor Samantha ke mana-mana, Samantha mengatakan, “Kau pasti akan bosan dengan mengikutiku.”
Lantas begitu percaya diri Sebastian pun menjawab, “Saya tidak memiliki rasa bosan.”
Akibatnya, Samantha benar-benar membuat Sebastian benar-benar menemaninya melakukan hal-hal yang bisa dikatakan sangat membosankan bagi sebagian orang. Samantha merajut selama berhari-hari setiap pagi hingga sore hari, lalu ia akan pergi membaca buku di taman belakang mansion selama berjam-jam. Jika Samantha keluar rumah pun itu karena ia pergi ke groceries untuk membeli kebutuhan untuk ayahnya yang ada di rumah sakit. Namun, belum pernah sekali saja Samantha pergi ke rumah sakit. Wanita itu akan meminta Andre untuk mengantarkan seluruh barang yang dibelinya ke rumah sakit. Tapi meski begitu, Sebastian sama sekali tak merasa bosan, ia suka sekali mengekor Samantha ke mana pun perempuan itu melangkah, ia suka menjaganya tetap berada dalam jangkauan pandangan matanya.
Menjelang malam pun Sebastian harus pergi, ia selalu diusir secara tidak langsung oleh Samantha dengan mengatakan, “Siapa yang akan menggangguku di malam hari? Suamiku akan segera pulang, dia akan menjagaku.”
Nyatanya, James-Sialan-Sullivan itu hampir tak pernah pulang setiap malamnya. Jika pun pulang akan selalu dalam keadaan mabuk. Sebastian mengetahuinya karena ia tidak pernah benar-benar meninggalkan Samantha begitu saja. Meski Samantha memintanya untuk pergi, ia akan tinggal sampai James benar-benar pulang. Tetapi, pria itu memang sebrengsek wajahnya, ia hampir tak pernah pulang, saat pulang dalam keadaan mabuk pun, Sebastian selalu mendengar pria itu mengumpat pada Samantha. Satu hal yang membuat Sebastian harus berusaha sekuat tenaganya untuk menahan diri agar tidak langsung menghajar pria itu.
“Aku bilang … kau tidak perlu sering-sering mengikutiku, apalagi saat di rumah seperti ini.” Samantha mengulang kembali ucapannya pada Sebastian. Tentu saja pria itu tak mengerti mengapa dirinya tak diperkenankan mengikutinya. Seandainya bisa, pria itu bahkan ingin berjaga di samping Samantha tidur, memastikan bahwa mimpi buruk pun tak akan merusak ketentraman tidur seorang Samantha.
“Tidak.” Sebastian menjawab tegas dan lugas. Sebuah jawaban yang terbentuk hanya dari sebuah kata tapi berhasil membuat Samantha terperangah dibuatnya. Apalagi keseriusan di wajah Sebastian menunjukkan jika jawaban itu sama sekali tidak terbantahkan.
“Di dalam kontrak saya, dikatakan jika saya tidak diperkenankan jauh-jauh dari anda.”
“Kontrak yang ditandatangani oleh ayah mertuaku.”
“Tepat sekali, jadi sebenarnya bukan anda yang boleh memerintah saya di sini, tapi Tuan Cornelius.”
“Apa kau selalu keras kepala seperti ini?” tanya Samantha lagi dengan bibir mengerucut kesal karena semua ocehannya hanyalah bagaikan angin lalu untuk Sebastian, sama sekali tak dihiraukan, jangankan untuk dituruti bahkan didengarkan oleh pria bertubuh jangkung itu saja tidak.
“Hanya saat-saat tertentu saja.”
“Kurasa itu terjadi setiap saat.” Samantha menyahut dengan cepat. Sebastian terkekeh pelan mendengarnya, hal yang membuat Samantha pun tertegun. Karena sejak pertama kali mereka bertemu, Sebastian belum pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia juga bisa tersenyum layaknya manusia pada umumnya.
Anehnya … entah bagaimana tawa Sebastian itu terdengar begitu akrab di telinga Samantha, seperti ia pernah mendengarnya dan sering mendengarnya sebelum ini. Hanya saja Samantha tidak tahu kapan dan di mana ia pernah mendengarnya, bahkan sulit baginya untuk menggali ingatan itu. Samantha menyerah, ia tak ingin memusingkan sesuatu yang tak bisa ingat.
“Nyonya muda ….” Panggilan suara Andre menginterupsi interaksi antara Sebastian dan Samantha. Keduanya pun langsung berbalik dan mendapati pria itu sudah berdiri di belakang mereka tanpa mereka sadari kapan pria itu tiba.
“Kau mengejutkanku!” ujar Samantha.
“Bagaimana kau bisa berjalan tanpa menimbulkan suara?” tanya Sebastian. Dua pria itu sudah akrab meski baru seminggu berkenalan.
“Kalian saja terlalu asik berbicara sampai tidak sadar kalau aku berjalan kemari,” ucap Andre sembari melirik ke arah Sebastian dengan senyuman penuh arti.
“Apa ada sesuatu sampai kau datang ke mari?” tanya Samantha, yang ia pahami bahwa Andre tidak akan datang padanya di saat-saat begini jika bukan karena perintah Cornelius.
“Tuan Besar memanggil anda, ada hal penting yang ingin dikatakan dengan anda.”
“Hal penting apa, tidak biasanya ayah memanggilku seperti ini.” Samantha menerka apa yang ingin Cornelius katakan padanya, biasanya jika ada hal yang ingin dibicarakan pria itu akan membahasnya saat sarapan.
“Anda datang saja temui Tuan Besar.”
“Ah, baiklah kalau begitu. Nah … Tuan Grand, sepertinya kau bisa pulang lebih awal hari ini.” Samantha cepat beralih pada Sebastian, ia ingin menggunakan alasan percakapannya dengan Cornelius agar Sebastian pergi.
“Tidak.”
“Apakah tidak jawaban yang lebih menyenangkan untuk didengar?” tanya Samantha sembari menatap sinis ke arah Sebastian.
“Tidak.” Sebastian menjawab sembari menggelengkan kepalanya. Andre yang memperhatikan interaksi keduanya hanya bisa menatap geli.
“Intinya, jangan ikuti aku.” Samantha mengabaikan ucapan Sebastian kemudian ia beranjak dengan mengikuti Andre. Namun, yang terjadi sebaliknya, Sebastian mengekor di belakang Samantha.
Kesal karena diikuti oleh Sebastian, setelah beberapa langkah Samantha berbalik lagi. Ia menatap Sebastian dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Berhenti!” katanya tegas, spontan Sebastian pun berhenti. “Jangan mengikutiku!” imbuhnya. Setelahnya, Samantha kembali melangkah dan Sebastian lagi-lagi mengikutinya.
“Ssssppp!” Samantha berbalik, ia menatap tajam Sebastian dengan tajam. “Dasar keras kepala!”
“Memangnya apa yang salah jika dia mengikuti anda?” tanya Andre.
“Sudahlah … aku menyerah, lakukan saja semaumu!” Samantha yang menyerah, ia memutar matanya kesal dan akhirnya melangkah lagi, tapi kali ini bukan langkah pelan akan tetapi berlari. Dan Sebastian pun dengan langkah cepatnya segera mengikuti Samantha.
“Ada apa dengan mereka berdua ini, kenapa tingkahnya seperti anak kecil,” Andre hanya bisa mengusap dadanya melihat kelakuka dua sejoli yang baru saja saling mengenal tapi lagaknya sudah seperti teman lama.
::
Hamparan tanah yang tampak gersang itu menjadi satu-satunya pemandangan di depan Samantha. Ladang yang dulunya begitu subur, kini menjadi ladang gersang tanpa tanaman. Bahkan mungkin jika pun dirinya berusaha untuk menanami tanah yang adalah milik ayahnya, tidak akan ada satu pun yang tumbuh. Tanah di hadapannya memerlukan perawatan yang lebih agar bisa ditanami seperti dulu.
“Apa yang bisa kulakukan dengan tanah gersang ini?” gumamnya pelan. Meski begitu pelan tapi Sebastian yang berdiri di sampingnya masih bisa mendengarnya. Pria itu menoleh ke arah Samantha, memperhatikan perempuan dengan topi ala koboi yang tersemat menutup keindahan rambutnya.
“Apakah anda ingin membuatnya kembali seperti semula?”
Pertanyaan itu membuat Samantha langsung menoleh ke arah Sebastian, ia mendongak dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Menatap Sebastian lekat-lekat, penasaran apakah pria ini mengetahui apa yang terjadi dengan tanah milik keluarganya ini sehingga pertanyaan itu muncul.
“Dari mana kau berasal, Tuan Grand?” tanya Samantha.
“Los Angeles.” Sebastian menjawabnya spontan, sesaat ia lupa bahwa dirinya bukanlah Sebastian Macalistair calon pewaris tungga perusahaan kakeknya tapi adalah Sebastian Grand yang merupakan bodyguard Samantha dan bertugas untuk melindunginya.
“Tapi sejak kecil aku hidup di California, Southernreed.” Sebastian menambahkan karena seketika itu juga dirinya ingat identitas palsunya.
“Cukup jauh dari sini.”
“Tapi tidak cukup untuk tidak mengetahui betapa terkenalnya ladang ini.” Sebastian berdalih lagi.
“Apa begitu terkenalnya sampai-sampai kau mengetahuinya?”
“Tidak juga,” balas Sebastian dengan wajah polosnya. Seketika itu Samantha pun langusng menoleh ke arah Sebastian dengan mimik muka kesal. Ia pikir ladangnya memang seterkenal itu karena saat sekolah dulu orang-orang selalu memanggilnya si gadis anggur karena ladang milik ayahnya adalah ladang terluas dengan tanaman anggur sebagai produk utama yang dihasilkan.
Akan tetapi sejak beberapa tahun berlalu, ketika ibunya meninggal dan ayahnya mulai mabuk-mabukan, semuanya berubah sangat drastis. Semuanya seolah sirna dalam waktu dekat, kehangatan rumahnya, bahkan ladang anggur milik ayahnya yang tak lagi dikelola dengan baik.
“Selain mendengarnya … saya juga tahu dari dokumen milik anda.” Sebastian menjelaskan, tak ingin Samantha salah paham dengannya.
Wajah Samantha memerah mengingat saat-saat dirinya dilecehkan setelah berbelanja, ia bersikeras tak ingin pergi ke rumah sakit untuk perawatan agar tak ada orang lain yang mengetahui tentang aibnya, tapi kini malah pria yang ada di sampingnya ini mengetahuinya.
“Lain kali … jangan pergi begitu saja saat ada orang yang menolong anda,” Sebastian menoleh ke arah Samantha yang menatapnya semakin bingung.
Menatap ke dalam mata abu-abu milik Sebastian itu tiba-tiba saja sekelebat ingatan merasuk ke dalam benak Samantha, ingatan tentang seorang pria yang menolongnya dan dirinya tanpa tahu diri malah kabur dari rumah sakit sampai belum sempat mengatakan ucapan terima kasih.
“Jadi kau adalah ….”
“Ya, saya adalah orang yang mendapatkan banyak tinju untuk melindungi anda tapi anda malah pergi begitu saja.”
“Astaga!” Spontan Samantha menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, ia sangat terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui.
“Apa kau terluka parah waktu itu?” tanya Samantha tampak cemas dan merasa sangat bersalah. Memang dirinya sangat bodoh dan tak tahu diri, sudah ditolong bukannya berterimakasih tapi malah kabur begitu saja tanpa mengatakan apapun dan tak mau tahu dengan apa yang dialami oleh pria itu.
Sekarang ia tahu jika pria itu adalah bodyguardnya, rasanya seperti sebuah takdir yang … tunggu … mendadak sebuah pikiran buruk melintas dalam benak Samantha.
“Kau … kau bukan sengaja menjadi bodyguardku karena kau tahu aku adalah wanita yang kau tolong dan kau ingin menuntut imbalan dariku ‘kan?”
Sebastian menatap Samantha dengan tatapan terluka, bagaimana mungkin ia dituduh seperti itu setelah merelakan tubuhnya lebam-lebam karena mendapatkan banyak pukulan dari para preman b******k itu.
“Tidak ya?” tanya Samantha yang merasa bersalah. “Maafkan aku,” ujarnya lagi.
Sebastian pun hanya tersenyum memandangi Samantha.
“Kenapa kau malah tersenyum?” tanya Samantha yang merasa bingung dengan senyuman Sebastian, baginya senyuman itu memiliki makna hanya saja apa arti dari senyuman itu masih tak bisa diterka oleh Samantha.
“Karena jika bukan karena preman-preman sialan itu, aku tidak akan bertemu dengan anda.”
Deg
Deg
Deg
Deg
Jantung Samantha berdetak dengan sangat kencang, ia menatap panasnya mata abu-abu Sebastian tak percaya. Bagaimana mungkin Sebastian bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya tapi dengan wajah datar seolah tanpa perasaan sementara dirinya malah berdebar mendengarnya. Seketika itu juga Samantha memalingkan wajahnya.
“Maksudnya, saya senang bisa menjadi bodyguard anda.” Sebastian menambahkan karena ia merasa jika ucapannya itu ia katakan pada waktu yang tak tepat. Samantha sudah bersuami, ia harus lebih berhati-hati menjaga perasaannya sendiri.
“Sebaiknya aku berkeliling untuk melihat keadaan ladang ini dan memikirkan apa yang bisa kulakukan dengannya.” Samantha ingin mengalihkan perhatian dirinya dari debaran jantung yang tak berirama ini.
Samantha pun melangkah dengan cepat dan Sebastian seperti biasanya mengekor dari belakang. Mereka berdua berjalan cukup lama bersama-sama tanpa mengatakan apapun, Samantha sibuk mengamati ladangnya yang begitu gersang. Sementara Sebastian sibuk mengamati Samantha yang begitu serius.
“Mengapa anda ingin mengembalikan keadaan ladang ini seperti sedia kala? Ladang ini akan menghasilkan banyak uang jika anda menjualnya.” Sebastian memberi usul.
Saat itu juga Samantha berhenti seketika, ia menghadap ke satu titik yang cukup jauh di depannya. Di balik rumput liar yang mulai tinggi, di tengah-tengah ladang yang gersang itu ada sebuah pohon besar, sangat besar. Pada pohon itu tergantung sebuah ayunan yang masih utuh. Di sampingnya, Sebastian mengikuti arah pandangan Samantha, ia pun melihat hal yang sama dengan apa yang dilihat oleh Samantha.
Pemandangan itu benar-benar menghangatkan perasaan Sebastian karena kenangan yang pernah tercipta dulu sangat berkaitan erat dengan pohon dan ayunan itu.
“Sampai kapanpun ….” Suara Samantha mendobrak keras lamunan Sebastian. Ia menoleh dan menatap mata sayu Samantha.
Samantha, dengan mata birunya menatap lekat manik abu-abu milik Sebastian. Berusaha menyampaikan bahwa ladang ini sangat berarti untuknya, segersang apapun, setakberguna apapun tanahnya, bagi Samantha ini adalah harta yang paling berharga dan tak akan pernah terganti.
“Sampai kapanpun, aku tak akan pernah menggantikan ladang ini dengan uang sebesar apapun.”