Ketukan pada pintu membuat Samantha seketika berdiri dari meja makan, meninggalkan makan malamnya. Bukan karena alasan, ia pikir mungkin itu adalah Sebastian, begitu antusiasnya Samantha membuka pintu namun saat pintu itu terbuka hanya hembusan angin belaka yang ia temui. Samantha menoleh ke kiri dan ke kanan, barangkali Sebastian mengerjainya. Bukan menemukan pria bermata abu-abu itu, Samantha malah menemukan sebuah amplop berwarna cokelat yang terlihat mencurigakan. Samantha langsung mengambil amplop tersebut, rasa penasarannya cukup besar meski tahu bahwa amplop itu cukup mencurigakan. “Siapa yang datang, Sam?” suara ayah Samantha terdengar dari ruang makan. Samantha hendak membuka amplop tersebut pun mengurungkan niatnya. Ia akan membukanya nanti setelah makan malam, pikirnya. “Ent

