06: House of Sullivan

1296 Words
Pertama kalinya Sebastian menginjakkan kaki di kediaman Cornelius ia langsung disambut dengan tatapan sinis dari seorang pria yang ia ketahui sebagai James Sullivan—suami Samantha. Pria itu tidak terlalu tinggi perawakannya, tubuhnya agak sedikit dempal, tapi cukup tampan untuk ukuran anak konglomerat. Ada yang cukup mengganjal dalam hati Sebastian, penampilan James lebih mirip seperti pria metropolitan yang sangat mementingkan penampilannya lebih dari apapun. “Jadi kau yang ditugaskan untuk menjadi bodyguard perempuan itu?” Pertanyaan itu cukup untuk membuat Sebastian berniat meninju mukanya yang terlalu mulus seperti aspal. Bagaimana bisa seorang lelaki menyebut istrinya bukan dengan nama melainkan ‘perempuan itu’, seakan-akan Samantha sama sekali tak berharga di matanya. Jika Samantha tak begitu berharga, mengapa pula ia bersedia untuk menikah dengannya. Alasan apapun, sebagai seorang pria ia harus berani untuk menolak jika memang tak sesuai dengan keinginan hatinya. Sebastian tak menjawab pertanyaan James, ia melenggang pergi mengabaikan pria itu dan membuatnya kesal. James berbalik kemudian menahan lengan Sebastian, ia merasa ditantang oleh pria yang baru saja bertemu dengannya, merasa sangat tidak dihargai sama sekali. Sebastian pun berhenti, lalu berbalik menatap tajam ke arah James. Entah mengapa Sebastian merasa sangat jengkel dengan pria yang tak jauh lebih tinggi dari hidungnya ini. Seandainya saja ia tak mengingat jika James adalah suami Samantha, maka ia pasti sudah menghajar pria itu sampai tak kuat berdiri. “Apa kau tidak tahu siapa aku?” James begitu angkuh, mengandalkan kekayaan yang dia miliki dan nama ayah yang selalu melekat di belakang namanya. Hal itu menjadikan James sebagai sosok sombong yang hanya mengerti bahwa uang bisa membeli segalanya. “Berapa kau dibayar? Aku bisa membayarmu dua kali lipat asal kau menuruti perintahku untuk membuat perempuan itu hengkang dari rumahku.” Dua kali? Sebastian bahkan mampu membeli James jika ia mau. Uang tidak berarti baginya. Sebastian benar-benar berada di ambang batas kesabarannya, ia meyakinkan dirinya bahwa keberadaannya di sini adalah untuk melindungi Samantha, sepertinya pria yang ada di hadapannya ini harus dimasukkan ke dalam list pada urutan pertama. Tidak ada seorang suami di mana pun di belahan dunia ini menginginkan istrinya pergi dari rumahnya sendiri, kecuali dia memang sangat membenci wanita yang ia ikat dengan sumpah di hadapan Tuhan. “Saya hanya bekerja untuk Nona Samantha.” Akhirnya Sebastian membuka mulutnya, sebuah kalimat yang membuat James semakin kesal. “Baiklah, lindungi saja dia sebisamu.” Tapi James merasa jika dia kalah secara fisik dengan Sebastian, tak ingin mengonfrontasi Sebastian lebih lanjut lalu ia beranjak pergi keluar dari rumah. Ketika Sebastian melangkah hendak masuk lebih dalam, ia terhenti tepat setelah matanya bertumpu pada seseorang yang sedang berdiri di ujung tangga. Samantha sedang berdiri, ia sudah mengamati apa yang terjadi di bawah tangga, bahkan mendengar semua percakapan antara James dan Sebastian, ah, lebih tepatnya adalah James yang berusaha untuk menciptakan sebuah percakapan dengan Sebastian. “Kau sudah datang,” ujar Samantha mengabaikan apa yang baru saja terjadi, ia mulai melangkah menuruni anak tangga dan menghampiri Sebastian. Padahal Sebastian sudah cemas jika saja Samantha mendengar semuanya. Perempuan itu memang mendengarnya, hanya saja ia berpura-pura untuk tak menunjukkan pada Sebastian saja jika ia bahkan mendengar tentang James yang menawarkan uang untuk membuatnya keluar dari rumah ini. “Kemana anda akan pergi hari ini?” tanya Sebastian saat Samantha hampir sampai di depannya, Sebastian memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh Samantha, memastikan tidak ada sesuatu yang akan membuat wanita itu terjatuh atau tersandung. Namun, entah mengapa Samantha malah tersandung oleh kakinya sendiri. Tubuhnya limbung ke depan. Beruntung sekali Sebastian memiliki kecakapan yang luar biasa sigap. Sebastian menangkap pinggang Samantha hingga tak sampai membentur ke lantai. Secara reflek tangan Samantha mengalung pada leher Sebastian, kini keduanya saling bertatapan satu dengan lainnya. Jantung Sebastian berdegup dengan sangat kencang seiring kelebatan kenangan masa lalunya berkecamuk di dalam benaknya. Hal yang serupa pun dialami oleh Samantha, pandangannya seolah terperangkap dalam kehangatan mata abu-abu milik Sebastian, mata itu tampak begitu akrab dengan hatinya, karena kehangatan dari mata itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya tenang. “Ehm.” Suara dehaham itu menyadarkan keduanya, secara sponta Sebastian pun membantu Samantha untuk berdiri. Samantha dengan sigap merapikan pakaiannya. Suasana menjadi begitu canggung karena dua insan itu tampak salah tinggah di depan Andre. “Tuan Cornelius meminta saya untuk menyambut Tuan Grand, tidak tahunya sudah disambut oleh anda,” sindir Andre dengan senyuman jahilnya. Wajah Samantha langsung memerah seketika, sekeras apapun ia menyembunyikannya tetap saja terlihat. “Kami tidak sengaja bertemu, jadi dari mana saya bisa mulai bekerja?” tanya Sebastian, instingnya mendorongnya untuk melindungi Samantha. “Ikut dengan saya, kita akan melalukan home tour terlebih dahulu.” Andre menjelaskan, namun sesaat kemudian ia melirik ke arah Samantha. “Atau Nyonya muda juga ingin menemani Tuan Grand melakukan home tour?” tanya Andre sedikit menggoda. “Tidak! Aku sibuk, kalian saja, bye!” Samantha lantas berlari kecil keluar dari rumah sekaligus kabur dari Andre yang suka sekali menggodanya. Pandangan mata Sebastian tak lepas dari Samantha yang berlari-lari kecil keluar dari rumah, hal itu mengingatkannya pada masa kecilnya dulu. Di mana gadis itu memang hampir tak pernah bisa berjalan dengan baik atau pelan, selalu saja berlari kecil. Seolah-olah jika tak berlari maka tak puas hatinya. Hal sekecil itu pun tak luput dari perhatian Andre, hanya saja pria itu tak ingin berpikir buruk bahkan menyimpulkan hal yang tak ia ketahui dengan pasti jalannya cerita. “Tuan Grand…” Andre memanggil Sebastian, namun pria yang ia panggil sama sekali tak mengindahkan panggilannya. Padahal sebelumnya, Sebastian sudah berlatih bersama dengan Garnet tentang panggilan barunya ini tapi tampaknya Sebastian memang sama sekali tak terbiasa. “Tuan Grand,” panggil Andre sekali lagi, kali ini menggunakan tepukan pelan di pundak hingga membuat Sebastian akhirnya menoleh padanya. “Ah, Iya, anda memanggil saya?” tanya Sebastian dengan wajah polosnya. “Ya, dua kali, tapi itu sama sekali tak penting. Mari.” Andre memimpin jalan dan diikuti oleh Sebastian di sampingnya. Mansion milik keluarga Sullivan tak begitu besar namun cukup megah, bangunannya di d******i dengan warna putih yang bersih. Ada beberapa area yang dihiasi dengan tanaman bunga peony. Sebastian sudah menyelidiki tentang keluarga Sulliban dengan menyeluruh, tentunya dengan bantuan Garnet. Bahkan Sebastian tahu jika kediaman Sullivan ini dijuluki sebagai rumah peony, karena banyak sekali tanaman yang tumbuh di tempat ini. Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Sebastian, yang ia ketahui adalah jika mantan kekasih pemilik mansion, alias Tuan Cornelius Sullivan masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya. Hingga akhirnya demi mengenang mantan kekasihnya Cornelius membuat sebuah rumah yang banyak ditumbuh dengan bunga favorit mantan kekasihnya itu. “Ini adalah ruang pertemuan, biasanya Tuan Besar melakukan pertemuan bisnis di tempat ini.” Andre menunjukkan sebuah ruangan yang berbentuk oval, mirip ruang oval di white house, pikirnya. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan. Sepanjang tour itu Sebastian memerhatikan setiap sudut rumah itu, mengingatnya dalam hati karena tempat ini akan menjadi tempat kerjanya nanti. Langkah Sebastian berhenti saat ia melihat hamparan pasir putih yang menjadi pembatas antara rumah itu dengan laut. Uniknya mansion milik keluarga Sullivan adalah, bangunan itu berdiri di bibir pantai dengan pemandangan laut yang sangat memukau. Andre mengetahui Sebastian yang berhenti pun langsung turut menghentikan langkahnya. “Ini adalah tempat favorit, Nyonya Muda.” Dan entah apa yang membuat Andre mengatakan itu pada orang yang baru ia kenal, mungkin karena Sebastian akan menjadi pengawal pribadi Samantha hingga paling tidak ia harus tahu mana saja tempat yang menjadi favorit Samantha. Di sisi lainnya, Dalam benak Sebastian saat ini, ia membayangkan Samantha sedang berada di bawah payung pantai dengan bikininya menikmati sunset. Betapa indahnya jika ia bisa melihat pemandangan itu. “Apa yang kau pikirkan, Sebastian! Dasar pria m***m!” Hati Sebastian mendobrak angan-angan kotornya, hingga ia menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan seluruh pikiran joroknya. “Tunjukkan saya tempat yang lainnya,” kata Sebastian, itu adalah upaya terakhirnya agar tak memikirkan apa yang sangat ingin ia bayangkan saat ini. ::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD